Wajah Kita

>> Oleh PUTU WIJAYA
>> Catatan DESEMBER
>> Harian KOMPAS
>> Sabtu, 29 Desember 2007 Hal. 3

Kebangkitan Nasional membangunkan kita yang semula tidur di telapak
kaki penjajah. Dengann persatuan, perbedaan dilebur menjadi satu. Para
pemimpin bangsa mengikrarkan Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa,
Satu Bahasa, yang mengobarkan revolusi dan berakhir dengan Proklamasi
Kemerdekaan 1945.

Tetapi, di masa kemerdekaan, ide peleburan dalam per­satuan terasa
mulai mengganggu kebebasan. Tak ada orang yang sudi melebur identitas
lokalnya setelah musuh bersama tak ada lagi. Maka, Bhinneka Tunggal
Eka dibaca sebagai Bhinneka Tunggal Ika. Bukan persatuan yang
meluluhkan perbedaan yang diperlukan, tetapi kesatuan dari perbedaan
yang justru akan dilestarikan. Dengan kesatuan, kita mera­yakan
keberagaman dan menjadi negeri ajaib dengan 9.000 pulau,
berjenis-jenis etnis, 728 bahasa daerah, berbagai agama, adat istiadat
dan latar belakang budaya, dalam satu rumah yang kita sebut Indonesia
dengan dasar negara Pancasila.

Ketika kebebasan dinobatkan sebagai citra utama ke­merdekaan dalam
masa Reformasi, kesatuan'pun terasa mulai tidak nyaman lagi karena
masih dihantui oleh bayang-bayang persatuan. Dosa para pemimpin yang
lebih memikirkan kesejahteraan diri dan golongannya menyebabkan rakyat
mempertanyakan apakah mereka benar-benar sudah mer­deka. Semua orang
ternyata ingin kembali merdeka dalam kemerdekaan. Maka, perjalanan
Kebangkitan Kebangsaan pun berbelok tajam, menjadi Kebangkitan
Kepentingan Daerah dan Golongan yang dengan mudah bisa saja
dipelesetkan sebagai disintegrasi.

Pendidikan sebagai tiang agung pembangunan negara dan bangsa pun
berbelok dengan tajam. Manusia tidak lagi dididik budi pekertinya,
tetapi hanya dikarbit untuk cerdas agar mampu bersaing dalam dunia
global, memburu sukses dan menjadi nomor satu. Kalah adalah aib, semua
orang dipacu agar menang. Akibatnya, banyak yang tak peduli lagi
mencapai keberhasilan dengan cara apa pun. Kalau perlu dengan cara
menerkam saudara-saudaranya sendiri, seperti serigala-se­rigala yang
sudah diceritakan Thomas Hobbes. Korupsi dan berbagai tipu daya pun
berubah wajah menjadi kiat-kiat dagang dan strategi sukses, karena
hukum hanya dibicarakan, tetapi tidak dilaksanakan.

Dalam chaos perlombaan itu tak seorang pun sudi di­ingatkan lagi,
betapa pentingnya menumbuhkan kematangan jiwa, memelihara keteguhan
moral, memupuk keluhuran budi pekerti, apalagi mempertahankan
kepribadian bangsa. Berkorban untuk kepentingan bersama hare gene
sudah menjadi kebodohan. Semua orang sudah telanjur dibelajarkan untuk
merasa dirinya belum mendapatkan keadilan dan diperlakukan secara
benar. Tak heran apabila setiap orang berusaha untuk "berdagang",
menyelamatkan kepentingan pribadinya habis-habisan, bahkan bisa buas.
Tak terkecuali saya.

Ukuran yang dipakai di dalam menakar segala sesuatu sekarang adalah
angka-angka dan keuntungan. Kalau lebih besar, lebih banyak, lebih
tinggi, lebih efektif, lebih efisien, lebih menguntungkan, dianggap
lebih baik. Satuan nilai, seperti pengorbanan keikhlasan, yang dulu
dimuliakan untuk membina persaudaraan, kebersamaan, kenyamanan,
kete­nangan, kebahagiaan, ketenteraman, kecukupan, perdamaian, dan
sebagainya sudah bergeser. Terjadilah perubahan yang luar biasa di
dalam diri setiap orang. Maka, seluruh arti dan tujuan hidup menjadi
sangat berbeda. Itulah wajah kita di pengujung 2007 in

-- 
Ophet
0818-08807388
bebex penjelajah/BekaKak-003
www.bekakak.or.id
http://blackkarisma.multiply.com/
#Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang
menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena
tiada lagi yang mengasihmu di akhirat#
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke