kamis pagi ya giel.. hehehe.. besok gw pengen gowes.. soalnya mo nambah angin di suspensi depan gw.. (sebenernya mo pamer suspensi gw dah pake angin..hehehe)
2009/7/21 [agiel] <[email protected]> > > > speda lo bsk udah bs gw pinjem ga jar ? > klo bs gw jemput pagi2 nih. > :D > > 2009/7/21 fajar fajar <[email protected]> > > >> >> gw forward in petualangan pakdhe ochep aja deh.. >> >> ---------- Forwarded message ---------- >> From: Andi Betedz Ochep <[email protected]> >> Date: 2009/7/21 >> Subject: [karisma_honda] OOT : Turing XC >> To: [email protected] >> >> >> >> >> Duh sepi amat sih nih milist.. pada belon pulang dari liburan yee... ya >> ude.. biar ga sepi.. baca2 nih hasil turing gw sabtu kemaren... :D >> >> Jam menunjukan pukul 3.30 pagi, mata sudah melek dan ga mau terpejam lagi. >> Akhirnya gw bangun dan langsung cuci muka. Lalu toto-toto segala sesuatu >> yang akan gw bawa untuk mengikuti XC hari ini. Jam 4.30 gw jalan naek taksi >> ke arah by pass, tempat janjian dengan Ipank. Jam jam 5.15 kita menuju >> sawangan tempat berkumpulnya peserta XC. Jam 6 kita sampai di Sawangan dan >> menunggu beberapa peserta yang belum datang. Jam 7 kita pun berangkat menuju >> pasar Ciseeng tempat start kita bersepeda.Jam 8, 11 goweser mulai >> mengayuh sepedanya masing-masing dengan dipandu oleh sodara Danang. Trek >> awal yaitu jalan pedesaan dengan mayoritas jalan tanah berbatu, lalu masuk >> ke arah pinggir empang/danau dengan jalur conblock. Setelah itu trek mulai >> bervariasi, dari jalan datar, sedikit menanjak dan turunan ringan. Setelah >> beberapa saat, kita melaui turunan yang harus kita waspadi karena cukup >> terjal dan di ujung terdapat jembatan kayu kecil. Sekilas terdengar salah >> satu peserta terjatuh di bawah. Akhirnya peserta dibelakang langsung TTB >> untuk menghindari kemungkinan terjatuh. >> >> Ga terasa perut mulai keroncongan, karena memang pagi itu ga sempet >> sarapan, hanya sesobek roti keju yang belum bisa memberi energ tambahan >> untuk gowes. Keringat mulai menetas, dan setiap tanjakan gw selalu TTB. >> Bener-bener deh, kondisi trek jauh dari ekspetasi yang udah gw bayangkan. >> Beberapa kali gw ketinggalan rombongan sampai akhirnya beneran tinggal gw >> berdua ama Ferry. Selama ketertinggalan itu ga sungkan-sungkan bertanya >> dengan orang-orang yang kita temui di jalan ke mana arah rombongan di depan >> kita. Dan dengan senang hati mereka memberitahu arah yang sudah dilalui oleh >> rombongan depan. Dan pada akhirnya sampailah pada pitstop pertama di >> Cimeong. Dan rombongan ternyata sudah pada memesan makanan dan minuman yang >> dilayani oleh pemilik warung dengan dandanan yang super heboh, gincu tebel >> merah menyala dan alis item mentereng serta latahan yang cukup membuat >> terkejut temen-temen. Seporsi mi goreng dan segelas teh manis dirasa cukup >> untuk meberi cacing-cacing didalam lambung. >> >> Setelah istirahat sekitar 40 menit, perjalanan mulai dilanjutkan lagi. >> Trek tetep bervariasi, dan sekarang sering melewati perkebunan dari singkong >> sampe karet, dengan kondisi jalan tanah dan berbatu. Ternyata walaupun sudah >> diisi oleh mie goreng dan teh manis anget, tenaga yang keluar masih belum >> cukup untuk membawa sepeda di jalan yang menanjak. Beberapa kali harus TTB >> lagi.. TTB lagi.. tapi udah nanggung, perjalan baru mulai masa udah pengen >> balik. Jalan terussss.. Di perkebunan karet kita disuguhi turunan yang >> lumayan buat pemula seperti gw. Kalo lengah pasti nyosrok ke rumput-rumput >> di kiri kanan. Dan akhir dari turunan itu beada di jalan raya aspal. Ah.. >> akhirnya tangan bisa istirahat sejenak dari goncangan roda depan yang tidak >> bersuspensi. Namun kegembiraan itu hanya sesaat. Setelah hati senang melalui >> jalanan yang menurun, tiba-tiba langsung menhadapi tanjakan yang lumayan >> panjang. Alamaaaaakkk.. sumpah, belum tanjakan aja gw langsung turun dari >> sepeda dan dorong sambil jalan kaki. Yang lain ? dah pada jalan di depan, gw >> sendirian di belakang. Tapi masih ada Ferry yang tetep nemenin gw selama ada >> kesulitan pada medan tanjakan. DI akhir medan tanjakan, rombongan sudah pada >> berleha-leha di sebuah warung. >> >> Setelah berhenti sekitar 15 menit, perjalanan mulai di lanjutkan lagi. >> Jalanan cukup bersahabat, aspal yang menurun. Selang beberapa saat masuk ke >> jalan pedesaan yang berbatu dan masih menurun. Namun beberapa meter kemudian >> dihadapkan oleh tanjakan lagi. Masih otomatis turun dan mendorong sepeda. >> Sampai di atas tanjakan gowes lagi, namun hanya beberapa saat. Ga tau kenap >> tiba-tiba kepala terasa keliyengan dan akhirnya gw yang selalu ditemani >> Ferry berhenti sejenak di bale-bale pinggir jalan. Terlintas pikiran untuk >> balik ke jalan raya aspal tadi dan balik ke titik pemberangkatan, namun >> semangat terus di pompa oleh Ferry supaya gw bisa melanjutkan perjalanan. >> Kira-kira kita berhenti 15 menit, dan atas desakan Ferry gw pun mengayuh >> sepedanya yang jauh lebih enteng dari sepeda standar gw. Hmmm.. ternyata >> bener-bener beda bawa sepeda gw dengan kepunyaan Ferry, sangaaaaaaat nyaman, >> ada beberapa tanjakan ringan berbatu yang bisa gw lewatin . Padahal waktu >> pake federal gw ga bisa tuh. Di tengah jalan ternyata Ipank dan Fajar >> menunggu kita dan perjalan terus lanjut. Kondisi jalanan mulai banyak >> berbatu terjal, cukup menguras tenaga, sampai akhirnya di suatu tanjakan >> yang cukup lumayan gw minta istirahat lagi di sebuah warung. >> >> Di warung itu kita berhenti sekitar 15 menit, dan di situ sebenernya tekad >> gw sudah bulat untuk tidak meneruskan perjalanan karena medannya bener-bener >> ga gw harapkan. Namun lagi-lagi Ferry berhasil membujuk gw supaya terus >> melanjutkan perjalanan. Ya, nothing to lose juga buat gw, akhirnya >> perjalanan diteruskan. Masih melalui trek menanjak dan berbatu, dan dengan >> setia gw tetep mendorog sepeda walaupun sudah di kasi sepeda yang lebih >> ringan, tapi tetep aja dengkul kok ya ga kuat buat ngayuh tuh pedal. Setelah >> jalan beberapa saat akhirnya ketemu rombongan lagi yang sedang berhenti di >> sebuah warung. Setelah istirahat beberapa saat perjalanan mulai dilanjutkan. >> Dan jalur sekarang banyak dijumpai tanjakan yang cukup berat karena jalan >> yang berbatu cadas. Mayoritas peserta menuntun sepedanya masing-masing >> dengan diselingi rehat sejenak di bawah pohon rimbun. Dan pada akhirnya >> sampailah kita di Cijambe. >> >> Mengingat medan menuju puncak bukit yang sangat terjal, diputuskan semua >> sepeda didorong oleh joki alias anak-anak desa itu sampai ke puncak. >> Kecuali 3 peserta yang tetap berusaha mendaki menggunakan sepeda. Jalur awal >> ketika masuk kampung sangat bersahabat, cor-coran semen dan datar. Namun >> setelah itu.. hmmm.. melihat dari bawah saya sudah terbayangkan betapa berat >> perjalanan selanjutnya. Dimulailah pendakian dengan jalanan tanah merah. >> Untungnya saat itu jalur kering karena belum diguyur hujan beberapa hari >> sebelumnya, jadi cukup membantu perjalanan rombongan. Baru mendaki 20 >> meter, gw sudah ngos-ngosan, begitu juga beberapa peserta. Akhirnya >> diputuskan berhenti sejenak. Istrirahat sebentar lalu jalan kembali, >> ternyata di atas rombongan yg didepan sedang menikmati buah mangga yang >> didiakan oleh penduduk desa yang kebetulas habis memetik mangga. Yang cukup >> membuat kita semua takjub, bapak yang sudah berumur itu masik kuat berjalan >> di medan yang cukup berat ini. Dan, ternyata pemberian mangga oleh bapak itu >> benar-benar tanpa pamrih, dia tidak mau dibayar dengan uang, namun atas >> inisiatif salah satu peserta kita memberikan coklat kalo ga salah kepada >> bapak itu dan dia mau menerimanya. Sungguh sikap yang mulia yang sudah >> jarang kita temukan di alam perkotaan. >> >> Dan perjalanan selanjutnya seperti biasa dilalui dengan jalan, istirahat, >> jalan, istirahat, jalan, istirahat… sampai pada akhirnya Ipank sudah ga kuat >> lagi untuk berjalan mendaki dan ga disangka-sangka ada 2 motor yang >> kebetulan jalan ke arah atas, dan akhirnya Ipank pun dengan sukses nemplok >> di jok belakang salah satu motor untuk sampai ke atas bukit. Tadinya gw juga >> mau naik motor, tapi gw mencoba untuk mendaki dengan berjalan kaki. Sempat >> ada rasa penyesalan ketika sudah berjalan lagi, karena ternyata kaki sudah >> lelah untuk mendaki. Tapi ga disangka lagi ada suara motor mendekat dan >> ternyata yang naik adalah Pak Narto salah satu rombongan yang ternyata >> tertinggal di bawah oleh kita. Akhirnya gw pun ngebonceng Pak Narto >> walaupun dalam perjalanannya harus naik turun motor tergantung medan yang >> dilalui. Dan jam 1-an kita semua pun sampai di puncak dengan beristirahat >> di salah satu warung. Minuman dan makanan adalah hal utama yang langsung >> kita pesan. >> >> Ketika sedang beristirahat, rombongan kami layaknya para artis yang sedang >> ngumpul. Para penduduk desa dari anak kecil sampai emak-emak rame-rame pada >> nontonin kita semua yang sedang tepar. Cukup bersahabat, dan untuk lebih >> dekat dengan mereka, kita membagi-bagikan sedikit perbekalan kami berupa >> snack kepada anak-anak kecil. Juga salah satu peserta Bang Luhut mencoba >> untuk berinteraksi dengan mereka. Canda tawa pun mulai bermunculan, cukup >> lumayan untuk meberikan efek segar terhadap tubuh yang sudah letih ini. >> Setelah istirahat hampir 1 jam, kita pun meneruskan perjalanan. Sebelum >> jalan kita diperingatkan karena trek yang akan kita hadapi in adalah trek >> menurun dengan medan tanah berbatu, jadi kita diharapkan untuk selalu >> waspada karena jurang sudah menanti di sebelah kanan kita sepanjang >> perjalanan menurun. Dan.. gooooo.. akhirnya berjalanlah kita. Gw langsung >> ambil posisi rombongan di belakang karena belum hafal medan. GILA… !! >> Jantung rasanya bener-bener mo copot melewati jalur ini. Mungkin yang sudah >> biasa lewat jalur seperti ini ga akan merasakan apa yang gw rasa, lha gw >> khan baru aja ngegowes keduakali setelah vakum cukup lama, dan langsung >> dihadapkan dengan medan seperti ini. Selama perjalanan menurun rem belakang >> selalu gw teken sampe mentok, itu aja jalannya masih cepet. Tangan dan kaki >> bener-bener terasa sakit karena goncangan sepeda lagsung menuju bagian tubuh >> ini akibat sepeda rigid tanpa suspensi yang gw pake. Dan hasilnya pun >> terlihat ketika hendak sampai di bawah. Pada saat berhenti sejenak dan >> ketika akan mengayuh,tiba-tiba kaki kanan gw langsung kram… aarrgghh.. gw >> yang saat itu masih megangin sepeda langsung disurh ngelepas sepeda dan >> duduk di tanah. Untungnya masih ada Danang dan Fajar di belakang gw dan >> mereka pun berusaha untuk meredakan kram di kaki gw. Setelah dirasakan cukup >> kuat untuk berjalan, gw pun mulai menggowes sampai akhirnya ketemu jalan >> aspal. >> >> Fiuh..!! Dari jalan aspal itu gw bisa lihat betapa bukit bukit yang gw >> turunin itu cukup tinggi, masih ga percaya gw menuruni bukit itu dengan >> sepeda. Perbandingan lama perjalanan antara mendaki dan ketika turun bukit >> adalah 1,5 jam perjalanan mendaki berbanding dengan 10 menit perjalanan >> menurun.. walaaaahh.. jauh banged tuh perbedaannya. Ada perasaan lega >> setelah sampai di bawah karena menurut info kita tidak akan melewati trek >> seperti itu lagi. Tapi, ketika baru mengayuh sepeda di jalan beraspal >> kira-kira 200 meter, tidak disangka-sangka kaki kiri gw yang kram.. langsung >> gw lempar sepeda ke kanan dan menjatuhkan diri ke jalan karena sakit yang >> luar biasa. Untungnya di depan gw masih ada Ferry yang masih setia menemani >> perjalanan seorang newbie. Cukup lama gw ngejogrog di pinggir jalan karena >> kram ini, dan sepertinya memang kaki sudah ga bisa diajak kompromi untuk >> gowes lagi. Akhirnya gw bilang cukup sampai di sini gw gowes karena kaki >> sudah tidak mungkin lagi diajak buat mengayuh sepeda. Dan ketika ada sepeda >> motor lewat , langsung kita berhentikan dan minta nganterin gw ke pasar >> Ciseeng. Untungnya tuh pengendara yang penduduk situ juga bersedia untuk >> menolong gw. Dan sepeda federal gw pun sukses mendarat dipangkuan gw menuju >> pasar Ciseeng dengan naek motor. Ditengah perjalanan gw masih bertemu dengan >> rombongan dan bilang sori langsung gw tunggu di titik kumpul. >> >> Sampai pasar Ciseeng jam 16.30 dan gw beristirahat di salah satu warung. >> Kaki masih senat senut akibat kram tadi. Jam 17.15 pun rombongan sampai di >> tikum, dan kita punmenunggu jemputan sambil beristirahat di situ. Jam 18.00 >> kita mulai perjalanan pulang naik Innova dan sepeda tetep di mobil pickup. >> Jam 19.30 pun kita pamit dari rumah kawan Ferry yang sudah bersedia >> memberikan tempat sebagai titik kumpul saat pergi dan pulang. Ketika pulang >> gw ikut Fajar sampe Lebak Bulus dan diteruskan naik Gamya, lumayan lah.. >> dapet tarif bawah, cukup menghemat kantong. Jam 20.15 sakhirnya sampai di >> rumah. Langsung mandi, ngemil sedikit dan zzzzzzzz….. bahkan istri gw yang >> baru pulang dari luar kota pun belum sempet gw ajak ngobrol langsung gw >> tinggal tidur..Akhir kata, kegiatan yang bener-bener seru, dan ada persaan >> ga enak karena keberadaan gw di rombongan terasa sangat mengganggu >> perjalanan menurut gw. Mohon dipersori buat kawan-kawan yang merasa >> perjalanan kemarin dirasa kurang sip karena ketertinggalan gw. Thanks >> banged buat Ferry yang selalu support selama perjalanan dan selalu berada >> dibelakang gw, Ipank yang sudah bersedia ditebengin pagi hari, Fajar yang >> juga bersedia gw tebengin malam hari, Ivan dan keularga yang bersedia >> menjadi tuan rumah buat para rombongan dan mengantar jemput sampai dan dari >> pasar Ciseeng, Pak Narto yang udah ngeboncengin naek motor ketika jalan >> mendaki di bukit, Danang yang terus mensupport gw juga selama perjalanan dan >> bantuannya ketika kaki gw kena kram, dan seleuruh peserta yang jujur aja >> namanya belum gw apal satu per satu yang tetep menunggu gw ketika tertinggal >> selama perjalanan, bapak yang mengupaskan mangga buat kita tanpa minta >> imbalan apapun, anak-anak kecil yang bersedia menuntun sepeda kita semua ke >> atas bukit, ibu-ibu di warung yang sudah melayani kita menyiapkan makanan >> dan minuman, juga warga yang bersedia memberikan informasi ketika gw >> ketinggalan rombongan. Dan saat ini sepertinya gw akan beristirahat >> mengikuti XC, karena sekarang fokus untuk latihan menanjak supaya ga >> malu-maluin lagi nanti pas XC. >> >> Ochep >> ------------------------------ >> >> >> > >
