---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Selasa 21 Desember 2010 14:00 UTC



** VONIS TERORISME DI JAKARTA

** CINA PERLU KEBIJAKAN KRISIS HUTANG

** PEMILIHAN PRESIDEN BELARUS KONTROVERSIAL 

** GEMA WARTA TOPIK TINJAUAN PERS: WIKILEAKS TENTANG BALIBO FIVE

** GEMA WARTA, TOPIK INTERNASIONAL: REAKSI KERAS TERHADAP VIDEO CAMBUK SUDAN

** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: BHINEKA TUNGGAL IKA, DI UJUNG TANDUK

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: NGGAK BISA NONTON KONSER LAGI TAHUN DEPAN



* VONIS TERORISME DI JAKARTA

Hakim pengadilan di Jakarta Barat memvonis 6 tersangka aksi teror. Mereka 
dituduh anggota kelompok teror Al-Qaeda di Aceh. Para tersangka ini 
mempersiapkan aksi a la Mumbai, India, di Jakarta. Dalam aksi ini sasaran barat 
ditembak membabi buta oleh para teroris. Terdakwa Oman Rohma divonis 9 tahun, 
karena memberi dana untuk latihan sebesar 2 ribu dolar lebih. Uang ini ia 
serahkan kepada Dulmatin, teroris yang sudah tewas dalam aksi penggrebekan oleh 
aparat keamanan pada bulan Maret 2009. Dalam sidang terpisah 5 terdakwa divonis 
7 sampai 8 tahun penjara. Vonis ini lebih ringan kalau dibandingkan dengan 
tuntutan jaksa yaitu 12 tahun dan hukuman mati. Dalam aksi aparat keamanan 
terhadap kelompok jaringan teror Aceh ratusan aktivis ditahan atau tewas. Tokoh 
muslim radikal, Abu Bakar Bashir termasuk mereka yang ditahan.


* CINA PERLU KEBIJAKAN KRISIS HUTANG

Beijing meminta para pemimpin pemerintahan di Eropa untuk segera menangani 
krisis hutang. Niat berbagai pemerintah Eropa untuk menerapkan penghematan 
besar harus dilaksanakan. Menteri perdagangan Cina, Chen Deming menyatakan 
keprihatinan negaranya karena cadangan devisanya sebagaian besar dalam mata 
uang euro. Akibat krisis hutang di beberapa negara Uni Eropa, mata uang euro 
juga terkena imbasnya. Para investor mengkhawatirkan, krisis yang melanda 
Yunani dan Irlandia akan menyebar ke Portugal dan Spanyol.


* PEMILIHAN PRESIDEN BELARUS KONTROVERSIAL

580 pendemo yang memprotes pemilihan kembali presiden Aleksande Lukasjenko 
divonis  hukuman maksimal 15 hari kurungan. Ia dipilih kembali dengan 80 persen 
suara pemilih, demikian komisi pemilihan. 90 persen dari 7 juta pemilih Belarus 
mencontreng. Para pengamat Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama Eropa (OVSE) 
menyatakan pemilihan berlangsung curang. Penghitungan suara tidak berlangsung 
transparan.


* KOREA UTARA BERUBAH POSITIF

Demikian, gubernur negera bagian New Mexico, Bill Richardson sehabis 
perlawatannya ke Korea Utara. Ia memuji sikap menahan diri Korea Utara dalam 
menanggapi latihan militer Korea Selatan di sebuah pulau lepas pantai Korea 
Utara. Selanjutnya Korea utara menyatakan bersedia menerima lagi para inspektur 
Badan  Energi Atom Internasional IAEA yang mereka usir pada tahun 2009. 
Selanjutnya Pyongyang juga bersedia memperbaiki komunikasi dengan Korea Selatan 
dan Amerika Serkat lewat komisi milter baru dan hubungan telpon langsung. Bill 
Richardson adalah mantan duta besar Amerika Serikat di PBB. Ia memiliki 
jaringan hubungan dengan tokoh Korea Utara. Departemen luar negri di Washington 
meragukan sikap Korea Utara yang mengijinkan inspeksi oleh IAEA lagi. Yang 
penting adalah apa yang mereka lakukan secara konkrit.


* PBB TETAP DI PANTAI GADING

Dewan Keamanan PBB menetapkan memperpanjang misi PBB di Pantai Gading untuk 6 
bulan. Keputusan ini melawan permintaan penguasa Pantai Gading Laurent Gbagbo. 
Ia tidak mau mengakui kekalahannya dalam pemilihan presiden bulan lalu. Dunia 
internasional mengakui Allassane Quatara sebagai pemenang pemilihan di negara 
Afrika ini. Namun Gbagbo tetap menguasai militer dan berbagai kementerian. 
Dalam bentrok antara kedua pihak jatuh korban 50 orang tewas. PBB juga 
mengumumkan 200 orang luka-luka. Gbagbo mendapat dukungan kelompok-kelompok 
radikal yang antara lain mengintimidasi para staf PBB. Quattara yang diakui 
dunia internasional, meminta misi PBB mendapat mandat lebih luas supaya bisa 
menangani pelanggaran HAM oleh penguasa Pantai Gading Gbagbo.


* AFGHANISTAN: 700 MILITER ASING TEWAS

Demikian data yang dikumpulkan peninjau netral iCasualities. Jumlah mereka yang 
tewas tahun ini 180 lebih katimbang tahun lalu. Dan jumlah ini adalah 10 kali 
jumlah tentara asing yang tewas pada tahun 2002. Tahun ini memang adalah tahun 
paling berat sejak Amerika mengusir pemerintah Taliban pada tahun 2001. Namun 
sampai saat ini Taliban dengan dukungan beberapa suku dan sekelompok pedagang 
narkoba tetap memerangi pasukan asing. Mayoritas pasukan asing yang tewas di 
Afghanistan adalah tentara Amerika. 493 tentara Amerika tewas dalam konflik 
dengan Taliban dan sekutu mereka.


* BANGKOK: KEADAAN DARURAT DICABUT

Pemerintah Thailand memutuskan pencabutan dimulai hari Rabu. Keadaan darurat 
ini diberlakukan bulan April lalu  setelah terjadi huru-hara memprotes 
pemerintah. Dalam bentrok dengan aparat keamanan, sekitar 90 pendemo tewas. 
Berbagai aliran politik yang ada di Thailand saat ini saling berselisih. 
Situasi tegang ini menyebabkan diberlakukannya keadaan darurat sejak 7 April 
lalu di seperempat wilayah kerajaan ini.


* Berita Bursa

Bursa di Tokio positif menanggapi situasi yang sama di bursa saham Cina. Hal 
ini dipengaruhi juga oleh ucapan wakil perdana menteri Cina Wang Qishan sekitar 
 kesedian Cina mendukung usaha Uni Eropa dan IMF mengurangi dampak negatif 
krisis global.

Indeks Nikkei ditutup dengan 1,5 persen laba pada 10.370 poin. Indeks Kospi di 
Seoul mendapat laba 0,8 persen, sedangkan indeks bursa Australian All 
Ordinaries 0,7 persen lebih tinggi. Hang Seng di Hongkong sudah mendapat laba 
1,4 persen pada akhir perdagangan saham siang hari.

Nilai tukar valas:
$ 1 = Rp. 9.040,-
C 1 = Rp. 11.924,-


* WIKILEAKS TENTANG BALIBO FIVE

Koran online Australia Brisbanetime.com.au menampilkan berita tentang 
Wikileaks. Situs pembongkar rahasia ini membocorkan info tentang kasus Balibo, 
di mana lima wartawan Australia terbunuh. Ada cable diplomatik Amerika yang 
menyatakan bahwa Australia mem-personanongrata-kan Yunus Yosfiah, kapten di 
pasukan elit tentara Indonesia pada saat Indonesia menginvasi Timor Timur pada 
1975.

Terlibat
Dinas Forensik North South Whale (NSW), Australia, pada 2007 memutuskan bahwa 
Yunus Yosfiah terlibat dalam pembunuhan lima wartawan Australia: Greg 
Shackleton, Malcolm Rennie, Gary Cunningham, Brian Peters dan Tony Stewart. 
Menurut Pinch, seorang pejabat Dinas Forensik itu, lima wartawan itu dibunuh 
oleh Kopassus, yang melibatkan Yunus Yosfiah.

Cable yang dikirim dari kedubes Amerika di Jakarta mengatakan bahwa pemerintah 
Australia secara diam-diam bekerja sama dengan pihak Indonesia untuk "mengatur" 
reaksi politik terhadap penemuan para patolog itu.

Tinjau
Dalam cable lain, tertanggal 21 November 2007, yang ditemukan Wikileaks, kepala 
bidang politik kedubes Australia di Jakarta, Justin Lee, menyampaikan kepada 
para pejabat Amerika, bahwa ia telah "meninjau kembali laporan patolog itu 
dengan pemerintah Indonesia."

Ia menandaskan kepada pejabat Indonesia bahwa Australia bersedia bekerja sama 
dengan pemerintah Indonesia secara hati-hati mengenai kasus ini. Demikian bunyi 
cable itu. Pihak Indonesia menjawab bahwa mereka juga bersedia "membantu 
menyelesaikan kasus ini," meski mereka membantah tuduhan bahwa pasukan keamanan 
Indonesia melanggar HAM.

Selesai
Jubir Kementrian Luar Negeri Teuku Faizah Syah, mengatakan, kasus Balibo ini 
sudah selesai dan tidak akan diungkit lagi. Shirley Shackleton, istri mendiang 
Greg Shackleton, salah seorang korban terbunuh, mengatakan Australia hendaknya 
tidak terlibat dalam diplomasi pintu belakang dengan Indonesia sehubungan 
dengan kasus pembunuhan itu.

Cable itu membuat kita menyadari bahwa Australia tidak tertarik dengan 
keadilan, mereka tertarik dengan hubungan baik dengan Indonesia. Demikian 
Shackleton seperti dikutip Brisbanetime.com.au.


* REAKSI KERAS TERHADAP VIDEO CAMBUK SUDAN

Ibrahim Jadelkarim 

Kemarahan dan rasa muak terlihat dari sejumlah reaksi menyusul publikasi video 
yang diterbitkan Radio Nederland mengenai hukuman cambuk di Sudan. Di sebuah 
video YouTube terlihat dua anggota polisi mencambuk seorang perempuan muda di 
tempat umum di Khartum. Puluhan pembaca situs Radio Nederland dalam bahasa 
Inggris dan Arab bereaksi keras atau berdiskusi dengan satu sama lain di kolom 
komentar. 

Tak semua pembaca merasa muak. Ada juga yang bisa menerima hukuman fisik, 
karena menurut mereka, hukuman fisik bertujuan menjaga kehormatan dan kesucian 
perempuan. Menurut sejumlah organisasi perempuan, tiap tahunnya di Sudan 
sekitar 40.000 perempuan dihukum cambuk. Biasanya mereka dituduh berperilaku 
asusila. 

Istilah 'asusila' ini cakupannya luas, dari selingkuh sampai memakai celana 
panjang. "Menurut saya, berbagai komentar di sini mencerminkan dunia Arab yang 
terpecah-pecah," tulis seorang pembaca yang frustrasi dengan pemahaman 
orang-orang yang membenarkan kekerasan atas nama syariah atau hukum islam. 

Penolakan Perempuan
Semua sudut dunia Arab bereaksi. Di situs redaksi Inggris Radio Nederland juga 
banyak orang yang terdorong berkomentar mengenai video yang mengejutkan 
tersebut. 

Semua perempuan yang meninggalkan pendapat di situs, mengecam hukuman fisik 
ini. "Apa yang kami lihat membuktikan bahwa perempuan ditindas dan dihina oleh 
hukum syariah. Ini tak bisa diterima," tulis seorang perempuan dari Arab Saudi, 
negara yang menerapkan hukum syariah dengan keras. 

Bashir bla-bla-bla
Di situs redaksi Inggris Radio Nederland, Janet mengungkapkan kejengkelannya 
soal pendapat-pendapat yang bilang kalau hukuman fisik tak ada hubungannya 
dengan islam, melainkan dengan rezim Presiden Sudan al-Bashir. 

Kelompok pembaca lain berpendapat, tak ada yang salah dengan undang-undang 
syariah dan hukuman fisik, selama prosedurnya benar dan polisinya dididik 
dengan baik. Menurut para pembaca ini, perempuan harus dihukum di ruang 
tertutup dan tidak di tempat umum. Perempuan harus sehat secara medis, hukuman 
cambuknya tak boleh terlalu kencang, dan cuma boleh di punggung dan tidak di 
bagian tubuh lain. 

"Jika kita membiarkan semua orang berlaku seenaknya, hidup akan berubah jadi 
rimba. Kita harus memberlakukan aturan ketat dan hukuman berat. Coba lihat 
Sudan, di sana presentasi pengidap HIV jauh lebih rendah ketimbang Afrika 
Selatan," tulis salah satu dari mereka.

Melawan kehendak Tuhan
Ada juga kelompok yang sepenuhnya mendukung hukuman fisik atas nama syariah. 
"Ini hukuman Tuhan, kita harus mematuhi-Nya. Adakah yang berani menentang 
keinginan Tuhan?" tulis seorang pembaca di situs redaksi Arab Radio Nederland. 
Ia mengimbau orang-orang yang tak sependapat dengannya agar berkaca dan merasa 
malu, karena memprotes hukuman ini sama dengan memprotes keinginan Tuhan.

Terakhir, ada komentar Rizig, yang ingin menekankan kalau bukan hanya hal-hal 
sedih yang ada di Sudan, "Ini menyedihkan, namun tolonga jangan hanya lihat 
sisi negatif Sudan, ada juga keindahan dan daerah bagus di mana Anda bisa 
melupakan semua kekejaman dan kesedihan. Coba kunjungi kecantikan alam dan 
satwa liar di Taman Nasional Dindir, Sudan."


* BHINEKA TUNGGAL IKA, DI UJUNG TANDUK

Dalam kunjungannya ke Indonesia bulan lalu, Presiden Amerika Serikat Barack 
Obama memuji Indonesia sebagai negara yang bisa menjadi contoh dalam kehidupan 
bertoleransi. Namun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. 
Toleransi atas keberagaman beragama semakin menipis.

"Intoleransi pada 2010 sudah sampai pada titik 'agresi' yaitu penyerangan dan 
perusakan," kata Zuhairi Misrawi dari Moderate Muslim Society (MMS) menanggapi 
kenaikan kasus-kasus intoleransi sepanjang tahun 2010.

Naik
Menurut laporan yang baru saja dikeluarkan oleh MMS, kasus intoleransi terhadap 
keberagaman di Indonesia pada 2010 naik 30 persen dibandingkan tahun 
sebelumnya. Jenis kasus yang paling sering terjadi adalah penyerangan dan 
perusakan (24 kasus) serta penutupan dan penolakan terhadap tempat ibadah (24 
kasus).

Sementara itu, The Wahid Institute mencatat sepanjang 2010 terjadi 63 kasus 
pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan. Data ini menunjukkan semakin 
lemahnya tingkat toleransi terhadap keberagaman beragama di Indonesia.

Korban
Pemeluk agama minoritas sering menjadi sasaran. Menurut laporan MMS, pada 2010 
ini terutama pemeluk Agama Kristen (34 kasus) dan pengikut Ahmadiyah (26 
kasus)yang paling sering menjadi korban tindakan pengekangan kebebasan beragama.

"Sayangnya, kelompok minoritas yang menjadi korban tidak mendapat perlindungan 
dari pemerintah," ungkap Zuhairi Misrawi. Menurutnya pemerintah, dalam hal ini 
Departemen Agama, sering berlaku tidak adil dengan memihak kepada kelompok 
agama tertentu.

Pelaku
Dari temuan MMS maupun the Wahid Institute terungkap bahwa aparat pemerintah 
menjadi pelaku utama tindakan pelanggaran keberagaman.

Yenny Wahid menyatakan 72 persen kasus pelanggaran kebebasan beragama dilakukan 
oleh aparat pemerintah daerah dan kepolisian. Bentuk-bentuk pelanggaran yang 
dilakukan aparat pemerintah ini misalnya pembiaran pembatasan terhadap 
kebebasan beragama yang dilakukan oleh masyarakat sipil.

Pelarangan pembukaan tempat ibadah adalah contoh tindakan yang tidak semestinya 
dilakukan oleh aparat pemerintah. Namun hal ini banyak terjadi di berbagai 
wilayah Indonesia.

Laporan MMS juga menunjukan lemahnya aparat pemerintah dalam menindak berbagai 
kasus intoleransi. "Sejak 2008 hanya ada dua kasus yang ditindak yaitu kasus 
pada 1 Juni 2008 di Monas dan HKBB kemarin," jelas Zuhairi Misrawi.

Zuhairi menambahkan pembiaran terhadap pelaku tindakan intoleransi ini akan 
menjadi bola liar yang mengancam kebebasan beragama di Indonesia.

Kewajiban
Menurut Yenny Wahid, situasi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pemerintah 
harus terus ditekan untuk melindungi kebebasan beragama di Indonesia.

"Kita harus terus berusaha jangan patah semangat. Toleransi beragama di 
Indonesia terlalu penting untuk ditinggalkan. Keberagaman adalah elemen penting 
bangsa kita, kalau keberagaman dibiarkan menjadi alat pemecah negara kita pasti 
akan hancur berantakan juga," jelas Yenny Wahid.


* NGGAK BISA NONTON KONSER LAGI TAHUN DEPAN

Kabinet PM liberal Mark Rutte sedang bermasalah dengan Senat Belanda de Eerste 
Kamer. Senat Belanda menentang rencana kabinet minoritas ini meningkatkan pajak 
untuk karcis pertunjukan teater dan konser musik pop. PM sudah menyatakan, 
bagaimana pun juga kenaikan PPN akan diberlakukan.

Satu-satunya yang dijanjikan Rutte adalah bahwa ia akan mengamati perkembangan 
sektor budaya dengan NULLteliti. Jika terbukti bahwa kenaikan pajak NULLmembawa 
kerugian yang tidak seimbang kepada sektor ini, kabinet akan mengambil 
kebijakan baru.

Tak Terduga
Sementara itu Martijn van der Kooij, analis politik dan pemimpin redaksi 
majalah pegawai negeri Republic, kenal betul dengan kabinet yang masih muda 
ini. Kabinet ini terdiri dari partai liberal konsevatif VVD dan partai kristen 
demokrat CDA, dengan NULLpengawasanNULL (gedoog) dari partai kanan populis PVV. 
Van der Kooij tidak menduga Rutte akan mengabaikan pendapat Senat. NULLDengan 
cara ini, ia akan punya banyak musuh.

Politik
Mungkin juga Rutte berpikir, koalisinya bersama partai anti-islam PVV akan 
meraih suara mayoritas di Senat pada pemilu regional Maret mendatang. Kalau 
benar, ia tak terlalu butuh partai oposisi lagi. Rutte melihat, posisinya bagus 
pada jajak pendapat akhir-akhir ini. Namun ia akan kesulitan jika tidak menang 
pada pemilu mendatang, kata Van der Kooij:

NULLYa, kalau Rutte tak dapat cukup suara, partai oposisi pada prinsipnya bisa 
menolak semua usul Parlemen (de Tweede Kamer). Artinya, kabinet bisa dibuat tak 
berkutik. Kalau itu sampai terjadi, Rutte harus membuat persetujuan dengan, 
misalnya, partai sosial demokrat PvdA atau partai kiri hijau GroenLinks."

Protes
Tentu saja, sektor seni-budaya bereaksi kecewa ketika jelas bahwa kabinet tetap 
menaikkan PPN. Bulan lalu di berbagai kota di Belanda digelar manifestasi unjuk 
rasa di bawah bendera NULLNederland schreeuwt om cultuur atau Belanda Menuntut 
Budaya. Selain itu banyak penyeleggara pertunjukan teater dan konser sudah 
menjual tiket untuk tahun depan dengan harga normal bertarif pajak rendah.

Hans Ligtermoet dari Persatuan Event Organizers NULL yang memayungi sekitar 
seratus perusahaan NULL tidak mengerti mengapa kabinet tidak berpikir panjang 
mengenai akibat kenaikan pajak PPN pada tiket teater dan konser. Yang paling 
membuatnya kesal adalah pemerintah tidak merundingkan hal ini dengan para 
penyelenggara pertunjukan. Janji Rutte untuk mengamati akibat kenaikan PPN ini 
tidak berarti apa pun bagi Ligtermoet:

NULLJika pemerintah mengambil kebijakan, lalu bilang NULLkita lihat dulu 
setahun, kalau akibatnya buruk, baru kita bicarakan lagi kebijakan 
selanjutnyaNULL. Itu kan nggak benar. Anda tak akan bisa berbuat seperti itu di 
dunia bisnis.

Artis luar negeri
Ligtermoet berpikir, kerugian yang akan dialami perusahaan-perusahaan di 
organisasinya akan berkisar sekitar 40 juta euro. Selain itu, ia khawatir 
artis-artis luar negeri tak akan lagi datang ke Belanda:

NULLSaya tahu, Jerman, misalnya, tidak memiliki tarif PPN. Belgia punya 7% PPN. 
Artis-artis besar luar negeri bisa-bisa tak akan mau lagi manggung di Belanda 
dan lebih memilih Jerman atau Belgia.

Selasa (28/12) Senat akan kembali mendiskusikan kenaikan pajak PPN. 
Partai-partai pemerintah VVD dan CDA yang duduk di Senat (de Eerste Kamer) 
menuntut penundaan. Mereka berpendapat, tidak baik menaikkan pajak di tengah 
musim pertunjukan budaya.

Pertanyaannya adalah, apakah Senat akan menolak kebijakan ini sepenuhnya. Untuk 
itu, semua senator harus menolak semua rencana pajak tahun depan. Dan 
sepertinya, kemungkinannya kecil.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia

Anda bisa berhenti berlangganan dengan mengirim email ke:
[email protected]

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[email protected]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep. 
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke