---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Jumat 27 Desember 2002 14:20 UTC



** MANTAN DANDIM DILI DIVONIS LIMA TAHUN PENJARA

** KOREA UTARA TIDAK INGIN DIUSIK SOAL PROGRAM NUKLIR

** LIMA TURIS BARAT YANG DIPALORKAN HILANG DI SRILANKA, TERNYATA
HANYA KESASAR

** TOPIK GEMA WARTA: SELAMA RANTAI IMPUNITAS TIDAK DIPUTUS,
PENGADILAN AD HOC TIMTIM TIDAK ADA GUNANYA

** TOPIK GEMA WARTA: PROBLEMA SINICA DAN PERANAKAN YANG IDEALIS

** TOPIK GEMA WARTA: SETELAH JAKARTA, PIMPINAN PUSAT PDI-P MULAI
MENGINTERVENSI LAMPUNG



* MANTAN DANDIM DILI DIVONIS LIMA TAHUN PENJARA


Pengadilan adhoc Timor Timur di Jakarta memvonis Letkol Soejarwo,
mantan Dandim Dili, hukuman lima tahun penjara dengan tuduhan
pelanggaran berat HAM di Timor Timur.  Ia dinyatakan bersalah dan
bertanggungjawab atas aksi penyerangan terhadap 5 ribu pengungsi di
kantor Diosis, Dili dan kediaman Uskup Belo pasca Jajak Pendapat
1999.
Putusan lima tahun itu lebih rendah dari 10 tahun penjara tuntutan
Jaksa Penuntut Umum. Soejarwo di hadapan majelis hakim, menolak
putusan itu dan akan mengajukan banding. Soejarwo baru satu-satunya
anggota TNI yang dijatuhi hukuman dalam kasus pelanggaran HAM Timtim.


* KOREA UTARA TIDAK INGIN DIUSIK SOAL PROGRAM NUKLIR


Korea Utara memperingakan timbulnya konfrontasi besar, kalau Amerika
Serikat terus menuntut Korut mengentikan program nuklirnya. Menurut
Pyongyang, tuntutan Washington mustahil bisa dipenuhi. Di samping itu
Korea Utara menduga Amerika Serikat berencana menggulingkan
pemerintah Pyongyang.

Baru-baru ini Korea Utara mengaku telah mulai menjalankan kembali
program nuklirnya secara diam-diam. Pekan ini pusat nuklir Korut di
Yongbyon, kembali diaktifkan. Tindakan ini melanggar kesepakatan
dengan Amerika yang ditandatangani tahun 1994. Amerika dan PBB
mencemaskan perkembangan baru ini. Menteri Luar Negeri Amerika
Serikat, Donald Rumsfeld mengatakan pekan ini, bahwa Amerika Serikat
mampu melancarkan dua perang sekaligus. Ia menunjuk pada kemungkinan
perang dengan Korea Utara dan Irak.

Sementara itu pemerintah Australia memutuskan untuk menunda peresmian
kedutaan besarnya di Korea Utara. Menurut Menteri Luar Negeri
Australia, Alexander Downer hubungan dengan Pyongyang tidak bisa
dinormalisir di saat Korea Utara melanjutkan program nuklirnya.
Australia sedianya akan meresmikan kedutaannya di Pyongyang, Juli
depan.


* LIMA TURIS BARAT YANG DIPALORKAN HILANG DI SRILANKA, TERNYATA HANYA
KESASAR


Di Srilanka, lima wisatawan Barat yang sempat di laporkan hilang,
ditemukan sehat. Setelah mengadakan operasi pencarian satuan
penyelamat dari angkatan Laut dan Udara menemukan lima wisatawan
barat itu sudah berada di pantai. Dua warga Belanda dan tiga orang
lain Jerman dan Britania sempat dilaporkan hilang, ketika pemilik
perahu yang mengantarkan mereka mengadakan wisata selam ke laut,
tidak menemukan kelimanya muncul lagi ke permukaan. Mereka diduga
kehilangan arah dan muncul di permukaan yang jauh dari perahu yang
menjemput.

Sementara itu tiga warga Belanda, juga dilaporkan hilang sejak pekan
silam, di Filipina. Mereka hilang sejak mengadakan pariwisata laut
bersama seorang Polandia dan dua pemandu warga Filipina. Pemerintah
Filipina mencemaskan mereka tenggelam karena perahu dikejutkan
gelombang besar dan cuaca buruk.


* BABY HASIL KONING LAHIR DI AMERIKA SERIKAT


Di Amerika Serikat lahir seorang baby hasil kloning atau penjiplakan
genetika. Bayi perempuan itu lahir lewat operasi sesar di kelompok
sekte atau kepercayaan Raelian. Ilmuwan Prancis DR. Brigitte
Boisselier mengumumkan berita ini, tanpa memberi perincian lebih
lanjut. Di samping itu Nyonya Boisselier juga menolak memaparkan
bukti-bukti.

Dalam waktu dekat ini masih akan lahir empat baby hasil kloning di
kalangan persekutuan sekte Raelian. Persekutuan Raelian mengkalim
punya 55 ribu anggota, tersebar di seluruh dunia. Mereka meyakini
bahwa kehidupan duniawi ini berawal dari penduduk planet lain yang
datang dengan piring terbang. Sekte ini percaya bahwa kloning bisa
mengabadikan nyawa manusia di muka bumi.


* LONG MARS VENEZUELA MAKIN DEKAT ISTANA PRESIDEN


Di Venezuela, Gubernur Enriqeu Mendoza dari propinsi Miranda dekat
ibukota Caracas menyerukan penduduknya melakukan long mars ke istana
Presiden Hugi Chavez. Sebelumnya polisi memberlakukan larangan
demonstrasi di kawasan sekeliling istana presiden. Di beberapa
kawasan ibukota Caracas masih digelar demonstrasi menentang presiden.


Gubernur Mendoza, yang sangat anti presiden Chavez itu, tidak
menyebutkan tanggal pelaksanaan mars besar-besaran itu. Selama ini
kalangan oposisi Venezuela menuntut presiden Chavez mundur. Presiden
dituduh menjerumuskan Venezuela ke jurang krisis ekonomi. Industri
minyak yang merupakan tulang punggung ekonomi negeri itu dilanda
krisis, akibat mogok massal selama bulan ini. Sehubungan krisis ini,
Venezuela yang nota bene adalah negara kelima terbesar pengekspor
minyak, harus membeli minyak dari luar negeri.


* PARLEMEN TURKI BUKA BELENGGU POLITIK TAYYIP ERDOGAN


Parlemen Turki membuka jalan bagi Tayyip Erdogan pemimpin partai AK,
untuk menduduki jabatan politik. Majelis rendah Turki mengabulkan
perubahan undang-undang, yang mencabut putusan yang melarang Erdogan
menduduki jabatan politik. Tiga tahu lalu Erdogan, oleh pemerintah
lama, dijatuhi hukuman karena makar.

Sebelumnya parlemen Turki juga sudah mengabulkan perubahan
undang-undang itu, tetapi sempat diganjal veto Presiden Turki, Ahmet
Necdet Sezer. Tetapi presiden hanya boleh menggunakan veto sekali
dalam satu urusan. Sekarang presiden hanya bisa mengadukan kasus ini
ke mahkamah agung atau mengumumkan referendum.

Menurut presiden Turki itu, undang-undang dasar tidak bisa dirubah
hanya untuk kepentingan satu orang saja. Erdogan ingin mencalonkan
diri pada pemilu parlemen. Setelah itu Tayyip Erdogan diperkirakan
akan menjadi perdana menteri Turki.


* SELAMA RANTAI IMPUNITAS TIDAK DIPUTUS, PENGADILAN AD HOC TIMTIM
TIDAK ADA GUNANYA


Intro: Pengadilan adhoc Timor Timur memvonis letkol Soejarwo, mantan
Dandim Dili, hukuman lima tahun penjara. Namun, apa pun keputusannya,
selama rantai impunitas tidak diputus, dan nasib para korban di Timor
Leste tidak dipikirkan, pengadilan itu tidak ada gunanya. Bukan hanya
impunitas pejabat Indonesia yang harus diputus, tapi juga impunitas
negara adidaya seperti Amerika yang juga banyak bersalah terhadap
rakyat negara termuda itu. Demikian tegas Jose Louise de Oliveira
dari Yayasan Hukum, Hak Asasi dan Keadilan di Dili kepada Radio
Nederland.

