---------- Forwarded message ----------
From: maiyah kc <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 12 Jul 2007 07:11
Subject: [kenduricinta] BAJU ITU TANGGAL DI HADAPAN TUHANMU (i)
To: [EMAIL PROTECTED]
BAJU ITU TANGGAL DI HADAPAN TUHANMU (i)
ITULAH malam paling menyakitkan yang pernah kualami.Tapi akhirnya aku tahu
bahwa ada perbedaan besar antara rasa sakit dengan penyakit. Penyakit itu
destruksi terhadap hakekat hidup. Tapi sakit justru sanggup membawamu
memasuki sebuah situasi sakral yang misterius. Ada semacam tetesan
kebahagiaan yang diiming-imingkan oleh rasa sakit, oleh luka dan kepedihan.
Aku yakin engkaupun tahu bahwa ternyata rasa sakit dan kepedihan
sesungguhnya adalah kebahagiaan yang tidak menjumpai tempat persemayamannya
di dalam jiwamu.
Sudrun menghardikku sepanjang malam, sebelum akhirnya ia mendadak lenyap
entah ke mana tatkala fajar berakhir. la kemudian digantikan kehadirannya
oleh cahaya matahari, yang pagi itu lain sama sekali dengan cahaya yang
pernah kukenali sebelumnya, ketika kutatap dengan mataku dan kuhayati dengan
batinku.
Aku merasa bukan aku. Aku merasa lahir kembali sebagai aku yang sama sekali
bukan yang kemarin.
Aku pernah menjadi seorang Bupati dan aku menyangka bahwa aku adalah Bupati,
sehingga ketika aku tak lagi menjabat sebagai Bupati aku merasa kehilangan
diriku sendiri. Aku pernah menjadi seorang Menteri, di saat lain aku menjadi
seorang Jendral dengan jabatan dan kewenangan besar. Aku juga pernah menjadi
seorang bos besar dari sebuah perusahaan, kemudian menjadi pemimpin panutan
beribu-ribu orang yang setiap kali ketemu setia mencium punggung tanganku.
Ketika kemudian aku berangkat tua, aku mulai tak bisa mengelak untuk
mengerti bahwa sesungguhnya aku bukan bos besar, bukan penguasa dan bukan
pemimpin. Dan akhirnya tatkala orang-orang mengakat kerandaku dan
memasukkanku ke lubang kuburan yang begitu amat sempit dibandingkan yang
pernah kubayangkan tentang kebesaran hidupku: aku sungguh-sungguh memahami
bahwa yang dikuburkan ini bukanlah menteri, bukan bos besar, bukan pemimpin
masyrarakat. Yang meringkuk di kuburan dan tak bisa mengelak dari tangan
Mungkar dan Nakir ini adalah diri yang sama sekali lain, yang selama hidupku
justru jarang kusapa dan kuperhatikan.
Pada saat itulah tumbuh kecerahan pikiran dan sekaligus penyesalan. Betapa
si bupati, si menteri, si bos besar dan si pemimpin ummat, seharusnya sudah
sejak awal kukuburkan sendiri; dan semestinya aku melawan habis-habisan
apabila beribu-ribu orang itu mencoba menggali, menghidupkan, mengangkat di
atas kepala mereka sambil menyanjung-nyanjung sesuatu yang telah kukuburkan
itu.
Aku bukan bupati, karena yang disebut bupati itu hanyalah bajuku. Aku bukan
menteri, sebab yang bernama menteri itu hanyalah nama dari tugasku. Aku
bukan bos, bukan pemimpin, bukan kiai, bukan ulama, bukan budayawan dan
bukan apa saja – karena semua itu sekedar inisial untuk menandai pekerjaan
hidup sosialku.(bersambung)
("Kiai Sudrun Gugat", Emha Ainun Nadjib, Grafiti Press, 1995)
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]