---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Selasa 13 November 2001 20:30 UTC



** ALIANSI UTARA MASUK KABUL TANPA PERLAWANAN

** HAMPIR SEMUA MAYAT KORBAN KECELAKAAN PESAWAT DI NEW YORK DITEMUKAN

** BELANDA LEBIH TEGAS PERANGI MASALAH XTC

** TOPIK GEMA WARTA: PENGACARA YANG MEMBANTU KASUS THEYS, DITEROR

** TOPIK GEMA WARTA: SETELAH PEMBUNUHAN THEYS ELUAY, BENARKAH
INDONESIA TERANCAM BALKANISASI

** TOPIK GEMA WARTA: JIKA ACEH DAN PAPUA MENGANCAM JAKARTA, PERSATUAN
BISA BERUBAH MENJADI PERSATEAN



* ALIANSI UTARA MASUK KABUL TANPA PERLAWANAN

Pasukan pembangkan Afganistan, Aliansi Utara memasuki ibukota Kabul
tanpa mendapat perlawanan. Taliban telah menarik pasukan dari ibukota
Kabul ke wilayah selatan. Menurut para komandan pembangkang, separoh
pasukan Aliansi Utara dikirim masuk Kabul untuk menjaga ketertiban
dan keamanan. Sementara itu sebagian besar pasukan tetap
dipertahankan di luar ibukota, seperti yang diharapkan Amerika
Serikat. Prancis dan Britania Raya mengimbau pembentukan segera
pemerintahan koalisi luas di Afganistan pengganti penguasa Taliban.
Menurut sejumlah sumber, pasukan pembangkang terus melaju ke arah
kota strategis Jalalabad dan pusat  Taliban, Kandahar di selatan.
Sementara itu Taliban membawa delapan tahanan warga asing sehubungan
penyebaran agama Kristen, dari Kabul ke Kandahar.


* HAMPIR SEMUA MAYAT KORBAN KECELAKAAN PESAWAT DI NEW YORK DITEMUKAN

Hampir semua mayat korban kecelakaan pesawat Senin kemarin di kawasan
Queens New York, berhasil ditemukan. Menurut laporan pihak berwajib
Amerika, kecelakaan ini menelan 268 korban jiwa. Pesawat milik
maskapai American Airlines yang jatuh Senin kemarin mengangkut 260
penumpang. Sementara itu delapan orang di darat menemui ajal mereka.
Sebagian besar penumpang berasal dari Republik Dominika. Sehubungan
musibah ini pemerintah Dominika memberlakukan berkabung nasional
selama tiga hari .
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa tidak ada bukti adanya
serangan teror. Pesawat jenis Airbus A-300 milik maskapai American
Airlines tersebut jatuh beberapa menit setelah tinggal landas dari
bandara JF Kennedy, New York menuju Republik Dominika. Penyebab
kecelakan diduga keras karena kesalahan teknis pada salah satu motor.
Alat perekam pembicaraan di cockpit sudah ditemukan.


* BELANDA LEBIH TEGAS PERANGI MASALAH XTC

Kepolisian Belanda membentuk lima tim khusus yang bertugas memerangi
produksi obat bius jenis pil XTC. Tim ini terdiri dari 90 reserse
yang akan ditempatkan di kota-kota besar seperti Amsterdam,
Rotterdam, Den Haag serta kawasan Limburg/Brabant dan di kawasan
Belanda Timur. Terutama di Limburg dan Brabant diduga terdapat
sejumlah laboratorium ilegal. Lima tim ini diperkirakan mulai
beroperasi tahun depan.
Menteri Kehakiman Belanda, Benk Korthals tiga bulan silam
mengeluarkan dana 100 juta euro untuk opersi pemberantasan pil XTC.
Belanda selama ini dikritik karena dipandang sebagai produsen
terbesar obat bius jenis sintetik ini. Pekan silam Amerika Serikat
dan Belanda menyepakati kerjasama pemberantasan produksi dan
perdagangan pil XTC.


* PERTEMUAN PUNCAK GEORGE W. BUSH DAN VLADIMIR PUTIN

Presiden Amerika Serikat, George W. Bush dan rekan sejawatnya dari
Rusia, Vladimir Putin mengawali pertemuan puncak di Washington,
Selasa ini. Pertemuan yang berlangsung tiga hari ini adalah yang ke
empat antara dua pemimpin negara adi kuasa itu. Agenda pembicaraan
Bush-Putin ini antara lain mengenai rencana Amerika membangun perisai
ruang angkasa, koalisi memberantas terorisme dan kerjasama di bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara itu kedua pemimpin juga
telah menyepakati perjanjian menurunkan jumlah pucuk senjata nuklir.
Sejak awal Putin selalu menentang rencana Amerika membangun sistem
pertahanan baru dengan alasan justru akan memicu persaingan baru
senjata pemusnah. Meskipun demikian Presiden Rusia itu diperkirakan
bersedia mencari jalan tengah atau kompromi kepada Amerika. Berkat
serangan 11 September silam, hubungan Rusia dengan Amerika Serikat
menjadi sangat akrab .


* VITAMIN UNICEF RACUNI BELASAN RIBU ANAK INDIA

Sedikitnya limabelas ribu anak di India mengalami gangguan parah
kesehatan setelah menelan pil vitamin dari organisasi anak-anak PBB,
UNICEF. Lima anak di antaranya telah menemui ajal. UNICEF membagikan
pil-pil vitamin A ke pada tiga juta anak-akan di negara bagian Assam
dalam rangka program memerangi penyakit mata dan buta. Pemerintah
mendirikan klinik-klinik darurat untuk menampung anak-anak yang
sakit. Pemerintah negara bagian Assam menduga bahwa pil-pil vitamin A
yang dibagikan tersebut mengandung unsur penyakit. Dinas kesehatan
langsung mengadakan penyidikan kasus ini. Sementara itu UNICEF
sendiri masih belum memberikan tanggapan tentang musibah ini.


* KOREA UTARA DAN SELATAN SEPAKATI JADUWAL REUNI KELUARGA

Para menteri Korea Selatan dan Utara mencapai kesepakatan tentang
tanggal baru reuni keluarga yang terpisahkan akibat perang Korea.
Reuni tersebut akan berlangsung 10 Desember mendatang di Korea Utara.
Reuni ke empat ini sedianya berlangsung Oktober silam, namun ditunda
sehubungan dengan serangan 11 September di Amerika.


* AMNESTY INTERNASIONAL DUKUNG PENEMPATAN PENGAMAT DI TIMUR TENGAH

Organisasi peduli hak-hak asasi manusia, Amnesty Internasional
menghendaki penempatan pengamat perdamaian di Timur Tengah. Menurut
Amnesty Internasional hal itu sangat diperlukan untuk meredakan
konflik antara Palestina dengan Israel. Tim pengamat internasional
bisa melindungi Israel maupun Palestina, demikian ditekankan
organisasi itu. Selama ini Israel bersikeras menolak pengiriman
pengamat perdamaian di kawasan jajahan. Sementara pihak Palestina
justeru menghendaki penempatan pengamat internasional.


* PERTAHUN, PULUHAN JUTA EKOR SATWA DISELUNDUPKAN DARI HUTAN BRASIL

Jaringan kriminal menyelundupkan setiap tahunnya sekitar 38 juta ekor
binatang dari hutan Brasil. Demikian laporan Lembaga Nasional
Pemberantas Penyelundupan Satwa Brasil. Organisasi ini menduga bahwa
para penyelundup pertahunnya memetik keuntungan sekitar satu milyar
euro dari praktek haram itu. Binatang-binatang ditangkapi secara liar
dari hutan dan dijual ke pasar internasional. Menurut para peneliti,
polisi dan pabean hanya menciduk seperseratus dari semua binatang
yang diselundupkan. Para penyelundup diperkirakan juga memiliki
koneksi dengan jaringan mafia obat bius.


* JERMAN JATUHI HUKUMAN BERAT EMPAT PELAKU PEMBOMAN BERLIN, 15 TAHUN
SILAM

Pengadilan Jerman menjatuhi hukuman berat terhadap empat dari lima
orang yang dinyatakan bertanggungjawab atas pemboman terhadap tentara
Amerika di sebuah disko di Berlin, 15 tahun silam. Aksi kekerasan di
tempat hiburan malam tersebut menewaskan tiga tentara Amerika dan
melukai 200 lainnya. Hakim menyatakan bahwa aksi tersebut didalangi
dinas intelijen Libya.
Empat terpidana seorang perempuan Jerman, dua pria Palestina dan
seorang Libya dikenai hukuman antara 12 hingga 14 tahun. Seorang
tertuduh lain dinyatakan bebas karena kurang bukti. Sebelumnya jaksa
menuntut hukuman seumur hidup terhadap empat orang tertuduh. Beberapa
saat setelah aksi di Berlin tersebut, Presiden AS kala itu Ronald
Reagan memerintahkan pemboman di ibukota Libya, Tripoli dan Benghasi.


* PENGACARA YANG MEMBANTU KASUS THEYS, DITEROR

INTRO: Pengacara PBHI Johnson Panjaitan, sejak pembunuhan terhadap
pemimpin Papua Theys Hilo Eluay, Sabtu lalu, terus diteror di
Jakarta. Pertama, lewat telpon, kemudian ditembaki. Apabila
pemerintahan Presiden Megawati mendukung aksi global Amerika
anti-teror, mengapa teror di tanah air, bisa merajalela, dari Aceh
sampai ke Papua, bahkan juga di ibukota Jakarta? Menurut Johnson
Panjaitan, permainan militer kini membuat senjata makan tuan, bahkan
makan Ibu Megawati. Berikut ini, keterangannya.

Johnson Panjaitan [JP] : Saya kemarin sekitar jam 4:10 sore setelah
menghadiri kasus sidang ketua SIRA Jakarta, saya kembali ke kantor
dan di tempat parkir mobil saya ditembak oleh dua orang dengan
menggunakan senjata api dan mobil itu bolong tembus dua di pintu dan
satu mengenai pelek mobil saya di belakang. Saya sendiri tidak
melihat pelakuknya secara jelas tetapi asisten saya yang bersama
dengan saya di mobil itu, yaitu saudari Ekolin dan ibu Nuryati
melihat pelakunya. Itu dua orang dengan mengendarai GL-Pro berbadan
besar berpakaian jaket kulit dan mengenakan helm. Dan yang membonceng
di belakangnya yang melakukan penembakan terhadap mobil saya.
Saya sebenarnya sudah diikuti sejak dari jalan raya.

Radio Nederland [RN] : Anda sedang bertugas untuk kasus Aceh, kasus
tersangka SIRA ya. Apakah tindakan teror ini berkaitan dengan kasus
itu?

JP : Saya sebenarnya tidak bisa mengatakan begitu karena sebelumnya
itu, pada hari Minggu saya juga mulai diteror melalui telepon jam
tiga sore setelah saya meladeni wawancara ditemukannya mayat pak
Theys di Papua pada pukul 15:00 sore. Jadi saya juga mulai mendapat
teror lewat telepon-telepon.

RN : Jadi sudah ada intimidasi ya. Tapi kan ini bukan kasus Aceh
pertama yang anda tangani dan sebelumnya juga Timor Timur. Apakah ini
berkaitan dengan kegiatan anda?

JP : Ja

RN : Dalam hal apa?

JP : Ini sangat berkaitan dengan kegiatan-kegiatan saya terutama
setelah kami evaluasi ini berkaitan dengan penanganan kasus Papua
yang sedang saya geluti. Memang saya tidak menerima kuasa dari pak
Theys tetapi presidium selalu berhubungan dan meminta untuk membantu
kasus di Papua.

RN : Kalau ini kemungkinan berkaitan dengan kasus Papua, ini
implikasinya adalah bahwa makar atau pembunuhan terhadap Theys Eluay
ini merupakan satu rancangan pada tingkat nasional, begitu?

JP : Saya kira apa yang terjadi di Papua itu justru dalam rangka
menutupi seluruh jaringan yang ada, yang sebenarnya bertanggungjawab
atas pelanggaran hak-hak asasi manusia dan keadaan yang buruk di
Papua. Dan itu tentu sangat berkaitan dengan nasional.

RN : Kalau kita melihat perkembangan belakangan pembunuhan terhadap
Theys kemudian peledakan di Ambon. Seberapa jauh semua ini kaitannya
dan seberapa jauh pengamanan yang dilakukan?

JP : Situasi keamanan terutama terhadap para aktivis dan terhadap
para pejuang hak-hak asasi sebenarnya makin buruk. Jadi pemerintahan
Megawati sama sekali tidak bisa menciptakan suasana yang kondusif
terhadap apara aktivis hak-hak asasi dan demokrasi. Dan tampaknya
pemerintahan Megawati bermain-main dengan militer yang sebenarnya
pada waktu yang lalu paling bertanggungjawab terhadap situasi
keamanan dan keamanan para aktivis ini.

RN : Tapi ini kan berarti senjata makan tuan atau senjata makan ibu,
ibu Megawati?

JP : Mereka tidak perduli makan ibu sendiri, tetapi yang paling tetap
berkuasa.

Demikian pengacara PBHI, Johnson Panjaitan


* SETELAH PEMBUNUHAN THEYS ELUAY, BENARKAH INDONESIA TERANCAM
BALKANISASI

Intro: Pembunuhan Theys Eluay terjadi tidak lama setelah Presiden
Megawati Soekarnoputri memperingatkan ancaman balkanisasi di
Indonesia. Itu bisa saja terjadi, tetapi Balkan bukanlah satu-satunya
bentuk perubahan di Eropa. Akankah Indonesia tetap satu, atau justru
terancam seperti Balkan atau wilayah lain? Koresponden Syahrir
mengirim laporan berikut dari Jakarta:

Meski TNI dan Ketua MPR Amien Rais membantah bahwa Theys Eluay,
dibunuh aparat, namun sulit untuk menghilangkan kesan bahwa tokoh
Papua ini dibunuh TNI, Polri atau aparat Badan Intelijen. Karena
cara-cara pembunuhan Theys tidak banyak berbeda dengan cara-cara
intelijen Orde Baru. Pembunuhan Theys Eluay ini nampaknya diarahkan
pula untuk menjadikan Indonesia, Balkan di Asia. Dengan demikian
Indonesia  hanya bisa dipertahankan dengan jalan kekuatan senjata
sehingga peran TNI dan Polri tetap dominan di kepulauan Nusantara.
Yang menarik pembunuhan ini terjadi tidak lama setelah Presiden
Megawati mengatakan, "Kita akan menjadi Balkan dari belahan Bumi
bagian Timur a" Peringatan Presiden Megawati Soekarnoputri itu
dikemukakannya pada hari Sumpah Pemuda 28 Oktober lalu.

Dalam hubungan ini menarik menyimak tulisan seorang pengamat politik
di Harian Sinar Harapan Senin lalu. Dikemukakan antara lain bahwa
kekhawatiran Megawati ini bisa dimengerti. Terutama kalau kita
melihat bahwa setelah Timor Timur, ternyata masih ada saja daerah
lain yang ingin mengikuti jejak wilayah tersebut. Aceh dan Papua
misalnya ternyata tetap saja bersitegang untuk keluar dari Negara
Kesatuan RI. Padahal "Serambi Mekah" sudah memperoleh otonomi khusus
dengan antara lain pemberlakuan syariat Islam dan kini disebut
Nanggroe Aceh Darussalam. Papua setali tiga uang, padahal nama Irian
sudah ditanggalkan. Mereka juga sudah boleh mengibarkan Bintang
Kejora serta menyanyikan Hai Tanahku Papua.

Ternyata masih ada saja kalangan-kalangan di Aceh, (GAM) dan Papua
(Dewan Presidium Papua) yang ngotot untuk keluar dari NKRI. Di tengah
desakan yang makin hebat terhadap NKRI ini, tidaklah mengherankan
kalau Presiden Megawati sampai berseru bahwa "Kita akan pecah menjadi
bangsa yang kecil-kecil, dengan negara-negara yang juga kecil-kecil,
yang semuanya rentan terhadap tekanan  kekuatan dari luar."
Sebenarnya kekuatiran ini menarik juga, terutama karena jelas
presiden langsung mengaitkan ancaman berakhirnya NKRI seperti apa
yang terjadi di Balkan, bekas wilayah Yugoslavia. Melalui perang
saudara,  yang berdarah-darah Yugoslavia pecah menjadi Kroasia,
Bosnia Herzegowina, Slovenia, Makedonia dan yang terakhir Kosovo.
Yugoslavia sendiri kini cuma tinggal Serbia dan Montenegro.

Tetapi mendasarkah kekuatiran presiden itu? Benarkah perubahan di
Eropa hanya berpola Yugoslavia?

Perubahan di Eropa pasca perang dingin, yaitu setelah runtuhnya
tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet, sebenarnya bisa dilihat dalam
dua pola. Pola pertama terjadi di negara-negara bekas blok komunis.
Yang terbagi pula dalam dua pola. Yang pertama adalah Yugoslavia.
Kedua adalah Soviet dan Czekoslowakia. Keduanya bubar tanpa
pembersihan etnis dan pertumpahan darah seperti di Balkan.
Czekoslowakia pecah menjadi Czeko dan Slowakia. Dari wilayah Uni
Soviet  lahirlah 15 negara baru.

Pola perubahan kedua terlihat di Eropa Barat. Contohnya adalah
Britania Raya dan Belgia. Di Britania Raya terjadi apa yang disebut
devolution. Dalam proses ini, kecuali England, wilayah-wilayah lain
yang membentuk United Kingdom yaitu Skotlandia , Wales  dan Irlandia
Utara  memperoleh parlemen mereka masing-masing. Ini berarti tiga
wilayah itu tidak lagi diperintah langsung dari London. London
tinggal mengurusi hubungan luar negeri, pertahanan, pembasmian obat
bius, dan pajak. Skotlandia bahkan memiliki sistem pengadilan dan
mata uangnya sendiri, scottish pound. Menariknya, selain memperoleh
parlemen masing-masing, baik Skotlandia, Wales mau pun Irlandia Utara
kini tidak saja menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi
pemerintahan. Parlemen wilayah-wilayah itu kini juga menggunakan
bahasa mereka sendiri-sendiri.

Di Belgia terjadi federalisering. Belgia yang kecil itu kini masih
dibagi-bagi lagi menjadi empat wilayah yang berpemerintahan
sendiri-sendiri.Wilayah Vlaanderen (berbahasa Belanda), wilayah
Wallone (berbahasa Prancis), wilayah metropolitan Brussel (resminya
berbahasa Belanda tetapi bahasa Prancis lebih merupakan mayoritas)
dan wilayah Eupen-Malmedy yang berbahasa Jerman.

Kalau Czekoslowakia, Yugoslavia dan Uni Soviet pecah menjadi
negara-negara yang lebih kecil, maka 15 negara Eropa Barat yang tidak
seketat Eropa Timur semasa perang dingin justru menyatu dalam Uni
Eropa. 12 di antara 15 negara itu bahkan terus mempererat persatuan
mereka dengan bersama-sama memberlakukan mata uang tunggal euro mulai
1 Januari 2002.

Maka tidaklah tepat untuk, seperti Presiden Megawati, hanya menyebut
satu pola, yaitu pola Balkan dalam berbicara tentang perubahan di
Eropa. Pelbagai variasi tadi membuktikan bahwa di Eropa masih ada
pula pola-pola perubahan yang lain. Ini tampaknya tidak diketahui
Mega. Maka kolumnis ini tidak menutup kemungkinan terjadinya
perubahan yang berpola lain di Indonesia. Perubahan yang tidak
mengikuti pola Balkan itu, tetapi perubahan yang justru berpola
kedamaian. Misalnya saja seperti yang berlangsung di Czekoslowakia.

Di sini ada kesan bahwa dengan hanya melihat pola perubahan di Balkan
dan berkali-kali memperingatkan kemungkinan berulangnya kengerian
Balkan di Indonesia, orang berharap akan bisa mempertahankan kesatuan
Indonesia. Pertanyaannya adalah, sampai di mana kita bisa
mempertahankan kesatuan Indonesia hanya dengan menutup mata, dengan
menyembunyikan atau mungkin dengan tidak mau tahu pola-pola perubahan
lain, seperti yang juga terjadi di Eropa tadi.

Tidak masuk akal sehat untuk mempertahankan Indonesia hanya karena
kita mengkhawatirkan balkanisasi di bumi Nusantara. Masih ada pola
lain yang bisa diikuti. Negara-negara di Nusantara seperti Timor
Leste, Nanggroe Aceh Darusalam, Negara Papua, Negara Sulawesi, Negara
Maluku dan Republik Indonesia mungkin saja bisa bersatu di Asean
seperti Eropa Barat saat ini. "Beranikah kita berkata bahwa Indonesia
dengan NKRI-nya adalah bentuk akhir yang tidak akan berubah-ubah
lagi, sementara perubahan justru terjadi di bagian dunia lain?" Tanya
Joss Wibisono seorang pengamat politik di Amsterdam.


* JIKA ACEH DAN PAPUA MENGANCAM JAKARTA, PERSATUAN BISA BERUBAH
MENJADI PERSATEAN

Pembunuhan pemimpin gerakan pro-kemerdekaan Papua Theys Hilo Eluay,
segera memancing kalangan pegiat hak asasi manusia untuk mencurigai
tentara Indonesia, khususnya satuan pasukan elit Kopassus. Apabila
tuduhan itu benar, hal itu mencerminkan bahwa Indonesia semakin
bergerak dari reformasi-setengah-hati, menuju restorasi Orde Baru.
Pemerintah Jakarta juga kurang serius menangani teror karena
kelemahan-kelemahannya,  dan karena konflik antar elit politik.
Sebuah ulasan redaksi di Hilversum:

Teror, bagi Indonesia, menjadi pedang bermata dua. Di dunia
internasional pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri memenuhi
desakan Amerika Serikat agar mendukung aksi pemberantasan teror
global, meski pun Jakarta dapat berkelit dan mengelak dukungan bagi
perang di Afganistan. Tetapi pada saat yang sama, Indonesia semakin
menghadapi aksi-aksi teror di dalam negeri.

Aceh, pada saat ini menduduki peringkat teratas dalam banyaknya kasus
pembunuhan terhadap korban-korban sipil. Benturan yang bersifat
pertempuran antara TNI dan Brimob lawan Gerakan Atjeh Merdeka GAM
makin jarang, sebaliknya, setiap hari jatuh lima sampai delapan
korban tewas, seringkali korban-korban sipil. Di Aceh putaran
kekerasan terhadap aktivis dan penduduk ini bermula sekitar
pertengahan tahun lalu sejak tewasnya anggota DPR asal Aceh
Nazaruddin, disusul pegiat HAM Aceh dari New York, Jaffar, lalu
jurubicara GAM Ismail Syahputra di Medan. Sejak itu dua rektor dan
cendekia terkemuka Aceh dibunuh dan sejumlah aktivis HAM dan wartawan
dibunuh dan diintimidasi.

Belakangan pola ini berubah dengan meningkatnya korban terutama di
kabupaten-kabupaten Aceh Timur, Tengah dan Selatan. Khusus yang
terakhir ini banyak dikaitkan dengan sinyalemen munculnya
milisi-milisi yang bekerja untuk TNI, berkaitan dengan timbulnya
gagasan memilah-milah Aceh bagian selatan menjadi kawasan Galaksi,
atau Gayo, Alas, Singkil dan Aceh Selatan. Yang menarik, kawasan ini
justru merupakan kawasan yang subur dan sarat dengan penduduk
pendatang, terutama asal Jawa atau Pujakesuma yang telah hidup
bergenerasi di Aceh. Lagi pula kawasan itu justru bertahun tahun,
sejak masa DOM, Daerah Operasi Militer, sampai tahun 1998, selalu
tenang, di mana gerilya GAM tidak berakar sekuat di kawasan yang
sejak akhir 1980an bergolak, yaitu Pidie, Aceh Utara dan Aceh Besar.

Maka tidak mengherankan, kalangan pemerhati Aceh mencurigai ada
rekayasa membangun kubu Aceh-pro-RI yang meliputi Aceh Tenggara dan
sabuk perbatasan propinsi Aceh dan Sumatra Utara. Dengan kata lain,
seolah ada agenda tersembunyi di balik Inpres nomor 4 sejak April
lalu, yang baru-baru ini diperpanjang dengan enam bulan.

Tim peneliti ICG International Crisis Group, dalam laporannya tentang
Aceh, belum lama lalu menyimpulkan ketidakmampuan yang khronis di
dalam pimpinan tentara untuk mengendalikan anak buahnya, terutama
satuan satuan non-organik dari luar Aceh. Ketidakdisiplinan tentara
ini mencuat dengan kasus mogoknya Exxon di Pidie selama beberapa
bulan yang sangat merugikan negara, tapi juga berkembang dikawasan
subur seperti di Aceh tenggara itu. Singkatnya, dalam ungkapan rakyat
sehari-hari, "tentara Jakarta datang membawa M-16, dan pulang dengan
16 M."

Proses inilah yang sekarang layak dikhawatirkan akan berjangkit di
Papua menyusul pembunuhan Theys Eluay. Papua, dengan pelbagai sumber
daya yang relatif lebih lemah dan potensi horisontal yang lebih peka
ketimbang Aceh, dapat menjadi ajang skenario yang berbahaya bagi
Papua mau pun bagi kesatuan Indonesia. Pemerhati Papua, aktivis
ELSHAM,  John Rumbiak, misalnya, tahun lalu sudah meramalkan, bahwa
di samping pertentangan vertikal antara Jakarta dan Papua, ada dua
jenis pertentangan horisontal yang rawan, yaitu antara pesisir dan
suku-suku di pedalaman, dan antara penduduk asli dan golongan Amber,
yaitu penduduk pendatang non-Papua.

Yang terakhir ini kebanyakan elit asal Indonesia Timur, bergerak di
sektor perkebunan dan birokrasi yang vested interest dan berkuasa di
Papua sejak tahun 1969. Isu keterlibatan unsur Amber dalam pembunuhan
Theys Eluay, memberi indikasi yang mengkhawatirkan. Jakarta harus
menyadari ada kalangan tentara yang bermain api di Aceh dan sekarang
juga di Papua.

Kalau Papua menjadi ajang rekayasa konflik dan perebutan sumber daya
semacam di Aceh, maka semua itu hanya akan merupakan resep bagi
persatean, sekali pun Jakarta selalu beretorika menjaga persatuan.
Betapa rakyat Papua tidak pesimis, jika Theys Eluay yang moderat dan
pro-dialog dibunuh, maka bagaimana jika gerakan pro-kemerdekaan DPD,
Dewan Presidium Papua terpancing meninggalkan strategi dialog? Bagi
Papua ini merupakan prospek yang lebih mengerikan ketimbang Aceh.

Kalau mau menjaga kesatuan Indonesia, maka Presiden Megawati, cepat
atau lambat, harus berhadapan dengan kalangan tentara. Penasehat
dekatnya, Kepala intel BIN Hendropriyono sudah mengisyaratkan ada
pihak-pihak yang ingin menjatuhkan Megawati. Bukan rahasia lagi bahwa
isyarat ini menunjuk pada kalangan sekitar Jenderal Wiranto yang
belakangan memang membangun milisi baru di Jakarta.

Paling tidak, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono harus berhenti
membual janji. Setelah gagal memenuhi janji menyelidiki kasus
pembantaian Julok di Aceh Timur, Agustus lalu, sekarang dia harus
serius membongkar kasus pembunuhan Theys Eluay.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke