Hanya untuk diketahui

Boleh dikatakan masih banyak orang yang tidak mengetahui bahwa 
Soeharto juga sering melakukan laku ritual (mistik) seperti halnya 
orang-orang Jawa pada umunya dan bangsawan Jawa pada khususnya. 
Sepanjang sejarah bangsa Indonesia, negeri ini memang selalu 
dipimpin oleh orang-orang Jawa. Masyarakat yang percaya akan dunia 
klenik. Bahkan warisan para leluhur orang-orang Jawa itu hingga kini 
masih saja dilakukan. Dari fenomena inilah sering dikenal dengan 
istilah kejawen.

Seorang kejawen biasanya sering melakukan ritual-ritual yang menurut 
logika dan eksakta sangat tidak masuk akal. Biasanya dengan 
mendatangi makam-makam (kuburan) orang terdahulu yang dianggap 
memiliki kekuatan supranatural atau keramat. Bahkan dengan melakukan 
puasa-puasa yang disertai berbagai syarat yang telah ditentukan oleh 
para nenek moyangnya.

Dan istilah pertapaan juga timbul dari ritual-ritual kejawen ini. 
Tujuannya tidak lain ialah untuk mendapatkan wangsit. Arahan yang 
harus dilakukan agar sesuai keinginan pelaku ritual yang didapatkan 
dengan melakukan berbagai ritual tersebut.

Buku "Dunia Spiritual Soeharto: Menelusuri Laku Ritual, Tempat-
tempat dan Guru Spiritualnya" karya Arwan Tuti Artha ini, seakan 
memberikan pengalaman baru akan dunia lain dalam diri Soeharto. 
Sebagai orang desa yang punya latar belakang budaya Jawa yang sangat 
kental. Penulis buku ini juga menjelajahi lika-liku perjalanan 
spiritual Soeharto.

Soeharto memang sosok pribadi yang dapat dihubungkan dalam wilayah 
kejawen. Beliau sendiri mengakui selalu ngelakoni seperti puasa dan 
semedi. Tak jarang Soeharto -dalam kesehariannya- juga selalu 
melaksanakan warisan leluhurnya untuk mengadakan selamatan-
selamatan. Memang ritual semacam ini tidaklah sangat mengherankan 
dalam kehidupan para bangsawan Jawa terdahulu.

Bagi Soeharto, menjalankan puasa dan ritual-ritual kejawen lainnya 
sudah bukan hal yang baru. Mungkin lantaran inilah mengapa Soeharto 
dianggap ampun oleh masyarakat. Seorang yang dalam memancarkn 
kharisma saat memimpin bangsa ini. Tidak hanya itu, beliau dapat 
membangun kekuatan diri dan keluarganya dengan mudah.

Konon, Soeharto bisa mempertahankan kekuasaan selama 32 tahun 
lamanya, sering dikaitkan dengan faktor keberuntungan. Keburuntungan 
yang disebakan mau nglakoni (mengamalkan) ilmu-ilmu klenik yang 
telah diwariskan nenek moyangnya. Dalam ajaran klenik banyak 
diajarkan tentang cara menghitung hari yang tepat ketika hendak 
melakukan segala sesuatu. Mempertimbangkan baik-buruk. Selalu 
bersikap eling lan waspodo (ingat dan hati-hati) dalam menentukan 
masa depan dirinya.

Kesadaran diri untuk tidak melakukan tindakan secara sembrono 
(mengambil tindakan tanpa pertimbangan) inilah mendorong Soeharto 
untuk tidak terjebak pada hal-hal yang tampak menyenangkan tapi 
bersifat semu. Sehingga, representasi klenik dipercaya bisa 
memberikan arahan sekaligus solusi terhadap kehidupan yang mengalami 
kebuntuhan. Termasuk memprediksi nasib, beruntung tidaknya seseorang 
dalam menjalani kehidupan.

Melalui buku ini, Arwan Tuti Artha tidak hanya menyajikan ulasan 
detail tentang ajaran-ajaran yang mengandung nilai-nilai kebudayaan 
Jawa. Tetapi, dia juga mengungkap berbagai kisah unik dan menarik 
yang pernah dilakukan Soeharto selama menjabat sebagai Presiden.

Mulai dari kegemarannya menyimpan benda-benda keramat, berendam 
disebuah sungai yang airnya deras hingga bersemedi ditempat-tempat 
yang memiliki kekuatan gaib sampai mendapat wangsit yang diberikan 
leluhurnya melalui perantara tusuk konde yang biasanya dipakai Bu 
Tien (istri Soeharto). Hal ini tampaknya sangat jarang diketahui 
oleh khalayak umum.

Ulasan Arwan Tuti Artha mengenai kegemaran Soeharto untuk melakukan 
ritual-ritual klenik atau kejawen ini mestilah ada maksud dan 
tujuannya. Ditengarahi keinginan Soeharto sampai punya banyak 
kenalan dukun dan guru spiritual ini tidak lepas dari ambisinya agar 
tetap eksis menjadi penguasa di negeri ini. Pemimpin yang kebal dari 
serangan tenun dan santet selama menjalankan proses kepemimpinannya. 
Karena sejak awal Soeharto sudah dibekali dengan kesaktian oleh guru 
spiritualnya guna melindungi diri dari mara bahaya.

Akan tetapi berdasarkan pemaparan penulis, hanya satu hal yang belum 
sempat dilakukan oleh Soeharto. Hal yang kalau juga dilakukan oleh 
Soeharto, bisa jadi seumur hidup Soeharto tetap berkuasa.. Tidak 
hanya bisa memimpin Indonesia selama 32 tahun. Ada benarnya pula apa 
yang sempat diramalkan oleh Ki Ronggowarsito pada masa lalu, bahwa 
Indonesia bakal dipimpin seorang satrio muktiwibowo kesampar 
kesandung. Yakni kalau saja ritual tidur di joglangan tak 
terlewatkan oleh Soeharto, bisa jadi setelah 32 tahun berkuasa, 
Soeharto tidak akan terlunta-lunta yang pada akhirnya turun dari 
kursi kepresidenaan.

Tempat-tempat yang biasanya dikunjungi oleh Soeharto sebagai 
petunjuk spiritual, misalnya Selok. Gunung keramat yang terletak di 
Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Cilacap. Srandi, Pohon Jambe, 
Sanggar Pamujan, Sanggar Palereman Kakung, Sanggar Palereman Putri 
dan Sanggar Supersemar. Dari tempat inilah kegiatan spiritual 
Soeharto berjalan, dengan tujuan ngalap berkah.

Sayangnya, penulis tidak memiliki foto-foto ekslusif Soeharto ketika 
sedang melalukan laku ritual di tempat-tempat itu. Tetapi, foto-foto 
tempat ritual Soeharto yang juga dihadirkan dalam buku ini 
setidaknya cukup memberikan tambahan pemahaman kepada pembaca.

Memang tidak terlalu jelas runut cerita perjalanan gamblang 
spiritual Soeharto digambarkan dalam buku ini. Apalagi memang buku 
ini meneropong sisi lain dari kehidupan seseorang. Sosok Soeharto 
yang selama ini selalu dilihat hanya dari segi politik dan 
pertahanan-keamanannya saja. Padahal Soeharto sering kali melakukan 
laku spiritualnya yang juga harus diketahui publik.

*) Ahmad Makki Hasan
Alumnus Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang, kini pegiat di 
Komunitas LACAK (Lingkar Cendikia Kemasyarakatan) Malang

(Tuliasan ini telah dimuat di Koran harian "Malang Post" Minggu, 18 
Februari 2007)



Kirim email ke