Nice... dan sepertinya pernah terjadi di kalangan cowok2..
Disadur dari tulisan seorang penulis cerita Jomblo...

Punten upami tos pernah baca
 
Terang Penulis JOMBLO?
Ini diambil dari BLOG-nya
Lumayan, pengalaman kuliah, merasakan sendiri
Istrinya juga lucu, Helvy Tiana Rosa itu loh...
Anak mereka yg menang lomba nulis surat buat Presiden
Sekeluarga emang hebat


Gua, Motor Gua, dan Wanita-Wanita di sekeliling Gua


Tuesday, December 19, 2006 

Jaman kuliah dulu, gue naik motor. Setidaknya di ITB, motor adalah faktor 
yang menseparasi pria dari...uhm...pria lain. Intinya, setidaknya, tahun 
96, cowok yang punya motor di ITB (lumayan) jadi dambaan wanita. 

Sayangnya yang kerap menjadi dambaan adalah motornya karena motor ini 
menjadi alat bagi cewek-cewek itb untuk nebeng dan minta anter. Pemilik 
motornya sendiri tetap tidak mengalami perbaikan kasta atau nasib dalam 
asmara . 

Singkatnya, kita-kita di sipil96 yang punya motor sering diminta 
cewek-cewek untk minta anter mereka. dan berhubung cewek sipil hany 20 
dari 160 populasi, jelas segala permintaan mereka kita penuhi. 

"Dit, gue nebeng!" 
"Oke!" 
di mana kata nebeng itu tertukar dengan wording 'minta anter' karena 
definisi nebeng adalah sejalan arah kos gue DAN BUKAN nun jauh di 
pinggiran Bandung . 

"Dit, anterin gue ke rumah sakit!" 
"Beres!" 
Meski pun penyakitnya menular dan seperti dia, gue ikutan meriang 3 hari. 

"Dit, jemput ade gue di SMP!" 
"Jam berapa?" 
Di mana sesampainya di SMP itu, gue baru nyadar gue belum tahu tampang itu 
anak kek gimana. 

But all in all, kita sayang sama cewek-cewek sipil ini dan tidak pernah 
ada kata tidak untuk melayani mereka. Tapi tetep aja entah kenapa gue 
selalu kena kasus. berikut adalah kasus-kasus yang paling parah yang gue 
pernah alami. 

Dengan Wiwin 
Kita sebut saja namanya Wiwin karena kalo sampe ketauan nama aslinya dalam 
blog ini, riwayat gua bisa tamat. Wiwin adalah wanita berkacamata tebal 
dengan otak yang lebih tebal lagi. IPKnya terancam 4. Wiwin adalah juga 
atlet yang tergabung dalam pelatda voli JABAR. Dia punya tangan yang cukup 
kuat untuk serve voli...dan kalo nampar cowok, itu cowok bisa melintir. 
Gua suka boncengin dia pulang karena dengan begini gue bisa nodongin dia 
dengan, 
"Eh Win, adit sekalian fotokopi catetan Wiwin yah." 
Wiwin secara reluktan mengiyakannya dengan syarat, dalam proses fotokopi 
itu, dia ikut sama gue nongkrongin tukang fotokopian dan sang catetan 
selalu ada dalam jarak pandang dia. Ini adalah hikmah dari pengalaman 
buruk di mana catetan dia dipinjem gak jelas berpindah seribu tangan dan 
saking putus asa nyari, dia harus belajar dari fotokopian catetan dia 
sendiri. Bagi gue, berdiri samping-sampingan dengan Wiwin di toko 
fotokopian adalah situasi yang awkward. Gimana gak awkward? Apa sih topik 
yang bisa lu omongin sama cewek, kalo di depan lo ada orang minang 
keringetan gak pake baju megang-megang mesin fotokopian? 

Anyways di suatu hari yang windy (faktor angin memegang peranan penting 
dalam plot cerita ini) gua nganter Wiwin pulang. karena banyak angin, 
suara yang keluar dari mulut gua selalu terbawa angin. 
"Win gue motokopi catetan ya!" 
"Apa?" 
"Gue minjem catetan lo!" 
"Hah?" 
"GUA MINJEM CATETAN LOOOO!!" 
"ADUH NGOMONG YANG JELAS KEK!" 
Halah! Emang sih gue kan ngomong sambil merhatiin jalan jadi mulut gue ke 
depan dan gak ke muka dia yang di leher gue. Akhirnya gua balik badan dan 
bilang lagi. Sayangnya, entah kenapa gua lagi memproduksi banyak air liur 
di saat itu. Sayangnya lagi, ini terjadi di saat angin bertiup kencang. 
Sooooo gue balik badan, buka mulut lebar-lebar dan.. 
"GUE MINJE..PLUEEHHH....." 

crooot 

Angin mengantarkan saliva gue ke kacamata wiwin. Itu gak terlalu wiwin 
masalahin karena SEBAGIAN BESAR liurnya kena ke sisa muka yang kacamata 
gak cover. 

She never spoke ever since. 

Dengan Titin 
Lagi-lagi nama samaran. Titin ini rada ganjen. Kalo ke kondangan dia 
selalu nyalon. Entah kesamber jin apa, suatu hari dia minta anter gue ke 
salon dan ke kondangan setelah dari salon. biar efisien, tuturnya. 

ya sudah gua turuti itu kemauan. Setelah berkarat nungguin di salon, dia 
muncul dengan sanggul yang indah menawan. gua rasa kalo orang lempar jeruk 
ke sanggul itu, bisa nyangkut. 
"Gimana, cakep gak?" 
"Mirip roro kidul Tin." 
"Monyet. Udah buruan ke resepsi! yang cepet ya!" 
gua udah kek budak aja. di sini terjadi sesuatu yang Titin gak pernha 
maafin gua sape sekarang, meski kalo gue bilang, itu salah dia. 
dia kos di simpang ( bandung utara). 
Nyalonnya di simpang. 
Undangannya di gedung kartini ( bandung selatan) 
dia minta cepet. 

Ya udah, gue ngebut dong! 
Sayangnya ini berbuntut di mana kita pergi dengan Titin tampak seperti 
finalis putri indonesia dan sampai di resepsi terlihat seperti singa. 

"ADUH RAMBUT GUE! ELU SIH DIT!" 
"Makanya gua bilang PAKE helm!" 
"gua kira kalo helm, sanggulnya rusak, jadi jelek!." 
"gak pake helm jadi singa. Tuh." 
"Benci gua sama elu! Benci! Benciiiiiiiiiiiiiiii!!" 

Dengan Mimin 
Untuk, lagi, alasan keselamatan, gua gak akan mereveal nama dia. Suatu 
hari gua sekelompok sama dia dan kita harus ngerjain paper nih ceritanya. 
Singkat cerita, anggota lain pada egois dan gak kerja. Cuman gua dan Mimin 
aja yang ngerjain di rumah dia di bilangan kuburan Ciputra. paper selesai 
dan 10 menit lagi kuliah paper itu dikumpulin. 
"DIT! AYO KITA CEPETAN!" 
"AYO!" 
"NGEBUT YA!" 
"LU PEGANGAN MA GUA!" 
"NAJIS!" (Cewek-cewek sipil ini selalu teguh menjaga iman mereka). 

Adalah kebiasaan mereka untuk memegang handle di belakang ketimbang 
melingkarkan tangannya di supir. Tapi yo wis , gue juga gak keberatan. 
Pasaran gue juga bisa turun. Akhirnya gua ngebut! tapi tertahan di lampu 
merah kuburan. Percakapan di bawah terjadi dengan mata gua liat ke depan 
dan hanya denger suara dia. 
"Min, kita harus bener-bener ngebut nih. tau sendiri Bandung . Sekali kena 
merah, sampe 5 lampu ke depan kena merah juga." 
"Ya udah ngebut! Eh bentar tas gua jatoh." 
"Udah Min?" 
"Bentar." 
"Ijo Min!" 
"Nah, ..." 
"OKE!" 
Gua langsung kebut itu motor! 
Gue salip semua mobil di pasar suci! 
Gua ngesot di tikungan telkom!! 
Gue jemping depan UNPAD! 
Gue terabas lampu merah simpang dago!! 
Gue turun kek orang gila sepanjang dago!! 
Gue ampir nabrak kuda di ganesa! 
Akhirnya masuk juga parkiran sipil. 

Abis ngerem, gue bilang, 
"Gimana motoran sama James Bond? Min? Min?" 
gue ngeliat ke belakang dan Mimin lenyap. 

Keesokan harinya, di rumah sakit boromeus... 
"Gua gak ngerti Min.." 
"Lu gak ngerti bagian mana dit? bagian yang elu ngajleng dengan gua baru 
setengah pantat? ato bagian gue ngegelinding di perapatan jalan?" tukasnya 
jutek dengan tangan yang retak. 
"Tapi kan gua udah bilang ijo! dan lu udah bilang 'NAH'!' 
"NAH itu maksud gue baru mau duduk lagi." 
"tapi kan !" 
"Sudah lah! gua bingung manusia kek lo bisa masuk itb." 
Wah, kecerdasan dia bawa-bawa. padahal kalo mau cerdas dikit, dia megang 
gue. 

Itulah sekelumit cerita gua, motor gua, dan wanita-wanita yang 
ngegelinding karena motor itu. Yang jelas sejak itu demand menurun 
drastis. Imbasnya adalah bahwa Oyep, temen gue, menjadi idola ke 20 anak 
itu untuk dianter ke mana-mana. berkorelasi dengan itu, IPK gue menurun 
dan IPK Oyep naik secara fantastis. Oh nasib.

Kirim email ke