Do you remember this song?

Aku nduwe dolanan sing lucu
Prahu cilik tak kelekne mbanyu
Mbesuk gedhe dadi tukang prahu
Bayarane satus sewidak ewu

Dulu waktu nyanyi lagu ini, mbayangkan 160 ewu itu gedhe. Ha kok sekarang
megang 160 ewu sak klemetan wae habis lho. Untungnya waktu nyanyi lagu ini
gak ada yang ngamini.

Ono konco sempat curhat "Wah kowe penak yo kang, kerjane kepenak :
eksekutip, selalu rapi, dasian & ra kepansen wong kantore AC. Ra kena macet,
ra stress di jalan .. jan huenak naaan, pokoke," begitulah sebagian sohib
ngomentari gawean koncone kesehariannya.

Padahal jika mereka menjalani apa yang dijalani, belum tentu kalimat
tersebut terucap. Kita lebih sering merasa, apa yang kita kerjakan itu tidak
lebih enak, tidak lebih baik, dan tidak lebih menguntungkan daripada apa
yang dikerjakan orang lain. (baca : sawang-sinawang).

Satu temen lagi selalu mengeluh... "Wah mbendino muter-muter Jakarta, jadi
orang lapangan njelehi tenan. Sehari bisa muter seratus kilo aku kih. Ha yen
gini terus, awakku iso momrot tenan ki" demikian keluhnya. Kerjaannya memang
jadi tukang tagih di satu perusahaan besar. Bawa uang ratusan juta di
jalanan tiap hari. Karena sering njelajah Jakarta, maka jadilah dia apal
Jakarta sampai sak dalan tikusnya. Jadi peta hidup, ngalahin petanya si
Dora.

Maka keluarlah dia dari tempat kerjanya. Nglamar lagi diterima di satu
perusahan elektronik. Pekerjaannya disuruh nunggu satu outlet milik
perusahaan itu. Magrok disitu seharian penuh. Dia ngeluh lagi, "Ha gawean
kok tunggu brok karo nithili borok ngene ki yo iso mati njamur aku mengko…"
demikian keluhnya.

Itu satu kondisi. Belum lagi jika dikaitkan dengan masalah penghasilan. Kita
sering plonga-plongo ngiler lihat konco kita berpenghasilan diatas delapan
digit angka. Ke mana-mana tongkrongannya Mersi sama Polpo. Apesnya BMW lah.
Padahal apa yang dia rasakan tidak sebagaimana yang kita bayangkan.

Kita hanya bisa melihat enaknya. Sementara tidak enaknya gak kelihatan.
Karena hanya enaknya sajalah yang dipertontonkan sama mereka kepada kita.
Kita gak diperlihatkan stressnya mereka mbayar cicilan mobilnya sampe
mencicil, gak ngliat repotnya mbayar premi asuransi mobilnya, gak lihat
besaran duit yang dikeluarkan untuk maintenace mobilnya, dan masih banyak
hal pahit yang gak kita lihat dibalik kinclongnya mobil mewah mereka. Ono
rego, ono rupo.

Saat kita melihat konco kita nerima gaji diatas delapan digit kita hanya
melihat besaran gajinya. Gak ngliat stressnya dia dikejar target
perusahaannya, gak mikir tuntutan gaya hidupnya yang menuntut cost tinggi,
gak pernah terungkap pada kita betapa mereka sebenarnya merindukan gaya
hidup nyantai, ngematke urip, slonjor di lincak sambil ngopi, nglinthing
mbako semprul buat nginang karo ngilo sambil singsut (weh… po iso yo??).
Kita hanya dapat umuknya gaji gedhe saja, tanpa mendengar pontang-pantingnya
konsekwensi gaji gedhe itu.

Untuk itu mbutgae & makaryo lah dengan banyak menunduk melihat kondisi
sodara kita yang lebih rendah kondisinya.

Hidup penuh ketegangan menunggu ganasnya satpol PP dan trantib menertibkan
mereka dengan menghancurkan sumber hidup mereka. Kalo banyak ndangak macem
bethoro Narodo, kita hanya akan tambah sakit hati menjalani hidup.

Yo wis lah, ndang mbutgae dan makaryo yang bener, jangan korupsi dan jangan
lupa disyukuri.

Ojo lali mbayar zakat ... !!! sebab 2,5 % pendapatan awake dhewe kuwi jatahe
dhuafa & anak yatim. Cumak 2,5 kok, luwih murah dibanding mbayar ngango
nggesek kartu kredit sing keno 3% ... tambah gendheng neh awake dhewe keno
10% kanggo negoro lewat ppn nek awake mblonjo .. semoga ae karo tokone,
bener dilaporke & duwite disetorke no kantor pajek.

salam,

-- 
hendro
0812 841 8958
[EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke