Ada tulisan bagus kiriman seorang teman, kali saja ada manfaatnya.
maaf kalo kepanjangan......

wassalam,


Aku Bangkit dari Sakit Jiwa 3 September 2007 - 7:36 WIB Liza Desylanhi
Sebut saja namaku Ardi. Kini usiaku menjelang 41 tahun. Aku bersyukur masih
bisa menikmati indahnya hidup ini. Ya, memang tak selengkap pria lain
seumurku. Hingga usiaku sekarang, ekonomiku belum mapan, tanpa titel atau
jabatan bergengsi. Tak banyak prestasi yang kuukir.

Aku pria biasa-biasa saja. Padahal saat sekolah dulu, aku termasuk siswa
cerdas dengan segudang prestasi dan cita-cita. Aku ingin menjadi insiyur.
Aku sudah berangan-angan dapat mendirikan bangunan megah di kota
kelahiranku, Tanjung Pinang. Aku bayangkan, bangunan itu semegah
gedung-gedung yang berdiri angkuh di Jakarta.

Namun tampaknya guratan tanganku berkata lain. Aku harus menjalani hidup
yang tak pernah sekali pun terbetik di benakku. Kehidupan yang membuatku
kehilangan masa depan, membuat keluargaku harus menanggung malu, dan
menghadapi pandangan sinis masyarakat sekitar. Mereka menyebutku orang gila.
Ya, aku memang mengalami sakit jiwa. Karena itu, aku menyendiri untuk waktu
yang lama. Aku nikmati duniaku sendiri, dunia orang gila, dunia yang tak
dipahami orang waras, termasuk kedua orang tuaku dan kelima kakak dan
seorang adikku.

Aku terlahir secara normal di tengah keluarga berada dan bahagia pada 6
November 1967. Bahkan, kata ibuku, suara tangisanku paling merdu
dibandingkan dengan tangisan bayi-bayi lain. Maka, tak mengherankan kalau
sampai sekarang aku suka sekali bernyanyi. Suaraku tak kalah dari suara
penyanyi terkenal. Selain bernyanyi aku juga piawai memetik gitar. Favoritku
lagu-lagu Bimbo dan Krisdayanti. Aku juga bisa memainkan musik klasik. Sejak
SMP hingga SMA aku sering didaulat menghibur dalam pentas seni di sekolah,
bahkan di tingkat kota. Bersyukur, dua keahlianku ini tak ikut direnggut
penyakit yang kuderita. Selama aku tinggal di Rumah Sakit Jiwa Grogol,
Jakarta Barat, kebiasaanku adalah bernyanyi dan main gitar. Hanya itu
kepandaian yang bisa kubanggakan.

Kisah pahitku bermula pada tahun 1983. Saat itu seorang dokter muda di RSUD
Tanjung Pinang salah memberiku obat. Ketika itu aku yang duduk di kelas II
SMP terserang flu berat. Dokter muda itu memberiku obat Reactivan. Obat
tersebut biasa digunakan untuk orang yang mengalami depresi. Sejak minum
obat itu, pikiranku tak bisa fokus, otakku terasa akan meledak Lalu,
tiba-tiba aku merasa menjadi orang paling pintar. Aku kesulitan
mengendalikan diri. Sering gelisah. Perangaiku pun berubah. Aku mudah marah
dan sedih, tanpa alasan jelas. Parahnya lagi, aku tak bisa berkonsentrasi
dalam belajar. Aku mulai sering mendengar suara-suara gaib. Aku tak kenal
lagi diriku.

Ayahku yang seorang kepala administrasi di RSUD Tanjung Pinang segera
membawaku ke RS Adityawarman, Padang, Sumatera Barat. Aku dirawat selama
beberapa minggu. Dokter menyatakan pengaruh Reactivan yang kuminum sudah tak
ada di otakku. Aku pun diperbolehkan pulang. Tentu dengan syarat aku mesti
rajin minum empat buah pil warna pink, oranye, dan putih tiga kali sehari,
tanpa sekali pun boleh alpa.

Namun, aku kerap absen meminum obat. Toh aku merasa sudah sembuh dan badanku
sehat. Aku tak segan menghardik dan memarahi ibuku. Rasanya saat itu aku
melakukan hal yang benar. Menghardik ibu, ayah, dan kakak-kakakku.

Rupanya perangaiku itu merupakan tanda awal kambuhnya penyakit jiwaku. Aku
pun kembali kehilangan diriku. Kali ini lebih parah, aku mulai mengamuk. Aku
mendengar suara-suara gaib, waham, dan halusinasi. Waham adalah perasaan
yang salah dalam hati yang dipertahankan. Aku merasa menjadi orang paling
kuat, paling benar, dan harus dihormati oleh siapa pun.

Akhirnya aku kembali dibawa ke rumah sakit. Kali ini aku berobat di RS
Yaumil Padang. Setelah dirawat beberapa hari, aku kembali pulang. Selain
minum obat, setiap bulan aku mesti menjalani pemeriksaan medis di rumah
sakit itu. Kali ini ibuku tak mau kompromi, aku harus menelan pil-pil itu.
Apalagi ujian SMP sudah di depan mata. Beliau tak mau aku gagal.

Selama beberapa bulan aku menuruti permintaan ibuku untuk menelan obat.
Hasilnya, aku bisa kembali hidup normal, bisa mengikuti pelajaran walaupun
tak sebaik sebelum aku sakit. Teman-teman yang sebelumnya menjauhi karena
takut padaku, kini kembali mendekat. Aku lega sekali. Aku berusaha belajar
dengan baik, meskipun sulit konsentrasi. Bagaimana tidak? Karena aku selalu
minum obat penenang, aku kesulitan berkonsentrasi. Untung saja guru dan
teman-teman sekolahku memahami kondisiku. Mereka membantuku mengatasi
ketertinggalanku. Meski susah payah aku terus mencoba. Aku tak ingin
mengecewakan orang tua, guru, dan teman-teman sekolahku.

Karena merasa terlalu terbebani, menjelang ujian kelulusan SMP penyakitku
kambuh kembali. Aku mengalami depresi berat. Tiba-tiba aku bisu selama
beberapa minggu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Akibatnya aku tak
bisa mengikuti ujian. Aku tak lulus.

Tak terlukiskan kesedihan dan kepedihan yang kualami. Aku kembali dirawat.
Kali ini ayah membawaku berobat ke Jakarta di RS Jiwa Grogol. Setelah
sembuh, aku pun kembali ke Tanjung Pinang untuk menamatkan SMP-ku. Tapi
rupanya otakku telah bebal. Lagi-lagi aku gagal lulus ujian. Aku tak mampu
menjawab soal-soal ujian. Berkat dukungan penuh ayah, ibu, dan
saudara-saudaraku, aku kembali mencoba mengikuti ujian pada tahun
berikutnya. Syukurlah, akhirnya aku lulus, meski dengan nilai pas-pasan.

Kelulusanku itu membuat aku kembali terpacu untuk meneruskan sekolah. Aku
masuk sekolah menengah atas negeri di kotaku. Aku berusaha hidup senormal
mungkin, meskipun kemampuanku memahami pelajaran semakin merosot. Aku
berusaha menjadi remaja normal. Aku sempat merajut kasih dengan gadis manis
teman sekolah. Sayang sekali jalinan cinta kami tak lama bertaut. Setelah
hampir setahun berhubungan, kami putus. Ia tak sanggup menghadapi perangaiku
yang mudah sekali berubah-ubah. Sebentar gembira, ceria, sedih, dan di lain
waktu marah-marah. Belum lagi cemoohan teman-teman membuat kami semakin
tertekan.

Masa SMA jauh lebih berat buatku. Banyak teman yang tak memahami aku.
Akibatnya aku sering sekali depresi. Mulai muncul pikiran-pikiran buruk di
benakku. Aku ingin mati. Rasanya itu yang benar. Semakin keras aku berusaha
mengenyahkannya, pikiran itu semakin kuat menghantui. Akhirnya, suatu siang
sepulang sekolah, di kamarku di lantai dua, aku memutuskan untuk benar-benar
melakukannya. Tanpa ragu aku menenggak segelas obat pembasmi serangga.
Rupanya badanku tak menerima cairan beracun itu. Aku muntah-muntah hebat.
Saat itulah pembantu menemukan aku yang sedang kepayahan. Aku segera
dilarikan ke rumah sakit. Di sini tangan dan kakiku diikat. Kejam
kedengarannya ya. Tapi ini untuk kebaikanku sendiri agar tak membahayakan
diri sendiri. Aku sering keluar masuk banyak rumah sakit di Jakarta dan
Padang.

Dengan susah payah aku lulus SMA. Tentu saja dengan nilai yang tak
memuaskan. Tapi paling tidak aku bahagia bisa membuat ibuku bangga. Putra
yang sering dicemooh gila ini berhasil menyelesaikan pendidikan. Aku masih
sering berhalusinasi dan mempunyai waham. Aku kembali enggan meminum obat.
Perangaiku kembali memburuk. Aku mulai menyerang. Siapa pun kupukul. Aku
jadi jahat. Aku kembali dimasukkan RS. Kali ini aku dirawat di klinik khusus
penderita sakit jiwa di Ciganjur, Jakarta Selatan. Tapi di sini aku tak
mendapat perawatan sebaik yang diharapkan orang tuaku. Aku sering sekali
dipukul saat menolak meminum obat. Ini membuat perangaiku semakin brutal.
Terakhir, aku bertingkah bak seorang miliarder. Dengan berjalan kaki dari
rumah orang tuaku di Tanggerang, aku menuju Menara Saidah di Jalan MT
Haryono, Jakarta Selatan hendak menagih uang Rp 2 miliar. Tentu saja aksiku
ini membuat panik keluargaku.

Akhirnya orang tuaku memindahkan aku ke RSJ Dr Soeharto Heerdjan atau orang
mengenalnya RSJ Grogol. Di rumah sakit ini aku tercatat sebagai pasien
kambuhan. Sudah beberapa kali aku berobat di sini. Hari pertama masuk, aku
langsung menempati kamar isolasi. Kamar yang hanya berukuran 2,5 x 4 meter
dengan sebuah tempat tidur dan kamar mandi. Di ruangan ini aku sering
mengamuk. Tapi untung tak lama, setelah disuntik, dan rajin meminum obat aku
pun kembali tenang. Aku pun meninggalkan ruangan sempit dan mengerikan itu.
Akhirnya aku bisa berinteraksi dengan penghuni kamar lainnya.

Rupanya di sinilah aku menemukan perawatan yang cocok. Obat yang harus
kuminum sama. Tetapi metode perawatannya yang berbeda. Di sini aku tak
pernah merasa dipaksa, terutama saat minum obat. Asal tahu saja, semua
penderita sakit jiwa tak boleh lepas dari meminum obat sehari tiga kali dan
obat suntik sebulan sekali. Ini untuk mengendalikan emosi kami. Membuat kami
jadi tenang. Kata dokter Fidiansjah, tak ada kata sembuh bagi pasien sakit
jiwa. Yang ada adalah terkontrol. Perawat berupaya menyadarkan betapa
penting obat bagiku. Tapi saat aku mengalami waham dan halusinasi tentu
susah membuatku mengerti. Karena itu perlu kesabaran tingkat tinggi untuk
menghadapi aku. Perlahan aku mulai sering curhat dengan perawat. Ini juga
merupakan bagian dari pengobatan, selain minum obat. Apa pun yang ada
dibenakku, kucurahkan.

Momen yang membuatku semakin menguatkan tekad untuk sembuh adalah ketika
perawat favoritku menitikkan air mata sambil berkata, "Ardi, sampai kapan
kamu mau begini terus? Kamu sudah terlalu lama tenggelam dalam duniamu yang
gelap." Aku tertegun, Suster Wini begitu sedih melihat keadaanku. Orang lain
saja begitu peduli pada diriku, kenapa aku tidak? Aku pun bertanya
kepadanya, apa yang harus kulakukan agar bisa sembuh. Ia bilang, aku harus
berusaha mengenyahkan halusinasi dan waham yang kumiliki. Makanya, setiap ia
muncul, segera kubuang jauh-jauh, kualihkan perhatianku atau kuadukan pada
perawat. Selain itu, aku tak boleh melamun. Bisa berbahaya. Itu bisa
mengundang halusinasi datang. Makanya aku rajin mengikuti aktivitas kelompok
di RS, bersama teman-teman yang lain. Entah itu senam, curhat, ataupun
sekadar nonton televisi. Di RS ini aku masih sempat menyalurkan hobiku yang
lain, yakni main pingpong dan catur. Bahkan, pada acara 17 Agustus tahun
lalu aku menjadi juara pertama pertandingan catur dan pingpong.

Kini aku bersyukur, sudah 1,5 tahun ini aku sembuh. Tak pernah lagi aku
marah-marah ataupun berhalusinasi. Tetapi tetap harus disiplin meminum obat
tiga kali sehari dan suntik setiap bulan. Aku pasrah, seumur hidup aku
bergantung pada butiran warna-warni itu. Meski terdengar tak menyenangkan,
bagiku meminum obat adalah saat paling menyenangkan karena membuatku tetap
mempunyai harapan. Harapan terhadap kehidupan. Belasan tahun sudah aku
kehilangan hidupku. Itu sudah cukup.

Kini aku harus memulai lagi hidupku yang sempat terhenti. Dan aku memulainya
di sini, di RS Jiwa Dr Soeharto Heerdjan. Sebagai bentuk rasa syukur dan
terima kasihku atas kesempatan menjalani hidup normal ini, sudah hampir
setahun aku membantu perawat menjadi teman curhat bagi teman-temanku yang
lain. Istilahnya aku bekerja *day care *di sini. Setiap pagi Senin hingga
Jumat aku berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan bus umum. Pada pukul
satu siang aku pun pulang ke rumah. Aku bisa membantu teman-temanku keluar
dari dunianya yang menurut mereka mengasyikkan, yang mereka pikir membuat
mereka bahagia. Aku pernah merasakan apa yang mereka rasakan, jadi kuharap
trikku jitu. Tidak mudah memang, tapi aku tak mau menyerah. Jika hari ini
mereka belum mau mendengarku, masih ada hari esok.

Di sini, aku diberi honor setiap minggu Rp 125 ribu. Lumayanlah untuk ongkos
pergi-pulang ke rumahku di Tangerang. Apalagi ibuku masih membekali aku Rp
400 ribu setiap bulan. Uang itu kutabung untuk biaya pernikahanku kelak. Ya,
aku masih memendam cita-cita untuk berumah tangga. Dan atas ijin-Nya, akhir
tahun ini aku akan meminang seorang gadis manis, kakak temanku. Aku
bersyukur dia mau menerima masa laluku yang berat.

Selain bisa membantu teman-temanku, mendapat honor, aku juga senang bisa
bekerja di sini, untuk terus mengingatkanku betapa beruntungnya aku.
Keluargaku tak pernah hilang harapan melihat aku sembuh. Mereka mendukungku
100 persen. Tak seperti sebagian temanku yang "ditelantarkan" keluarganya di
sini, tak pernah dijenguk. Tampaknya keluarga mereka malu dan takut terhadap
stigma masyarakat.

Jika keluarga dan masyarakat sekitar tak mendukung, pasien sakit jiwa tak
akan pernah sembuh. Meski sudah keluar dari rumah sakit, kami tetap
membutuhkan dukungan dan kesempatan. Jangan lihat kami dengan pandangan
sinis. Kami juga ingin sembuh. Beri kami kesempatan dan ruang. Jangan terus
memperolok kami.

Biarlah aku tak bisa membuat bangunan megah seperti arsitek itu. Aku hanya
bisa membagi pengalamanku kepada semua orang. Tak mengapa. Dengan begini
saja aku sudah merasa sangat berguna. Aku ingin seumur hidupku habiskan
dengan bekerja di RS ini. Teman-temanku yang lain juga bisa mendapatkan
kesempatan dan dukungan seperti yang kudapatkan. Aku ingin masyarakat
mengerti, kami bukan penyakit masyarakat yang harus dibuang dan dilupakan.
Hanya itu keinginanku. Aku pun telah mengubur dalam-dalam segala pedih,
dendam, dan sakit hati karena stigma itu. Aku telah memaafkanya. Aku yakin
Tuhan pasti punya rencana indah bagiku. (*)

- Dituliskan oleh Liza Desylanhi atas penuturan Ardi.

http://www.vhrmedia.com/vhr-story/lakon-detail.php?.g=stories&.s=lakon&.e=16

-- 
hendro
0812 841 8958
http://ryolix.multiply.com/
[EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke