---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Senin 06 Mei 2002 14:40 UTC



** INDONESIA SAMBUT BAIK PEMBEBASAN AUNG SAN SUU KYI

** JACQUES CHIRAC KEMBALI MENJABAT PRESIDEN

** AS INGIN GULINGKAN REJIM SADDAM HUSSEIN

** TOPIK GEMA WARTA: PEMBEBASAN AUNG SANG SUU KYI  PICU DILEMMA UNTUK
ASEAN

** TOPIK GEMA WARTA: WARGA POSO KHAWATIR LASKAR JIHAD AKAN MERAJALELA
KALAU MILITER DITARIK



* INDONESIA SAMBUT BAIK PEMBEBASAN AUNG SAN SUU KYI

Menteri Luar Negeri, Hassan Wirayuda menyambut baik pembebasan
pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi. Pemerintah Indonesia
berharap pembebasan ini dapat memperlancar proses rekonsiliasi di
Myanmar. Seperti halnya Indonesia, Mynamar merupakan anggota Asosiasi
Negara-negara Asia Tenggara, ASEAN.
Aung San Suu Kyi dibebaskan dari tahanan rumah Ahad malam silam. Suu
Kyi langsung bertolak ke markas besar partainya Partai Liga Nasional.
Di sana ia disambut ratusan pendukungan. Suu Kyi menyatakan bahwa ia
tidak dilarang melanjutkan aktivitas politik. Suu Kyi, 56 tahun
menekankan bahwa partai NDPnya tetap menentang investasi asing dan
bantuan internasional untuk Myanmar selama rejim militer Myanmar
tetap berkuasa. Suu Kyi adalah pemimpin Partai Demokratis Nasional,
NLD. Partainya memenangkan pemilu tahun 1990, namun rezim militer
menolak hasil itu. Suu Kyi sempat dikenai tahanan rumah selama satu
setengah tahun. Dunia barat sudah bertahun-tahun menekan rejim
Myanmar lewat sanksi ekonomi, antara lain karena pelanggaran berat
hak asasi manusia di negara tersebut.


* JACQUES CHIRAC KEMBALI MENJABAT PRESIDEN

Jacques Chirac mengalahkan Jean-Marie Le Pen dengan angka telak dalam
putaran kedua pemilihan presiden Prancis. Jacques Chiraq meraih 82%
suara sementara saingannya tokoh ekstrem kanan, Jean-Mari Le Pen
hanya 18% saja. Jumlah elektorat yang menggunakan hak pilihnya
mencapai 81%, jauh lebih banyak dari pemilu putaran pertama dua pekan
silam. Pada putaran pertama itu masyarakat Prancis sangat terkejut
ketika Le Pen mengalahkan calon sosialis, Lionel Jospin.
Kemenangan mutlak Chirac atas Le Pen ini terutama karena dukungan
masal elektorat kiri yang tidak menginginkan Le Pen menjadi presiden.

Menanggapi kemenanggannya, Presiden Chirac menyatakan bahwa hasil ini
menunjukkan bahwa persatuan Prancis lebih kuat ketimbang perpecahan.
Selanjutnya ia menjanjikan pengabdian penuh bagi semua lapisan
republik Prancis. Chirac menerima ucapan selamat dari kalangan
internasional. Sebagian besar pemimpin negara memuji besarnya
dukungan elektorat yang menentang ekstrim kanan. Sementara itu
Perdana Menteri Prancis, Lionel Jospin mengajukan pengunduran diri.
Dua pekan silam tokoh sosialis ini menyatakan akan mundur menyusul
kekalahannya dalam pemilu putaran pertama.
Senin ini Presiden Chirac diharapkan akan mengumumkan susunan kabinet
barunya termasuk Perdana Menteri baru.


* AS INGIN GULINGKAN REJIM SADDAM HUSSEIN

Amerika Serikat menekankan keinginan menggulingkan rejim Saddam
Hussein di Irak. Menteri Luar Negeri, Colin Powell dan penasihat
keamanan nasional, Nyonya Condoleezza Rice menyampaikan hal ini dalam
sebuah wawancara televisi. Menlu Powell dan Nyonya Rice menyatakan
bahwa Washington sedang membicarakan rencana ini dengan sekutu
mereka. Menlu Powell menyatakan bahwa kehidupan rakyat Irak dan
kawasan sekeliling akan lebih baik bila rejim Baghdad diganti.
Selanjutnya Powell menekankan bahwa sikap AS terhadap Irak tidak
berubah, sekalipun tim penyidik senjata PBB kembali diijinkan masuk
Irak. Dua pejabat tinggi AS tersebut menyangkal punya rencana konkrit
mengenai serangan terhadap Sadam Hussein. Sementara itu, harian The
New York Times, pekan silam melaporkan bahwa AS berencana menyerang
Irak, awal tahun depan dengan mengerahkan sekitar 250 ribu serdadu.


* PRESIDEN KOREA SELATAN KELUAR DARI PARTAI

Presiden Korea Selatan, Kim Dae Jung mengumumkan keluar dari
partainya. Keputusan ini berkaitan dengan skandal KKN yang melibatkan
tiga puteranya dan sejumlah karyawan partai Demokrasi Millennium.
Meskipun kasus KKN ini masih dalam pengusutan namun Presiden Kim yang
juga pemenang Penghargaan Nobel Perdamaian ini, didepan umum sudah
mengajukan permohonan maaf. Ia menyatakan tetap akan mengemban
jabatan presiden hingga Februari tahun depan. Ia tidak akan
mencalonkan diri untuk masa jabatan berikutnya.


* PENEMUAN DUA RATUS MAYAT KORBAN KECELAKAAN KAPAL BANGLADESH

Regu penolong Bangladesh, temukan hampir dua ratus mayat dalam kapal
ferry yang tenggelam Jum'at silam. Para korban berhasil ditemukan
setelah bangkai kapal berhasil diangkat ke permukaan Ahad malam.
Kapal ferry yang dalam perjalanan dari ibukota Dhaka ke Patuakhali di
Selatan, terjebak dalam cuaca buruk dan tenggelam. Kapal ini diduga
mengangkut 300 penumpang, jauh melebihi batas maksimum.
Hingga saat ini hanya beberapa puluh orang saja yang berhasil
diselamatkan. Jumlah korban tewas dikhawatirkan masih akan meningkat.
Inilah bencana kapal terbesar dalam sejarah negara itu. Pemerintah
Bangladesh membentuk komisi khusus yang akan memeriksa kasus ini.


* MARC RAVALOMANANA RESMI DISUMPAH SEBAGAI PRESIDEN BARU MADAGASKAR

Marc Ravalomanana resmi disumpah sebagai presiden baru Madagaskar.
Upacara penobatan di ibukota Antananarivo tersebut dihadiri lebih
dari seratus ribu pengunjung. Sejumlah pejabat Uni Eropa dan Amerika
Serikat juga menghadiri upacara tersebut. Penentuan presiden
Madagaskar ini melalui proses yang sangat lama. Sejak Desember tahun
lalu, Ravalomanana sudah mengklaim sebagai pemenang pemilu presiden
dan serta merta menobatkan diri sebagai presiden baru. Langkah ini
memicu sengketa dengan presiden berkuasa Didier Ratsiraka yang
menghendaki pemilu putaran ke dua. Mahkamah Konstitusional, yang
menangani sengketa ini memutuskan bahwa berdasarkan penghitungan
ulang suara pemilu, Ravalomanana berhak menjadi presiden. Sementara
itu presiden tersingkir Didier Ratsiraka dan empat gubernur menolak
menerima keputusan ini dan menolak meletakkan jabatan.


* TOKOH EKSTRIM KANAN AUSTRIA KEMBALI BERKUNJUNG KE IRAK

Jorg Haider, tokoh partai ekstrim kanan Austria, FPO telah berkunjung
ke Irak akhir pekan silam. Haider yang juga menjabat gubernur
Karinthia, Austria itu di Baghdad mengadakan pembicaraan dengan
Menteri Luar Negeri Irak, Naji Sabri. Haider dilaporkan tidak bertemu
dengan Presiden Saddam Hoessein. Pejabat dekat Haider menyatakan
dalam kunjungan bersifat pribadi itu, Jorg Haider meninjua sejumlah
rumah sakit. Inilah kunjungan ke dua pemimpin ekstrim kanan Austria
ke Irak. Kujungan pertamanya Februari silam dikecam kalangan
internasional.


* AS MENARIK DIRI DARI MAHKAMAH INTERNASIONAL

Amerika Serikat resmi menarik diri dari keanggotaan Mahkamah
Internasional. Menteri Luar Negeri, Colin Powell mengatakan bahwa
negaranya tidak akan meratifikasi pembentukan Mahkamah Internasional
dengan alasan karena tidak terkait pada salah satu negera dan AS
cemas Mahkamah Internasional ini akan memiliki wewenang di atas
kehakiman AS. Washington takut tentara mereka akan diseret ke
Mahkamah ini  karena pelanggaran di kawasan konflik. Karena alasan
itupulalah Rusia dan Cina juga menolak meratifikasi pembentukan
Mahkamah Internasional ini.
Mahkamah Internasional permanen yang lebih dikenal dengan nama
International Criminal Court atau ICC berlokasi di Den Haag dan mulai
bertugas 1 Juli mendatang. Inilah mahkamah internasional pertama yang
bersifat tetap dan bertugas mengadili kejahatan berat seperti
pembasmian etnik, tindak kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan
perang. Berbeda dengan Tribulan Ruwanda dan Yugoslavia yang bersifat
sementara dan terbatas, maka Tribunal ICC ini bersifat tetap dan
mengadili kejahatan yang terjadi di setiap tempat.


* PEMBEBASAN AUNG SANG SUU KYI  PICU DILEMMA UNTUK ASEAN

Intro: Pejuang demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi dibebaskan dari
tahanan rumah selama 19 bulan oleh junta militer. Suu Kyii segera
menuju markas besar partainya dan berjanji untuk terus memperjuangkan
demokrasi di negaranya karena pembebasannya itu bukan berarti telah
terjadi trobosan dalam proses demokrasi di Myanmar. Menurut peneliti
ASEAN di CSIS Bapak Landri terdapat dua faktor utama alasan
pembebasan Suu Kyii itu. Lebih jauh penjelasannya kepada Radio
Nederland.

Landri [LD] : Saya tentu saja merasa gembira artinya seorang tokoh
pergerakan demokrasi di Asia Tenggara itu sudah berhasil menunjukan
pada dunia bahwa peacefull democracy itu pada akhirnya bisa menang.
Artinya, mungkin ini jadi bahan pembelajaran buat orang-orang di
belahan manapun bahwa demokrasi itu bukan semata-mata bisa dilakukan
melalui konfrontasi dengan penguasa tetapi juga bisa dilakukan
melalui peacefull meaning seperti yang dilakukan oleh Aung San Suu
Kyi.

Tapi kemudian reaksi saya yang kedua adalah, jika dikaitkan dengan
gerakan demokratisasi secara umum pada konteks tahun 2000-an, mungkin
masih terlalu cepat bagi kita untuk melihat dampak signifikan dari
pembebasan Aung San Suu Kyi ini. Karena ada beberapa faktor yang
tentu saja harus kita nilai lebih jauh. Misalnya sejauh mana Aung San
Suu Kyi diberi kebebasan seperti yang diindikasikan oleh penguasa
Myanmar. Katanya akan ada pembagian tugas, bahwa Aung San Suu Kyi
akan membantu pemerintah Myanmar dalam meningkatkan kesejahteraan
rakyat. Nah kita belum mendengar secara langsung maupun secara
implisit, sejauh mana pemerintah Myanmar bersedia untuk berbagi peran
dan sejauh mana respon dari Aung San Suu Kyi itu sendiri.

Radio Nederland [RN] : Menurut alasan-alasan apa di balik pembebasan
Aung San Suu Kyi itu?

LD : Pertama jelas dari faktor domestik. Ini berkaitan dengan tingkat
resistensi rejim terhadap desakan internal, khususnya dikaitkan degan
kondisi obyektif masyarakat misalnya saja kehidupan sosial, kehidupan
ekonomi, kehidupan politik yang sudah sedemikian menyesakkan dada.
Kemudian yang kedua jelas adalah dari tekanan-tekanan internasional.
Meskipun lobby-lobby yang dilakukan tidak pernah ter-expose tapi saya
yakin pemerintah Myanmar juga menghitung adanya intensifikasi desakan
internasional atas pembebasan Aung San Suu Kyi.

Hanya saja yang menarik ketika fokus internasional itu justeru
tercurah pada aspek non-demokrasi dan non-hak asasi manusia setelah
serangan 11 September. Justeru pemerintah Myanmar mengambil moment
ini untuk mengeluarkan Aung San Suu Kyi. Sehingga seolah-olah berita
pembebasan ini menjadi begitu berbeda dengan dead-line internasional
atau pemberitaan-pemberitaan massa media tentang terorisme dan lain
sebagainya yang determent terhadap hak-hak asasi manusia.

RN : Apakah anda melihat ada perubahan arah politik yang diambil
junta militer di Myanmar?

LD : Secara global tampaknya memang ada kecenderungan dari pemerintah
Myanmar untuk sedikit merubah strategi, implementasi dan kebijakan
politik domestiknya. Tapi saya pikir perubahan ini tidak memiliki
implikasi yang signifikan terhadap grand policy dari pemerintah
Myanmar sendiri yaitu untuk memelihara kelangsungan rejim yang
berkuasa dan lain sebagainya.

RN : Kalau dilihat dari negara-negara ASEAN, ini suatu berita yang
menyenangkan bagi ASEAN atau justeru membahayakan begitu?

LD : Itu sebuah pertanyaan yang menarik dan sekaligus merupakan
dilematis sebetulnya. Kalau kita lihat catatan hubungan antara Aung
San Suu Kyi secara pribadi dengan ASEAN secara keseluruhan, dalam
beberapa reportase, kita temukan beberapa kritik dari Aung San Suu
Kyi terhadap ketidak mampuan ASEAN untuk berinteraksi terhadap
Myanmar, khususnya dalam upaya-upaya demokratisasi.

Jadi Aung San Suu Kyi memang memiliki catatan yang katakanlah sangat
kritis terhadap ASEAN. Tapi kemudian jika kita lihat perkembangan di
dalam ASEAN itu sendiri, ASEAN yang kita lihat sekarang mungkin
konteksnya sudah berbeda dengan ASEAN yang kita lihat sebelum tahun
1998. Artinya bahwa sekalipun ASEAN terdiri dari sepuluh negara yang
sama-sama memiliki komitment untuk pembangunan regional dan
stabilitas regional tapi tampaknya perkembangan domestik dari
tiap-tiap negara khususnya dikaitkan dengan penghormatan hak-hak
asasi manusia dan proses demokratisas.

Jadi kalau dulu kita mengistilahkan ASEAN itu menjadi dua kelompok
yaitu yang anggota asli dan anggota tambahan tapaknya kita sekarang
harus mulai melihat ASEAN dalam dua kerangka yaitu  ASEAN yang sudah
well-democratize dan less-democratize ASEAN. Jadi yang anda sampaikan
memang betul sekali bahwa ini menimbulkan dilema bagi ASEAN. Dan
masalahnya sekarang apakah ini jadi hal yang membahayakan atau hal
yang menguntungkan. Saya pikir dalam konteks ASEAN yang katakanlah
sudah tidak seperti dulu dalam masalah soliditas dan masalah
solidaritas, saya pikir tiap negara akan memiliki pandangan yang
jelas berbeda-beda.

Demikian Bapak Landri peneliti ASEAN di CSIS kepada Radio Nederland


* WARGA POSO KHAWATIR LASKAR JIHAD AKAN MERAJALELA KALAU MILITER
DITARIK

Intro: Banyak orang menduga bahwa penangkapan Panglima Laskar Jihad,
Ja'far Umar Thalib, akan mempengaruhi situasi di Ambon.  Namun hal
ini dibantah pelbagai pihak termasuk pihak kepolisian. Tetapi
bagaimana pengaruhnya dengan Poso? Konon tentara akan ditarik dari
sana dan tidak akan diganti, sementara anggota Laskar Jihad sudah
berkeliaran. Lebih lanjut berikut laporan koresponden Syahrir dari
Jakarta.

Menteri Pertahanan Matori Abdul Jalil membantah bahwa penangkapan
Panglima Laskar Jihad Ja'far Umar Thalib merupakan pesanan pemerintah
Amerika Serikat. Ditegaskannya pula bahwa Amerika Serikat tak
memiliki kepentingan dalam kasus Ambon. Disamping Menteri Pertahanan,
kemarin pihak kepolisian pun ikut berbicara dan membantah pemberitaan
pers ibukota yang menuduh Megawati berada di belakang penangkapan
Jafar. Mabes Polri secara kategoris, membantah bahwa penangkapan
Ja'far bernuansa politis. Ja'far ditangkap karena melanggar hukum.
Polri juga menegaskan, penangkapan Ja'far bukan atas perintah
presiden Megawati. Polisi juga melihat bahwa penangkapan Ja'far tidak
mempengaruhi situasi di Ambon.

Tetapi bagaimana dengan kota Poso dimana Laskar Jihad juga punya
pendukungnya? Polisi tidak memberi keterangan  apa-apa mengenai Poso
yang diisyukan mulai memanas. Namun, dari Poso ,Sulawesi Tengah
diperoleh informasi bahwa isyu kedatangan 3000 pasukan Jihad ke Poso
tidaklah benar. Memang sejak penangkapan Panglima Jihad Jafar Umar
Thalib ada  suara-suara di kalangan masyarakat Kristen yang
menyatakan bahwa pasukan merah harus bersiap-siap menghadapi serangan
Laskar Jihad pekan ini. Pendeta Deddy Gononggo, mengakui bahwa ada
isyu anggota-anggota Laskar Jihad dikumpulkan dari daerah pesisir
pantai yang merupakan basis Islam.


Laskar Jihad di Poso  pada masa menjelang konperensi Malino I banyak
membuat posko-posko lengkap dengan  foto-foto Usamah Bin Laden.
Peninjau-peninjau luar negeri yang melakukan perjalanan secara
incognito sempat melaporkan hal ini ke luar negeri yang telah
memancing kerisauan pemerintahan-pemerintahan Barat. Baik di Eropa
maupun Amerika Utara, gereja-gereja tiba-tiba mendesak pemerintah
masing-masing  untuk menekan pemerintahan Megawati agar mengirim
pasukan ke Poso.

Tetapi sekarang ini ada kekuatiran di masyarakat Poso bahwa jika
militer ditarik dari wilayah itu, maka Laskar Jihad dan pasukan Merah
bisa bergerak kembali dan menakut-nakuti rakyat. Untuk itu kalangan
intelektual dari kedua belah pihak mengimbau pemerintahan Megawati
agar tidak menarik pasukan dari sana. Setidak-tidaknya untuk 6 bulan
kedepan. Kepada masyarakat setempat akhir-akhir ini ada penjelasan
dari pihak aparat bahwa militer akan ditarik dari Poso. Hal itu
mengingat sementara pasukan TNI  dan Polri itu sudah berada di
wilayah tersebut selama 6 bulan. Masyarakat kuatir bahwa militer yang
ditarik ini tidak diqanti dengan yang baru. Bahkan ada pengamat
politik yang mencurigai tentara sengaja menarik pasukannya agar pihak
milisi sipil yang dibiayai jenderal-jenderal tertentu bisa
memunculkan kerusuhan baru di Poso. Semua ini memang tergantung pada
elit politik di Jakarta.

Selama ini kerusuhan di daerah merupakan pekerjaan para elit politik
di Jakarta yang menggunakan pertikaian di daerah sebagai  bahan tawar
menawar politik dengan pihak penguasa. Ini sudah berlangsung sejak
masa pemerintahan Habibie, Gus Dur dan sekarang Megawati. Ketika Mega
sedang "berbulan madu" dengan militer, maka amanlah Maluku dan Poso.
Sebegitu Mega mengulur-ngulur pelantikan Panglima TNI, maka  Ambon
kembali rusuh. Tampaknya kini, jika Megawati masih tetap tidak
memperhatikan isyarat-isyarat para perwira tertentu, maka keamanan
Maluku dan Poso lagi-lagi bisa diganggu. Diganggu oleh mereka yang
punya pasukan Sandi Yudha atau pasukan siluman. Bukan rahasia lagi
bahwa milisi di Poso dilatih kalangan militer aktif. Utamanya di
lembah Korontowu, Kabupaten Morowali Sulawesi tengah. Alangkah
bodohnya intel Indonesia jika tidak mengetahui hal itu karena ini
sudah merupakan rahasia umum di kalangan  masyarakat Sulawesi tengah,
kata seorang tokoh masyarakat di Poso.

Tetapi seorang aktivis di Sulawesi Tengah melihat peristiwa konflik
agama di Poso menunjukkan sekali lagi bahwa rakyat yang disebut
beragama itu ternyata kurang menghayati ajaran agama mereka. Baik
yang Kristen maupun Muslim ternyata lebih banyak mengandalkan pada
ilmu hitam atau okultisme. Pada awal konflik misalnya orang-orang
Kristen menyewa orang-orang kebal dari suku Da'a  Palu. Ternyata
kampung-kampung yang dijaga oleh orang-orang Da'a itu habis terbakar,
seperti desa Tangkura,   Pantango, Pinadapa, Dewuwa, Sangginora dan
lain lain.

Hal yang sama pun terjadi di Maluku. Misalnya penyerangan terhadap
desa Soya, Ambon oleh sementara ummat Kristen di Maluku dinilai
sebagai penghancuran terhadap pusat okultisme atau pusat penyembah
berhala. Ini diceriterakan oleh seorang pendeta di Ambon. Bagi dia
kejadian-kejadian di Ambon, Maluku Utara dan Poso selama beberapa
tahun terakhir sesungguhnya merupakan cara pemurnian iman bagi mereka
yang percaya pada Tuhan.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke