---------- Forwarded message ----------
From: aang azhar <[email protected]>
Date: 2009/4/2
Subject: [cumi] Mengetuk Gerbang Pernikahan Barakah (disuruh gantian ma
Bekti nyebarinnya, kekekeke)
To: cumi <[email protected]>



thebadkalong

   * <-- Terurut Topik -->
   * <-- Terurut Waktu -->
   *

[B4dKaLonG] "Mengetuk Gerbang Pernikahan Barakah"

achmad taufik
Wed, 11 Jul 2007 02:54:36 -0700

"Mengetuk Gerbang Pernikahan Barakah"
*

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim*

Barangkali, Kitalah Penyebabnya

Menjelang tengah malam, seorang ikhwan mengirim SMS kepada saya. Dia seorang
aktivis yang amat banyak menghabiskan waktunya untuk menyebarkan kebaikan.
Bila berbicara dengannya, kesan yang tampak adalah semangat yang besar di
dadannya untuk melakukan perbaikan.

Kalau saat ini yang mampu dilakukan masih amat kecil, tak apa-apa.

Sebab perubahan yang besar tak `kan terjadi bila kita tidak mau

memulai dari yang kecil. Tetapi kali ini, ia berkirim SMS bukan untuk

berbagi semangat. Ia kirimkan SMS karena ingin meringankan beban yang hampir
ada kerinduan yang semakin berambah untuk memiliki pendamping yang dapat
menyayanginya sepenuh hati.

SMS ini mengingatkan saya pada beberapa kasus lainnya. Usia sudah melewati
tiga puluh, tetapi belum juga ada tempat untuk menambatkan rindu. Seorang
pria usia sekitar 40 tahun, memiliki karier yang cukup sukses, merasakan
betapa sepinya hidup tanpa istri. Ingin menikah, tapi takut ! tak bisa
mempergauli istrinya dengan baik. Sementara terus melajang merupakan siksaan
yang nyaris tak dapat ditahan. Dulu ia ingin menikah, ketika keriernya belum
seberapa. Tetapi niat itu dipendam dalam-dalam karena merasa belum mapan. Ia
harus mengumpulkan dulu uang yang cukup banyak agar bisa menyenangkan istri.
Ia lupa bahwa kebahagiaan itu letaknya pada jiwa yang lapang, hati yang
tulus, niat yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga lupa bahwa jika
ingin mendapatkan istri yang bersahaja dan menerima apa adanya, jalannya
adalah dengan menata hati, memantapkan tujuan dan meluruskan niat. Bila
engkau ingin mendapatkan suami yang bisa menjaga pandangan, tak bisa engkau
meraihnya dengan, "Hai, cowok...Godain kita, dong. "

Saya teringat dengan sabda Nabi Saw. (tapi ini bukan tentang nikah).

Beliau berkata, "Ruh itu seperti pasukan tentara yang berbaris." Bila

bertemu dengan yang serupa dengannya, ia akan mudah mengenali, mudah juga
bergabung dan bersatu. Ia tak bisa mendapatkan pendamping yang mencintaimu
dengan sederhana, sementara engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai
pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai
pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan suami yang menerimamu
sepenuh hati dan tidak ada cinta di hatinya kecuali kepadamu; sementara
engkau berusaha meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum terikat oleh
pernikahan? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan lelaki yang terjaga bila
engkau mendekatinya dengan menggoda?

Di luar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat ingin meraih

pernikahan yang diridhai tak jarang kerana kita sendiri mempersulitnya.
Suatau saat seorang perempuan memerlukan perhatian dan kasih-sayang seorang
suami, ia tidak mendapatkannya. Di saat ia merindukan hadirnya seorang anak
yang ia kandung sendiri dengan rahimnya, tak ada suami yang menghampirinya.
Padahal kecantikan telah ia miliki. Apalagi dengan penampilannya yang enak
dipandang.

Begitupun uang, tak ada lagi kekhawatiran pada dirinya. Jabatannya

yang cukup mapan di perusahaan memungkinkan ia untuk membeli apa saja,
kecuali kasih-sayang suami.

Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah beberapa kali ada yang mau
serius dengannya, tetapi demi karir yang diimpikan, ia menolak semua ajakan
serius. Kalau kemudian ada hubungan perasaan dengan seseorang, itu sebatas
pacaran. Tak lebih. Sampai karier yang diimpikan tercapai; sampai ia
tiba-tiba tersadar bahwa usianya sudah tidak terlalu muda lagi; sampai ia
merasakan sepinya hidup tanpa suami, sementara orang-orang yang dulu
bermaksud serius dengannya, sudah sibuk mengurusi anak-anak mereka.
Sekarang, ketika kesadaran itu ada, mencari orang yang mau serius dengannya
sangat sulit. Sama sulitnya menaklukkan hatinya ketika ia muda dulu.

Masih banyak cerita-cerita sedih semacam itu. Mereka menunda pernikahan di
saat Allah memberi kemudahan. Mereka enggan melaksanakannya ketika Allah
masih memberinya kesempatan karena alasan belum bisa menyelenggarakan
walimah yang "wah". Mereka tetap mengelak, meski terus ada yang mendesak;
baik lewat sindiran maupun dorongan yang terang-terangan. Meski ada
kerinduan yang tak dapat diingkari, tetapi mereka menundanya karena masih
ingin mengumpulkan biaya atau mengejar karier. Ada yang menampik "alasan
karier" walau sebenarnya tak jauh berbeda. Seorang akhwat menunda nikah
mesti ada yang mengkhitbah karena ingin meraih kesempatan kuliah S-2 ("Tahun
depan kan belum tentu ada beasiswa"). Ia mendahulukan pra-sangka bahwa
kesempatan kuliah S-2 tak akan datang dua kali, lalu mengorbankan pernikahan
yang Rasullah Saw. Telah memperingatkan:
*

"Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang

engkau ridha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak
engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul
kerusakan yang merata di muka bumi." (HR. At-Ti! rmidzi dan Ahmad).
*

Saya tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah yang digariskan oleh
Allah. Ketika orang mempersulit apa yang dimudahkan oleh Allah, mereka
akhirnya benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris tak menemukan
jalan keluarnya. Mereka menunda-nunda pernikahan tanpa ada alasan syar'i,
dan akhirnya mereka benar-benar takut melangkah di saat hati sudah sangat
menginginkannya. Atau ada yang sudah benar- benar gelisah, tetapi tak
kunjung ada yang mau serius dengannya.

Kadangkala, lingkaran ketakutan itu terus belanjut. Bila di usia-usia

dua puluh tahunan mereka menuda nikah karena takut dengan ekonominya yang
belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sekitar tiga puluh lima
berubah lagi masalahnya. Laki-laki sering mengalami sindrom kemapanan (meski
wanita juga banyak yang demikian, terutama mendekati usia 30 tahun). Mereka
menginginkan pendamping dengan kriteria yang sulit dipenuhi. Seperti hukum
kategori, semakin banyak ! kriteria semakin sedikit yang masuk kategori.
Begitu pula dengan kriteria tentang jodoh, ketika kita menetapkan kriteria
yang terlalu banyak, akhirnya bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan
kita. Sementara wanita yang sudah berusia sekitar 35 tahun, masalah mereka
bukan soal kriteria, tetapi soal apakah ada orang yang mau menikah
dengannya. Ketika usia 40-an, ketakutan yang dialami oleh laki-laki sudah
berbeda lagi, kecuali bagi mereka yang tetap terjaga hatinya. Jika
sebelumnya, banyak kriteria yang dipasang, pada usia 40-an muncul ketakutan
apakah dapat mendampingi istri dengan baik. Lebih lebih ketika usia sudah
beranjak mendekati 50 tahun, ada ketakutan lain yang mencekam. Ada
kekhawatiran jangan-jangan di saat anak masih kecil, ia sudah tak sanggup
lagi mencari nafkah. Atau ketika masalah nafkah tak merisaukan (karena
tabungan yang melimpah), jangan-jangan ia sudah mati ketika anak-anak masih
perlu banyak dinasehati. Bila tak ada iman di hati, ketakutan ini akhi! rnya
melahirkan keputus- asaan. Wallahu A'lam bishawab.

Ya... ya... ya..., kadang kita sendirilah penyebabnya, kita mempersulit apa
yang telah Allah mudahkan, sehingga kita menghadapi kesulitan yang tak
terbayangkan. Kita memperumit yang Ia sederhanakan, sehingga kita terbelit
oleh kerumitan yang tak berujung. Kita menyombongkan atas apa yang tidak ada
dalam kekuasaan kita, sehingga kita terpuruk dalam keluh-kesah yang
berkepanjangan.

Maka, kalau kesulitan itu kita sendiri penyebabnya, beristighfarlah.

Semoga Allah berkenan melapangkan jalan kita dan memudahkan urusan kita. Laa
ilaaha illa Anta, subhanaKa inni kuntu minazh-zhalimin.

Berkenaan dengan sikap mempersulit, ada tingkat-tingkatannya. Seorang
menolak untuk menikah boleh jadi karena matanya disilaukan oleh dunia,
sementara agama ia tak mengerti. Belum sampai kepadanya pemahaman agama.
Boleh jadi seorang menunda-nunda nikah karena yang datang kepadanya beda
harakah, meskipun tak ada yang patut dicela dari agama dan akhlaknya. Boleh
jadi ada di antara kita yang belum bisa meresapi keutamaan menyegerakan
nikah, sehingga ia tak kunjung melakukannya. Boleh jadi pula ia sangat
memahami benar pentingnya bersegera menikah, sudah ada kesiapan psikis
maupun ilmu, telah datang kesempatan dari Allah, tetapi... sukunya berbeda,
atau sebab-sebab lain yang sama sepelenya.

Ada Yang Tak Bisa Kita Ingkari

Kadang ada perasaan kepada seseorang. Seperti Mughits ?seorang

sahabat Nabi Saw.- kita selalu menguntit kemana pun Barirah melangkah. Mata
kita mengawasi, hati kita mencari-cari dan telinga kita merasa indah setiap
kali mendengar namanya. Perasaan itu begitu kuat bersemayan di dada. Bukan
karena kita menenggelamkan diri dalam lautan perasaan, tetapi seperti kata
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengutip dari Al-Mada'iny, "Andaikan orang yang
jatuh cinta boleh memilih, tentu aku tidak akan memilih jatuh cinta."

Perasaan ini kadang mengganggu kita, sehingga tak sanggup berpikir

jernih lagi. Kadang membuat kita banyak berharap, sehingga mengabaikan
setiap kali ada yang mau serius. Kita sibuk menanti ? kadang sampai membuat
badan kita kurus kering- sampai batas waktu yang kita sendiri tak berani
menentukan. Kita merasa yakin bahwa dia jodoh kita, atau merasa bahwa jodoh
kita harus dia, tetapi tak ada langkah-langkah pasti yang kita lakukan.
Akibatnya, diri kita tersiksa oleh angan-angan.

Persoalannya, apakah yang mesti kita perbuat ketika rasa sayang itu

ada? Inilah yang insya-Allah kita perbincangkan lebih mendalam pada

makalah Masih Ada Tempat untuk Cinta. Selebihnya, kita cukupkan dulu
pembicaraan itu sampai di sini.

Tuhan, Jangan Biarkan Aku Sendiri

Di atas semua itu, Allah bukakan pintu-pintu-Nya untuk kita. Ketuklah
pertolongan-Nya dengan do'a. Di saat engkau merasa tak sanggup menanggung
kesendirian, serulah Tuhanmu dengan penuh kesungguhan, "Tuhanku, jangan
biarkan aku sendirian. Dan Engkau

adalah sebaik-baik Warits." (QS. Al-Abiya': 89).

Rabbi, laa tadzarni fardan wa Anta khairul waritsin.

Ini sesungguhnya adalah do'a yang dipanjatkan oleh Nabi Zakariya

untuk memohon keturunan kepada Allah Ta'ala. Ia memohon kepada Allah untuk
menghapus kesendiriannya karena tak ada putra yang bisa menyejukkan mata.

Sebagaimana Nabi Zakariya, rasa sepi itu kita adukkan kepada

Allah `Azza wa Jalla semoga Ia hadirkan bagi kita seorang pendamping yang
menenteramkan jiwa dan membahagiakan hati. Kita memohon kepada-Nya
pendamping yang baik dari sisi-Nya. Kita memasrahkan kepada-Nya apa yang
terbaik untuk kita. Kapan do'a itu kita panjatkan? Kapan saja kita merasa
gelisah oleh rasa sepi yang mencekam. Panjatkan do'a itu di saat kita merasa
amat

membutuhkan hadirnya seorang pendampin; saat hati kita dicekam oleh
kesedihan karena tidak adanya teman sejati atau ketika jiwa dipenuhi
kerinduan untuk menimang buah hati yang lucu. Panjatkan pula do'a saat hati
merasa dekat dengan-Nya; saat dalam perjalan ketika Allah jadikan do'a
mustajabah; dan saat-saat mustajabah lainnya.
*

Allah Pasti Menolong Orang yang Ingin Menikah*

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,* "Tiga golongan yang pasti mendapat
pertolongan Allah. Seorang mujahid yang memperjuangkan agama Allah, seorang
penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah demi menjaga
kehormatannya." (HR. Thabrani)
*

Hadits di atas, pendek, jelas dan sangat menyejukkan. Janji pertolongan yang
akan diberikan Allah kepada tiga golongan manusia. Seorang mujahid yang
memperjuangkan agama Allah, tentu saja tak mengherankan kita jika Allah
menurunkan pertolongan kepadanya. Begitu juga dengan golongan yang kedua,
Allah pasti menolong seorang penulis yang memberikan penawar untuk
pembacanya.

Pada golongan yang kedua, hampir sama tak mengherankan seperti golongan
pertama. Seorang penulis yang mampu memberi penawar bagi pembacanya. Logis,
jika Allah memberikan pertolongan, karena pekerjaan yang ia lakukan bukan
untuk dirinya sendiri. Pekerjaan yang dilakukan seorang penulis untuk orang
lain, untuk peradaban dan khalayak yang lebih luas. Sekali lagi, tak heran
jika Allah memberi pertolongan kepadanya.

Tapi yang mengagumkan adalah, lewat Rasulullah, Allah berjanji akan menolong
seorang yang ingin menikah demi menjaga kehormatannya. Luar biasa bukan.
Menikah sendiri jelas-jelas tidak untuk siapapun, untuk sang pelaku. Belum

lagi ditambah untuk menjaga kehormatannya. Subhanallah.

Namun kenapa banyak pemuda dan pemudi, dalam hal selalu saja mengatakan
belum siap untuk menapaki kehidupan baru ini? Penulis buku "Kado Pernikahan
untuk Istriku", Muhammad Faudzil Adhim mengatakan, yang terjadi bukanlah
pada pemuda tidak siap untuk menikah. "Tapi mereka tidak pernah
mempersiapkan diri," ujar Faudzil.

Tampaknya, apa yang dikatakan Faudzil Adhim lebih banyak benarnya dalam hal
ini. Para pemuda, bukan belum siap, tapi tidak pernah mempersiapkan diri.
Dan sepertinya pertanyaan itulah yang harus kita tanyakan jika anda para
bujangan.

Tapi ingat, hadits di atas bukan mengajar anda nekat melakukan nikah tanpa
persiapan karena janji pertolongan Allah akan tiba. Tugas kita adalah
melakukan persiapan-persiapan sembari berharap ridha-Nya meringankan dan
membantu perjalanan kita. Persiapan yang mesti dilakukan adalah, mental dan
moral, materi dan spiritual. Insya Allah, jika semua pelan-pelan anda
siapkan, Allah akan menurunkan tangan membantu membuat ringan.

Dan ingat, orang yang paling buruk adalah seorang bujang. Seperti yang
diingatkan oleh Rasulullah dalam haditsnya. "Orang yang paling buruk di
antara kalian adalah seorang bujangan, dan mayat yang paling buruk di antara
kalian adalah bujangan." (HR. Imam Ahmad) Jadi kenapa tidak mulai dari
sekarang mempersiapkan diri.(red)

   *
     [B4dKaLonG] "Mengetuk Gerbang Pernikahan Barakah" achmad taufik

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~

The Real Cool Community

To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to
[email protected]
For more options, visit this group at
http://groups.google.com/group/cumi?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---




-- 
[agiel]
B 6115 KKU
-ordinary black scorpio-

Kirim email ke