Sorry ...bagi yang ngak suka foward-an....tapi karena ini menarik bagi 
gw....jadi gw mo bagi ama temen -temen sekalian......

sorry....bos opik...hehehehehe



   


--------------------------------------------------------------------------------

  _,_._,___ 
  Republika, Rabu, 09 Januari 2008

  Saat Generasi MTV Meliput Pak Harto

  Mereka datang laksana air bah ke Rumah Sakit Pusat
  Pertamina (RSPP),
  begitu mengetahui Soeharto terbaring di sana sejak
  Jumat (4/1) pukul
  14.15 WIB. Ada tokoh pemerintah, tokoh politik, artis,
  mantan
  pejabat, hingga wartawan. Hari pertama Pak Harto
  menempati
  Presidential Suite, lantai 5, kamar 536, pengunjung
  belum banyak.

  Yang terlihat hanya orang dekat seperti Wismoyo
  Arismunandar, Prabowo
  Subianto, dan Moerdiono. Tapi, Sabtu (5/1) siang
  hingga malam, lobi
  Gedung A RSPP tak henti-hentinya kedatangan mobil
  mewah. Hari itu,
  memang terbetik kabar bahwa kondisi kesehatan Pak
  Harto menurun,
  bahkan sempat kritis.

  Karangan bunga juga terus berdatangan. Jumat, karangan
  bunga langsung
  diantar ke lantai lima. Sabtu, sudah memenuhi lobi
  seluas dua kali
  lapangan bulu tangkis. Selasa (8/1) siang, karangan
  bunga itu
  dilokalisasi di lorong menuju lift Gedung A. Sebagian
  besar terlihat
  sudah layu. Sejak Jumat malam, wartawan media cetak
  dan elektronik
  tumplek blek di RSPP. Pada Jumat, Sabtu, dan Ahad,
  jumlahnya 70-an
  orang. Kemarin, saat kondisi Pak Harto dikabarkan drop
  kembali,
  jumlahnya mencapai di atas 100.

  Mereka bukan cuma menunggu di lobi Gedung A. Mereka
  juga nongkrong
  dekat kamar jenazah, kantin samping Gedung A, hingga
  ruang UGD.
  Berharap ada tokoh atau dokter yang datang atau pulang
  lewat jalan
  belakang. Mencegatnya, untuk mendapatkan informasi
  eksklusif.

  Camelia Malik, Bustanul Arifin (maksudnya bustan-i-l
  arifin,
  purnawirawan militer, mantan menkop dan kepala bulog;
  bustan-U-l
  arifin adalah nama dosen Unila, peneliti INDEF),
  Moerdiono, dan
  Hayono Isman, yang saban hari datang, punya pola
  berbeda. Camelia
  Malik selalu datang lewat pintu depan, pulang lewat
  pintu belakang.
  Moerdiono dan anak-anak Soeharto, datang dan pulang
  lewat belakang,
  dekat kamar jenazah. Hayono Isman dan Bustanul Arifin
  yang selalu
  lewat depan. Kemarin, Halimah juga lewat belakang,
  dekat kantin.

  Sejak Jumat, tunggu-menunggu di Lobi Gedung A RSPP tak
  kunjung surut.
  Maklum, jumpa pers kondisi kesehatan Pak Harto, hanya
  dilakukan pagi.
  Tak ada penjelasan pada siang, sore, dan malam hari.
  Padahal, laporan
  harus selalu disetor. Alhasil, setiap tokoh yang ingin
  atau sudah
  menjenguk Pak Harto, setiap mobil yang berhenti di
  depan lobi,
  langsung diserbu. Bagi yang wajahnya sudah familiar,
  tentu mudah
  dimintai keterangan. Lain soal kalau tak dikenal.

  Masalah kenal-mengenal ini ada cerita tersendiri.
  Peliput kebanyakan
  wartawan muda, generasi MTV yang lahir akhir 1970-an
  atau awal 1980-
  an. Sementara pengunjung rata-rata menjadi pejabat
  saat para wartawan
  masih berseragam merah putih atau putih biru. Di
  situlah serunya.
  Sabtu sore, dari mobil mewah berwarna gelap, seseorang
  bertampang
  pejabat berhenti di depan lobi Gedung A. Sontak,
  wartawan bergerak
  merubungnya. Kamera siap merekam dan menjepret,
  reporter sudah
  menyorongkan mic dan alat perekam lain, rentetan
  pertanyaan sudah
  disiapkan.

  Tapi, begitu sang pejabat keluar dari mobil,
  jreeengggg, tak seorang
  pun mengenalinya. Sunyi sejenak. Para wartawan
  melongo, menoleh ke
  kiri dan kanan.

  ''Sapa tuh?''

  ''Siapa ya?'' Celetukan itu bertaburan.

  ''Kenal gak?''

  ''Nggak tuh. Menteri kali?''

  Tapi, dengan kadar kecuekan tingkat tinggi, para
  reporter langsung
  memberondongnya, ''Pak, namanya siapa?''

  ''Mau jenguk Pak Harto, ya?''

  ''Pak, dulu jabatannya apa?''

  Mulanya, dia kaget. Tapi kemudian senyam-senyum.
  Begitu pula wartawan
  yang sampai akhir tak berhasil mengorek identitasnya.

  Tebak-tebakan pun muncul. ''Kayaknya mantan menteri
  pertambangan dulu
  deh. Wajahnya sih mirip Pak Sadli.''
  ''Heh, menteri tahun berapa tuh?'' tanya wartawan
  lain.

  ''Ah, bukan tuh. Wajahnya mirip Bustanul Arifin,
  mantan menteri
  koperasi.''

  Wartawan lain, dengan wajah bingung, bertanya, '''Hah?
  Bustanul
  siapa?''

  Sampai Senin (7/1), peristiwa serupa masih terulang,
  saat seseorang
  turun dari Volvo di depan lobi Gedung A. ''Mau jenguk
  Pak Harto,
  Pak?'' Dia menjawab, ''Iya.'' Tapi, usai wawancara,
  para wartawan
  kembali saling pandang, ''Siapa tadi ya?''

  Mengorek informasi dari karangan bunga, juga punya
  kisah unik.
  Biasanya, begitu karangan bunga masuk lobi, para
  wartawan langsung
  merubung kurir. Suatu ketika, melihat kartu nama
  bertulis Anthony
  terselip di karangan bunga lili, seorang wartawan
  bergumam, ''Wah,
  jangan-jangan dari Anthony Salim.''
  Kendati belum pasti, seorang wartawan yang
  mendengarnya langsung
  membuat pengumuman: ''Eh, ada karangan bunga dari
  Anthony Salim.''
  Tapi, sambil melongo, sebagian wartawan malah
  bertanya, ''Siapa tuh
  Anthony Salim?''

  Ada lagi yang aneh bin ajaib. Jumat lalu, melihat
  kurir susah payah
  mengangkat pot besar, seorang wartawan televisi
  bertanya, ''Karangan
  bunga dari siapa, Pak?'' Sang kurir menjawab
  sekenanya, ''Tidak tahu,
  Mas. Katanya sih dari Fuad Hassan.''

  Dan, si wartawan langsung menyebarkannya. ''Fuad
  Hassan ngirim
  karangan bunga, tuh.''

  Terang saja protes muncul. ''Mana mungkin?! Salah kali
  lu.''

  Tapi dia ngotot. ''Gimana salah? Kurirnya yang bilang
  sendiri.''

  Dengan kesal, wartawan lain meledek. ''Woi! Fuad
  Hassan udah

  meninggal. Gimana bisa ngirim karangan bunga?''

  Masih ada lagi. Melihat Sudwikatmono yang punya ikatan
  darah dengan
  Pak Harto tiba di lobi, dia langsung diserbu dan
  diberondong
  pertanyaan. ''Bagaimana kondisi Pak Harto, Pak?''

  ''Sudah bisa berkomunikasi? ''

  ''Selang di tubuhnya ada berapa, Pak?''

  ''Anak-anaknya lengkap Pak?''

  ''Ada Tommy, Pak?''

  Mulut pengusaha yang berjalan tertatih dipapah
  ajudannya itu sempat
  bergumam, tapi tak sepatah kata pun keluar. Tapi,
  berondongan
  pertanyaan tak berhenti, sampai dia naik mobil.
  Seorang polisi geleng-
  geleng kepala melihat kejadian itu. ''Busyet dah,
  wartawan. Tega
  bener. Udah liat jalan gitu masih aja ditanya. Untung
  gak pingsan,''
  katanya, sambil tersenyum. Ya, namanya juga wartawan,
  Pak. (evy)

  Myra Puspasari




APRIL LORENTINA 766HI
email/ym/FS : [EMAIL PROTECTED]



















--------------------------------------------------------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. 

 

Kirim email ke