---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Jumat 03 Januari 2003 13:50 UTC



** PENGADILAN KASUS PEMBUNUHAN THEYS ELUAY DIMULAI

** DI FILIPINA BENGGOLAN GERAKAN PEMBERONTAK MUSLIM ABU SAYYAF
DITANGKAP

** KOREA UTARA BERSEDIA BERUNDING DENGAN AMERIKA SERIKAT

** TOPIK GEMA WARTA: DIALOG SEBAGAI JALAN KELUAR KRISIS KOREA UTARA

** TOPIK GEMA WARTA: GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI YANG MAKIN KAYA

** TOPIK GEMA WARTA: MAHKAMAH MILITER TINGGI SIDANGKAN KASUS
PEMBUNUHAN THEYS ELUAY



* PENGADILAN KASUS PEMBUNUHAN THEYS ELUAY DIMULAI

Di Indonesia dimulai proses pengadilan terhadap empat anggota TNI
dengan tuduhan membunuh Theys Eluay, pemimpin Gerakan Papua Merdeka.
Keempat tertuduh, salah seorang berpangkal Letnan Kolonel, adalah
anggota Kopassus. Mereka dihadapkan ke depan pengadilan militer di
Surabaya, dan bisa dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Theys yang
karismatis itu, dibunuh dua tahun lalu ketika ia diantar pulang ke
rumahnya, seusai makan malam bersama komandan Kopassus setempat.
Seorang pimpinan Papua menamakan proses pengadilan itu tidak lebih
dari sebuah sandiwara, karena para anggota TNI yang menjadi tertuduh
itu diadili oleh militer sendiri. Sumber lain menganggap pengadilan
tersebut sebagai upaya Jakarta untuk meninabobokkan provinsi yang
membangkang itu.


* DI FILIPINA BENGGOLAN  PEMBERONTAK MUSLIM ABU SAYYAF DITANGKAP

Di Filipina seorang yang diduga benggolan pemberontak muslim Abu
Sayyaf ditangkap. Menurut pihak otorita militer benggolan tersebut
adalah Merang Abante, seorang komandan gerakan muslim di Pulau
Basilan. Terdapat imbalan hadiah 20.000 euro untuk kepala orang
tersebut. Merang Abante ditangkap di Zamboaga, 900 kilometer sebelah
Selatan ibukota Manila. Gerakan pemberontak muslim Abu Sayyaf dikenal
karena penculikan-penculikan yang mereka lakukan terhadap orang asing
dan warga Filipina. Karenya gerakan tersebut diduga punya hubungan
dengan gerakan teror Al-Qaeda.


* KOREA UTARA BERSEDIA BERUNDING DENGAN AMERIKA SERIKAT

Korea Utara bersedia memulai perundingan dengan Amerika Serikat.
Demikian dinyatakan Duta Besar Korea Utara di Cina. Pihak Korea Utara
bersedia berunding tanpa persyaratan. Ia juga menyatakan, negaranya
setuju dengan perantara pihak ketiga, yang selama ini ditolak oleh
Pyongyang. Amerika Serikat sebelumnya mengatakan, menolak perundingan
langsung. Menurut Washington, itulah ganjaran bagi sikap yang buruk.
Hubungan antara Korea Utara dan Amerika Serikat kian memburuk,
setelah Korea bulan lalu mencopoti peralatan-peralatan  pengamat
milik PBB di reaktor nuklirnya. Para inspektur PBB juga diusir dari
negeri itu. Pyongyang berencana membuka kembali reaktor nuklirnya,
yang ditutup sejak dicapainya kesepakatan dengan Washington di tahun
1994.


* 19 WARTAWAN TERBUNUH DI TAHUN 2002

Di tahun lalu sebanyak 19 wartawan terbunuh ketika sedang melakukan
pekerjaannya, yang berarti separoh dari jumlah korban di tahun 2001.
Bahkan jumlah yang paling kecil , sejak CPJ atau Comittee to Protect
Journalists di tahun 1985 mulai memantau jumlah pembunuhan terhadap
para reporter. Menurut organisasi tersebut, penuruan jumlah korban
itu sebagai akibat pembunuhan terhadap wartawan Amerika, Daniel
Pearl, di Pakistan tahun lalu. Sejak pembunuhan itu banyak
organisai-organisasi pemberitaan yang mencurahkan perhatian terhadap
keamanan para reporternya. CPJ menyebut Rusia dan Colombia sebagai
negara-negara yang sangat berbahaya bagi para wartawan.


* OPOSISI VENEZUELA LANCARKAN BOIKOT PAJAK

Kaum oposisi di Venezuela setelah melangsungkan pemogokan di sektor
minyak selama empat pekan, kini juga menyatakan melakukan boikot
pajak, untuk memaksa Presiden Hugo Chavez turun. Pemimpin Serikat
Buruh, Carlos Ortega berseru kepada penduduk untuk tidak lagi
membayar pajak. Oposisi yang terdiri dari baik serikat-serikat buruh
maupun majikan, menuntut Chavez lengser, karena antara lain, ia tidak
mampu mengatasi krisis ekonomi. Chavez menolak untuk lengser. Kamis
kemarin, di Brasilia ia melakukan perundingan dengan Presiden Luiz
Inacio Lula da Silva yang baru disumpah. Ia meminta Lula agar
mengirimkan teknisi Brasilia, untuk mematahkan pemogokan di sektor
industri minyak Venezuela. Para buruh perusahaan minyak Brasilia,
Petrobras, harus menggantikan pekerjaan para pemogok di Venezuela.
Belum jelas apakah Brasilia akan menyetujuinya. Jum'at hari ini
berlangsung lagi demo massal menentang Chavez.


* PULAU MOTA LAVA JUGA DILANDA TOFAN ZOE

Tofan Zoe yang pekan lalu melanda dua pulau di kepulauan Salomon,
ternyata juga menghancurkan pulau ketiga Samodra Pasifik. Palau
tersebut adalah Mota Lava yang terletak 200 kilometer sebelah
Barat-daya Pulau Tikopia yang hancur pekan lalu. Dari sekitar 1000
jiwa  penduduk Mota Lava, sampai sekarang belum dijumpai tanda-tanda
masih hidup. Angkatan Laut Prancis mengirim helikopter pengintai ke
kawasan itu. Tentang keadaan di Kepulauan Salomon, yakni Tikopia dan
Anuta yang dihuni 3.000  jiwa juga masih belum jelas. Dikhawatirkan
banyak penduduk yang dilanda gelombang besar tewas tertimopa
puing-puing atau hanyut ke laut. Dari pengamatan udara pertama tampak
kampung-kampung yang tersapu habis. Jum'at hari ini kapal pertama
dengan bahan bantuan dan pekerja pertolongan baru berangkat ke
kepulauan yang dilanda bencana itu.


* Normal;heading 1;
TOPIK GEMA WARTA:  KECURANGAN DALAM PEMBUKUAN PERUSAHAAN BUKAN
FENOMENA BARU


KECURANGAN DALAM PEMBUKUAN PERUSAHAAN BUKAN FENOMENA BARU


Kecurangan pembukuan perusahaan nampaknya sesuatu yang baru dilakukan
akhir-akhir ini. Para manajer mengacaukan angka-angka perusahaan,
sementara terus memperkaya diri sendiri. Krisis di bursa efek akibat
skandal perusahaan raksasa Enron dan WorldCom serta sejumlah besar
krisis lain menimbulkan banyak heboh satu setengah tahun belakangan.
Belanda misalnya dilanda skandal World Online dan Newconomy.
Sementara itu para investor pemilik saham menghadapi masalah
ketidakpercayaan. Namun menurut pakar ekonomi Paul Frentrop semua ini
bukan hal baru. Lebih lanjut laporan redaktur ekonomi Wendy Braanker.


Paul Frentrop melakukan penelitian pada bursa saham dan perusahaan,
direksi perusahaan serta pengawasan terhadap mereka. Frentop
menyimpulkan bahwa kecurangan yang dialami para pemegang saham
merupakan hal aktual sebagai akibat berbagai skandal, seperti yang
melanda konglomerat-konglomerat Enron dan Worldcom. Tapi ini bukan
fenomena baru. Kecurangan pembukuan serta penipuan para pemegang
saham sudah lama dilakukan. Semua ini berawal ketika kompeni dagang
Belanda VOC sebagai perusahaan pertama tercatat di bursa saham tahun
1602.

Terjemahan Paul Frentrop: Ini sudah terlihat sejak dulu, sejak
perusahaan mulai mendaftarkan diri di bursa saham. Pada saat itu
pemegang saham sudah mengambil jarak dari manajemen. Dalam
penelitian, saya menemukan beberapa contoh menarik. Awalnya Kompeni
Dagang Belanda VOC, di mana para investor mengajukan pertanyaan yang
sama tentang korupsi, kekurangan informasi, kecurangan pembukuan,
manajer yang berupaya mencari keuntungan untuk diri sendiri, seperti
yang juga dapat dilihat sekarang.

VOC mendaftarkan diri di bursa saham Amsterdam padas tahun 1602.
Kepada para pemegang saham dijanjikan dividen yaitu bunga atas saham
mereka, sedangkan pembukuan akan diumumkan dalam 10 tahun berikut.
Namun semua ini tidak terjadi sehingga para pemegang saham sangat
marah.  Selain itu mereka melihat bahwa direksi semakin kaya. Awalnya
perlawanan para pemegang saham tidak membuahkan hasil. Namun ketika
diperlukan lebih banyak dana lagi, kali ini untuk kompeni Hindia
Barat, keinginan para pemegang saham yang marah terpenuhi. Paling
tidak dalam satu hal, mereka kini mendapatkan dividen. Namun
penyediaan informasi tetap tidak memadai. Lebih lanjut Paul Frentrop.

Terjemahan Paul Frentrop: Mereka diberi beberapa hak, misalnya hak
memeriksa tata buku. Tapi apa yang terjadi dalam kasus Enron,
surat-surat yang hilang di tempat sampah, ini juga terjadi dengan VOC
pada tahun 1622. Ketika para pemegang saham diperbolehkan masuk ke
kamar di mana disimpan surat-surat perusahaan, tampaknya semua surat
sudah hilang.

Pengaruh para pemegang saham tetap kecil. Pada waktu itu, mereka
meminta supaya penyediaan informasi diperbaiki. Selain itu mereka
juga menuntut hak untuk mengangkat manajer serta kemungkinan
menyesuaikan gaji manajer. Sampai sekarang hal ini masih tetap
merupakan bahan diskusi. Kasus skandal keuangan yang belakangan
paling menimbulkan kehebohan adalah kasus Enron, di mana informasi
penting hilang di tempat sampah. Sementara para pemegang saham dan
karyawan perusahaan energi tersebut belum mengetahui bahwa perusahaan
mereka mendekati ambang kebangkrutan, manajemen berupaya
menyelamatkan diri.

Hal seperti ini bisa terjadi karena para pemegang saham tidak bisa
mengawasi manajemen, tegas Frentrop. Sejarah selama empat abad
menunjukkan bahwa pengawasan terhadap direksi serta perusahaan yang
tercatat di bursa saham selalu gagal. Sejak krisis VOC sampai kasus
Enron, terdapat banyak krisis bursa lainnya. Krisis bursa 1929 adalah
contoh yang paling dikenal.

Semua ini harus berubah, tandas Frentrop. Sangat penting bahwa
pemegang saham diberi kekuasaan lebih banyak. Tapi ini bukan berarti
mereka harus mengambil alih tugas direksi.


Terjemahan Paul Frentrop: Direksi harus berupaya supaya perusahaan
memperoleh laba. Ini adalah tugas mereka sebagai pengelola uang orang
lain. Pertama mereka harus mendapatkan dividen cukup besar dari
perusahaan. Ini yang seringkali dilupakan dalam bursa saham. Tapi ini
adalah tugas utama mereka.


25 tahun belakangan dana pensiun, maskapai asuransi dan investor
profesional lainnya menjadi pemain penting di bursa saham. Ini
berdampak positif, karena sebagai pemain besar, mereka bisa lebih
kuat serta bisa mendukung kepentingan para pemegang saham.  Frentrop
juga menganggap positip kedatangan para pemegang saham profesional,
hanya saja mereka harus melakukan tugas mereka.

Para pemegang saham profesional harus lebih menggunakan pengaruhnya
supaya mendapatkan hak mereka. Kalau perlu pemerintah juga harus
menyusun peraturan baru. Demikian tandas Frentrop. Yang jelas adalah
ketidakpercayaan pemegang saham terhadap perusahaan yang tercatat
dalam bursa efek harus diselesaikan. Kalau tidak maka ini bisa
berdampak negatip bagi perusahaan. Kelangsungan hidup
perusahaan-perusahaan itu tidaklah ada dengan sendirinya.

Terjemahan Paul Frentrop: Menurut saya perusahaan yang tercatat di
bursa saham, sebagai sebuah organisasi tidak bisa bertahan, apabila
tidak diambil tindakan. Kalau tidak seorang pun memantau apa yang
dibuat kaum manajer, maka organisasi itu tidak bertahan.

Demikian pakar sejarah saham Paul Frentrop.


* DIALOG SEBAGAI JALAN KELUAR KRISIS KOREA UTARA


Korea Utara menyatakan bersedia berdialog apabila tidak ditetapkan
syarat tambahan. Untuk mengajak Amerika Serikat ke meja perundingan,
Pyongyang siap berbicara dulu dengan pihak penengah. Cina telah
menyediakan diri menjadi penengah. Lebih lanjut laporan redaktur Asia
Ellen van Dalen.

Keinginan Cina bertindak sebagai penengah sebetulnya tidak
mengherankan. Negeri ini telah bertahun-tahun ingin berperan sebagai
pemimpin di kawasan. Selain itu situasi kondusif di Korea Utara
sangat penting bagi Beijing. Cina mengalami pertumbuhan ekonomi yang
pesat. Karena itu ketenangan di kawasan sangat diutamakan. Ketegangan
di Korea Utara bisa memicu arus pengungsi ke Cina. Sejauh ini Cina
telah menampung sedikitnya 300 ribu pengungsi Korea Utara.

Tugas utama Cina adalah meyakinkan  pemimpin di Pyongyang supaya
tidak mengaktifkan kembali pusat tenaga nuklir yang telah ditutup.
Selain itu Beijing juga mendesak mereka melanjutkan kembali dialog
dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan. Perundingan antara
negeri-negeri ini mandeg sejak Pyongyang mengusir tim Lembaga Atom
Internsional, IAEA dan memutuskan untuk mengaktifkan kembali pusat
tenaga nuklir. Dengan demikian Korea Utara melanggar kesepakatan
tentang pengembangan nuklir.

Korea Utara telah mengetahui betul syarat-syarat yang akan diajukan
Cina. Tapi para pemimpin di Pyongyang tampaknya tidak akan menggubris
hal itu. Mereka seolah-olah tidak sadar bahwa negeri mereka semakin
terisolir. Peran Cina sebagai penengah tampaknya terbatas dan
Presiden Cina Jiang Zemin menyadari misinya membawa resiko.

Sejauh mana Cina bisa meningkatkan tekanan politik dan ekonomi
terhadap Korea Utara? Presiden Korea Utara Kim Jung-Il dikenal cepat
berubah pikiran dan tidak berpendirian tetap. Tekanan terlalu kuat
bisa saja memicu tindakan-tindakan yang tidak diduga, yang bisa
mempermalukan  Cina.

Cina mengetahui betul sifat tidak tentu Kim Jung-Il itu. Salah satu
contoh adalah kesepakatan perdagangan antara warga Cina Belanda Yang
Bin dengan Korea Utara akhir tahun lalu. Yang Bin diangkat sebagai
gubernur baru zona dagang bebas ekonomi di Korea Utara. Kesepakatan
kontroversial ini tidak dibahas dulu dengan Beijing. Ini sangat
menjengkelkan kaum pemimpin politik Cina. Mereka akhirnya
mengungkapkan rasa frustrasi mereka dengan menangkap Yang Bin atas
tuduhan menghindari  bayar pajak.

Sementara itu langkah diplomasi yang digulirkan Korea Selatan mulai
membuahkan hasil. Karena selain Cina, Rusia akhir pekan ini juga
diminta untuk menengahi. Sebelumnya Moskow juga sudah menyatakan
dukungannya pada pemecahan damai.

Rabu silam Presiden Amerika Serikat, George W. Bush juga menyatakan
lebih memilih jalur itu. Bush mengundang Jepang dan Korea Selatan
datang ke Washington, Senin dan Selasa depan membicarkan krisis ini.
Pertemuan ini akan berlangsung beberapa hari sebelum wakil menteri
Luar Negeri, James Kelly bertolak ke kawasan. Selanjutnya Presiden
Bush juga menjamin tidak akan menghentikan bantuan kemanusiaan untuk
Korea Utara.

Korea Utara bersedia untuk dialog, tetapi dengan syarat Amerika
Serikat menjamin keamanan. Atau dengan kata lain Pyongyang
menghendaki agar dialog tidak dibarengi dengan ancaman militer
seperti yang terjadi di Irak. Di samping itu Pyongyang juga
menekankan hanya bersedia berbicara dengan negara-negara penengah
bila terbuka peluang Amerika juga bersedia berunding.

"Apabila kemungkinan itu sudah tertutup, maka pihak mediator lebih
baik diam saja" demikian pernyataan pers Pyongyang.


* GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI YANG MAKIN KAYA

Anda ingin dengan gampang beli rumah sekaligus mobil seharga ratusan
juta rupiah setiap saat? Jadilah gubernur Jakarta atau wakilnya. Coba
anda lihat isi kocek Sutiyoso dan Fauzi Bowo, gubernur dan wakil
gubernur DKI Jakarta. Jumlah anggaran untuk gaji dan tunjangan yang
diajukan Sutiyoso untuk masa kerja tahun ini, besarnya mencapai Rp
9,48 miliar. Sementara Fauzi Bowo menyodorkan angka Rp 6,11 miliar.

Sekilas, dibanding tahun lalu, usulan anggaran untuk wakil gubernur
memang turun. Namun, tunggu dulu. Nilai total fasilitas yang bakal
dinikmatinya justru meningkat dibanding pejabat wakil gubernur
sebelumnya. Dalam usulan anggaran kali ini ada tambahan pos
pengeluaran yang dulu telah dihapus. Pos tersebut adalah dana taktis.
Bedanya, istilah taktis kini diganti dengan 'kegiatan gubernur untuk
pemerintahan dan kemasyarakatan'. Total dana taktis yang bisa
digunakan sewaktu-waktu itu sangat mencolok. Untuk gubenur disediakan
sebesar Rp 3,33 miliar. Sedang sang wakil gubernur Rp 2,83 miliar.
Untuk catatan saja, tahun lalu Komisi Pemeriksa Kekayaan
Penyelenggara Negara (KPKPN) mencatat gubernur DKI Jakarta memperoleh
pendapatan rata-rata Rp 200 juta per bulan.

Menanggapi angka fantastis ini juru bicara pemerintah DKI Jakarta
Muhayat segera berkilah. Menurut dia, uang itu tidak semuanya
dinikmati sang gubernur.

Muhayat: Isinya bukan gaji dan honor ya. Tapi itu menyangkut berbagai
kegiatan, antara lain bantuan untuk organisasi profesi, organisasi
kemasyarakatan lainnya dan sumbangan-sumbangan tempat-tempat
peribadatan serta jamuan untuk tamu-tamu pemerintan daerah. Ini semua
tertampung ke dalam anggaran kepala daerah.

Anehnya, DPRD Jakarta tidak menganggap serius masalah ini. Anggota
Komisi A dari Fraksi Partai Keadilan DPRD Jakarta Abdul Azis Matnur
mengatakan ia tidak mempermasalahkan soal besarnya angka itu.

Abdul Aziz Matnur: Tapi yang paling penting apakah betul besaran itu
memang dibutuhkan oleh seorang lembaga gubernur dan wakil gubernur?
Soalnya kita lihat wakil gubernur ketika  jumlahnya empat itu sama
dengan satu wakil gubernur. Itukan perlu diperhatikan juga masa iya
jumlahnya sama? Dari dulu kita tidak memasalahkan besarnya tapi betul
tidak sebesar itukah kebutuhannya?

Rancangan angggaran pendapatan dan belanja DKI Jakarta akan dibahas
DPRD awal Januari ini. Ada kemungkinan anggaran yang diajukan gubenur
dikurangi.

Namun, pengalaman yang sudah-sudah membuktikan, dewan tak pernah
berani mengurangi. Menurut Azas Tigor Nainggolan, dari Forum Warga
Kota Jakarta, kalau pun ada pengurangan, paling angkanya kecil dan
sangat tidak berarti. Sebab, pada saat yang bersamaan DPRD juga
mengajukan anggaran yang tak kalah besarnya. Jadi bagi Nainggolan
sulit diharapkan wakil rakyat yang terhormat itu bisa kritis terhadap
pemerintah Jakarta. Khususnya terhadap sang gubernur dan wakilnya.

Azas Tigor Nainggolan: Sudah tiga tahun ini terjadi kolusi antara
elit kota pemda dan DPRD. Dan persoalan yang lebih utama lagi adalah
anggaran DPRD juga anggaran yang dibuat oleh pemda. Sehingga kalau
dia bertindak krtitis dengan RAPBD oleh pemda, anggota DPRDnya juga
takut anggarannya dipotong oleh pemda. Sedangkan kita tahu APBD
itukan uangnya masyarakat, ya?

Menurut catatan Forum Warga Kota Jakarta, Sutiyoso juga tak hanya
secara resmi merogoh kocek dana masyarakat yang ada di anggaran
daerah. Tahun lalu, menurut Nainggolan, Sutiyoso bisa mengantongi
uang Rp 2 miliar lebih. Duit sebesar ini didapat Sutiyoso dari
berbagai sumber, termasuk yang disebut sebagai setoran kegiatan
bisnis ilegal, atau para pengusaha hiburan malam.

Padahal, masih dari catatan Nainggolan, bagi gubernur ibukota sudah
disediakan fasilitas rumah dan lebih dari tiga buah mobil dinas.
Dengan memasukkan segala fasilitas yang diterimanya, menurut
Nainggolan, idealnya gubernur Jakarta cukup memperoleh seperempat
dari keseluruhan dana yang diterimanya. Ini sudah termasuk gaji dan
tunjangan lainnya.

Maka di sini kita melihat gambaran yang menarik. Terutama kalau kita
membandingkan limpahan dana dan fasilitas yang mereka terima dengan
nasib korban kebijakan mereka menggusur masyarakat miskin di Jakarta
yang berjumlah 60-70% dari penduduk Jakarta. Belum lagi kalau kita
membalik-balik sejumlah cacatan kegagagalan pemerintah daerah dalam
menangani banjir dan melayani publik.

Itu untuk dalam negeri. Karena gaji seorang perdana menteri Belanda
tidak sampai separuh Rp. 200 juta yang diterima gubernur Jakarta per
bulannya. Maklum perdana menteri Belanda hanya memperoleh Rp. 97,6
juta per bulannya. Itu pun masih harus dipotong pajak. Jakarta memang
kota dengan segala kemungkinan yang jarang ada di negeri lain.

Tim liputan 68H Jakarta melaporkan untuk Radio Nederland di
Hilversum.


* MAHKAMAH TINGGI MILITER TINGGI SIDANGKAN KASUS PEMBUNUHAN THEYS
ELUAY


Hari Jum'at ini di Surabaya dibuka sidang kasus pembunuhan Ketua
Dewan Presidium Dewan Papua, Theys Hiyo Eluay di Mahkamah Militer
Tinggi III. Pada sidang pertama ini Ouditur membacakan dakwaan
terhadap tujuh orang terdakwa. Radio Nederland menghubungi Teguh Ardi
Srianto reporter Radio Suara Surabaya yang mengikuti jalannya sidang.

Teguh Ardi Srianto [TS] : Sidang diawali dengan penghormatan dulu ke
majelis kemudian tadi majelis juga minta ke para terdakwa, tujuh
terdakwa tapi dipisah menjadi dua persidangan, jadi dalam persidangan
pertama ada empat terdakwa yang diajukan terlebih dahulu mereka di
antaranya Letkol (Inf) Hartomo kemudian Kapten (Inf) Reonardo, Sertu
Asrial dan juga Ahmad Zulfahmi yang disidang dalam sidang perdana.

Empat orang ini mereka tadi diminta untuk melepaskan bintang tanda
jasanya yang kebetulan masih dikenakan waktu akan mengikuti sidang.
Ini mendapat protes, permintaan majelis ini oleh penasihat hukum
keempat terdakwa, Ruhut Sitompul tadi memprotes kalau permintaan
Majelis Hakim ini keterlaluan karena selama ini baik di Mahkamah
Militer biasa maupun di Pengadilan HAM, permintaan untuk melepas
tanda jasa ini tidak pernah dilakukan oleh majelis hakim dan baru
kali ini yang dilakukan mejelis hakim ke para terdakwa.

Sidang tadi sempat diskors sekitar pukul 12 siang, sidang dihentikan
sebentar untuk melaksanakan sholat Jum'at dan sesudahnya sekitar
pukul 14 siang dilanjutkan kembali dengan pembacaan dakwaan untuk
tiga terdakwa lainnya. Diantaranya Mayor (Inf) Doni Hutabarat
kemudian Lettu Agus Suprianto dan Sertu Laurensius yang menjadi
terdakwa dalam kasus yang sama tentang pembunuhan Theys Hiyo Eluay.

Sidang ke dua tadi ini sama intinya pelaksanaanya dengan sidang yang
pertama dan untuk dakwaannya mereka semua sama dikenakan pasal 338
KUHP tentang pembunuhan dan 351 KUHP tentang penganiayaan yang
mengakibatkan tewasnya orang lain. Sementara untuk khusus Letkol Inf.
Hartomo ini dakwaanya agak beda karena Hartomo ini dianggap tidak
secara langsung melakukan pembunuhan tetapi hanya turut serta dan
memerintahkan saja. Sehingga dikenakan pasal 351 KUHP dan yunto pasal
55 KUHP.

Radio Nederland [RN] : Tujuan memisah sidang menjadi dua itu apa?

TS : Memang untuk memudahkan penyidikan atau proses penyidikan
nantinya di awal persidangan maupun nanti setelah persidangan akan
berakhir. Jadi tidak ada istilahnya keistimewaan tersendiri, tidak.
Ini hanya masalah teknis dalam peradilan saja.

RN : Lalu siapa saja yang menghadiri sidang ini?

TS : Terbanyak yang hadir anggota dari kesatuan mereka dari Kopassus,
dan juga dari beberapa anggota di Danrem 083 di Surabaya dan juga
beberapa pimpinan dari TNI di Surabaya juga. Yang terbanyak memang
wartawan, khusus untuk masyarakat sipil saya lihat juga tidak banyak
yang memantau sidang ini.

RN : Apakah ada juga tahu apa ada yang hadir dari pihak Papua
sendiri?

TS : Dari pihak Papua tidak ada sama sekali, jadi tadiusecara khusus
memang tidak saya tanyakan ke pihak penasihat hukum dari terdakwa dan
juga dari penuntut atau Ouditur Militer kenapa pihak dari Papua
sendiri tidak menghadiri atau menyaksikan sidang yang dilakukan di
Mahmilti III Surabaya ini pak.

RN : Sidang akan dilanjutkan kapan ini?

TS : Untuk sidang akan dilanjutkan Jum'at minggu depan dengan
pembacaan eksepsi atau tanggapan atas dakwaan dari Ouditur Militer
oleh penasihat hukum terdakwa.


Demikian Teguh Ardi Srianto reporter Radio Suara Surabaya. Selama ini
aktivis hak-hak asasi manusia selalu mengatakan bahwa tentara
Indonesia menikmati apa yang disebut impunity yaitu kekebalan hukum.
Mereka tidak pernah harus mempertanggungjawabkan pelbagai tindak
pelanggaran hak-hak asasi manusia di depan pengadilan. Apakah dengan
pengadilan di Surabaya ini, masalah impunity sudah mulai diatasi?
Radio Nederland menghubungi pengamat politik militer Dr. Salim Said
di Jakarta:


Salim Said [SS]: Sebenarnya, dari dulu pun, persoalan itu adalah
gradasi saja. Yang saya ingin katakan adalah, kenyataan bahwa tidak
terlalu mudah mengadili militer di Indonesia sejak reformasi adalah
akibat dari lemahnya otoritas sipil. Sehingga tidak selalu mudah bagi
otoritas sipil lewat pengadilankah, lewat kejaksaankah, untuk membawa
tentara-tentara, perwira-perwira itu ke pengadilan. Itu persoalannya.



Nah, kecuali kalau kasusnya jelas sekali, tidak mungkin tidak dibawa
ke pengadilan. Sebab yang diributkan orang soal impunity ini kan
hal-hal yang tidak terlalu jelas. Misalnya kasus Semanggi, kasus
Trisaksi, itu kan tidak jelas betul. Artinya, misalnya kasus
Trisakti, siapa sebenarnya yang harus diadili?


