---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Kamis 18 April 2002 14:50 UTC



** MANTAN RAJA AFGHANISTAN KEMBALI DARI PENGASINGAN

** EMPAT TENTARA KANADA TEWAS DI AFGHANISTAN

** ISRAEL TARIK MUNDUR PASUKANNYA

** TOPIK GEMA WARTA: APAKAH PENGAKUAN WIDODO BUKTI BAHWA TNI INGIN
BERUBAH

** TOPIK GEMA WARTA: PEMBERLAKUAN SYARIAH AGAMA APAPUN MERUPAKAN
PELANGGARAN HAM



* MANTAN RAJA AFGANISTAN KEMBALI DARI PENGASINGAN

Mantan Raja Afghanistan, Mohammed Zahir Shah, kembali ke Afghanistan
setelah hampir 30 tahun hidup dalam pengasingan. Mantan raja berusia
87 tahun itu tiba di Bandar Udara Kabul didampingi oleh Pemimpin
adinterim Afghanistan Hamid Karzai, yang mendampingi dari Roma.
Kembalinya mantan raja tersebut tertunda beberapa kali karena masalah
keamanan. Bulan Juni mendatang, sang raja akan mengetuai Loya jirga
yaitu pertemuan antar kepala suku Afghanistan untuk mengambil
keputusan apakah pemerintah transisi Karzai dipertahankan hingga
pemilihan umum. Zahir Shah merupakan Raja Afghanistan selama 40 tahun
sebelum disingkirkan ditahun 1973. Dia kembali sebagai warga biasa
dan tidak berencana kembali sebagai raja.


* EMPAT TENTARA KANADA TEWAS DI AFGHANISTAN

Empat tentara Kanada tewas saat mengikuti latihan perang bersama
Amerika Serikat-Kanada di Afghanistan. Mereka tewas ketika jet tempur
F-16 AS menjatuhkan beberapa bom. Delapan tentara Kanada lainnya
terluka, empat diantaranya luka serius. Kejadian itu terjadi di
selatan Kandahar. Mereka adalah pasukan kanada pertama yang tewas
dalam operasi internasional di Afghanistan.


* ISRAEL TARIK MUNDUR PASUKANNYA

Menteri Pertahanan Israel Benyamin Ben-Eliezer mengatakan hari Minggu
sebagai batas waktu terakhir penarikan pasukan dari Nablus, Jenin dan
sebagian wilayah di Ramallah. Berbicara melalui Radio Israel, ia
menegaskan sejumlah pasukan masih dipertahankan di sekitar markas
besar Yasser Arafat di Ramallah, dan gereja kelahiran Kristus di
Bethlehem. Situasi ini, katanya, terus berlanjut hingga para teroris
Palestina menyerah. Janji penarikan mundur dari Tepi Barat Sungai
Yordan diberikan setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Colin
Powell mengakhiri kunjungan di Timur tengah. Powell secara tegas
meminta Israel mundur dari wilayah Palestina. Departemen Luar Negeri
Amerika Serikat mengatakan, Powell akan mengunjungi Israel kembali
dalam dua atau tiga pekan mendatang.


* PERSETUJUAN DAMAI UNTUK REPUBLIK DEMOKRATIS KONGO

Pemerintah Republik Demokratis Kongo dan gerakan gerilyawan MLC yang
didukung Uganda, menyepakati persetujuan perdamaian. Persetujuan
ditandatangani di Sun City, Afrika Selatan. Pihak-pihak bertikai yang
terlibat dalam perang saudara Kongo sudah berminggu-minggu lamanya
mengadakan perundingan perdamaian. Persetujuan perdamaian menyatakan
pemimpin gerilyawan MLC, Jean-Pierrre Bemba diangkat Perdana Menteri
dalam pemerintah kesatuan nasional, sedangkan Laurent Kabila tetap
menjabat Presiden Kongo. Persetujuan perdamaian tidak disepakati
kelompok gerilyawan RCD, yang didukung Rwanda. RCD menolak
persetujuan yang tidak diikutsertai semua pihak. Perundingan
perdamaian di Sun City dijadwalkan berakhir hari ini.


* VIDEO REKAMAN PERNYATAAN AL-QAEDA

Jaringan teroris Al-Qaeda Usama Bin Laden menyatakan bertanggung
jawab atas serangan teroris 11 September tahun lalu di Amerika
Serikat. Pernyataan itu diberikan melalui sebuah rekaman video yang
disiarkan Rabu kemarin. Dalam video tersebut, Jurubicara Al-Qaeda
mengatakan tuhan memanggil mereka untuk aksi teror terhadap orang
kafir, dan organisasinya telah sukses menyerang mereka di tanah
mereka sendiri. Sebelumnya kelompok teroris Al-Qaeda tidak pernah
secara langsung mengakui keterlibatan dalam serangan di New York dan
Washington. Video yang diduga direkam pada bulan Desember itu pertama
kali ditayangkan oleh Stasiun Televisi Arab, MBC. Dalam rekaman,
Usama Bin Laden terlihat menyambut baik dampak negatif serangan
terhadap ekonomi Amerika.


* INTIMIDASI SEKSUAL DI TEMPAT KERJA DAPAT DIHUKUM

Sebuah peraturan tentang intimidasi seksual di tempat kerja sedang
dipersipakan di wilayah Uni Eropa. Peraturan tersebut baru berlaku
dua tahun mendatang. Karyawan dapat menuntut ganti rugi uang dari
atasan, apabila atasan tidak mencegah intimidasi seksual. Komisaris
Perburuhan Uni Eropa, Anna Diamantopoulou, menyatakan undang-undang
baru tersebut adalah langkah bagus. Sejauh ini hanya sejumlah kecil
negara anggota Uni Eropa mengambil tindakan terhadap intimidasi
seksual. Penelitian yang dilakukan Uni Eropa menyatakan sekitar
separuh dari karyawan perempuan dan sepersepuluh laki-laki pernah
mengalami intimidasi seksual. Yang menarik adalah Eropa Utara lebih
sering menghadapi kasus intimidasi seksual.


* KAMP PENGUNGSI PALESTINA HANCUR TOTAL

Perwakilan khusus PBB, Terje Roed-Larsen mengatakan penghancuran kamp
pengungsi Palestina dekat Jenin sebagai tragedi yang sangat
mengerikan. Dia mengatakan kamp pengungsi itu hancur total dan
terlihat seperti baru dilanda gempa bumi dahsyat. Larsen menambahkan,
sama sekali tidak bisa diterima secara moral perlakuan penguasa
Israel yang mengisolasi kamp itu dari dunia luar dan juga pekerja
palang merah selama 11 hari. Larsen adalah orang luar pertama yang
diijinkan masuk ke Jenin. Sebagai prioritas dilakukan pengobatan dan
perawatan setelah itu baru dilakukan penyelidikan mengenai apa yang
terjadi di kamp tersebut. Israel menyatakan lebih dari 12 orang
palestina tewas. Sementara sumber di Palestina menyebutkan ratusan
tewas akibat pertempuran dari rumah ke rumah di kamp pengungsi
Palestina.


* APAKAH PENGAKUAN WIDODO BUKTI BAHWA TNI INGIN BERUBAH?

Panglima TNI Jenderal Widodo mengakui bahwa anggota tentara yang
terlibat dalam pembunuhan Ketua Dewan Presidium Papua Theys Hiyo
Eluay. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak hanya TNI mengakui modus
operandi mereka di Papua salah, tetapi juga ada keinginan pimpinan
TNI untuk mengubah citra mereka baik di dalam negari maupun
internasional. Ikuti keterangan Ikra Nusa Bakti, pakar TNI dari LIPI:

Ikra Nusa Bakti [INB]: Sekarang kan Panglima TNI sendiri sudah
mengakui dalam pernyataan yang diberikan pada ulang tahun Kopassus
dua hari yang lalu ya bahwa ada oknum-oknum TNI AD yang terlibat
dalam pembunuhan itu. Memang ada beberapa asumsi kenapa pembunuhan
itu dilakukan. Antara lain kan apabila Theys dibunuh terjadi suatu
kerusuhan sosial di Papua dan kemudian bisa menjadi suatu alasan bagi
kalangan militer untuk menambah pasukan di sana. Begitu kan. Tapi
kenyataannya kan kita tahu bahwa setelah Theys dibunuh ternyata
wilayah Papua tetap aman-aman saja.

Radio Nederland [RN]: Nah sekarang ini mereka mengakui secara tidak
langsung modus operandi itu salah dan bahwa sebenarnya mereka kalah
gitu di Papua?

INB: Kalau menurut saya penyelesaian masalah Papua itu tidak bisa
dilakukan dengan cara-cara kekerasan, dulu dikenal dengan pendekatan
keamanan, khususnya pendekatan militeristik, begitu yah. Kenapa
begitu? Nah ternyata walaupun OPM pada masa lalu digempur
habis-habisan dan juga kemudian tindakan kekerasan terhadap warga
sipil di Papua juga terus berlangsung. Tetapi ternyata toh gerakan
untuk pemisahan diri itu tetap ada! Dan karena itu tampaknya kini
menjadi pelajaran yang sangat berarti bagi pemerintahan Megawati
untuk baiknya menggunakan cara-cara yang lebih produktif antara lain
dengan cara-cara dialogis, dengan cara-cara yang sekarang dilakukan,
seperti yaitu bagaimana menerapkan otonomi khusus di Papua. Bukan
saja dari sisi politik, tapi juga dari sisi ekonomi. Dan juga otonomi
sosial budaya gitu.

RN: Sekarang kan sudah menjadi rahasia umum ya Pak ya, bahwa
pemerintahan Megawati dekat sekali dengan tentara? Nah walaupun modus
operandi ini gagal dan masalah Papua itu tidak bisa diselesaikan
dengan cara militerisasi, mengapa tetap ada tentara di sana? Dan
malah semakin ditambah?

INB: Saya tidak tahu persis mengapa begitu ya. Karena mungkin mereka
dulu menduga situasi Papua itu akan menghangat setelah terjadinya
Theys. Karena ternyata bahwa modus operandi itu sudah berhasil,
menurut saya tidak ada alasan lain bagi TNI kecuali mengurangi
pasukan yang ada di sana, kecuali di pos-pos tertentu yang dianggap
masih membutuhkan kehadiran tentara, khususnya TNI AD gitu.

RN: Lalu apakah sekarang mungkin ada kepentingan lain di balik
kepentingan untuk menekan perjuangan rakyat Papua?

INB: Kalau buat saya, saya tidak tahu persis ada kepentingan lain
atau tidak. Tapi dari sisi kepentingan nasional saya pikir sudah
saatnya bagi kalangan TNI khususnya TNI AD untuk meninjau kembali
postur keamanan mereka, khususnya dari sisi Papua gitu. Karena kita
tahu dari sisi undang-undang otonomi khusus Papua, itu kan ada satu
pasal bahwa penggelaran tentara nasional Indonesia di Papua harus
mendapatkan persetujuan dari DPRD Papua dan juga dari kelompok
masyarakat adat yang ada di sana. Dan ini tampaknya kalau itu benar
benar dilaksanakan, saya pikir TNI juga harus menerima kalau itu
telah menjadi undang-undang otonomi khusus yang sudah diterapkan di
Papua sejak 1 Januari 2002 itu.

RN: Apakah ini bukan menyebabkan bentrokan antara Megawati dengan
tentara begitu Pak?

INB: Kalau menurut saya benturan-benturan kepentingan itu pasti ada.
Bukan saja antara Presiden dengan kalangan TNI. Tapi juga mungkin
antara departemen. Termasuk juga mungkin antar departemen dalam
negeri, atau dalam departemen pertahanan sendiri dengan Mabes TNI di
Cilangkap gitu kan. Tapi dalam kasus yang sangat rumit ini, tampaknya
para petinggi militer dan sipil Indonesia itu, harus menyadari mana
yang lebih penting. Ataukah kepentingan sesaat dari kalangan militer,
ataukah kepentingan yang lebih luas. Karena jangan lupa bahwa
perbaikan citra TNI, baik dari sisi dalam negeri, maupun sisi
internasional itu akan sangat ditentukan oleh implementasi kebijakan
TNI itu sendiri. Termasuk dalam hal ini adalah penyelesaian
kasus-kasus HAM yang terjadi di Papua dan juga di wilayah Indonesia
lainnya.

RN: Sampai di mana kesediaan TNI untuk memperbaiki citra mereka?

INB: Kalau dilihat dari pernyataan Panglima TNI, dan ini sudah
menjadi suatu pernyataan publik, ini ada suatu tanggung jawab moril
dari Panglima TNI Laksamana Widodo untuk mengimplementasikan
kebijakan TNI itu sendiri, yaitu mengadili seadil-adilnya tentara
yang terlibat atau anggota TNI AD yang terlibat dalam kasus
pembunuhan itu.

RN: tetapi kan pak didalam tubuh TNI ada kultur yang melindungi satu
sama lain. Jadi apakah kita di sini tidak meragukan, oke bahwa mereka
diadili tapi bersamaan dengan itu mereka juga akan mencoba
menutup-nutupinya, begitu pak.

INB: Jadi memang ada persoalan yang sangat pelik di sini yaitu adalah
jiwa esprit de corp yang kemudian menimbulkan suatu dualisme di dalam
implementasi jiwa korps-nya, dan diantara dua kepentingan itu,
harusnya panglima TNI, para petinggi militer memutuskan
mempertimbangkan kira kira mana diantara dua pandangan itu yang
menunjang citra diri TNI pada jangka pendek dan jangka panjang ke
depan

Demikian Ikra Nusa Bakti, pakar TNI dari LIPI.


* PEMBERLAKUAN SYARIAH AGAMA APAPUN MERUPAKAN PELANGGARAN HAM

Imbas konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah menerpa situasi
politik di Indonesia. Tuntutan untuk diberlakukannya syariah Islam
kembali melambung seiring dengan memanasnya suhu politik di Timur
Tengah. Namun kini ternyata memberlakukan syariah bukan hanya agenda
gerakan Islam, namun juga menjadi keinginan elite politik non Islam.
Lebih lanjut laporan koresponden Syahrir dari Jakarta.

Aksi-aksi yang memperjuangkan diberlakukannya syariah Islam mendadak
merebak kembali seiring dengan memanasnya konflik di kawasan Timur
Tengah. Menyikapi aksi tersebut Dr Muslim Abdurrahman, seorang pakar
Islam mengungkapkan keheranannya atas substansi tuntutan yang marak
dua tahun terakhir ini. Mantan aktivis PAN dan juga pimpinan Lembaga
Pengkajian Ilmu-Ilmu Sosial Transformatif (LPIST) itu merasa aneh
atas perilaku sekelompok orang yang menuntut diberlakukannya syariah
Islam namun tidak dibarengi oleh tuntutan berdirinya negara Islam.
Untuk Indonesia mereka bisa menerima suatu negara yang berdasarkan
Pancasila dan UUD 45. Karena itu Muslim menduga bahwa banyak pemimpin
gerakan Islam tidak memahami syariah Islam dan Hukum Qisos.

Agaknya tuntutan diterapkannya syariah Islam memberikan inspirasi
utamanya terhadap para pemimpin dan politisi Kristen-Protestan dan
Katolik. Mereka menuntut hal yang sama, yakni penerapan semacam
syariah Kristen-Protestan dan Katolik. Wacana syariah tersebut kini
mulai ramai dibicarakan di wilayah-wilayah yang penduduknya mayoritas
Kristen-Protestan dan Katolik seperti di Papua, Flores, Minahasa,
Toraja dan Sangir Talaud. Permasalahan bangsa kini semakin
carut-marut.

Sehubungan dengan tuntutan pemberlakuan syariah Islam, seorang tokoh
Islam Liberal mengungkapkan pendapatnya bahwa hingga kini perjuangan
secara politik ke arah diberlakukannya syariah Islam nampaknya tidak
akan berhasil. "Mereka  tidak akan menang karena aspirasi di Islam
garis utama sendiri bukan perjuangan menegakkan syariah Islam dalam
pengertian itu. Di dua gerakan Islam yang besar, Muhammadiyah dan NU
misalnya, yang diutamakan adalah bagaimana Islam bisa memberikan
spirit dan etos kepada masyarakat Indonesia. Jadi etos dan etik
itulah yang harus diperjuangkan, bukan melalui negara yang memaksakan
orang melaksanakan syariah Islam, atau syariah agama yang lain. Maka
apa yang terjadi sekarang ini di Indonesia dapat dikatakan suatu
bagian yang luar biasa di dalam perkembangan politik. Hal ini terjadi
justru di era reformasi yang katanya lebih terbuka dan lebih
mengakomodir pembaharuan.

Sehubungan dengan tuntutan para politisi supaya diberlakukan semacam
syariah Islam bagi masing-masing agama, seorang mantan imam Katolik
dari Swiss, Dr Frans Dahler, yang mengunjungi Indonesia selama dua
minggu tercengang mendengar hal itu. Tuntutan itu adalah pelanggaran
HAM, ujarnya. "Bagaimana mungkin dengan sukarela kita mengundang
keterlibatan pihak luar atas persoalan keyakinan iman seseorang?" Dan
ia heran bahwa pemimpin-pemimpin politik Kristen di MPR dan DPR bisa
terjebak dalam pemikiran-pemikiran seperti itu. Bahwa orang-orang
Kristen pun bersedia berkompromi, "ini sesuatu yang stupid". Seorang
Pendeta Anglican di Indonesia, Jansen Langkay mengatakan.

Jansen Langkay:
Pendapat saya musti dimulai dengan pertanyaan, negara Indonesia
negara apa? Dan kita semua tahu bahwa negara Indonesia bukan negara
agama. Memang juga bukan negara sekuler, tapi negara Pancasila. Itu
berarti bahwa negara Indonesia tidak menerima prinsip-prinsip
kenegaraan disatukan dengan prinsip-prinsip syariah keagamaan. Itu
musti dipisahkan. Jawaban yang kedua apa cita-cita leluhur dari para
pemimpin bangsa untuk mendirikan bangsa ini? Mengapa pada saat itu
mereka mengeluarkan tujuh perkataan dengan menjalankan syariah Islam
bagi pemeluknya dalam pembukaan UUD 45. Itu berarti mereka setuju.
Mereka setuju bahwa negara dipisahkan dengan agama. Nah kalau begitu,
mereka tidak setuju menjalankan syariah agama masing-masing.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Muslim Abdurrahman. Ia
menyesalkan sikap para politisi Kristen yang seharusnya lebih jernih
tentang polarisasi politik yang terjadi. Namun ternyata mereka justru
terjebak dalam isu politik seperti ini. Reformasi ternyata tidak
dapat memberi jaminan terjadinya transformasi dari nilai lama pada
sebuah nilai baru. Situasi politik di Indonesia adalah sebuah contoh
dari reformasi yang terhenti atau mundur.

Muslim Abdurrahman:
Menurut saya jadi masalahnya, lebih apa ya, lebih tidak karuan
begitu. Karena mestinya kan kalau toh masih ada aspirasi
memperjuangkan syariah Islam itu di Islam sendiri, itu bukan
mainstream. Dan itu kalau diperjuangkan secara politik juga tidak
akan menang. Itu jelas tidak akan menang.

Oleh karena itu aspirasi Islam yang menjadi arus utama di luar partai
Islam dan mereka yang sekarang sedang di Panitia Ad Hoc I MPR itu
tidak boleh menampung pikiran-pikiran negatif itu karena tidak
merupakan aspirasi mayoritas. Oleh karena itu jangan ini kemudian
dianggap mencerminkan aspirasi Islam mainstream, karena partai Islam
tidak identik dengan mainstream Islam. Dan demikian halnya para
politikus kristen-katolik di gedung parlemen tidak identik dengan
mainstream Kristen-Protestan dan Katolik.

Karena itu tidaklah mengherankan jika Ketua Umum Muhamadyah Syafii
Maarif sebagai salah satu pemimpin mainstream Islam, belum lama ini
di Bali sempat bertanya: "Apakah kita akan mengikuti jejak Taliban?"

Bagaimana dengan kalangan sekuler di Indonesia. Menyikapi kekisruhan
di seputar keinginan tiap-tiap agama untuk diterapkannya syariah
agama masing-masing, Hari Sutanto, seorang aktivis LSM, mengatakan di
negara demokratis agama itu urusan pribadi antara individu tersebut
dengan penciptanya. Negara pun harus menjamin esistensi orang-orang
yang tak beragama.

Hari Sutanto: Dalam negara demokratis itu sebenarnya juga tidak perlu
adanya pembatasan pembatasan yang berdasarkan agama. Karena agama
bagi saya pribadi itu adalah urusan personal. Jadi urusan antara
seorang manusia dan penciptanya. Sehingga orang lain tidak bisa
memaksakan kepada orang lain untuk mengikuti syariah yang dianut.
Kalau dalam negara demokratis seperti misalnya mungkin di Eropa Barat
maupun di sebagian negara yang tataran demokrasinya sudah maju. Bahwa
setiap orang itu berhak memilih dia beragama ataupun tidak.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke