artikelnya bagus nih.....

Aku Ingin 
Bersedekah<http://kaunee.com/index.php?option=com_content&view=article&id=552:aku-ingin-bersedekah&catid=38:cahaya-langit&Itemid=122>
 [image:
PDF]<http://kaunee.com/index.php?view=article&catid=38%3Acahaya-langit&id=552%3Aaku-ingin-bersedekah&format=pdf&option=com_content&Itemid=122>
 [image:
Cetak]<http://kaunee.com/index.php?view=article&catid=38%3Acahaya-langit&id=552%3Aaku-ingin-bersedekah&tmpl=component&print=1&layout=default&page=&option=com_content&Itemid=122>
 [image:
E-mail]<http://kaunee.com/index.php?option=com_mailto&tmpl=component&link=aHR0cDovL2thdW5lZS5jb20vaW5kZXgucGhwP29wdGlvbj1jb21fY29udGVudCZ2aWV3PWFydGljbGUmaWQ9NTUyOmFrdS1pbmdpbi1iZXJzZWRla2FoJmNhdGlkPTM4OmNhaGF5YS1sYW5naXQmSXRlbWlkPTEyMg==>
   Artikel
-  Cahaya Langit

Di Bontang, Kalimantan Timur ada sebuah perusahaan kaya raya dengan
fasilitas yang luar biasa bagi karyawannya. Penghasilan para pegawainya
berlipat-lipat dibanding dengan perusahaan swasta maupun nasional lainnya.
Tunjangan berupa rumah, mobil, pendidikan anak bahkan makan pun diberikan.
Beberapa kali saya berkunjung ke sana maka saya hanya berkomentar, "Betapa
beruntungnya mereka yang tinggal dan bekerja di tempat ini!" Mereka hidup di
sebuah komplek yang terisolir dari dunia Bontang. Pagar-pagar mereka kokoh
berdiri dan lengkap dengan petugas keamanan yang membuat komplek perumahan
itu terisolir dari dunia luar.
Penghasilan besar yang mereka dapat, -mungkin sebab sulit untuk mendapatkan
mustahik-, maka kewajiban zakat dan sedekah pun barangkali tak tersalurkan.
Namun meski demikian hal yang menjadi hak Allah adalah tetap menjadi
hak-Nya. Dimana suatu saat Dia pun akan menagihnya.



Sore itu saya diminta bersilaturrahmi dengan  sebuah majlis taklim kaum ibu
di sana. Tema yang diminta membuat saya berpikir keras untuk mencari
referensinya. BEROBAT DENGAN SEDEKAH!!! "Darimana saya harus memulai...?"
saya membatin.

Alhamdulillah atas izin Allah Swt ceramah pengantar yang saya berikan terasa
nikmat. Jangankan untuk mereka kaum ibu yang mendengarkannya, saya sendiri
saja merasakan kenikmatan itu. Rupanya Allah Swt memberi keberkahan pada
majlis kami saat itu. Tanpa terasa saya dapati beberapa 'ilmu ladunni' yang
Allah berikan. Sehingga saya belajar saat mengajar. Menjadi mengerti bersama
orang-orang yang mencari pemahaman.

Allah mewariskan ilmu yang diketahui seseorang, asalkan ia mengamalkan ilmu
yang sudah pernah ia ketahui. (Muhammad Saw)

Usai pembicaraan kurang lebih sekitar setengah jam, maka saya menawarkan
kepada peserta majlis untuk bertanya dan berdialog. Di sana rupanya ada
seorang ibu berusia lebih dari 40 tahun, sebutlah namanya Reni. Tiba-tiba ia
mengacungkan tangan dan ternyata ia bukan hendak bertanya akan tetapi ia
ingin berbagi pengalaman kepada semua peserta yang hadir. Reni pun memulai
kisahnya:

Kira-kira 17 tahun yang lalu Reni hamil untuk pertama kali. Allah Swt
menakdirkan bahwa Reni keguguran. Maka dari Bontang, ia pun diantar oleh
suaminya pergi ke Balikpapan dengan pesawat untuk berobat ke seorang dokter
terkenal di sana bernama Yusfa. Akhirnya Reni dikuret rahimnya.

Sepulangnya dari Balikpapan, Reni mendapati dari qubulnya selalu keluar
darah dalam jumlah banyak. Bahkan lebih banyak dari menstruasi rutin.
Apalagi bila ia bangun tidur, ia dapati kasur dan sprei selalu bersimbah
darah. Ia panik dan kalut mengatasi hal ini. Maka ia pun kembali lagi ke
Balikpapan bersama suaminya untuk berobat ke dokter Yusfa.

Sayangnya sang dokter tidak mengerti sebab pendarahan hebat ini. Maka yang
terjadi adalah kali itu Reni dikuret lagi. Sakit dan perih, itulah yang
dirasakan Reni!

Namun pendarahan itu masih tetap saja terjadi, padahal hampir setiap dua
hari sekali Reni dan suami terbang Bontang-Balikpapan untuk
mengkonsultasikan penyebab pendarahan ini. Namun tindakan yang diambil oleh
dokter Yusfa hanyalah mengkuret rahim Reni. Reni dan suami hanya bisa pasrah
dan berharap pertolongan Allah Swt atas musibah ini.

Kejadian ini berlangsung cukup lama. Hingga tubuh Reni bertambah ringkih,
rumah tangga tak terurus, uang tabungan terkuras dan suami tidak bisa
bekerja tenang sebab harus sibuk mengurusi Reni. Sepertinya ada sebuah
cobaan besar yang sedang Allah Swt timpakan kepada Reni dan suaminya.

Reni & suami terus berdoa kepada Allah Swt agar diberi jalan keluar dari
masalah ini.

Hingga akhirnya Allah Swt pun mendengar dan mengijabah doa mereka

Hari itu Reni dan suami hendak terbang ke Balikpapan untuk berkonsultasi
dengan dokter Yusfa. Namun ada suara hati yang berbisik pada diri Reni. Ia
bawa sejumlah uang dalam jumlah besar. Uang itu bukan ia niatkan untuk bayar
biaya pengobatan, akan tetapi ada sebuah cita-cita mulia di sana yang ingin
ia wujudkan. Cita-cita itu adalah, "AKU INGIN BERSEDEKAH!" Sejumlah uang itu
pun ia masukkan ke dalam tas tangan yang Reni bawa.

Pesawat telah membawa Reni dan suaminya pergi menuju Balikpapan. Setibanya
di bandara Sepinggan, Balikpapan Reni berjalan tertatih dipapah oleh sang
suami. Dengan susah payah, Reni pun akhirnya tiba di dalam ruang bandara. Di
dalam hati Reni berdoa kepada Tuhannya, "Ya Allah, datangkan untukku seorang
pengemis yang bisa menerima sedekahku. Izinkan aku untuk bersedekah di hari
ini!"

Keinginan untuk bersedekah itu membuncah lagi di hati Reni. Sungguh ia amat
berharap untuk bisa bersedekah kali itu.

Pintu keluar bandara sudah dilalui oleh Reni dan suami. Subhanallah,
tiba-tiba ada seorang pria berpakaian lusuh menyapa Reni dan menjulurkan
tangan tanda minta sedekah. Reni bergembira dan yakin bahwa inilah ijabah
doa dari Allah Swt. Tanpa banyak berpikir, ia merogoh tas tangannya.
Sejumlah uang yang sudah disiapkan ia berikan ke tangan pengemis itu. Maka
pengemis dan suami Reni melongo melihat jumlah uang yang Reni sedekahkan.
Reni pun melanjutkan langkahnya bersama suami dan kemudian mereka masuk ke
dalam sebuah taksi untuk pergi ke rumah sakit tempat dokter Yusfa
berpraktek.

"Untuk apa uang sebanyak itu kau sedekahkan?!" tanya sang suami. Reni
menjawab dengan yakin, "Boleh jadi dengan sedekah itu Allah Swt menyembuhkan
penyakitku, Pa!" Mendapati jawaban seperti itu suami Reni tidak banyak
mendebat. Memang di saat-saat seperti ini, hanya pertolongan Allah saja yang
dapat menyelamatkan mereka.

Seperti kali sebelumnya, tidak ada jawaban positif dari dokter Yusfa atas
penyebab pendarahan yang keluar dari qubul Reni. "Hingga saat ini, saya
belum tahu pasti apa penyebabnya" jelas dokter Yusfa.

Maka Reni dan suami pun kembali ke Bontang tanpa hasil memuaskan.

Pendarahan hebat masih terus terjadi dari rahim Reni setiap hari. Reni hanya
bisa bersabar dan pasrah atas takdir yang telah Allah Swt tetapkan pada
dirinya. Pagi itu, Reni tengah berada di dapur untuk membuat masakan ringan.
Tiba-tiba terasa olehnya ada sesuatu yang tidak beres di perutnya dan ia pun
ingin pergi ke toilet. Rasa ingin buang air itu seperti tak terkendali...
Hingga Reni harus berlari sebab khawatir ia tak kuasa menahannya. Atas izin
Allah Swt ia kini sudah berada di kamar mandi. Namun hanya pakaian luar saja
yang sempat ia buka, sedangkan pakaian dalam tak sempat ia tanggalkan.
Rupanya ada segumpal daging penuh darah yang keluar dari qubul Reni dan
ternyata ia tidak mau buang air. Segumpal daging penuh darah itulah rupanya
yang membuat Reni terdesak untuk buang air.

Merasa aneh dengan segumpal daging itu, maka Reni mengambil sebuah kantong
plastik kecil dan memasukkannya ke dalam kantong tersebut. Reni berpikir
bahwa ia harus menanyakannya kepada dokter Yusfa tentang benda aneh ini.

Pagi itu adalah jadwal Reni berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Ia seperti
biasa pergi ke Balikpapan didampingi oleh suaminya. Konsultasi kali itu,
seperti biasa tidak memberikan perkembangan ke arah positif sama sekali.
Hampir saja Reni putus asa dengan keadaan ini. Namun tiba-tiba ia teringat
akan kejadian aneh kemarin pagi. Lalu ia pun merogohkan tangannya ke dalam
tas dan mencari-cari plastik kecil berisi segumpal daging penuh darah. Ia
keluarkan plastik kecil itu dan ia sodorkan kepada dokter Yusfa. Kejadian
aneh kemarin pagi itu diceritakan oleh Reni kepada dokter Yusfa. Dokter
Yusfa menerima plastik berisikan benda aneh itu. Dahinya berkerut tanda
bahwa ia berpikir keras tentang benda ini. Dan beliau pun berkata, "Ibu dan
bapak mohon tunggu sebentar di sini. Saya akan pergi ke laboratorium untuk
memeriksakan hal ini!"

Saat dokter Yusfa pergi meninggalkan ruangannya, Reni dan suami hanya
berharap bahwa dokter Yusfa akan datang membawa sebuah berita gembira untuk
mereka.

Kira-kira 20 menit kemudian dokter Yusfa datang sambil berlari. Ya berlari,
bukan berjalan! Begitu pintu terbuka dokter pun berteriak dengan nada keras,
"Alhamdulillah bu Reni.... Alhamdulillah....!!! Saya baru mengerti rupanya
pendarahan selama ini disebabkan kanker rahim yang ibu alami... dan benda
ini adalah kanker rahim tersebut. Cuma saya hanya mau bertanya bagaimana
cara kanker ini bisa gugur dengan sendirinya...?!"

Subhanalllah.... rupanya penyebab pendarahan hebat selama ini adalah sebuah
kanker yang tidak dapat terdeteksi. Pertanyaan terakhir dari dokter Yusfa
tak mampu dijawab langsung oleh Reni. Namun Reni hanya mampu bersyukur
kepada Allah bahwa akhirnya pertolongan itu datang juga untuknya setelah
penantian yang cukup lama. Akhirnya pendarahan pun terhenti begitu saja, dan
rupanya pertolongan Allah Swt tiba setelah Reni bersedekah dengan sejumlah
harta yang sudah ia cita-citakan.

"Sembuhkan penyakit kalian dengan cara sedekah. Lindungi harta yang kalian
miliki dengan zakat." HR. Baihaqi

Sedekah sungguh sebuah perkara yang mengagumkan. Apakah anda pernah
mengalaminya?!
Salam,

Bobby Hernowo

-- 
Heri
0812 10 77955
Lost a Minute in Life or Lost Life in a Minute

Kirim email ke