---------- Forwarded message ----------
From: Dipokusumo Noor Yanto <[email protected]>
Date: 2009/3/23
Subject: Alumni s...@n21: Fw: hati-hati pada dokter?
To: Geaeat 21 <[email protected]>, Antonius Nababan <
[email protected]>, Nazir Amin <[email protected]>, Alumni 21 Angkatan
89 <[email protected]>, Alumni 74 SMPN 74 <
[email protected]>, Sudiro Pramono <[email protected]>,
Harwanto HW <[email protected]>, Arlenny Amir <[email protected]>,
ata junio <[email protected]>, Kristini Asnida <[email protected]>,
Dessy Budiman <[email protected]>, Cisya Satwika <
[email protected]>, cent cent <[email protected]>, sofia cakti <
[email protected]>, Dewi Saraswati <[email protected]>, Deny Iqbal <
[email protected]>, Noorman Ilyas <[email protected]>, Fachri
Sinaga <[email protected]>, Fitri Sabarudin <[email protected]>,
Hendra Willyanto <[email protected]>, nurma handayani <
[email protected]>, juliette sandra <[email protected]>, Kiki
Rhodes <[email protected]>, Yulia Suryani <[email protected]>, Ria
Mirandha <[email protected]>, Winda Noveriyan <[email protected]>,
yohanes widada <[email protected]>




--- On *Mon, 3/23/09, [email protected] <
[email protected]>* wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: hati-hati pada dokter?
To:
Date: Monday, March 23, 2009, 11:40 AM






Subject:        Fw: hati-hati pada dokter?


halo rekan-rekan...
Ini tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru meminta
rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan
Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai 'caveat venditor'
(produsen/penyedia jasa berhati-hatilah).

Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit
demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di
salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD
saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi
sangat saya tau perkembangan kondisinya. Abang saya paksa dirawat inap
karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena
merasa diri sudah sehat, nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak
lemas.

Mulai di UGD sudah 'mencurigakan', karena saya nggak menyatakan bahwa saya
dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai
keterangan/penjelasan & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya
'menggelikan'. Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya
terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu.
Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu baru
tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa
itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat
Ranitidin (obat untuk penyakit lambung), padahal dia nggak sakit lambung, &
nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya
mengantarkan sampel darah ke lab.

Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal
besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti
ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep
nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang
praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya 'bagus &
pintar', ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore
selalu ada di RS.

Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab
macam-macam, setelah saya lihat banyak yang 'nggak nyambung', jadi saya
minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional. Besoknya, saya
datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite & nggak komentar
apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat untuk menebus
resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung, di resep
tertulis obat Ondansetron suntik, obat mual/muntah untuk orang yang sakit
kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual apalagi muntah sama
sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang nggak
sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang
sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak.

Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya
lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya
hanya beli suplemen vitamin aja dari resep. Pas saya serahkan obatnya ke
perawat, dia tanya 'obat suntiknya mana?', saya jawab bahwa pasien nggak
setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah seperti menantang, akhirnya
dengan terpaksa saya beritau bahwa saya dokter & saya yang merujuk pasien ke
RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya pada saya. Malah saya
dipanggil ke nurse station & diminta tandatangani surat refusal consent
(penolakan pengobatan) oleh kepala perawat. Saya beritau saja bahwa pasien
100% sadar, jadi harus pasien yang tandatangani, itu pun setelah dijelaskan
oleh dokternya langsung.

Sementara dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang
dia berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang 'bengong'. Saat
saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD juga.
Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal & sudah 2
dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung dia ada infeksi
bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang lain.
Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong 'sakit
ya?', 'masih panas?', 'ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya', visite nggak
sampai 3 menit saya hitung.

Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali & nggak
komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia hanya
ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang.
Saya jadi membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun
ternyata pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa
diracun oleh obat-obat yang nggak diperlukan & dibuat 'miskin' untuk membeli
obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah
'dibayar' cukup mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien
sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya
untuk menunggu dokter visite. Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien
harus ditunggui oleh saudaranya
yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga merasa
bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia perlukan &
jadi racun di tubuhnya.

Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat
inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil
Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat
yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya. Kalau ini
nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat kalau mereka
lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN. Semoga bisa berguna
sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua agar berhati-hati &
kritis pada pengobatan dokter.

rgds
Billy

Kunjungi *http://KonsulSehat.web.id* <http://konsulsehat.web.id>






 



-- 
Heri
0812 10 77955
Lost a Minute in Life or Lost Life in a Minute

Kirim email ke