--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Jumat 27 Desember 2002 14:20 UTC ** MANTAN DANDIM DILI DIVONIS LIMA TAHUN PENJARA ** KOREA UTARA TIDAK INGIN DIUSIK SOAL PROGRAM NUKLIR ** LIMA TURIS BARAT YANG DIPALORKAN HILANG DI SRILANKA, TERNYATA HANYA KESASAR ** TOPIK GEMA WARTA: SELAMA RANTAI IMPUNITAS TIDAK DIPUTUS, PENGADILAN AD HOC TIMTIM TIDAK ADA GUNANYA ** TOPIK GEMA WARTA: PROBLEMA SINICA DAN PERANAKAN YANG IDEALIS ** TOPIK GEMA WARTA: SETELAH JAKARTA, PIMPINAN PUSAT PDI-P MULAI MENGINTERVENSI LAMPUNG * MANTAN DANDIM DILI DIVONIS LIMA TAHUN PENJARA Pengadilan adhoc Timor Timur di Jakarta memvonis Letkol Soejarwo, mantan Dandim Dili, hukuman lima tahun penjara dengan tuduhan pelanggaran berat HAM di Timor Timur. Ia dinyatakan bersalah dan bertanggungjawab atas aksi penyerangan terhadap 5 ribu pengungsi di kantor Diosis, Dili dan kediaman Uskup Belo pasca Jajak Pendapat 1999. Putusan lima tahun itu lebih rendah dari 10 tahun penjara tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Soejarwo di hadapan majelis hakim, menolak putusan itu dan akan mengajukan banding. Soejarwo baru satu-satunya anggota TNI yang dijatuhi hukuman dalam kasus pelanggaran HAM Timtim. * KOREA UTARA TIDAK INGIN DIUSIK SOAL PROGRAM NUKLIR Korea Utara memperingakan timbulnya konfrontasi besar, kalau Amerika Serikat terus menuntut Korut mengentikan program nuklirnya. Menurut Pyongyang, tuntutan Washington mustahil bisa dipenuhi. Di samping itu Korea Utara menduga Amerika Serikat berencana menggulingkan pemerintah Pyongyang. Baru-baru ini Korea Utara mengaku telah mulai menjalankan kembali program nuklirnya secara diam-diam. Pekan ini pusat nuklir Korut di Yongbyon, kembali diaktifkan. Tindakan ini melanggar kesepakatan dengan Amerika yang ditandatangani tahun 1994. Amerika dan PBB mencemaskan perkembangan baru ini. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Donald Rumsfeld mengatakan pekan ini, bahwa Amerika Serikat mampu melancarkan dua perang sekaligus. Ia menunjuk pada kemungkinan perang dengan Korea Utara dan Irak. Sementara itu pemerintah Australia memutuskan untuk menunda peresmian kedutaan besarnya di Korea Utara. Menurut Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer hubungan dengan Pyongyang tidak bisa dinormalisir di saat Korea Utara melanjutkan program nuklirnya. Australia sedianya akan meresmikan kedutaannya di Pyongyang, Juli depan. * LIMA TURIS BARAT YANG DIPALORKAN HILANG DI SRILANKA, TERNYATA HANYA KESASAR Di Srilanka, lima wisatawan Barat yang sempat di laporkan hilang, ditemukan sehat. Setelah mengadakan operasi pencarian satuan penyelamat dari angkatan Laut dan Udara menemukan lima wisatawan barat itu sudah berada di pantai. Dua warga Belanda dan tiga orang lain Jerman dan Britania sempat dilaporkan hilang, ketika pemilik perahu yang mengantarkan mereka mengadakan wisata selam ke laut, tidak menemukan kelimanya muncul lagi ke permukaan. Mereka diduga kehilangan arah dan muncul di permukaan yang jauh dari perahu yang menjemput. Sementara itu tiga warga Belanda, juga dilaporkan hilang sejak pekan silam, di Filipina. Mereka hilang sejak mengadakan pariwisata laut bersama seorang Polandia dan dua pemandu warga Filipina. Pemerintah Filipina mencemaskan mereka tenggelam karena perahu dikejutkan gelombang besar dan cuaca buruk. * BABY HASIL KONING LAHIR DI AMERIKA SERIKAT