Jose Louise de Oliveira [LO] : Ini tetap dilihat sebagai sebuah
sandiwara. Karena menurut undang-undang di pengadilan ad hoc itu
hukuman paling sedikit sepuluh tahun. Semua hukuman yang diputus
tidak sesuai dengan peraturannya sendiri. Jadi ini seolah-olah
kejahatan yang terjadi pada tahun 1999 dilihat sebagai kejahatan
biasa, bukan serious crime walaupun kalau dilihat Pak Soejarwo itu
sama sekali militer yang dihukum.

Radio Nederland [RN] : Jadi kalau begitu bagaimana sebaiknya. Harus
diadili lewat badan peradilan internasional begitu?

LO : Dari awal memang kami melihat bahwa pengadilan ad hoc itu tidak
bisa membawa keadilan bagi korban. Karena tujuan pengadilan itu tidak
saja menghukum si tersangka tetapi juga harus ada upaya
merehabilitasi atau memperdulikan penderitaan korban-korban ini.
Pengadilan ini enggak bisa membawa sesuatu untuk mereka.

RN : Itu kena apa tidak bisa membawakan sesuatu?, karena itu
pengadilan Indonesia atau karena memang bentuk peradilannya ini, yang
salah?

LO : Saya kira ini kompleks dan juga kepentingan internasional,
kepentingan negara-negara besar itu juga ikut bermain. Jadi ini soal
penegakan hukum di dunia ini masih suram. Sebaiknya untuk memutus
rantai impunitas itu kenyataannya masih berat, bagaima kita bisa
semua masyarakat dunia bisa bersama-sama memutus rantai impunitas
ini. Kelihatannya masih ada upaya kuat untuk melidungi para pelaku
kejahatan, orang yang berbuat jahat yang berkuasa, dia masih bisa
menghindar dari hukuman. Saya kira ini harus menjadi keprihatinan
semua masyarakat dunia untuk mendesak agar di bawah PBB, itu proses
penegakan hukumnya harus serius.

RN : Anda menyebut dunia internasional atau negara besar, maksudnya
Amerika atau Australi. Itu ada kepentingan impunitas juga?

LO : Amerika, bukan Australi. Amerika itu punya kekuasaan besar di
Dewan Keamanan PBB. Dalam hal pengadilan ad hoc ini, secara tidak
langsung dia juga punya kepentingan bahwa kalau pengadilan ini
berjalan fair, ya dia juga bisa terbongkar keterlibatannya dalam
melakukan kejahatan terhadap orang Timor-Timur.

Prinsipnya dalam hukum setiap pelaku kejahatan baik langsung maupun
secara tidak langsung itu harus mempertanggungjawabkan kejehatannya.

RN : Kira-kira apa itu kemungkinan keterlibatan Amerika dalam hal
ini?

LO : Saya kira itu bukan hal baru, karena memang di Amerika sendiri
itu sudah dibongkar tahun lalu atau dua tahun lalu diluncurkannya
dokumen rahasia. Terus banyak pihak yang di kalangan militer
Indonesia yang sering juga dalam berbagai kesempatan mengungkap bahwa
Amerika pada tahun 1975 ikut memberi dukungan besar bukan saja moral,
poitik tetapi juga materi.

Dan tahun 1999 walaupun secara tidak langsung mereka juga terlibat,
termasuk Bank Dunia. Karena pada tahun 1999 kita sudah bongkar bahwa
uang yang dipakai milisi-milisi (pro-intergrasi red.) adalah
uang-uang dana Bank Dunia. Mereka tahu bahwa uang itu disalahgunakan,
tetapi mereka enggak bikin apa-apa. Itu artinya mereka merestui
penggunaan uang itu untuk melakukan kejahatan.

RN : Jadi anda melihat itu ada kehawatiran negara adidaya seperti
Amerika Serikat, kalau pengadilan ini dilakukan fair, akan terbongkar
hal-hal itu?

LO : Ya mereka harus bertanggungjawab untuk itu. Jangan merasa
sekarang seperti pahlawan, sekarang datang dengan menawarkan banyak
bantuan dan lain sebagainya. Tetapi kewajiban dia yaitu pertama-tama
mempertanggungjawabkan  perbuatan dia sebelumnya. Masyarakat di
dunia, kalau belum bersatu dan belum punya komitmenya untuk bagaimana
menegakkan hukum dan memutus rantai impunitas ini, saya kira
peristiwa seperti ini akan terulang lagi dan di tempat lain.

Demikian Jose Louise de Oliveira dari Yayasan Hukum, Hak Asasi dan
Keadilan di Dili kepada Radio Nederland.


* PROBLEMA SINICA DAN PERANAKAN YANG IDEALIS


Intro: Kalangan yang pragmatis, itulah sebutan yang sering dipakai
untuk menggambarkan kalangan Tionghoa. Mereka tidak mementingkan
prinsip, tetapi ikut dengan arus jaman. Makanya di jaman apa pun
mereka tetap punya peran. Walau begitu, siapa mengira bahwa ada juga
peranakan Tionghoa yang idealis? Paling sedikit itulah judul buku
yang diedit oleh Yunus Yahya. Koresponden Syahrir mengirim laporan
berikut dari Jakarta:

Sebagaimana halnya di negara-negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia
juga mempunyai apa yang disebut problema sinica atau masalah
Tionghoa. Demikian Ir. Tan Boen An dalam buku Peranakan Idealis yang
diluncurkan pekan lalu. Buku yang ditullis oleh Yunus Yahya ini yang
menampilkan 25 tokoh Tionghoa menunjukkan bahwa banyak juga kaum
peranakan yang idealis. Mulai dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya.

Selama seperempat abad lebih masyarakat Indonesia hanya mengenal
orang-orang turunan Tionghoa pendukung Orde Baru. Siapa yang tidak
kenal pengusaha Liem Sioe Liong atau Bob Hasan? Di kalangan
masyarakat politik Indonesia, tokoh-tokoh semacam Sofyan Wanandi,
Jusuf Wanandi dan Harry Tjan Silalahi dikenal karena mereka selama 24
tahun menjadi dapur pemikirnya Soeharto. Belakangan diketahui Liem
sempat bersembunyi di luar negeri. Bob Hasan setelah Soeharto jatuh
masuk penjara di pulau Nusakambangan. Sedangkan Wanandi brothers
hilang dari peredaran. Tinggal Harry Tjan yang masih coba-coba
berperan kembali.

Selama 32 tahun sebelum Soeharto terjungkal, wajah-wajah ini terlalu
sering menghiasi koran-koran Indonesia yang dikuasai Golkar.
Pengusaha hitam semacam Liem dan Bob serta politikus fasis semacam
Wanandi dan Harry dikenal orang. Orang-orang vocal semacam Yap Thiam
Hien, Arief Budiman dan Kwik Kian Gie ketika itu kurang diliput pers
Indonesia saat itu sehingga enam juta keturunan Tionghoa banyak
menjadikan orang-orang semacam "raja terigu" Liem Sioe Liong dan
"raja kayu" Bob Hassan sebagai idola mereka. Mereka punya uang dan
berkuasa karena dekat dengan Soeharto.

Sebenarnya sejak zaman Belanda golongan Tionghoa ini sudah berperan.
Sebagaimana dikatakan Yunus Yahya seorang Tionghoa Muslim.

Sebenarnya sejak awal pemerintahan Orde Baru di pertengahan 1960an,
golongan Tionghoa sudah tidak popular. Menurut Ir Tan Boen Aan, dalam
buku Peranakan Idealis tulisan Yunus Yahya, dominasi ekonomi golongan
Tionghoa asing di mata bangsa Indonesia bisa digambarkan antara lain
sebagai berikut: "Yang miskin menentang karena kemelaratannya. Yang
beragama Islam menentang karena memandang golongan Tionghoa sebagai
kafir. Yang berkedudukan middle class dan upper class ekonomi
menentang karena rivalitas.

Lebih lanjut, Imanto menulis bahwa di tahun 1966 ketika 50 persen
dari 1,5 juta golongan Tionghoa masih berkewarganegaraan asing, "yang
nasionalistis menentang karena rasa kebangsaannya." Orang-orang
Indonesia yang anti komunis, katanya, menentang karena politik
Republik Rakyat Tiongkok yang komunistis dan pula sangat agresif.
Sedangkan kaum militer menentang golongan Tionghoa karena alasan
sekuriti negara mengingat bahaya laten kolone kelima. Dan golongan
sosialis menentang golongan Tionghoa karena merasa tidak adanya
keadilan sosial.

