---------------------------------------------------------------------
WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.
---------------------------------------------------------------------
Edisi ini diterbitkan pada:
Kamis 27 Agustus 2009 14:50 UTC
** AMNESTY INTERNATIONAL: TRIBUNAL TOMOR TIMUR
** KECELAKAAN KAPAL INDONESIA
** DALAI LAMA BOLEH BERKUNJUNG KE TAIWAN
** GEMA WARTA TOPIK TINJAUAN PERS: INDONESIA ANTARA TERORISME-DEMOKRASI DAN
CINA UNTUNGKAN TAIWAN
** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: AMERIKA LATIN MEMILIH PRO SOFT DRUG
** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: KRISIS EKONOMI JUGA MELANDA ANAK MUDA
** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: MEROKOK SHISHA LEBIH BERBAHAYA BUAT KESEHATAN
** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: BERTOBAT MELAKUKAN TEROR, TAPI TETAP BERJIHAD
** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: SIA-SIA RATIFIKASI KONVENSI PBB 1990 TENTANG HAK
BURUH
* AMNESTY INTERNATIONAL: TRIBUNAL TOMOR TIMUR
Amnesty International, AI, meminta Perserikatan Bangsa Bangsa untuk membentuk
Tribunal Timor Timur. Menurut AI, para pelaku tindak kekerasan sepuluh tahun
silam harus mempertanggung-jawabkan tindakan mereka di muka pengadilan khusus
tersebut.
Pada tahun 1999, dalam suatu referendum, warga Timor Timur memilih memisahkan
diri dari Indonesia. Menjelang dan setelah pelaksanaan referendum warga Timor
Timur menjadi sasaran teror milisi pro Indonesia. Kelompok ini menjarah,
membunuh dan melakukan pembakaran di seluruh wilayah Timor Timur.
Saat ini, pemerintah Timor Leste sendiri tidak memprioritaskan upaya hukum bagi
para pelaku tindak kekerasan tersebut. Pemerintah Timor Leste menyatakan tidak
ingin mengungkit-ungkit masa lalu, dan akan lebih mengutamakan pertumbuhan
ekonomi.
* KECELAKAAN KAPAL INDONESIA
Sembilan orang tewas dalam kecelakaan kapal feri kecil di Indonesia. Kapal itu
terbalik di laut, tidak lama setelah berangkat dari dermaga Kusamba Bali. Tiga
belas penumpang berhasil diselamatkan. Tiga lainnya masih dinyatakan hilang.
* DALAI LAMA BOLEH BERKUNJUNG KE TAIWAN
Pemerintah Taiwan memberi ijin kepada Dalai Lama untuk berkunjung. Pemimpin
agama Tibet ini diundang pemerintah daerah Taiwan setelah dilanda topan Morakot
yang menewaskan ratusan orang. Dalai Lama berangkat ke Taiwan bulan ini untuk
menyampaikan duka cita kepada keluarga korban topan. Presiden Taiwan Ma
Ying-jeou menegaskan kunjungan itu bersifat kemanusiaan dan agamawi, jadi tidak
akan mengganggu hubungan antara Taiwan dan Cina. Dalai Lama sudah dua kali
berkunjung ke Taiwan dan keduanya sempat dikritik oleh Cina. Peking menganggap
Dalai Lama sebagai pemimpin pemberontak yang menuntut kemerdekaan Tibet.
Beberapa bulan terakhir, hubungan Cina dan Taiwan membaik.
* PARTAI TARO ASO KURANG POPULER
Perdana Mentri Jepang Taro Aso mengakui para elektorat Jepang tidak menyukainya
partainya, seperti yang ditunjukkan hasil survey seminggu sebelum pemilihan.
Hasil ini menunjukkan partai oposisi akan menang dalam pemilu.
Partai Demokrasi Jepang atau DPJ bisa meraih 320 bangku dari 480 posisi yang
tersedia di majelis rendah. Setelah berkuasa selama setengah abad, nampaknya
Partai Demokrasi Liberal akan kalah pada pemilu mendatang. Diperkirakan partai
itu akan mendapat 100 kursi, dibandingkan 300 kursi pada pemilu lalu.
* AKSI IRAN TIDAK DISETIR BARAT
Para pemimpin aksi protes massa di Iran, tidak melakukan protes atas perintah
pihak barat. Demikian Ayatollah Ali Khamenei. Dalam penjelasannya kepada tv
Iran, Khamenei menyatakan tidak ada bukti pemimpin oposisi disetir oleh Amerika
dan Inggris. Sebelumnya rejim Iran sudah berulang kali menuduh pihak Barat otak
kericuhan yang terjadi di Iran, paska terpilihnya kembali presiden Mahmoud
Ahmadinejad. Huru-hara ini menewaskan 30 orang. Ratusan lainnya ditangkap dan
banyak dari mereka masih menunggu proses pengadilan. Khamenei meminta agar
pengadilan Iran tidak terpengaruh oleh desas-desus yang ada, tapi hanya
mempercayai bukti.
* UU HAK WANITA MALI GAGAL
UU Mali tentang hak wanita untuk sementara gagal. Presiden Amadou Toumani Toure
tidak menandatangani karena gerakan Islam memprotes keras. Toure mendukung UU
itu, dan parlemen sudah menyetujuinya. Presiden berkata: demi persatuan
nasional, parlemen Mali harus tunduk pada hukum keluarga.
* SCHEFFER JADI BURU BESAR UNIVERSITAS LEIDEN
Mantan sekjen NATO Jaap de Hoop Scheffer akan menjadi guru besar Universitas
Leiden. Mulai minggu depan dia memberi kuliah tentang politik internasional dan
praktek diplomatik. Hoop Scheffer diangkat menjadi bagian mata kuliah Pieter
Kooijman, tentang perdamaian, HAM dan keamanan. Meski De Hoop Scheffer tidak
punya latar belakang akademis, tapi karena pengalamannya dia bisa menjabat guru
besar.
* BERITA BURSA
Bursa Eropa mengalami penurunan setelah pembukaan. Karena laporan tengah
tahunnya, Perusahaan bangunan BAM dan Corio mengalami penurunan paling besar di
pasar bursa AEX.
Indeks AEX turun 0,2% pada 298,12 poin. Indeks Midkap mencatat 459,32 poin.
Bursa London dan Frankfurt turun 0,1 dan 0,2%. Bursa Paris tidak mengalami
banyak perubahan setelah penutupan Rabu lalu.
Indeks Nikkei ditutup di angka minus. Para pialang mengambil keuntungannya
setelah Rabu lalu Nikkei ditutup pada angka tertinggi selama sepuluh bulan ini.
Indeks Nikkei tercatat 1,6% lebih rendah pada 10.473,97 poin.
Dow Jones ditutup pada 9.543,52 poin. Bursa Nasdaq tidak mengalami banyak
perubahan pada penutupan yaitu 2024,43 poin.
Nilai Tukar:
1 euro sama dengan 1,4244 dollar Amerika
1 euro setara dengan 14.365 rupiah
1 dollar Amerika senilai 10.070 rupiah
* INDONESIA ANTARA TERORISME-DEMOKRASI DAN CINA UNTUNGKAN TAIWAN
Usia demokrasi Indonesia yang masih muda sekarang harus memerangi teror.
Tidaklah mudah, jika gegabah, perang teroris bisa menjadikan Indonesia terpuruk
dalam "penindasan". Demikian NRC Handelsblad.
Sebelum Ramadhan dimulai, pemerintah Indonesia sudah mengumumkan untuk
memerangi terorisme. Langkah baru ini disertai dengan pengontrolan pihak
berwajib atas khotbah-khotbah di mesjid. Para pemimpin agama yang pesannya
berbau kebencian dan kekerasan bisa di tangkap dan dihukum, demikian jubir
kepolisian Jumat lalu.
Stigmata terhadap Islam
Banyak yang mengkritik kebijakan untuk memata-matai. Bukan hanya kelompok
fundamentalis dan pemimpin agama Islam, tapi juga para aktivis HAM, serta
politisi menentangnya. Apakah ini bentuk lain dari penindasan dan perampasan
kebebasan HAM?
Banyak yang berpendapat, jika perang melawan teror berarti pengontrolan pesan
keagamaan, hal itu bisa menimbulkan stigmata terhadap agama Islam. Bukan hanya
mengarah pada kaum fundamentalis dan ekstrimis, tapi umat muslim pada umumnya.
Teringat luka lama
Tahun 1998, pemerintah Orde Baru yang dikenal sebagai rejim penindas, juga
pernah melakukan hal yang sama. Orba bukan hanya mengontrol apa yang berbau
anti sentimen pemerintah, namun juga pesan-pesan yang berbau terlalu ekstrim
atau ke-islaman.
Pungky Indarti, aktivis organisasi HAM Imparsial berpendapat, hal ini bisa
disamakan dengan operasi intel sewaktu pemerintahan Orba. Polisi lebih baik
berfokus pada usaha memerangi teroris dan tidak membuang waktu mengontrol pesan
pemimpin agama yang berbau kebencian.
Nada yang sama disinggung harian Jakarta Post, yang mengatakan rakyat Indonesia
sudah cukup lama ditindas Orba dan tidak ingin timbul lagi Orba yang baru.
Tantangan untuk memerangi terorisme tidaklah ringan bagi kepolisian. Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono sempat menyarankan agar tentara memberi dukungan untuk
mengemban tugas kepolisian dalam hal ini. Tapi itupun juga membuat rakyat
"merinding". Ketakutan kalau militer Orba akan kembali mengambil alih posisi
lamanya.
NRC Handelsblad mengutip Indarti "Terorisme memang berbahaya. Tapi juga harus
dijaga keseimbangan yang proporsional antara usaha memerangi teroris dan
kebebasan warga."
Kita beralih ke Cina
International Herald Tribune hari ini mengangkat tulisan tentang hubungan
ekonomi antara Taiwan dan Cina.
Taiwan adalah pihak yang paling diuntungkan dengan pertumbuhan ekonomi Cina
selama ini. Tahun ini Cina mengimport barang bernilai jutaan dollar dari
Taiwan. Bahkan perdagangan dengan Taiwan sudah mendominasi seperlima
perekonomian Cina.
Mata uang Cina sudah mengangkat nilai saham berbagai perusahaan Taiwan sampai
50% tahun ini. Hal itu menjadikan Taiwan salah satu negara dengan bursa saham
terbaik di dunia setelah Cina.
GDP Taiwan naik
Investor Taiwan mengharapkan kucuran uang di 100 sektor yang terbuka bagi
penanaman modal Cina. Gross domestic product atau produk domestik bruto Taiwan
pun naik sampai 20.7 persen antara April dan Juni lalu.
Sementara beberapa analis ekonomi khawatir akan ketergantungan Taiwan pada
Cina, banyak yang mengatakan kekhawatiran itu tidak perlu. Sangat sulit bagi
Cina untuk langsung menarik mundur penanaman modal mereka. Ini bisa berarti
Taiwan akan terus diuntungkan oleh hubungan perdangan dengan Cina. Demikian
International Herald Tribune.
* AMERIKA LATIN MEMILIH PRO SOFT DRUG
Setelah Meksiko, kini Argentina yang mengijinkan obat bius ringan untuk
penggunaan pribadi. Sementara pemerintah Belanda kelihatannya semakin menjauh
dari kebijakan ini, soft drugs untuk kebutuhan pribadi seakan-akan menjadi
trend di negara-negara Amerika Selatan. Laporan Perro de Jong:
"Kamu bisa menemukan mereka di jalan-jalan", kata ayah Cristian yang kecanduan
narkoba. "Karena narkoba, mereka sampai jatuh tertidur di jalan-jalan. Muka
mereka penuh bekas luka bakar, begitu juga tangan dan kaki mereka. Badan mereka
kotor, kelihatan seperti orang bingung, seperti anak saya."
Saat ini pecah diskusi panas mengenai legalisasi penggunaan soft drugs atau
obat bius ringan di Argentina. Terutama orang tua para pecandu berusaha keras
mencegah legalisasi tersebut. Aksi protes mereka yang emosional mengingatkan
pada aksi protes para ibu di Plaza Mayo yang selama 30 tahun meminta perhatian
pemerintah karena kehilangan anak-anak mereka yang diculik dan dibunuh junta
militer.
Tanggunjawab sendiri
Mahkamah Agung Buenos Aires tidak peduli dengan protes itu. Mereka juga tidak
peduli peringatan Claudio Izaguirre, kepala Asociacion Antidrogas atau
Persatuan Anti-Narkoba Argentina. Kalau semua orang secara bebas menggunakan
obat bius ringan, maka 30 persen masyarakat nantinya akan menderita
schizofrenia, kata Izaguirre.
Putusan Mahkamah mengimplikasikan bahwa itu masalah mereka sendiri. Menurut
para hakim, Undang Undang Dasar Argentina menegaskan orang dewasa
bertanggungjawab sendiri atas pilihan hidup mereka. Negara tidak perlu
mencampuri itu.
Tapi mengapa undang undang itu justru sekarang disesuaikan, tidak hanya terkait
alasan filosofi. Pekan lalu Meksiko mengijinkan kepemilikan jumlah kecil
kanabis, heroin dan kokain. Peru juga tidak lagi menggugat pemilik narkoba
ringan, kendati menteri dalam negeri Octavio Salazar akhirnya mencabut
rancangan undang undang itu.
"Karena pelbagai konvensi internasional, kami memang tidak bisa melegalisasi
semuanya," kata hakim Eugenio Zaffaroni dari Mahkamah Agung Argentina. "Tapi
kami membuang waktu beharga dengan urusan-urusan yang toh tidak bisa mencegah
sesuatu. Pengguna kecil pun adalah korban. Mereka tidak perlu dihukum," ujar
Zaffaroni.
Trend di Amerika Latin ini sangat mirip kebijakan toleran Belanda, yang
berupaya membedakan narkoba ringan dan keras serta pengguna narkoba dan
kejahatan terorganisir.
Kelompok penjahat adalah masalah sebenarnya di Amerika Latin, yang termasuk
produsen terpenting narkoba dan kokain di dunia. Setiap tahun ribuan orang
meninggal dunia akibat kekerasan terkait narkoba. Menurut pihak berwenang
Meksiko, menggugat para pengguna obat bius akan merugikan pemberantasan
kejahatan terkait narkoba.
Petani koka
Ironisnya kebijakan Belanda belakangan justru semakin menghadapi tekanan. Bukan
hanya tekanan internasional tapi juga tekanan dalam negeri, di mana bahkan
kelompok pendukung menunjuk pada sistem tidak masuk akal, yang mengijinkan
penggunaan softdrugs tapi melarang penanamannya.
Juga di Amerika Latin orang banyak berdiskusi tentang penanaman narkoba secara
legal atau tidak. Di benua itu ada alasan lain yang penting: di negara-negara
seperti Peru dan Bolivia terdapat lobi kuat para petani koka. Mereka memang
tidak ingin penggunaan kokain disahkan, tapi mendukung legalisasi penanaman
koka.
Presiden Bolivia, Evo Morales bahkan ingin mengadopsi penggunaan tradisional
daun koka untuk melawan rasa lapar dan lelah, dalam pernyataan PBB tentang hak
suku-suku Indian. Untuk itu ia sudah selama dua tahun melakukan kampanye di
tingkat tinggi.
Uruguay
Juga dalam upaya melegalisasi soft drugs, kepentingan politik makin penting.
Ini tampak jelas di Uruguay, yang juga mulai berdiskusi tentang masalah ini. Di
negeri itu pertanyaan apakah obat bius ringan harus dilegalisasi, bahkan
menjadi tema pemilu 25 Oktober mendatang. Salah satu dari dua calon terpenting
mendukung, yang lainnya menentang.
Legalisasi narkoba sebagai salah satu butir kampanye pemilu: bahkan di Belanda
tidak pernah dilakukan.
* KRISIS EKONOMI JUGA MELANDA ANAK MUDA
Tingkat pengangguran di Belanda naik tajam, terutama di kalangan muda. Demikian
angka-angka Biro Pusat Statistik. Tahun lalu tingkat pengangguran di kalangan
muda mencapai sembilan persen, tapi kini telah meningkat menjadi 11,4 persen.
Jumlah pencari kerja memang makin banyak, tapi banyak pemuda juga memilih untuk
melanjutkan studi ketimbang duduk di rumah saja. Laporan Klaas den Tek.
Di masa krisis ekonomi, kalangan muda selalu menjadi korban pertamanya. Di
Belanda terutama laki-laki muda yang bekerja di sektor industri, bangunan,
teknologi informasi atau dagang menghadapi kesulitan. Di kwartal kedua, tingkat
pengangguran pemuda berusia 15 sampai 25 tahun mencapai hampir 12 persen. Ini
jauh lebih banyak ketimbang tahun sebelumnya. Berikut penjelasan Michiel
Vergeer, pakar ekonomi Biro Pusat Statistik:
Michiel Vergeer: "Posisi hukum mereka lemah. Pemuda paling akhir masuk
perusahaan dan keluar sebagai orang pertama. Juga pendatang baru di lapangan
kerja menghadapi kesulitan. Mereka berusaha mencari pekerjaan, tapi lowongan
kerja terlalu sedikit."
Pemuda yang berupaya mencari pekerjaan sering meminta bantuan apa yang disebut
'loket pemuda' yang menjadi perantara dalam pencarian pekerjaan. Loket ini
bekerja sama dengan pihak majikan, pemerintah kota dan sekolah. Lebih jauh
Angela Velberg, pemimpin proyek pemuda di Utrecht, menjelaskan:
Angela Verberg: "Kami terutama didatangi anak muda berpendidikan MBO, Sekolah
Menengah Kejuruan, yang sebelumnya mudah mendapatkan pekerjaan. Sekarang
dibutuhkan periode lebih lama. Di beberapa sektor dan profesi tidak ada
pekerjaan selama bulan-bulan mendatang."
Kabinet sudah menyalurkan dana sebesar 500 juta euro sehubungan rencana
memerangi pengangguran di kalangan anak muda. Banyak uang disalurkan untuk
menciptakan tempat magang di perusahaan. Tindakan ini diambil sehingga para
pemuda bisa tetap bekerja untuk masa depan mereka.
Angela Verberg: "Kami berupaya sebaik mungkin untuk menampung mereka. Kami
menyediakan latihan dan kursus. Kami juga menawarkan pendidikan tambahan untuk
memperbesar kesempatan mereka di lapangan kerja. Kami berbuat apa saja untuk
mencegah agar mereka tidak kehilangan motivasi."
Karena kurangnya kemungkinan mencari pekerjaan, banyak pemuda memutuskan
melanjutkan studi mereka. Di universitas dan pusat pendidikan regional telepon
tak kunjung berhenti berdering. Sampai 1 Oktober mendatang, para pemuda masih
bisa mendaftarkan diri. Tapi pertanyaannya adalah apakah ada cukup dosen untuk
mengajar para mahasiswa itu. Beberapa dari mereka mungkin masih harus menunggu
beberapa bulan sebelum bisa melanjutkan studi.
Tapi ada juga titik cerah bagi penganggur muda ini. Tingkat pengangguran di
kalangan pemuda cepat turun kalau ekonomi membaik, demikian Biro Pusat
Statistik Belanda.
* MEROKOK SHISHA LEBIH BERBAHAYA BUAT KESEHATAN
Merokok Shisha atau merokok dengan menggunakan pipa selang panjang dan botol
kaca sangat tekrenal di negara-negar Arab. Namun kini menjadi populer juga di
Eropa. Hal itu ditandai dengan munculnya kafe-kafe Shisha. Para pelanggannya
dapat bersantai sambil menghisap rokok dari botol kaca dengan hiasan yang
dialirkan melalui selang panjang. Namun banyak yang tidak sadar bahwa risiko
kesehatannya itu sama-- dan bahkan mungkin lebih buruk dibanding merokok biasa.
Penemuan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kerjasama Pengasawan
Tembakau di Britania soal merokok shisha ternyata cukup mengkhawatirkan.
Penelitian membuktikan bahwa menghisap habis shisha ternyata menghasilkan
karbon monoksida empat hingga lima kali lebih tinggi dibanding merokok biasa.
Direktur pusat kerjasama Tembakau Hilary Wareing mengatakan hasil itu cukup
mengejutkan bagi para peneliti di bidang kesehatan dan tembakau. Penelitian itu
didorong dengan penemuan tingkat kandungan karbon monoksida yang tinggi di
dalam darah seseorang yang tidak merokok sigaret. Karbon monoksida menurunkan
kadar pasokan oksigen dan dapat merusak jika berada dalam darah dengan jumlah
tinggi.
Perokok Berat
Membandingkan shisha dan sigaret biasa, Wareing mengatakan dalam pengukur
karbonmonoksida bagi perokok ringan terdapat 20 ppm (part per million atau 20
bagian perjuta) karbonmonoksida, sementara bagi perokok berat terukur 30 hingga
40 bagian dan bagi penghisap shisha ada 99 bagian per jutanya. Ada anggapan
sebelumnya bahwa merokok shisha akan mengurangi kerusakan, namun Waering
menegaskan itu ternyata tidak benar.
Namun itu bukanlah satu-satunya masalah. Shisha juga menyalurkan nikotin dan
unsur lainnya seperti rokok biasa. Dibutuhkan penelitian yang lebih dalam lagi
dengan variabel yang lebih beragam, kata Wareing. Itu sebagian bergantung pada
cara orang merokok shisha dan banyak jenis shisha yang dijual di pasaran.
Kampanye anti tembakau
Penemuan di atas mendukung riset terdahulu yang digelar oleh Dewan Anti
Tembakau Prancis di tahun 2007 dan penelitian sebelumnya yang digelar di Mesir.
Namun penelitian itu tidak dipublikasikan secara besar-besaran. Wareing
mengatakan itu karena penelitian selama ini difokuskan pada kampanye anti
tembakau rokok biasa. Tidak seorangpun yang bakal mengatakan bahwa merokok itu
aman, karena kita sudah mengetahuinya. Yang kini harus dilakukan adalah
mengatakan kepada semua orang bahaya shisha hingga mereka dapat memutuskan
sendiri untuk menghisapnya atau tidak.
* BERTOBAT MELAKUKAN TEROR, TAPI TETAP BERJIHAD
Penggerebekan Temanggung dan Jati Asih menunjukkan banyak pemain lama aksi
teror yang kembali terlibat. Mereka sudah dipenjara, dihukum, tapi toh tak
merasa jera. Mereka tetap kembali ke jalur teror, meski ada banyak korban
melayang akibat aksi mereka. Reporter KBR68H Rezki Hasibuan berbincang dengan
bekas anggota dan petinggi Jemaah Islamiyah yang akhirnya memutuskan untuk
keluar. Kenapa mereka keluar? Bagaimana mereka menata hidupnya lagi? Simak
ceritanya:
Riz Farihin: Saya Farihin lahir di Jakarta 26 Januari 1966 tinggal di Menteng
Kebon Sirih. Kegiatan sehari-hari saya berwiraswasta kadang berjualan
obat-obatan herbal, buku dan order pakaian. Saya pernah menjadi relawan untuk
Poso dan Ambon, dengan bendera KOMPAK tahun 1999-2004. Pernah ditahan karena
membawa amunisi dan ditahan 3 tahun ½
Raut wajahnya tak sedikitpun memperlihatkan gurat keras seperti bayangan banyak
orang tentang komandan perang. Padahal, lelaki yang satu ini pernah menjadi
anggota Jamaah Islamiyah yang mendapat pelatihan militer dan berperang di
Afghanistan pada 1980an. Lelaki tambun berkulit coklat legam itu juga pernah
menjadi komandan perang di Poso dan Ambon.
Riz Farihin: Semenjak tamat SMA tahun 1987 saya ke Afghanistan lewat Malaysia.
Ini karena pemimpin saya dari Indonesia, Abdullah Sungkar mengudang aktivis
terutama yang ada kaitannya dengan organisasi Islam yang diannap fundamentalis
seperti Darul islam dan Ormas GPI disuruh berangka.ke Afghanistan. Karena ada
seorang pemimpin GPI Abdul Kadir Jaelani memfasilitasi saya ke Afghanistan.
Farihin muda berangkat ke Afghanistan lewat Malaysia. Di Malaysia ia bertemu
dengan seorang remaja berkebangsaan Malaysia, Nassir Abbas. Di kemudian hari,
Nassir menjadi Ketua Mantiki III Jemaah Islamiyah, memimpin komando untuk
wilayah Sulawesi, Kalimantan Timur dan Filipina.
Nassir mengemban misi yang sama, ingin ke Afghanistan untuk membela agamanya.
Saat itu Afghanistan sedang berperang melawan Uni Sovyet. Nassir berangkat ke
Afghanistan tanpa restu ibunya.
Nassir Abbas: Awalnya itu dari semangat, ikut-ikutan, namanya juga masih
belasan tahun. Ketika ditawarkan untuk keAfghnaistan gratis, saya tak banyak
pikir waktu, apalagi dari dulu keyakinan saya adalah membela Islam makanya saya
ke Afghanistan. Usia saya waktu itu 18 tahun. Saya enam tahun di Afghanistan
Di Afghanistan, Nassir dan Farihin belajar soal perang dan cara membuat bom.
Riz Farihin: Ada 9 prinsip perang dalam perang ada yang namanya taktik
surprise. yang kedua enginering termasuk didalamnya cara-cara demolition atau
penghancuran. Disitulah kita belajar membuat bom. Dari a sampai z diajarin
semua. terus juga weapon training, peralatan senjata, bongkar pasang dan lain
sebagainya. Dan juga mapping atau pemecahan situasi. Kita belajar strategi
perang
Perang tak hanya dipelajari sebagai teori, tapi langsung dipraktikkan oleh
Natsir dan Farihin.
Nassir Abbas: Saya pernah terlibat ikut dalam perang. Pengalaman, suka duka
banyak yang dukanya. Teman saya orang Indonesia, namanya Jamaluddin, orang Jawa
tewas dalam perang di Afghanistan. Yah namanya tentara, menjadi tentara Islam,
saya kira kayak tentara Indonesia juga siap mental menghadapi lawan.
Di Afghanistan, Nassir Abbas berkenalan dengan Ali Ghufron dan Imam Samudra.
Dua terpidana mati kasus Bom Bali I ini adalah relawan yang diberangkatkan ke
Afghanistan setelah angkatan Nassir dan Farihin. Keduanya menjadi murid Nassir
Abbas di Afghanistan.
Pulang dari Afghanistan, Nassir Abbas melaju ke Moro, Filipina Selatan. Di sana
ia menjadi instruktur untuk kelompok radikal pembebasan Moro, MILF. Ia membuka
Kamp Ubaidiyah, sebuah kamp militer Jemaah Islamiyah di sana. Karena
prestasinya, Nassir didapuk menjadi Ketua Mantiki III.
Nassir Abbas: 2001 saya dilantik menjadi ketua mantiki III menggantikan
Mustofa. Wilayahnya Sabah Malaysia, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Utara
dan Mindanao serta Filipina Selatan. Ini karena prestasi saya. Bisa menguasai
perairan Sulawesi, Filipina, Malaysia . Dulu itu saya kuasaia.
Sementara Farihin, kembali ke Indonesia. Pada 1999, meletus konflik SARA di
Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah. Farihin terjun menjadi relawan jihad
ke kedua wilayah itu lewat organisasi KOMPAK, Komite Penanggulangan Krisis.
Oktober 2002, beberapa hari sebelum bom meledak di Bali, Farihin ditangkap di
Palu, Sulawesi Tengah. Barang buktinya adalah ribuan butir amunisi. Akibatnya,
ia dipenjara 3 ½ tahun.
Begitu keluar dari penjara pada 2004, Farihin sadar, aksi teror yang dilakukan
Jemaah Islamiyah memakan banyak korban tak bersalah. Jihad, kata Farihin, sudah
tak pada tempatnya lagi. Bagi Farihin, jihad dengan cara bertempur hanya boleh
dilakukan di medan perang, bukan dengan meledakkan fasilitas umum seperti yang
dilakukan Noor Din M. Top dan kawan-kawan.
Riz Farihin: Padahal kami di JI tak begitu. Itu baru boleh dilakukan kalau di
medan perang dan ketika kekuatan sudah solid
Natsir Abbas yang kala itu sudah menjadi petinggi Jemaah Islamiyah juga merasa,
aksi teror yang dilakukan kawan-kawannya sudah salah arah. Abbas pun keluar
dari Jemaah Islamiyah pada 2003. Ia tak peduli cap kafir yang distempel oleh
orang-orang dalam Jemaah Islamiyah. Teror tetap salah, apa pun dalihnya, kata
dia.
Setelah menanggalkan status anggota dan petinggi Jemaah Islamiyah, Farihin dan
Natsir kini menata hidup baru mereka. Farihin punya usaha jual buku dan
pakaian, Natsir memilih jalur penelitian terorisme.
Bagi yang ingin menanggalkan dunia teror, stigma kadang terlanjur melekat. Noor
Huda Ismail, semasa menjadi wartawan untuk Washington Post, sebuah media dari
Amerika Serikat, tahu persis soal itu.
Noor Huda Ismail: Yang muncul dari pembicaraan-pembicaraan seperti itu, terjadi
stigmatisasi di masyarakat. Yang itu mereka kuatirkan saya juga kuatirkan
makanya saya bantu mereka walaupun this is very very smalla.
Bantuan Noor Huda diberikan lewat yayasan yang didirikan untuk membantu para
bekas teroris memulai hidup baru. Noor Huda yang dulu bersekolah di Pesantren
Al Mukmin Ngruki, Solo, kenal dengan sebagian pelaku aksi teror di tanah air.
Ia percaya, cap teroris sulit dilepaskan mereka yang sudah keluar bui.
Noor Huda Ismail: Yayasan Prasasti Perdamaian, di Graha Atrium Jakarta. Kami
juga bergerak di wilayah Semarang, Solo, kemudian Jawa Timur Tempat di mana
lebih membantu alumni bui untuk kembali ke kehidupan normal. Kegiatannya ke
arah ekonomi. Misalnya ada orang habis lepas dari Cipinang. Mereka datang
ngobrol mereka mau bikin usaha, apa mereka mau usaha bebek goreng, usaha
penggemukan sapi, garmen.
Cara lain adalah lewat pengajian khusus buat bekas teroris alumnus bui. Digelar
tiap Selasa pagi di Panti Asuhan Muslimin, di Jakarta. Farihin, bekas anggota
Jemaah Islamiyah bercerita, pengajian ini banyak membahas soal bahaya kekerasan
atas nama agama. Kata Farihin, pengajian ini adalah bagian dari upaya mengikis
sikap radikal.
Riz Farihin: Kami disuruh membahas atau bedah buku membahas soal kekerasan atas
nama agama, yang akan diterbitkan Professor Sarlito bersama dengan Quraish
Shihab.
Pengelola pengajian ini adalah Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia,
Sarlito Wirawan. Sarlito mengatakan pengajian hanyalah salah satu cara untuk
merehabilitasi mereka. Ini dilakukan baik bagi yang sudah keluar penjara maupun
yang masih berada dalam penjara.
Sarlito Wirawan: Mereka ini diluar tindakan kriminalnya, mereka ini orang
biasa. Mereka bukan psikopat. Mereka hanyalah orang biasa yang mempunyai
pandangan tertentu untuk jihad.
Tapi menurut Farihin, cara pengajian ini tak populer.
Riz Farihin:
Awalnya banyak, tapi banyak yang kesal juga kan. Apalagi ada ulama yang
mendownkan dia kan
Tak mudah merehabilitasi para bekas teroris. Sebagian dari mereka terlanjur
'dicuci otak' untuk melakukan teror atas nama agama. Sementara masyarakat
terlanjur ngeri, ada bekas teroris di sekitar mereka. Selama tak ada konflik
berbau agama di tanah air, Sidney Jones dari International Crisis Group ICG
yakin, para bekas teroris ini tak bakal beraksi lagi.
Betul begitu, Farihin?
Riz Farihin: Kalau untuk kelakuan saya pribadi yang melakukan teror kepada
orang tak berdosa, terutama sasaran Islam, saya menyesal. Saya minta maaf untuk
urusan itu. Tapi untuk jihad, saya akan terus berjihad sampai hari kiamat
Reporter KBR68H Rezky Hasibuan, melaporkan untuk Radio Nederland Wereldomroep
di Hilversum.
* SIA-SIA RATIFIKASI KONVENSI PBB 1990 TENTANG HAK BURUH
Perhimpunan Indonesia untuk Buruh Migran Berdaulat, Migrant Care mendesak
pemerintah RI meratifikasi konvensi PBB tahun 1990. "Indonesia merasa
ratifikasi konvensi itu sia-sia ketika negara penempatan tidak melakukan hal
yang sama," ujar Anis Hidayah, direktur eksekutif Migrant Care kepada Radio
Nederland Wereldomroep.
Konvensi PBB tahun 1990 tentang perlindungan hak buruh menyangkut
prinsip-prinsip tentang Hak Asasi Manusia dan ketenagakerjaan secara
internasional yang menjamin pemenuhan hak-hak dasar buruh migran. Hak-hak dasar
itu meliputi hak-hak pokok seperti upah layak, kebebasan mengungkapkan
pendapat, hari libur sekali dalam satu minggu, jaminan sosial, cuti Hari Raya,
cuti haid dan lain sebagainya.
Migrant Care mendesak mengimbau pemerintah RI meratifikasi konvensi tersebut
sehingga bisa diadopsi di dalam kebijakan nasional Indonesia, menyangkut
perlindungan buruh migran, ujar Anis Hidayah, direktur eksekutif Migrant Care.
"Karena sampai hari ini Indonesia memang sudah memiliki Undang Undang No. 39
Tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI. Tapi undang undang ini sama
sekali tidak mencerminkan perspektif HAM dan perempuan. Sehingga kenapa kita
mendesak itu adalah untuk, satu memberikan proteksi kepada warga negara kita
yang bekerja di luar negeri, terutama yang perempuan."
Anis Hidayah hari ini (27/08) juga sempat bertemu menteri tenaga kerja RI
mempertanyakan mengapa sampai sekarang pemerintah belum juga meratifikasi
konvensi PBB tahun 1990. Jawabannya adalah Indonesia merasa ratifikasi itu
menjadi sia-sia ketika negara penempatan tidak melakukan hal yang sama. Sampai
hari ini ada 35 negara yang sudah meratifikasi konvensi tersebut, tapi tidak
ada satu pun di antara negara-negara bersangkutan yang merupakan negara tujuan
buruh migran.
"Yang kita sampaikan adalah bahwa ketika pemerintah RI mendesakkan agar buruh
migran kita diproteksi di negara tujuan, artinya kita juga harus konsisten
memberikan perlindungan. Salah satunya adalah meratifikasi konvensi itu sebagai
pedoman untuk penyusunan kebijakan di tingkat nasional."
Migrant Care sangat menyesalkan sikap pemerintah RI. Hampir 6,5 juta warga
negara Indonesia yang bekerja di luar negeri. Sudah seharusnya pemerintah tidak
memiliki alasan untuk tetap menunda atau tidak memprioritaskan ratifikasi
konvensi PBB tahun 1990, karena ini adalah konvensi internasional yang berlaku
secara universal, tegas Anis Hidayah.
"Kalau kita meratifikasi konvensi itu, saya kira, kita nantinya bisa
mempersoalkan negara-negara tujuan yang tidak melakukan ratifikasi secara
periodik, kita bisa melaporkan kondisi pemenuhan HAM buruh migran kita."
Demikian Anis Hidayah. Sementara itu, Nur Asiyah Rambe, salah seorang buruh
migran di Malaysia mengharapkan pemerintah RI bisa menciptakan lowongan kerja
di Indonesia sendiri, sehingga tidak perlu warganya mencari pekerjaan di luar
negeri. Menang, ujar Nur yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, situasi
buruh migran Indonesia di Malaysia pada umumnya bisa dikatakan baik-baik saja.
Tapi itu juga tergantung dari keadaan. Ada juga buruh migran yang keadaannya
kurang bagus, katanya.
"Kalau mereka dapat majikan yang kurang bagus, dia itu kena siksa. Tapi kita
mau menyalahkan majikan seratus persen nggak bisa juga karena kadang juga salah
kita sebagai pembantu. Di sini banyak juga yang lari. Kalau dia dapat majikan
yang nggak bagus, dia lari."
Nur Asiyah berpendapat seharusnya tidak perlu lari. Kalau tidak betah atau
tidak tahan dengan majikan, sebaiknya minta bantuan di Kedutaan RI.
"Kalau ke Kedutaan, itu nanti Kedutaan yang menampung kita. Mereka tanya apa
masalah kita semua. Kita disuruh tinggal di situ sementara, baru nanti majikan
kita dipanggil. Nanti kita diantar pulang, kalau bisa diantar pulang."
Demikian Nur Asiyah Rambe kepada Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.radionetherlands.nl/
Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[email protected]
Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------