mengharukan...ALLAH MAHA BESAR

On 7/24/08, Alex Setia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Nice story...
>
> Alex Setia
> Group Life & Health Underwriting
> ________________________________
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
> hendro cahyono
> Sent: 24 Juli 2008 10:53
> To: [email protected]
> Subject: [BekaKak] maaf jika tak berkenan
>
>
> Interesting and amazing novel, sayang kalo pada belum baca
>
>
>
> Hafalan Surat Delisa
> Author : Tere-liye
> published 2007 by Republika
>
> Review by : Nicegreen on http://www.goodread<http://www.goodread/>
> s.com/book/<http://s.com/book/> show/1376220.
> Hafalan_Shalat_ Delisa
>
> Ada sebuah keluarga di Lhok Nga - Aceh, yang selalu menanamkan ajaran
> Islam dalam kesehariannya. Mereka adalah keluarga Umi Salamah dan Abi
> Usman. Mereka memiliki 4 bidadari yang solehah: Alisa Fatimah, (si
> kembar) Alisa Zahra & Alisa Aisyah, dan si bungsu Alisa Delisa.
>
> Setiap subuh, Umi Salamah selalu mengajak bidadari-bidadariny a sholat
> jama'ah. Karena Abi Usman bekerja sebagai pelaut di salah satu kapal
> tanker perusahaan minyak asing - Arun yang pulangnya 3 bulan sekali.
> Awalnya Delisa susah sekali dibangunkan untuk sholat subuh.
>
> Tapi lama-lama ia bisa bangun lebih dulu ketimbang Aisyah.
> Setiap sholat jama'ah, Aisyah mendapat tugas membaca bacaan sholat
> keras-keras agar Delisa yang ada di sampingnya bisa mengikuti bacaan
> sholat itu.
>
> Umi Salamah mempunyai kebiasaan memberikan hadiah sebuah kalung emas
> kepada anak-anaknya yang bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna.
> Begitu juga dengan Delisa yang sedang berusaha untuk menghafal bacaan
> sholat agar sempurna. Agar bisa sholat dengan khusyuk. Delisa berusaha
> keras agar bisa menghafalnya dengan baik. Selain itu Abi Usman pun
> berjanji akan membelikan Delisa sepeda jika ia bisa menghafal bacaan
> sholat dengan sempurna.
>
> Sebelum Delisa hafal bacaan sholat itu, Umi Salamah sudah
> membelikan seuntai kalung emas dengan gantungan huruf D untuk Delisa.
> Delisa senang sekali dengan kalung itu. Semangatnya semakin
> menggebu-gebu. Tapi entah mengapa, Delisa tak pernah bisa menghafal
> bacaan sholat dengan sempurna.
>
> 26 Desember 2004
>
> Delisa bangun dengan semangat. Sholat subuh dengan semangat. Bacaannya
> nyaris sempurna, kecuali sujud. Bukannya tertukar tapi tiba-tiba Delisa
> lupa bacaan sujudnya. Empat kali sujud, empat kali Delisa lupa. Delisa
> mengabaikan fakta itu. Toh nanti pas di sekolah ia punya waktu banyak
> untuk mengingatnya. Umi ikut mengantar Delisa. Hari itu sekolah ramai
> oleh ibu-ibu. Satu persatu anak maju dan tiba giliran Alisa Delisa.
> Delisa maju, Delisa akan khusuk. Ia ingat dengan cerita Ustad Rahman
> tentang
> bagaimana khusuknya sholat Rasul dan sahabat-sahabatnya.
> "Kalo orang yang khusuk pikirannya selalu fokus. Pikirannya
> satu." Nah jadi kalian sholat harus khusuk. Andaikata ada suara ribut di
> sekitar, tetap khusuk.
>
> Delisa pelan menyebut "ta'awudz". Sedikit gemetar membaca
> "bismillah". Mengangkat tangannya yang sedikit bergetar meski suara
> dan hatinya pelan-pelan mulai mantap. "Allahu Akbar".
>
> Seratus tiga puluh kilometer dari Lhok Nga. Persis ketika Delisa usai
> bertakbiratul ihram, persis ucapan itu hilang dari mulut Delisa.
>
> Persis di tengah lautan luas yang beriak tenang. LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA.
> Dasar bumi terban seketika! Merekah panjang ratusan kilometer.
> Menggentarkan melihatnya. Bumi menggeliat. Tarian kematian mencuat.
> Mengirimkan pertanda kelam menakutkan.
>
> Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyat. Banda Aceh rebah jimpa. Nias
> lebur seketika. Lhok Nga menyusul. Tepat ketika di ujung kalimat
> Delisa,tepat ketika Delisa mengucapkan kata "wa-ma-ma-ti" , lantai sekolah
> bergetar hebat. Genteng sekolah berjatuhan. Papan tulis lepas, berdebam
> menghajar lantai. Tepat ketika Delisa bisa melewati ujian pertama
> kebolak-baliknya, Lhok Nga bergetar terbolak-balik.
>
> Gelas tempat meletakkan bunga segar di atas meja bu guru Nur jatuh.
> Pecah berserakan di lantai, satu beling menggores lengan Delisa.
> Menembus bajunya. Delisa mengaduh. Umi dan ibu-ibu berteriak di luar.
> Anak-anak berhamburan berlarian. Berebutan keluar dari daun pintu.
> Situasi menjadi panik. Kacau balau. "GEMPAR"!
>
> "Innashalati, wanusuki, wa-ma... wa-ma... wa-ma-yah-ya,
> wa-ma-ma-ti. .."
>
> Delisa gemetar mengulang bacaannya yang tergantung tadi. Ya
> Allah, Delisa takut... Delisa gentar sekali. Apalagi lengannya berdarah
> membasahi baju putihnya. Menyemburat merah. Tapi bukankah kata Ustadz
> Rahman, sahabat Rasul bahkan tetap tak bergerak saat sholat ketika
> punggungnya digigit kalajengking?
>
> Delisa ingin untuk pertama kalinya ia sholat, untuk pertama
> kalinya ia bisa membaca bacaan sholat dengan sempurna, Delisa ingin
> seperti sahabat Rasul. Delisa ingin khusuk, ya Allah...
>
> Gelombang itu menyentuh tembok sekolah. Ujung air menghantam tembok
> sekolah. Tembok itu rekah seketika. Ibu Guru Nur berteriak panik. Umi
> yang berdiri di depan pintu kelas menunggui Delisa, berteriak keras ...
> SUBHANALLAH! Delisa sama sekali tidak mempedulikan apa yang terjadi.
> Delisa ingin khusuk.. Tubuh Delisa terpelanting. Gelombang tsunami
> sempurna sudah membungkusnya. . Delisa megap-megap. Gelombang tsunami
> tanpa mengerti apa yang diinginkan Delisa, membanting tubuhnya
> keras-keras. Kepalanya siap menghujam tembok sekolah yang masih bersisa.
> Delisa terus memaksakan diri, membaca takbir setelah "i'tidal..."
> "Al-la-hu-ak- bar..." Delisa harus terus membacanya! Delisa tidak
> peduli
> tembok yang siap menghancurkan kepalanya.
>
> Tepat Delisa mengatakan takbir sebelum sujud itu, tepat sebelum
> kepalanya menghantam tembok itu, selaksa cahaya melesat dari "Arasy
> Allah." Tembok itu berguguran sebelum sedikit pun menyentuh kepala
> mungil Delisa yang terbungkus kerudung biru. Air keruh mulai masuk,
> menyergap Kerongkongannya. Delisa terbatuk. Badannya terus terseret.
> Tubuh Delisa terlempar kesana kemari. Kaki kanannya menghantam pagar
> besi sekolah. Meremukkan tulang belulang betis kanannya. Delisa sudah
> tak bisa menjerit lagi. Ia
> sudah sempurna pingsan. Mulutnya minum berliter air keruh.
> Tangannya juga terantuk batang kelapa yang terseret bersamanya. Sikunya
> patah. Mukanya penuh baret luka dimana-mana. Dua giginya patah. Darah
> menyembur dari mulutnya..
>
> Saat tubuh mereka berdua mulai perlahan tenggelam, Ibu Guru Nur melepas
> kerudung robeknya. Mengikat tubuh Delisa yang pingsan di atas papan
> sekencang yang ia bisa dengan kerudung itu. Lantas sambil
> menghela nafas penuh arti, melepaskan papan itu dari
> tangannya pelan-pelan, sebilah papan dengan Delisa yang terikat kencang
> diatasnya.
>
> "Kau harus menyelesaikan hafalan itu, sayang...!" Ibu Guru Nur
> berbisik
> sendu. Menatap sejuta makna. Matanya meredup. Tenaganya sudah habis. Ibu
> Guru Nur bersiap menjemput syahid.
>
> Minggu, 2 Januari 2005
>
> Dua minggu tubuh Delisa yang penuh luka terdampar tak berdaya. Tubuhnya
> tersangkut di semak belukar. Di sebelahnya terbujur mayat Tiur yang
> pucat tak berdarah. Smith, seorang prajurit marinir AS berhasil
> menemukan Delisa yang tergantung di semak belukar, tubuhnya dipenuhi
> bunga-bunga putih. Tubuhnya bercahaya, berkemilau, menakjubkan! Delisa
> segera dibawa ke Kapal Induk John
> F Kennedy. Delisa dioperasi, kaki kanannya diamputasi. Siku
> tangan kanannya di gips. Luka-luka kecil di kepalanya dijahit. Muka
> lebamnya dibalsem tebal-tebal. Lebih dari seratus baret di sekujur
> tubuhnya.
>
> Aisyah dan Zahra, mayatnya ditemukan sedang berpelukan. Mayat Fatimah
> juga sudah ditemukan. Hanya Umi Salamah yang mayatnya belum ditemukan.
> Abi Usman hanya memiliki seorang bidadari yang masih belum sadar dari
> pingsan. Prajurit Smith memutuskan untuk menjadi mu'alaf setelah melihat
> kejadian yang menakjubkan pada Delisa. Ia mengganti namanya menjadi
> Salam.
>
> Tiga minggu setelah Delisa dirawat di Kapal induk, akhirnya ia diijinkan
> pulang. Delisa dan Abi Usman kembali ke Lhok Nga. Mereka tinggal bersama
> para korban lainnya di tenda-tenda pengungsian. Hari-hari diliputi duka.
> Tapi duka itu tak mungkin didiamkan berkepanjangan. Abi Usman dan Delisa
> kembali ke rumahnya yang dibangun kembali dengan sangat sederhana.
>
> Delisa kembali bermain bola, Delisa kembali mengaji, Delisa dan
> anak-anak korban tsunami lainnya, kembali sekolah dengan peralatan
> seadanya. Delisa kembali mencoba menghafal bacaan sholat dengan
> sempurna. Ia sama sekali sulit menghafalnya. "Orang-orang yang kesulitan
> melakukan kebaikan itu, mungkin karena hatinya Delisa. Hatinya tidak
> ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan." Begitu kata Ubai salah seorang
> relawan yang akrab dengan Delisa.
> 21 Mei 2005
>
> Ubai mengajak Delisa dan murid-muridnya yang lain ke sebuah
> bukit. Hari itu Delisa sholat dengan bacaan sholat yang sempurna. Tidak
> terbolak-balik. Delisa bahkan membaca doa dengan sempurna. Usai sholat,
> Delisa terisak. Ia bahagia sekali. Untuk pertama kalinya ia
> menyelesaikan sholat dengan baik. Sholat yang indah. Mereka belajar
> menggurat kaligrafi di atas pasir yang dibawanya dengan ember plastik.
> Sebelum pergi meninggalkan bukit itu, Delisa meminta ijin mencuci tangan
> di sungai dekat dari situ.
> Ketika ujung jemarinya menyentuh sejuknya air sungai. Seekor burung
> belibis terbang di atas kepalanya. Memercikkan air di mukanya.. Delisa
> terperanjat. Mengangkat kepalanya. Menatap burung tersebut yang terbang
> menjauh. Ketika itulah Delisa menatap sesuatu di seberang sungai.
>
> Kemilau kuning. Indah menakjubkan, memantulkan cahaya matahari senja.
> Sesuatu itu terjuntai di sebuah semak belukar indah yang sedang berbuah.
> Delisa gentar sekali. Ya Allah! Seuntai kalung yang indah tersangkut.
> Ada huruf D disana. Delisa serasa mengenalinya. D untuk Delisa. Diatas
> semak belukar yang merah buahnya. Kalung itu tersangkut di
> tangan. Tangan yang sudah menjadi kerangka. Sempurna kerangka manusia.
> Putih. Utuh. Bersandarkan semak belukar itu.
>
> UMMI........ .......
>
>
> --
> hendro
> 0812 841 8958
> I'M breAkinG thE RuLes GonNa Act liKe a fool
>
>

-- 
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Heri
0812 10 77955
Lost a Minute in Life or Lost Life in a Minute

Kirim email ke