Kadang saya harus tersenyum, Lha wong yang BANJIR itu khan si AIR, kok solusinya buat si MANUSIA belaka. Memang benar bahwa segala sesuatu c.q. banjir dapat dikatakan sebagai BENCANA apabila sudah menelan banyak korban jiwa MANUSIA. maka lusi (lumpur sidoharjo) bisa dianggap belum bencana (yah minimal bukan bencana nasional), tetapi kecelakaan pesawat terbang dan kapal laut di awal tahun 2007 dikatakan bencana. Entahlah, sak karepe sing menehi judul dan definisi...... hehe..
Kembali ke... BAN...JIR. Anak SD pun tahun, bahwa banjir itu adalah genangan air yang abnormal, dan oleh para ahli ditambahi definisi "dimana genangan itu sudah mengganggu kehidupan manusia". Masalahnya, yang salah si Sungai atau Manusianya? Sungai tidak berpindah tempat, tetapi malah manusia yang mendangkalkan sungai, manusia pula yang membuat rumah di tempat 'milik' sungai (baca: bantaran kali). Lha kalau sungainya sedang hobi gumoh (baca: meluap airnya), ya jangan salahkan sungainya donk. Ibarat ada api, kita sendiri yang mendekati api itu, wajar donk kalau terbakar. Wajar donk kalo kena banjir. Tapi mas, banjirnya khan sudah nekad nyampe jalan tol ! Bentul, Om! alur air khan jelas, "suka mendatangi tempat paling rendah" Nah, kenapa kita suka "meninggikan tempat yang rendah" sehingga yang tadinya agak tinggi sekarang dianggap rendah oleh lingkungannya, gosipnya sih kayak di pantai indah kapok, terowongan jalan tol, dll. Sekarang fokus ke solusi. TV mendorong issue ibukota pindah ke Bogor, mungkin karena sudah ada istana di sana. tapi ini solusi kurang menarik karena bogor perbukitan dan super macet. bisa-bisa R1 dan R2 selalu terlambat ngantor karena macet, atau..... perlu helicopter khusus antar jemput rumah-istana hehe. Usul usilku sich di Depok saja, UI suruh pindah, khan kaplingannya luas dan asri tuh, cocok disulap jadi istana megah hehehehe.... Balikpapan? memang ini gudangnya minyak, tapi di sana panas (pas garis katulistiwa) dan di luar jawa pula, instalasi pendukung kan sudah terlanjur di jawa semua. Memang ada tuntutan pemerataan pembangunan, tapi agaknya bukan dengan memboyong istana negar ke sana...... perlu Jin nya aladin kali yaaa..... Perahu karet? ini mah sekedar emergency penyelamatan diri Impor beras, yang banjir kahn baru jakarta dan yang terendam air (gagal panen) baru tempat-tempat yang kecil, tapi kenapa dianggap masalah nasional? dan solusinya impor beras. ini agaknya bentuk kecemasan dan putus asa, dengan.... sekali lagi dan selalu.... mengorbankan bapak-ibu kita (baca : petani). Rumah susun? dianggap dan disediakan bagi mereka yang tinggal di bantaran kali. Yah itung-itung penggusuran yang arif kali ya. TETAPI, apakah semua itu solusi BANJIR itu sendiri? Daku jadi teringat kuliah silam, beliau bilang "kalau kulitmu gatal karena mandi dengan air bak yang kotor, ya solusinya bukan beli bedak obat anti gatal !, cari dulu penyebab utama masalah itu timbul, dan jangan terjebak pada solusi dampak dari masalah" Kembali ke... BAN...JIR Penyebab banjir jelas, DIMULAI dari penggundulan hutan dan alih fungsi (alami ke bangunan) di daerah HULU, dan DIPERCEPAT (baca: diperparah) dengan perilaku di daerah hilir, seperti menjadikan sungai sebagai bak sampah, menjadikan bantaran sungai sebagai kampoeng halaman, dan menyulap area peresapan pada bangunan. Coba dech... cermati solusi pada uraian di atas tadi, betapa semua terjebak pada dampak masalah, bukan pada penyebab (akar) masalah. Pagi tadi saya jadi bergidik lihat RI 1 menyatakan akan menganggarkan sekian trilyun untuk rumah susun. Andaikan itu dibuat program penghijauan di hulu, hutan kota, dan bendungan-bendungan kecil, kok rasanya masih sisa banyak (ini sudah saya itung dengan 50% di mark up hahahaha...). Kok 50%, itungannya 5% institusional fee, 5% fee marketing, 30% pejabat teras (three in one), 15% pajak, dan 5% pelancar antar meja. Wah, malah lebih ya? gpp sama temen saya discount hehehe.... Nyuwun pangapunten, (pria romantis) NB: tulisan di atas bukan hasil penelitian, kata Tukul "ini sekedar hiburan belaka.." :P~ -- Ryolix Kienka BekaKak #004 AA 5377 LA =================================