Patut diingat bahwa problema sinica di Indonesia pada awal Orde Baru
pada dasarnya bersifat ekonomis dan juga menyangkut keamanan negara.
Apalagi jika diingat bahwa ketika itu sekitar 600.000 warga Tionghoa
menjadi anggota Baperki yang pro Tiongkok komunis. Namun berkat
dekatnya orang-orang LPKB, Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa,
orang-orang CSIS, (Pusat Pengkajian Masalah Internasional serta
Strategi) dengan tentara dan Golkar, maka sebagian besar golongan
Tionghoa tidak sampai dibantai habis.

Kini situasi sudah berubah. Pecahnya konflik berdarah antar suku dan
agama di Poso, Ambon, Maluku Utara, Sambas, Sampit dan Aceh
menunjukkan bahwa masalah ketegangan penduduk asli dan pendatang
tidak hanya terbatas dalam problema sinica. Skopenya menjadi luas;
bukan antar ras tapi antar suku dan agama. Golongan Tionghoa pun
sekarang bergerak lebih bebas.

Namun sebagai dikatakan seorang yang dahulu anti CSIS, "Cina sekarang
tidak aksi-aksian lagi seperti pada zaman Soeharto. Mereka juga
berdiam diri karena asyik menonton yang mengaku pribumi sibuk saling
membantai."


* SETELAH JAKARTA, PIMPINAN PUSAT PDI-P MULAI MENGINTERVENSI LAMPUNG



Sekali lagi, PDI Perjuangan tidak memperdulikan aspirasi daerah.
Dulu, ketua umum PDI-P Megawati Soekarnoputri ngotot mempertahankan
Sutiyoso untuk sekali lagi menjabat gubernur DKI Jakarta. Sekarang
PDI-P mendikte pencalonan gubernur Lampung.

Pasangan Alzier Dianis Thabranie dan Ansory Yusuf  yang semula
dicalonkan sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Lampung
oleh Dewan Pimpinan Daerah PDI Perjuangan setempat, tiba-tiba saja
diminta mengundurkan diri dari bursa pencalonan. Sebagai gantinya,
Dewan Pimpinan Pusat PDI-Perjuangan menempatkan pasangan Oemarsono
dan Syamsuri Ryacudu. Oemarsono adalah gubernur Lampung sekarang. Dan
Syamsuri Ryacudu adalah adik Kepala Staf Angkatan Darat Ryamizard
Ryacudu. Keduanya berasal dari partai Golkar.

Wakil Sekjen PDI-Perjuangan Pramono Anung menjelaskan partainya
menginginkan Oemarsono tetap menjadi gubernur Lampung. Sebab
Oemarsono memiliki hubungan baik dengan PDI-Perjuangan. Selain itu
menurut Pramono, kepemimpinannya sebagai gubernur telah terbukti. Ia
juga membantah tudingan Oemarsono bukan kader banteng.

Pramono Anung: Yang pertama Omarsono kader partai karena mempunyai
kartu anggota lebih dari satu tahun yang lalu. Kemudian yang kedua
tentunya sesuai dengan SK yang dimiliki, DPP mempunyai kewenangan
untuk menentukan pilihan berdasarkan hasil repat kerja daerah khusus.

Sementara Alzier menurut Anung sebaiknya tak menjadi gubernur karena
ia masih diperlukan untuk memimpin Dewan Pimpinan Cabang PDI-P
Lampung Selatan. Pramono juga menambahkan pengurus pusat sedang
membahas dan mengawasi para anggota PDI-Perjuangan di Lampung yang
menolak keputusan ini. Jika terbukti melanggar disiplin partai mereka
akan diberi sanksi.

Tak pelak lagi, keputusan ini segera memunculkan pro kontra di
kalangan intern partai PDI-P. Alzier Dianis Thabranie calon gubernur
dari fraksi PDI-P dengan tegas menolak  keputusan Jakarta itu.
Apalagi kedua calon versi orang pusat ini, bukan kader partai
banteng.

Alzier Dianis Tabrani: Begini, saya tidak membangkang tapi kita
bicaranya kebenaran. Karena saudara Oemarsono calon dari Golkar waktu
jadi gubernur sedangkan wakilnya juga dari Golkar. Sedangkan kita kan
partai pemenang pemilu di Lampung ini. Ya kan kita harus merebut
kekuasaan sebagai kader partai. Sedangkan dalam juklak 198 sudah
dinyatakan bahwa diutamakan adalah kader partai. Hasil rakerda juga
diutamakan kader yang ada dalam struktural partai. Sedangkan saudara
Oemarsono belum pernah punya kontribusi terhadap partai. Dia juga
tidak ada komitmen dengan DPD-PDI-P

Alzier menilai dukungan pusat terhadap Oemarsono dan Syamsuri diduga
dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai motif jangka pendek dan
kepentingan pribadi. Apalagi menurut dia, selama Oemarsono  menjabat
gubernur banyak masalah daerah tak terselesaikan, termasuk  300 kasus
tanah yang masih menggantung.

Alzier tidak sendiri. Fraksi PDI-P di DPRD Lampung juga menolak
Oemarsono dan Syamsuri. Ketua Dewan Pimpinan Daerah PDI-P Lampung
Abas Hadi Sunyoto menyatakan di DPRD fraksinya akan tetap mencalonkan
Alzier dan Ansory, sesuai keinginan arus bawah.

Abas Hadi Sunyoto: Jadi kita mendengar suara dari bawah juga
mendengarkan, mengamankan instruksi ibu. Sebab ibu juga di Lampung
sudah empat kali SK-nya ternyata nggak menang. Setelah macam-macam
pertimbangan akhirnya menyimpulkan bahwa calon yang tepat dari kader
partai sendiri. Karena yang dicalonkan oleh Jakarta itu dua-duanya
Golkar. Sedangkan Golkar punya calon sendiri. Jadi harapan menangnya
dari mana gitu lho?

Oemarsono, sang calon gubernur pilihan pimpinan pusat, tak jauh
berbeda dengan Sutiyoso, gubenur Jakarta yang menurut kalangan
Lembaga Swadaya Masyarakat punya catatan buruk selama berkuasa. Tayar
Yusuf dari Lampung Parliament Watch, mengatakan tak banyak kemajuan
yang dibuat oleh Oemarsono.

Proses pemilihan gubernur Lampung mulai tidak sehat. Menghadapi hari
pemilihan 30 Desember mendatang, para anggota DPR sudah dikarantina
dengan alasan mencegah praktek suap. Tetapi menurut Tayar upaya itu
tak akan berarti. Dugaan politik uang dalam proses pemilihan gubernur
Lampung pun sudah mulai terlihat, meski sulit dibuktikan.

Namun, lepas dari soal suap dan buruknya prestasi Oemarsono, menurut
Tayar campur tangan DPP PDI Perjuangan ini membuat upaya
desentralisasi dan otonomi daerah mentah lagi.

Tayar Yusuf: Jadi orang tanda tanya besar kenapa kok DPP terlalu
campur tangan? Dilihat dari segi perundang-undangan, UU no 22 tahun
1999 tentang desentralisasi ini sudah menjadi sentralisasi. Jadi
sukar membedakan antara ketua DPP suatu partai dengan pemerintah
dalam hal ini presiden.

Tayar memperkirakan meski mendapat kritik, calon DPP Perjuangan
Oemarsono akan tetap melaju. Ini, demikian Tayar jelas mengecewakan,
bukan hanya terhadap kader PDI-Perjuangan tapi juga masyarakat
Lampung secara umum.

Rupanya partai banteng gemuk ini tak mau belajar dari pengalaman.
Kengototan Mega  mendukung Sutiyoso menjadi gubernur Jakarta kembali
telah menurunkan popularitas partai. Dan kini di Lampung PDI-P akan
kembali mencoreng wajahnya sendiri dengan mengkhianati keinginan
sebagian besar kadernya sendiri. Daerah mana lagi yang akan menjadi
sasaran DPP PDIP? Lalu bagaimana pula dengan taktiknya menghadapi
pemilu 2004?

Tim Liputan 68H Jakarta melaporkan untuk Radio Nederland di
Hilversum.




---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke