dearest.. kemaren juga ada yang posting di sebelah.. (tengok dibawah pak cik..) dan ada kesamaan dalam ceritanya.. yaitu si penipu menggunakan logat melayu/malay.. patut diwaspadai..
thanks, baskoro ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ * Eksekutif Wanita Lolos dari Penipu Berkedok Donatur* Ini sebuah pengalaman berharga ibu dua anak sebut saja Ibu Dini yang juga seorang ekskutif di sebuah perusahaan otomotif ternama di Jakarta. Cerita ini dituturkannya saat menunggu *meeting review*. Semoga menjadi *ibroh*(pelajaran) bagi kita semua. Peristiwa ini terjadi pada 15 Oktober 2008. Saat itu, Ibu Dini baru saja selesai membayar tagihan telepon rumah di BCA Jalan Saharjo karena jarak yang begitu dekat dengan kantor beliau hanya berjalan kaki. Di tengah jalan Bu Dini *disapa oleh seorang pria asing* berlogat melayu kental. Dia menanyakan alamat sebuah mesjid bernama Al-Barkah. Orang ini mengaku dari Brunei Darussalam dan ingin menyumbangkan sejumlah uang untuk pembangunan mesjid tersebut. Bu Dini mengaku tidak mengetahui alamat tersebut. "Saya tidak tahu Datuk," jawab Bu Dini. Kemudian muncul sepasang suami istri kemudian Pria Brunei memanggil dan bertanya "Pak Cik tahu tidak dimana letak Mesjid Al-Barkah?" "Kami tidak tahu, tapi pernah mendengarnya. Kalau tidak salah di daerah Menteng." ujar si Suami. Tidak lama melintas seorang pria necis, berdasi dan di kemejanya terdapat logo sebuah bank negeri ternama dan terbesar. Rupanya si Necis mengenal suami istri itu dan menyapa si suami sebagai nasabahnya kemudian menawarkan Pria Brunei untuk menukarkan uangnya di bank tempatnya bekerja. Namun Pria Brunei itu menolak alasannya harus menunggu jam buka yaitu pukul 8.30. Pria Brunei merasa nyaman dan percaya dengan Bu Dini yang kebetulan berjilbab maka memintanya untuk menemani menukar uang. Bu Dini semula menolak karena ada beberapa agenda kerja yang harus diselesaikan pagi itu. Namun Bu Dini akhirnya menyetujui setelah diyakinkan apalagi akan ditemani suami istri tersebut. "Kita pergi dengan mobil saya saja," kata si Necis. Singkat cerita, mereka semua pergi ke sebuah *money changer* di daerah Tebet. Sebelum jalan Bu Dini *menelpon staffnya* bahwa dia ada keperluan sebentar. Sepanjang jalan mereka banyak bercerita soal sumbangan yang hendak diberikan Pria Brunei tersebut. Karena Bu Dini juga seorang *filantropis*pembicaraan tersebut disambut dengan hangat. Bahkan beberapa program kerja perusahaan di bidang CSR ikut dipaparkan. Termasuk rencana Bu Dini dan rekan-rekannya untuk membangun rumah pangan bagi warga miskin. Saat di jalan, Bu Dini sempat *menelpon supir pribadinya* agar dijemput di sebuah *money changer*. Namun dibatalkan karena Pria Brunei keberatan kalau banyak orang yang tahu, khawatir juga terlihat sombong dan riya'. Belum sempat tiba di *money changer*, Pria Brunei itu berkata bahwa dia tidak mau menukarkan uang di *money changer*. "Saya tidak mau terkena perkara riba." jelasnya. "Itu perkara berdosa, nanti amal saya tertolak Allah," tambahnya lagi. "Bagaimana kalau saya tukar wang dari Pak Cik dan Mak Cik." lanjutnya Pria Necis dan pasangan suami istri itu setuju. Si Necis punya 70 juta namun harus diambil di rumahnya. Sedangkan suami istri itu punya 150 juta dan harus diambil di showroom mobil bekas milik mereka. Masih kurang, sedangkan Si Brunei mau menyumbang 100.000 Dollar Singapore artinya sekitar 600 juta !! "Ibu bagaimana? Mau membantu berapa?" tanya si Necis. "Belum tahu, saya tidak banyak hanya untuk keperluan sehari-hari," kata Bu Dini. "Ambil deposito Ibu saja!" usul si Necis. Bu Dini langsung bimbang, untuk ambil deposito harus izin suaminya. Seketika, Bu Dini *melafazkan ayat kursi.* Sebelum ke BCA mereka mampir dulu ke rumah si Necis Pegawai Bank. Mobil hanya diparkir di ujung jalan. Tidak lama dia muncul sambil membawa amplop yang katanya berisi uang 70 juta. Setelah itu mereka pergi ke showroom mobil bekas di daerah Cawang milik suami istri itu. Anehnya, uang sebesar 150 juta diambil dalam waktu singkat kurang dari 10 menit. Pada saat itu Bu Dini dan lainnya tetap di mobil. Segera mereka meluncur mencari BCA terdekat. *Hampir tiga BCA*, salah satunya BCA cabang Gudang Peluru, namun pada saat itu *semua offline*. *ALLAHU AKBAR !!!*. Setelah lama berputar-putar, Si Brunei berkata pada Bu Dini, "Mak Cik, saya tidak mau mengganggu. Mak Cik sedang banyak pekerjaan pertemuan kita sampai di sini saja." kata Pria Brunei itu. Akhirnya, Bu Dini diturunkan kembali di Jalan Saharjo tempat pertama kali bertemu. Usai itu, beliau baru tersadar kalau hampir menjadi korban penipuan. Salah satu staff beliau pernah mendengar cerita penipuan dengan modus yaitu pria asing berlogat melayu yang ingin menyumbang. Beruntung Bu Dini lolos, kalau tidak entah berapa juta bakal amblas digaet penipu. *PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL :* 1. Tetap waspada jangan melamun di jalan, orang yang melamun mudah dihipnotis 2. Never trust a stranger on the street. 3. Pelaku hipnotis akan gagal bila calon korban melakukan kontak via telepon/HP dengan orang lain yang dikenal 4. Tetap percaya dan berdo'a pada yang Maha Kuasa, pada kisah ini Bu Dini sempat membaca ayat kursi dan beliau sedang puasa Syawal. Tukang hipnotis dijamin gak berani. 5. Beramal sholeh dan shodaqoh, tiap amal baik pasti merupakan benteng penolak bagi tindak kejahatan. 2008/10/22 Heriyanto Candra <[EMAIL PROTECTED]> > hati-hati > -- bash002 B45 49ZS http://www.karismafansclub.or.id http://www.hkci.or.id - [EMAIL PROTECTED]
