sma 8 jogja menyebut "delayota" = delapan yogyakarta
di jogja juga ada MM (bukan hanya di metropolitan mall bekasi) = malioboro
mall yogya
belon lagi ada istilah "Monjali" = monumen jogja kembali
JokTeng = pojok beteng (wetan dan kulon) di area keraton jogja...

"masangin" = masuk antara dua beringin di keraton jogja
yang konon kabarnya kalo kita bisa berjalan dari pinggir lapangan dengan
ditutup mata memasuki celah 2 beringin yg berjarak 15 - 20 meteran, maka
keinginan kita dapat terpenuhi (mitos dikabulkan)...... secara teorinya sih
terkait dengan system keseimbangan manusia...

dimana kalo mata ditutup, pasti jalan kita ga akan bisa lurus tegak... coba
aja deh....

dan kegiatan masuk masanginitu salah satu alternatf ilangin stress karena
kita aan melihat teman, sobat kita bukannya jalan masuk celah beringin...
tapi malah tanpa sadar mendekati orang jualan bakso/wedang ronde di pinggir
lapangan....

pasti penasaran....
kapan2 bekakak cobain yuk???

gw pandu jogja deh.....
dibantu ama KARYOTO

On 9/25/08, [agiel] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
>
>
>
>           JAWA MODE ON :
>
> Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku
> untuk tag line suatu daerah.
>
> Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap
> Bercahaya,
> semuanya adalah singkatan. Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya
> akan
> menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang.
>
> Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek.
> Muncul pula *Gerbangkertosusila* (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya ,
> Sidoarjo, Lamongan),
> *Barlingmascakeb* (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen),
> *Pawonsari Bakulrejo *(Pacitan Wonogiri Wonosari, Bantul, Kulon Progo,
> Purworejo),
> atau *Joglosemar* (Jogja Solo Semarang).
>
> Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya,
> disingkat menjadi *Semar Loyo*.
> Mungkin di masa mendatang akan muncul juga *Dibalang Sendal* (Purwodadi,
> Batang, Pemalang, Semarang , Kendal),
> atau *Kasur Bosok* (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten).
> Asal jangan *Susu Mbokde* (Surakarta , Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura,
> Delanggu)
> atau *Tanteku Montok* (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap)
>
> Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat
> nama tempat.
> Sebut saja *Amplas* untuk Ambarukmo Plaza , atau *Jakal *(Jalan
> Kaliurang),* Jamal *(Jalan Magelang).
> Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di*
> **Depazter** *alias Depan Pasar Terban.
>
> Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai *Paris*
> (Parangtritis),
> atau *Pakistan** *(Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem),
> bahkan *Banglades* (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).
>
> Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah
> menolak untuk dimintai tolong?
> Berarti sampeyan layak menyandang nama *Willem Ortano*, alias Dijawil
> Gelem Ora Tau Nolak.
> Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan
> omongan sampeyan
> yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan
> dipanggil
> sebagai *Toni Boster,* alias Waton Muni Ndobose Banter.
>
>
>
>
> .
>
> 
>



-- 
hendro
0812 841 8958 / 99618041

Kirim email ke