Selasa, 14 Juli 2009 | 20:37 WIB 
Laporan wartawan KOMPAS Elok Dyah Messwati

JAKARTA, KOMPAS.com - Kantong plastik kresek berwarna terutama yang hitam 
kebanyakan merupakan produk daur ulang. Karena itu konsumen diharapkan 
berhati-hati dan tidak digunakan kantung plastik untuk mewadahi makanan.

"Dalam proses daur ulang tersebut riwayat penggunaan sebelumnya tidak 
diketahui, apakah bekas wadah pestisida, limbah rumah sakit, kotoran hewan atau 
manusia, limbah logam berat dan lain-lain," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan 
Makanan (BPOM) Husniah Rubiana Thamrin Akib di Jakarta, Selasa (14/7).

Dalam proses daur ulang tersebut juga ditambahkan berbagai bahan kimia yang 
menambah dampak bahaya bagi kesehatan. Disarankan agar masyarakat tidak 
menggunakan kantung plastik kresek warna hitam atau daur ulang untuk mewadahi 
langsung makanan siap santap.  

Sedangkan kemasan styrofoam sebenarnya merupakan merek dagang pabrik Dow 
Chemicals dari foamed polystyrene atau expandable polystyrene.

Menurut Husniah, residu monomer stiren yang tidak ikut bereaksi dapat terlepas 
ke dalam makanan yang berminyak/berlemak atau mengandung alkohol, terlebih 
dalam keadaan panas.

Sejauh ini tidak ada satu negara di dunia yang melarang menggunakan styrofoam 
atas dasar pertimbangan kesehatan. Kebijakan pelarangan di sejumlah negara 
berkaitan dengan masalah pencemaran lingkungan.

Menurut JECFA-FAO/WHO monomer stiren tidak mengakibatkan gangguan kesehatan 
jika residunya tidak melebihi 5.000 bagian per juta.

Meski demikian, masyarakat diimbau agar tidak menggunakan kemasan styrofoam 
dalam microwave, tidak menggunakan kemasan styrofoam yang rusak atau berubah 
bentuk untuk mewadahi makanan berminyak/berlemak apalagi dalam keadaan panas.

Sementara itu, hasil pengawasan BPOM terhadap kemasan makanan yang terbuat dari 
plastik polivinil klorida (PVC) menunjukkan bahwa monomer vinil klorida (VCM) 
yang tidak ikut bereaksi dapat terlepas ke dalam makanan terutama yang 
berminyak/berlemak atau mengandung alkohol terlebih dalam keadaan panas.

Dalam pembuatan PVC ditambahkan penstabil seperti senyawa timbal (Pb), kadmium 
(Cd), timah putih (Sn) atau lainnya, untuk mencegah kerusakan PVC. 
Kadang-kadang agar lentur atau fleksibel ditambahkan senyawa ester flalat, 
ester adipat.  

Residu VCM terbukti mengakibatkan kanker hati, senyawa Pb merupakan racun bagi 
ginjal dan saraf, senyawa Cd merupakan racun bagi ginjal dan dapat 
mengakibatkan kaker paru. Senyawa ester flalat dapat mengganggu sistem 
endokrin, papar Husniah.

Direktur Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya BPOM Roland Hutapea menyatakan, 
ke depan perlu ada pelabelan di kemasan. Selama ini sudah ada, tapi khusus 
label tidak wajib, katanya.

 RyoBerry®

Kirim email ke