Di Amerika Serikat lahir seorang baby hasil kloning atau penjiplakan genetika. Bayi perempuan itu lahir lewat operasi sesar di kelompok sekte atau kepercayaan Raelian. Ilmuwan Prancis DR. Brigitte Boisselier mengumumkan berita ini, tanpa memberi perincian lebih lanjut. Di samping itu Nyonya Boisselier juga menolak memaparkan bukti-bukti. Dalam waktu dekat ini masih akan lahir empat baby hasil kloning di kalangan persekutuan sekte Raelian. Persekutuan Raelian mengkalim punya 55 ribu anggota, tersebar di seluruh dunia. Mereka meyakini bahwa kehidupan duniawi ini berawal dari penduduk planet lain yang datang dengan piring terbang. Sekte ini percaya bahwa kloning bisa mengabadikan nyawa manusia di muka bumi. * LONG MARS VENEZUELA MAKIN DEKAT ISTANA PRESIDEN Di Venezuela, Gubernur Enriqeu Mendoza dari propinsi Miranda dekat ibukota Caracas menyerukan penduduknya melakukan long mars ke istana Presiden Hugi Chavez. Sebelumnya polisi memberlakukan larangan demonstrasi di kawasan sekeliling istana presiden. Di beberapa kawasan ibukota Caracas masih digelar demonstrasi menentang presiden. Gubernur Mendoza, yang sangat anti presiden Chavez itu, tidak menyebutkan tanggal pelaksanaan mars besar-besaran itu. Selama ini kalangan oposisi Venezuela menuntut presiden Chavez mundur. Presiden dituduh menjerumuskan Venezuela ke jurang krisis ekonomi. Industri minyak yang merupakan tulang punggung ekonomi negeri itu dilanda krisis, akibat mogok massal selama bulan ini. Sehubungan krisis ini, Venezuela yang nota bene adalah negara kelima terbesar pengekspor minyak, harus membeli minyak dari luar negeri. * PARLEMEN TURKI BUKA BELENGGU POLITIK TAYYIP ERDOGAN Parlemen Turki membuka jalan bagi Tayyip Erdogan pemimpin partai AK, untuk menduduki jabatan politik. Majelis rendah Turki mengabulkan perubahan undang-undang, yang mencabut putusan yang melarang Erdogan menduduki jabatan politik. Tiga tahu lalu Erdogan, oleh pemerintah lama, dijatuhi hukuman karena makar. Sebelumnya parlemen Turki juga sudah mengabulkan perubahan undang-undang itu, tetapi sempat diganjal veto Presiden Turki, Ahmet Necdet Sezer. Tetapi presiden hanya boleh menggunakan veto sekali dalam satu urusan. Sekarang presiden hanya bisa mengadukan kasus ini ke mahkamah agung atau mengumumkan referendum. Menurut presiden Turki itu, undang-undang dasar tidak bisa dirubah hanya untuk kepentingan satu orang saja. Erdogan ingin mencalonkan diri pada pemilu parlemen. Setelah itu Tayyip Erdogan diperkirakan akan menjadi perdana menteri Turki. * SELAMA RANTAI IMPUNITAS TIDAK DIPUTUS, PENGADILAN AD HOC TIMTIM TIDAK ADA GUNANYA Intro: Pengadilan adhoc Timor Timur memvonis letkol Soejarwo, mantan Dandim Dili, hukuman lima tahun penjara. Namun, apa pun keputusannya, selama rantai impunitas tidak diputus, dan nasib para korban di Timor Leste tidak dipikirkan, pengadilan itu tidak ada gunanya. Bukan hanya impunitas pejabat Indonesia yang harus diputus, tapi juga impunitas negara adidaya seperti Amerika yang juga banyak bersalah terhadap rakyat negara termuda itu. Demikian tegas Jose Louise de Oliveira dari Yayasan Hukum, Hak Asasi dan Keadilan di Dili kepada Radio Nederland. Jose Louise de Oliveira [LO] : Ini tetap dilihat sebagai sebuah sandiwara. Karena menurut undang-undang di pengadilan ad hoc itu hukuman paling sedikit sepuluh tahun. Semua hukuman yang diputus tidak sesuai dengan peraturannya sendiri. Jadi ini seolah-olah kejahatan yang terjadi pada tahun 1999 dilihat sebagai kejahatan biasa, bukan serious crime walaupun kalau dilihat Pak Soejarwo itu sama sekali militer yang dihukum. Radio Nederland [RN] : Jadi kalau begitu bagaimana sebaiknya. Harus diadili lewat badan peradilan internasional begitu? LO : Dari awal memang kami melihat bahwa pengadilan ad hoc itu tidak bisa membawa keadilan bagi korban. Karena tujuan pengadilan itu tidak saja menghukum si tersangka tetapi juga harus ada upaya merehabilitasi atau memperdulikan penderitaan korban-korban ini. Pengadilan ini enggak bisa membawa sesuatu untuk mereka. RN : Itu kena apa tidak bisa membawakan sesuatu?, karena itu pengadilan Indonesia atau karena memang bentuk peradilannya ini, yang salah? LO : Saya kira ini kompleks dan juga kepentingan internasional, kepentingan negara-negara besar itu juga ikut bermain. Jadi ini soal penegakan hukum di dunia ini masih suram. Sebaiknya untuk memutus rantai impunitas itu kenyataannya masih berat, bagaima kita bisa semua masyarakat dunia bisa bersama-sama memutus rantai impunitas ini. Kelihatannya masih ada upaya kuat untuk melidungi para pelaku kejahatan, orang yang berbuat jahat yang berkuasa, dia masih bisa menghindar dari hukuman. Saya kira ini harus menjadi keprihatinan semua masyarakat dunia untuk mendesak agar di bawah PBB, itu proses penegakan hukumnya harus serius. RN : Anda menyebut dunia internasional atau negara besar, maksudnya Amerika atau Australi. Itu ada kepentingan impunitas juga? LO : Amerika, bukan Australi. Amerika itu punya kekuasaan besar di Dewan Keamanan PBB. Dalam hal pengadilan ad hoc ini, secara tidak langsung dia juga punya kepentingan bahwa kalau pengadilan ini berjalan fair, ya dia juga bisa terbongkar keterlibatannya dalam melakukan kejahatan terhadap orang Timor-Timur. Prinsipnya dalam hukum setiap pelaku kejahatan baik langsung maupun secara tidak langsung itu harus mempertanggungjawabkan kejehatannya. RN : Kira-kira apa itu kemungkinan keterlibatan Amerika dalam hal ini? LO : Saya kira itu bukan hal baru, karena memang di Amerika sendiri itu sudah dibongkar tahun lalu atau dua tahun lalu diluncurkannya dokumen rahasia. Terus banyak pihak yang di kalangan militer Indonesia yang sering juga dalam berbagai kesempatan mengungkap bahwa Amerika pada tahun 1975 ikut memberi dukungan besar bukan saja moral, poitik tetapi juga materi. Dan tahun 1999 walaupun secara tidak langsung mereka juga terlibat, termasuk Bank Dunia. Karena pada tahun 1999 kita sudah bongkar bahwa uang yang dipakai milisi-milisi (pro-intergrasi red.) adalah uang-uang dana Bank Dunia. Mereka tahu bahwa uang itu disalahgunakan, tetapi mereka enggak bikin apa-apa. Itu artinya mereka merestui penggunaan uang itu untuk melakukan kejahatan. RN : Jadi anda melihat itu ada kehawatiran negara adidaya seperti Amerika Serikat, kalau pengadilan ini dilakukan fair, akan terbongkar hal-hal itu? LO : Ya mereka harus bertanggungjawab untuk itu. Jangan merasa sekarang seperti pahlawan, sekarang datang dengan menawarkan banyak bantuan dan lain sebagainya. Tetapi kewajiban dia yaitu pertama-tama mempertanggungjawabkan perbuatan dia sebelumnya. Masyarakat di dunia, kalau belum bersatu dan belum punya komitmenya untuk bagaimana menegakkan hukum dan memutus rantai impunitas ini, saya kira peristiwa seperti ini akan terulang lagi dan di tempat lain. Demikian Jose Louise de Oliveira dari Yayasan Hukum, Hak Asasi dan Keadilan di Dili kepada Radio Nederland. * PROBLEMA SINICA DAN PERANAKAN YANG IDEALIS Intro: Kalangan yang pragmatis, itulah sebutan yang sering dipakai untuk menggambarkan kalangan Tionghoa. Mereka tidak mementingkan prinsip, tetapi ikut dengan arus jaman. Makanya di jaman apa pun mereka tetap punya peran. Walau begitu, siapa mengira bahwa ada juga peranakan Tionghoa yang idealis? Paling sedikit itulah judul buku yang diedit oleh Yunus Yahya. Koresponden Syahrir mengirim laporan berikut dari Jakarta: Sebagaimana halnya di negara-negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia juga mempunyai apa yang disebut problema sinica atau masalah Tionghoa. Demikian Ir. Tan Boen An dalam buku Peranakan Idealis yang diluncurkan pekan lalu. Buku yang ditullis oleh Yunus Yahya ini yang menampilkan 25 tokoh Tionghoa menunjukkan bahwa banyak juga kaum peranakan yang idealis. Mulai dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya. Selama seperempat abad lebih masyarakat Indonesia hanya mengenal orang-orang turunan Tionghoa pendukung Orde Baru. Siapa yang tidak kenal pengusaha Liem Sioe Liong atau Bob Hasan? Di kalangan masyarakat politik Indonesia, tokoh-tokoh semacam Sofyan Wanandi, Jusuf Wanandi dan Harry Tjan Silalahi dikenal karena mereka selama 24 tahun menjadi dapur pemikirnya Soeharto. Belakangan diketahui Liem sempat bersembunyi di luar negeri. Bob Hasan setelah Soeharto jatuh masuk penjara di pulau Nusakambangan. Sedangkan Wanandi brothers hilang dari peredaran. Tinggal Harry Tjan yang masih coba-coba berperan kembali. Selama 32 tahun sebelum Soeharto terjungkal, wajah-wajah ini terlalu sering menghiasi koran-koran Indonesia yang dikuasai Golkar. Pengusaha hitam semacam Liem dan Bob serta politikus fasis semacam Wanandi dan Harry dikenal orang. Orang-orang vocal semacam Yap Thiam Hien, Arief Budiman dan Kwik Kian Gie ketika itu kurang diliput pers Indonesia saat itu sehingga enam juta keturunan Tionghoa banyak menjadikan orang-orang semacam "raja terigu" Liem Sioe Liong dan "raja kayu" Bob Hassan sebagai idola mereka. Mereka punya uang dan berkuasa karena dekat dengan Soeharto. Sebenarnya sejak zaman Belanda golongan Tionghoa ini sudah berperan. Sebagaimana dikatakan Yunus Yahya seorang Tionghoa Muslim. Sebenarnya sejak awal pemerintahan Orde Baru di pertengahan 1960an, golongan Tionghoa sudah tidak popular. Menurut Ir Tan Boen Aan, dalam buku Peranakan Idealis tulisan Yunus Yahya, dominasi ekonomi golongan Tionghoa asing di mata bangsa Indonesia bisa digambarkan antara lain sebagai berikut: "Yang miskin menentang karena kemelaratannya. Yang beragama Islam menentang karena memandang golongan Tionghoa sebagai kafir. Yang berkedudukan middle class dan upper class ekonomi menentang karena rivalitas. Lebih lanjut, Imanto menulis bahwa di tahun 1966 ketika 50 persen dari 1,5 juta golongan Tionghoa masih berkewarganegaraan asing, "yang nasionalistis menentang karena rasa kebangsaannya." Orang-orang Indonesia yang anti komunis, katanya, menentang karena politik Republik Rakyat Tiongkok yang komunistis dan pula sangat agresif. Sedangkan kaum militer menentang golongan Tionghoa karena alasan sekuriti negara mengingat bahaya laten kolone kelima. Dan golongan sosialis menentang golongan Tionghoa karena merasa tidak adanya keadilan sosial. Patut diingat bahwa problema sinica di Indonesia pada awal Orde Baru pada dasarnya bersifat ekonomis dan juga menyangkut keamanan negara. Apalagi jika diingat bahwa ketika itu sekitar 600.000 warga Tionghoa menjadi anggota Baperki yang pro Tiongkok komunis. Namun berkat dekatnya orang-orang LPKB, Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa, orang-orang CSIS, (Pusat Pengkajian Masalah Internasional serta Strategi) dengan tentara dan Golkar, maka sebagian besar golongan Tionghoa tidak sampai dibantai habis. Kini situasi sudah berubah. Pecahnya konflik berdarah antar suku dan agama di Poso, Ambon, Maluku Utara, Sambas, Sampit dan Aceh menunjukkan bahwa masalah ketegangan penduduk asli dan pendatang tidak hanya terbatas dalam problema sinica. Skopenya menjadi luas; bukan antar ras tapi antar suku dan agama. Golongan Tionghoa pun sekarang bergerak lebih bebas. Namun sebagai dikatakan seorang yang dahulu anti CSIS, "Cina sekarang tidak aksi-aksian lagi seperti pada zaman Soeharto. Mereka juga berdiam diri karena asyik menonton yang mengaku pribumi sibuk saling membantai." * SETELAH JAKARTA, PIMPINAN PUSAT PDI-P MULAI MENGINTERVENSI LAMPUNG Sekali lagi, PDI Perjuangan tidak memperdulikan aspirasi daerah. Dulu, ketua umum PDI-P Megawati Soekarnoputri ngotot mempertahankan Sutiyoso untuk sekali lagi menjabat gubernur DKI Jakarta. Sekarang PDI-P mendikte pencalonan gubernur Lampung. Pasangan Alzier Dianis Thabranie dan Ansory Yusuf yang semula dicalonkan sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Lampung oleh Dewan Pimpinan Daerah PDI Perjuangan setempat, tiba-tiba saja diminta mengundurkan diri dari bursa pencalonan. Sebagai gantinya, Dewan Pimpinan Pusat PDI-Perjuangan menempatkan pasangan Oemarsono dan Syamsuri Ryacudu. Oemarsono adalah gubernur Lampung sekarang. Dan Syamsuri Ryacudu adalah adik Kepala Staf Angkatan Darat Ryamizard Ryacudu. Keduanya berasal dari partai Golkar. Wakil Sekjen PDI-Perjuangan Pramono Anung menjelaskan partainya menginginkan Oemarsono tetap menjadi gubernur Lampung. Sebab Oemarsono memiliki hubungan baik dengan PDI-Perjuangan. Selain itu menurut Pramono, kepemimpinannya sebagai gubernur telah terbukti. Ia juga membantah tudingan Oemarsono bukan kader banteng. Pramono Anung: Yang pertama Omarsono kader partai karena mempunyai kartu anggota lebih dari satu tahun yang lalu. Kemudian yang kedua tentunya sesuai dengan SK yang dimiliki, DPP mempunyai kewenangan untuk menentukan pilihan berdasarkan hasil repat kerja daerah khusus. Sementara Alzier menurut Anung sebaiknya tak menjadi gubernur karena ia masih diperlukan untuk memimpin Dewan Pimpinan Cabang PDI-P Lampung Selatan. Pramono juga menambahkan pengurus pusat sedang membahas dan mengawasi para anggota PDI-Perjuangan di Lampung yang menolak keputusan ini. Jika terbukti melanggar disiplin partai mereka akan diberi sanksi. Tak pelak lagi, keputusan ini segera memunculkan pro kontra di kalangan intern partai PDI-P. Alzier Dianis Thabranie calon gubernur dari fraksi PDI-P dengan tegas menolak keputusan Jakarta itu. Apalagi kedua calon versi orang pusat ini, bukan kader partai banteng. Alzier Dianis Tabrani: Begini, saya tidak membangkang tapi kita bicaranya kebenaran. Karena saudara Oemarsono calon dari Golkar waktu jadi gubernur sedangkan wakilnya juga dari Golkar. Sedangkan kita kan partai pemenang pemilu di Lampung ini. Ya kan kita harus merebut kekuasaan sebagai kader partai. Sedangkan dalam juklak 198 sudah dinyatakan bahwa diutamakan adalah kader partai. Hasil rakerda juga diutamakan kader yang ada dalam struktural partai. Sedangkan saudara Oemarsono belum pernah punya kontribusi terhadap partai. Dia juga tidak ada komitmen dengan DPD-PDI-P Alzier menilai dukungan pusat terhadap Oemarsono dan Syamsuri diduga dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai motif jangka pendek dan kepentingan pribadi. Apalagi menurut dia, selama Oemarsono menjabat gubernur banyak masalah daerah tak terselesaikan, termasuk 300 kasus tanah yang masih menggantung. Alzier tidak sendiri. Fraksi PDI-P di DPRD Lampung juga menolak Oemarsono dan Syamsuri. Ketua Dewan Pimpinan Daerah PDI-P Lampung Abas Hadi Sunyoto menyatakan di DPRD fraksinya akan tetap mencalonkan Alzier dan Ansory, sesuai keinginan arus bawah. Abas Hadi Sunyoto: Jadi kita mendengar suara dari bawah juga mendengarkan, mengamankan instruksi ibu. Sebab ibu juga di Lampung sudah empat kali SK-nya ternyata nggak menang. Setelah macam-macam pertimbangan akhirnya menyimpulkan bahwa calon yang tepat dari kader partai sendiri. Karena yang dicalonkan oleh Jakarta itu dua-duanya Golkar. Sedangkan Golkar punya calon sendiri. Jadi harapan menangnya dari mana gitu lho? Oemarsono, sang calon gubernur pilihan pimpinan pusat, tak jauh berbeda dengan Sutiyoso, gubenur Jakarta yang menurut kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat punya catatan buruk selama berkuasa. Tayar Yusuf dari Lampung Parliament Watch, mengatakan tak banyak kemajuan yang dibuat oleh Oemarsono. Proses pemilihan gubernur Lampung mulai tidak sehat. Menghadapi hari pemilihan 30 Desember mendatang, para anggota DPR sudah dikarantina dengan alasan mencegah praktek suap. Tetapi menurut Tayar upaya itu tak akan berarti. Dugaan politik uang dalam proses pemilihan gubernur Lampung pun sudah mulai terlihat, meski sulit dibuktikan. Namun, lepas dari soal suap dan buruknya prestasi Oemarsono, menurut Tayar campur tangan DPP PDI Perjuangan ini membuat upaya desentralisasi dan otonomi daerah mentah lagi. Tayar Yusuf: Jadi orang tanda tanya besar kenapa kok DPP terlalu campur tangan? Dilihat dari segi perundang-undangan, UU no 22 tahun 1999 tentang desentralisasi ini sudah menjadi sentralisasi. Jadi sukar membedakan antara ketua DPP suatu partai dengan pemerintah dalam hal ini presiden. Tayar memperkirakan meski mendapat kritik, calon DPP Perjuangan Oemarsono akan tetap melaju. Ini, demikian Tayar jelas mengecewakan, bukan hanya terhadap kader PDI-Perjuangan tapi juga masyarakat Lampung secara umum. Rupanya partai banteng gemuk ini tak mau belajar dari pengalaman. Kengototan Mega mendukung Sutiyoso menjadi gubernur Jakarta kembali telah menurunkan popularitas partai. Dan kini di Lampung PDI-P akan kembali mencoreng wajahnya sendiri dengan mengkhianati keinginan sebagian besar kadernya sendiri. Daerah mana lagi yang akan menjadi sasaran DPP PDIP? Lalu bagaimana pula dengan taktiknya menghadapi pemilu 2004? Tim Liputan 68H Jakarta melaporkan untuk Radio Nederland di Hilversum. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [EMAIL PROTECTED] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
