bacaan yg bagus....dan dapat dipercaya...
tp gw ngantuk niiihhhhhhhhh.......................
mo nyalahin sapa ya?
marketing perumahan ? gak juga...semalem gw gak kesono......
bini gw ? gak juga....semalem dia tidur cepet......
siapa ya....yg jadi tumbalnya.......?
ah capek deeehhhh....ngopi ah...............

Pada tanggal 12/02/08, hendro cahyono <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
>   daripada sepi
>
>
> Menyalahkan Orang, Hobi Kejiwaan yang Tak Diakui
>
> Banyak hobi yang bisa membuat bahagia dan bangga orang yang
> mengklaimnya. Seperti hobi membaca, olahraga, mendesain, masak dan
> masih banyak lagi hobi-hobi yang panjang sekali ragamnya jika
> dituliskan disini.
>
> Tetapi dari sekian banyak hobi yang kita akui. Ada hobi yang tidak
> pernah kita akui baik secara tertulis maupun lisan, yaitu hobi
> menyalahkan orang atau pihak lain. Ternyata penganut hobi yang tidak
> diakui oleh diri siempunya hobi ini, banyak jumlahnya.
>
> Coba kita lihat tayangan televisi atau membaca koran, mulai dari
> menyalahkan orang lain yang buang sampah sembarangan, dan menjadi
> penyebab banjir, bahkan menyalahkan alam yang tidak becus mengatur
> iklim. Kita mengklaim diri, sebagai yang selalu benar!, yang salah
> sich orang atau pihak lain.
>
> Suatu kesan di mana banyak orang, terjebak kebiasaan yang akhirnya
> menjadi kesukaannya, sebagai hobi tak terakui, bahwa dirinya, selalu
> menyalahkan orang lain, terutama untuk hal yang tidak mengenakan yang
> terjadi untuk dirinya, jarang bahkan mungkin sulit ditemui seseorang,
> mau mengakui dan mengatakan hobi saya adalah "menyalahkan diri saya
> sendiri, jika didapat hal yang tidak enak atau tidak diharapkan
> terjadi pada saya!"
>
> James Salam, seorang pengamat sosial yang bermukim di Belanda, dengan
> latar belakang berpengalaman sebagai personal manager perusahaan
> Multinasional Belanda, dan sebagai konsultan tamu di Inspiration
> Centre, yang bergerak dalam pelatihan interaksi personal dengan
> konsep Inspirasi Manajemen.
>
> Di mana beliau mengamati tingkah laku orang, dalam bersosialisasi,
> interaksi relasi sebagai adaptasi dengan pasangan barunya, atau
> tempat kerja barunya, bahkan negara baru yang sekarang mereka hidup,
> dalam sebuah kesempatan wawancara dengan penulis mengatakan: "Banyak
> orang selalu menempati dirinya menjadi 'sentralisasi' kata lain,
> minta diperhatikan, sementara masalah orang lain di-masabodoh-kan,
> dan senangnya menempatkan diri dalam posisi menjadi "korban'' dalam
> banyak situasi lingkup sosial relasi.
>
> Dengan mengatakan hal ini, bisa saja diri kita sendiri terjebak dalam
> pepatah yang mengatakan: "Satu jari menunjuk hidung orang lain, maka
> keempat jarimu menunjuk hidung sendiri!"
>
> Sebagai contoh soal jika seseorang mau menjadi pendonor ginjal,
> dengan segala niat tulus orang tersebut memakai uangnya sendiri untuk
> membayar segala pemeriksaan medis dan lainnya, untuk persiapan diri
> sebagai donor, setelah semua pemeriksaan selesai dilakukan, didapat
> kenyataan bahwa dia tidak memenuhi standar kesehatan untuk
> menyumbangkan sebuah ginjalnya, dan pihak calon penerima donor tidak
> mau tahu masalah keuangan yang sudah terlanjur dikeluarkan, dengan
> dalih salahmu sendiri kenapa punya ginjal tidak sehat, maka proses
> pendonoran tidak bisa dilakukan dan kenyataan saya tetap sakit.
>
> Nah, melalui cerita ilustrasi ini kita bisa menilai
> sikap "menyalahkan orang lain" atas apa yang tidak enak ter- jadi
> pada kita.
>
> Salahkan Vs Syukuri
>
> Daripada kita terjebak hobi "menyalahkan pihak/orang lain" mungkin
> bisa kita ambil jalan bijaksana, jika dalam perjalanan hidup kita
> berinteraksi, ketika kita menginjak kerikil tajam yang melukai diri
> kita, daripada kita menyalahkan kenapa ada kerikil tajam yang
> menyakitkan dalam perjalanan relasi kita, lebih bijaksana kalau kita
> berpikir, syukur kerikil ini terinjak sekarang, maka kita bisa
> melangkah lebih hati-hati dalam meneruskan perjalanan relasi ini.
>
> Di bawah ini saya ajak pembaca, dengan seizin penulisnya yang tidak
> mau dituliskan namanya, membaca kisah ilustrasi yang bagus kita simak
> bersama, bahwa dalam banyak kenyataan kita terjebak hobi tak terakui
> yaitu: "menyalahkan orang lain".
>
> Siapa Pencurinya
>
> Pada suatu malam, seorang wanita sedang menunggu keberangkatannya di
> bandara, sedangkan masih ada beberapa jam sebelum jadwal
> keberangkatannya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan
> sekantong kue di salah satu toko di bandara itu, lalu menemukan
> tempat untuk duduk.
>
> Sambil duduk, wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya.
> Dalam keasyikannya tersebut ia melihat seseorang disebelahnya, dengan
> begitu berani mengambil satu-dua kue yang berada diantara mereka
> berdua. Wanita tersebut berusaha mengabaikan agar tidak terjadi
> keributan, demikian pikirnya.
>
> Dia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si "pencuri"
> kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal
> sementara menit-menit berlalu, wanita itu sempat berpikir setiap ia
> mengambil satu kue, orang itu juga mengambil satu. Ketika hanya satu
> kue tersisa, ia bertanya-tanya dalam hati: "Sekarang, apa yang akan
> dilakukan orang itu?"
>
> Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si orang itu mengambil
> kue terakhir dan membaginya menjadi dua. Orang tersebut menawarkan
> separuh miliknya sementara ia makan yang separuhnya lagi.
>
> Dan dengan kasarnya wanita itu, merebut kue itu tanpa sedikit pun
> terbesit perasaan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu
> kesal dalam situasi begini.
>
> Dia menarik napas lega saat penerbangannya diumumkan, dia
> mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk
> menoleh pada si "pencuri yang tak tahu terima kasih itu!". Demikian
> geram dia berkata dalam hatinya!
>
> Ketika sudah di dalam pesawat dan duduk di kursinya, la berusaha
> mencari buku, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya,
> ia menahan napas dengan kaget. Di situ ada sekantong kue. Kok milikku
> ada di sini..? erangnya dengan patah hati.
>
> Jadi kue tadi adalah milik orang itu dan ia mencoba berbagi kepadaku.
> Terlambat sudah baginya untuk meminta maaf, sebegitu malunya
> membuatnya tersandar di bangku pesawat mengingat perilakunya yang
> buruk terhadap orang tadi.
>
> Sesungguhnya dialah yang kasar, dan tidak tahu berterima kasih!
> Dialah sesungguhnya pencuri kue itu.
>
> Dalam hidup ini, kisah "pencuri kue'' seperti itu sering sekali
> terjadi di kehidupan. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain
> dengan kacamata kita sendiri, serta sering kali berprasangka buruk
> terhadapnya.
>
> Orang lainlah yang selalu salah, patut disingkirkan, tak tahu diri,
> berdosa, selalu bikin masalah, pantas diberi pelajaran.
>
> Padahal, kita sendiri yang mencuri kue tadi, padahal kita sendiri
> yang tidak tahu berterima kasih. Kita sering mempengaruhi, memberi
> komentar, mencemooh pendapat, memberi penilaian negatif, mencela
> gagasan orang lain, sementara sebetulnya kita tidak tahu betul duduk
> permasalahannya.
>
> Alam memang memberikan kita akal budi untuk berpikir, tetapi bukan
> berarti setiap masalah harus diselesaikan dengan mengandalkan akal
> budi semata, tetapi harus memahami apa yang ada di depan mata,
> menyadari situasi dan kondisi yang ada, yang sering kali sulit dapat
> dimengerti melalui akal budi, setiap penyesalan tidak akan pernah
> terjadi di awal, dan kita tidak akan pernah bisa memutarnya kembali
> seperti jam demi jam, waktu yang sudah terbuang per- cuma dalam
> perjalanan hidup ini.
>
> Demikian juga ulah wanita dalam kisah di atas, bagaimana bisa
> menemukan orang yang sudah dia salahkan, bagaimana bisa menyampaikan
> maafnya yang menuduh orang lain yang salah.
>
> Berlatih Mengikis
>
> Begitu juga dengan iklim yang sangat ekstrem yang terjadi belakangan,
> dan ini terjadi merata diseluruh permukaan bumi, daripada kita
> menyalahkan si A atau si X, lebih baik kita bersyukur bahwa alam
> sudah memberi kita peringatan sedini mungkin, bahwa kelakuan manusia
> terhadap alamnya sudah harus diperbaiki, maka pencegahan-pencegahan,
> dan sosialisasi tentang bahaya yang bisa menyebabkan timbulnya
> bencana alam, kehancuran dunia bisa laksanakan.
>
> Maka suatu kebijaksaan untuk segera membenahi dan memberi perlakuan
> yang nyata, bahwa dunia seperti apa yang akan kita wariskan kepada
> generasi selanjutnya untuk mereka tempati.
>
> Kita memang hanyalah manusia yang tidak sempurna, pepatah mengatakan,
> tidak ada gading, yang tidak retak. Tetapi, hobi tak terakui yang
> kita punya, yaitu senang menyalahkan orang lain atau pihak lain untuk
> suatu yang tidak enak, yang tidak mau terjadi pada kita, adalah suatu
> hobi yang perlu kita terus awasi dan berlatih untuk mengikisnya, agar
> jiwa kita tidak menjadi penganutnya yang setia.
>
> Sumber: Menyalahkan Orang, Hobi Kejiwaan yang Tak Diakui
> oleh Lianny Hendranata
>
>  
>



-- 
Ophet
0818-08807388
bebex penjelajah/BekaKak-003
www.bekakak.or.id
http://blackkarisma.multiply.com/
#Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu
di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang
mengasihmu di akhirat#
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke