semoga cepat sembuh!

---------- Forwarded message ----------
Usus Dipotong Akibat Kebanyakan Makan Mi Instan (2)
   Nova/Ester 
Sondang<http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/08/21/13164741/Usus.Dipotong.Akibat.Kebanyakan.Makan.Mi.Instan.2#>
 
/<http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/08/21/13164741/Usus.Dipotong.Akibat.Kebanyakan.Makan.Mi.Instan.2>
 *Artikel Terkait:*

   - Usus Dipotong akibat Kebanyakan Mi Instan
(1)<http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/08/21/1238313/usus.dipotong.akibat.kebanyakan.mi.instan.1>

    <http://www.tabloidnova.com/>
 Jumat, 21 Agustus 2009 | 13:16 WIB
*Laporan wartawan NOVA Ester Sondang*

*SEJAK *ususnya yang busuk dipotong, Hilal tidak lagi merasakan sakit pada
bagian ususnya. Celakanya, rasa sakit justru berpindah ke bagian
kolostominya. Setiap kali habis makan, makanan itu pasti langsung keluar
melalui lubang anus buatan itu. Saat itulah dinding perutnya merasakan sakit
yang luar biasa. Ia bisa menangis menjerit-jerit kesakitan.

Belum lagi plastik yang menempel untuk menampung feses yang penuh dan harus
diganti dengan yang baru. Double tape yang sering kali dilepas dan dipasang,
membuat kulit perutnya iritasi dan perih.

Jika sudah tak bisa menahan sakitnya, Hilal akan berujar, “Udah Hilal *paeh
aja*! (Hilal lebih baik mati saja!)” Kadang juga ia berteriak minta maaf
kepada Allah dan minta disembuhkan sambil mengatupkan kedua tangannya.
Kasihan anakku.

Setiap hari, selama delapan bulan itu, ia hanya menghabiskan waktunya di
tempat tidur. Hilal hanya mampu berjalan beberapa menit saja karena jika
terlalu lama ia pasti langsung merasakan sakit di bagian kolostominya.
Setiap malam, ia juga harus tertidur dengan paha diangkat menyentuh ke
perutnya. Katanya, terasa enak dan membantu menahan rasa sakitnya.

*Kapok Makan Mi*
Agar ia tidak merasa bosan di kamar seharian, aku mengalihkan rasa sakitnya
dengan mengajarinya membaca. Awalnya, sih, sekadar membacakan buku-buku
cerita untuknya, tapi lama-kelamaan ia merasa tertarik untuk membaca. Aku
dan Panda bergantian mengajarinya. Tidak terasa, saat ini ia sudah lancar
membaca, *lo*.

Memang, sebetulnya Hilal anak yang sangat pintar dan aktif. Sebelumnya ia
tidak pernah sakit dan sangat penurut. Namun, sejak kelahiran adiknya dua
bulan lalu, Ilham Haki, ia menjadi lebih manja padaku. Ia melarangku
menggendong dan menyusui adiknya. Aku, sih, maklum saja karena dia masih
sakit dan mungkin takut rasa sayangku direbut oleh adiknya.

Sekarang Hilal sudah bisa berjalan lagi. Memang, sih, masih sedikit bongkok,
tapi aku yakin dalam waktu dekat ia bisa berdiri dan berjalan dengan
sempurna. Katanya, ia ingin segera sekolah.

Yang membuatku lega, sejak sakit itu, Hilal trauma dengan mi instan. Bahkan
melihatnya saja, dia seakan tak sudi. Beda dengan dulu, sekarang ia sangat
senang mengonsumsi makanan sehat, seperti sayur, daging, buah, dan susu.
Susu memang dianjurkan dokter untuk membantu memperbaiki kondisi dan kinerja
ususnya.

Mudah-mudahan ia bisa segera sembuh dari sakitnya dan menjadi anak yang
pintar serta berprestasi di sekolahnya nanti.
 Sent from Indosat BlackBerry powered by

Kirim email ke