hehehehehe ---------- Forwarded message ---------- From: Novi Yanthi <[EMAIL PROTECTED]> Date: 2008/5/14 Subject: [djwiryadotcom] [OOT] Papan Peringatan/Larangan To: [EMAIL PROTECTED]
Papan Peringatan/Larangan >> Kasijanto Sastrodinomo*) >> Bahasa >> Majalah Tempo, Edisi 12-18 Mei 2008 [p.145] Saya teringat sisipan stiker bonus majalah Aktuil (1972) yang bertuliskan "Awas yang punya anjing galak!" Padahal biasanya yang tertulis di rumah-rumah orang yang memelihara anjing adalah "Awas (ada) anjing galak," seperti halnya Beware the dog di negeri orang. Stiker itu memang hanya ekspresi gurauan anak-anak muda. Tetapi pesan yang tertangkap di baliknya adalah kita mungkin tak terbiasa dengan peringatan/larangan yang sewajarnya sehingga diperlukan semacam ejekan atau "teguran" yang lebih keras. Iseng-iseng saya pernah "mengeja" berbagai papan peringatan/larangan yang dipasang di tempat-tempat umum di Jakarta. Jumlah dan genrenya ternyata cukup banyak tetapi umumnya berkaitan dengan lingkungan dan kebiasaan. Di sebuah toilet umum terminal bus saja, misalnya, bisa ditemukan aneka bacaan pada dinding, seperti jagalah kebersihan, tutup kembali keran, dilarang membuang tisu ke dalam kloset, dan setelah dipakai harap disentor. Di taman atau area resapan air, publik sering diingatkan dengan papan "buanglah sampah pada tempatnya" atau "dilarang menginjak rumput". Larangan serupa juga ditemukan di berbagai gedung/bangunan mentereng, misalnya harap tenang, tutup kembali pintu, dan matikan listrik sebelum meninggalkan tempat. Untuk memperhalus perintah/larangan, biasanya ditambahkan kata mohon atau akhiran-lah, seperti Mohon antre, Hitunglah uang anda sebelum meninggalkan loket. Belakangan malah ada yang merasa perlu berterima kasih atau meminta maaf terlebih dulu sebelum menyatakan peringatan/larangan dalam frase yang agak panjang: Terima kasih atas kesediaan anda tidak merokok di ruangan ini; Maaf kenyamanan anda terganggu, ada perbaikan [jalan]. Tampaknya, kita tak merasa cukup dengan peringatan/larangan yang bersifat umum atau "universal',' seperti no smoking, no parking, dan no trespassing, di tempat-tempat tertentu. Boleh jadi, masyarakat Indonesia termasuk masyarakat yang produktif dalam menghasilkan bahasa peringatan/larangan. Namun, pertanyaannya adalah apakah sedemikian banyak pelanggaran atau betapa tidak teraturnya kita dalam kebiasaan dan tingkah laku pribadi? Apakah karena itu, kita memerlukan "rincian' peringatan/larangan sampai sekecilkecilnya, hingga, akhirnya, mengatux kehidupan pribadi kita? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan itu karena tampaknya ada kompleks persoalan di luar bahasa. Seorang teman mencoba "berfilsafat" bahwa di balik centang-perenang peringatan atau larangan itu tersembul makna kesadaran kita untuk berhati-hati, tertib, dan akhirnya berdisiplin. Mungkin saja begitu. Tetapi bagaimana harus dijelaskan jika pada sebuah tembok tertempel papan Dilarang kencing di sini ternyata masih juga berbau pesing di sekitarnya? Atau, Dilarang membuang sampah di sini, tetapi bau busuk masih menyengat dart tumpukar j orok di bawah tulisan larangan itu? Mestinya, peringatan atau larangan di tempat umum terbatas pada urgensi yang menyangkut kemaslahatan orang banyak demi kenyamanan dan keselamatan bersama. Pada gardu-gardu listrik yang dibangun pada zaman Belanda, misalnya, biasa disertai tempelan peringatan dalam tiga bahasa: Gevarl_k! 'berbahaya' (Belanda), diikuti bahasa dan aksara Jawa, Sing ngemek mati yang artinya 'yang menyentuh mati', dan bahasa Indonesia Awas listrik tegangan tinggi. Peringatan semacam itu jelas memiliki utilitas tinggi, dan alhamdulillah sampai sekarang masih terlihat terpampang pada tempat yang semestinya -dalam bahasa nasional kita. Pada dinding-dalam gerbong kereta ekspres jurusan Depok-Jakarta Kota, saya menemukan papan peringatan (lebih tepat petunjuk) dalam bentuk simbol-simbol yang bermakna mulia. Intinya, papan bersimbol itu mengingatkan orang akan sejumlah tempat duduk dalam gerbong yang dicadangkan untuk penyandang difabel, ibu menyusui/menggendong bayi, dan orang tua renta yang diasumsikan lemah secara fisik. Oleh karena itu, penumpang yang kondisi tubuhnya segar bugar tidak selayaknya menduduki tempat-tempat duduk tersebut. Petunjuk itu pasti asli dari Jepang karena rangkaian kereta komuter yang saya tumpangi itu memang eks Jepang yang built in didatangkan ke Indonesia. Tetapi, pada kaca pintu geser gerbong kereta yang sama, saya membaca stiker putih yang mengingatkan penumpang: Awas tangan kejepit! Saya yakin peringatan yang satu ini "asli Indonesia", dan tidak dimaksudkan untuk jaga-jaga seandainya Doraemon atau Sinchan dolanan pintu otomatis itu.[] *) Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Pengajar di Fakultas Ilmu --------- [novi] "hanya satu yang aku tahu, yaitu aku tidak tahu apa-apa" -Socrates (470-399 SM)- -- Ophet 0818-08807388 / 021-94561925 bebex penjelajah/BekaKak-003 www.bekakak.or.id http://blackkarisma.multiply.com/ #Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu di akhirat# [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] www.hkci.or.id <Terkadang Tuhan sembunyikan matahari,dia turunkan hujan dan awan hitam. Kita menangis mencari di mana matahari..rupanya Allah mahu menghadiahkan pelangi...>