RN:Maksudnya belum jelas apakah ada kemungkinan bahwa peluru yang
ditembakkan di Semanggi mau pun Trisakti bukan milik tentara?


SS:Ya, itulah pikiran yang berkembang. Mestinya kalau pihak otoritas
sipil cukup kuat, cukup yakin akan dirinya menghadapi alat negara,
terutama tentara, itu semua kan bisa diselesaikan. Apakah itu
menggunakan penelitian balistik, menggunakan kesaksian-kesaksian.


Nah ini yang enggak pernah jelas, karena kekuatan, keberanian
otoritas sipil itu kurang. Lah, akibatnya lalu orang berkesimpulan
bahwa ini tentara mengalami impunity, begitu.


RN: Yang juga menarik dari pengadilan di Surabaya dan juga
pengadilan-pengadilan terhadap militer yang lainnya, dan ini selalu
dikeluhkan oleh kalangan pembela hak-hak asasi manusia, adalah bahwa
selalu yang diadili itu kroco-kroconya, prajurit kelas rendahnya.
Sementara jenderal-jenderalnya tersentuh oleh aparat kehakiman pun
tidak pernah. Dan ini kembali terbukti di Surabaya. Karena paling
tinggi yang diadili Jum'at ini adalah seorang letnan kolonel.
Bagaimana ini?


SS: Dalam rangka itu pertanyaannya adalah, mungkinkah orang-orang
bawah itu bertindak tanpa sepengetahuan atasannya. Nah, ini kan
mustinya otoritas sipil menanyai atasan. Bagaimana ini terjadi?


Nah, sebagai seorang peneliti politik militer, saya mendapat kesan
sangat kuat bahwa otoritas sipil tidak mengerti persoalan-persoalan
itu, dan lagi pula juga tidak punya keberanian untuk mengejar
soal-soal ini. Sehingga kita banyak tergantung kepada bagaimana
tentara mengirimkan orang  yang harus diadili.


RN: Masalahnya begini, bung Salim Said, apakah menurut Anda tentara
sendiri tidak merasa jemu, jera menghadapi pelbagai macam tuduhan
yang diarahkan terhadapnya?


SS: Ya, itulah persoalannya. Jadi setiap ada kejadian mereka
dicurigai, mereka dituduh dan sebagainya, dan sebagainya. Nah ini
juga mempunyai dampak psikologis di kalangan militer untuk membela
diri, mempertahankan diri. Suatu hal yang bisa kita mengerti.


Persoalannya harus ada otoritas sipil yang kuat yang memaksakan
kepada tentara untuk maju ke pengadilan kalau cukup alasan untuk itu.
Nah, pemerintah sipil kita sekarang ini berada dalam posisi yang
lemah dan tidak mempunyai cukup pengetahuan untuk mengurus tentara.
Itu persoalannya.


RN: Tapi tentara kan sudah mendominasi politik Indonesia paling
sedikit selama 32 tahun kekuasaan Soeharto. Apakah sipil dalam
situasi itu menurut Anda bisa tampil begitu saja?


SS: Mestinya bisa. Harus bisa. Orang dia dipilih rakyat. Apakah dia
mesti menunggu petunjuk dari rakyat? Mestinya kan setelah dia dipilih
orang rakyat, baik duduk di DPR mau pun di pemerintahan, dia harus
tahu apa yang harus dikerjakan. Sebagai anggota DPR, atau sebagai
pemerintah. Mereka harus tahu bagaimana mengontrol tentara. Nah ini
yang kita tidak lihat.


RN: Tapi kalangan lain juga bisa mengatakan, seperti misalnya
pengalaman di Amerika Latin, ya, itu suatu hal yang tidak mungkin
untuk mengharapkan sipil langsung bisa menundukan tentara gitu?


SS: Itu kan tergantung kondisi negara masing-masing. Nah kalau
kondisi ini kan berkorelasi dengan waktu dan kesempatan. Artinya,
akhirnya, kalau mau demokrasi, tentara harus depolitisasi dan
dikontrol otoritas sipil. Tergantung kekuatan-kekuatan apa yang ada
pada tangan otoritas sipil untuk mengatasi itu.


Ambil contoh misalnya, soal bisnis militer. Selama bisnis militer itu
ada, selama itu pula kontrol otoritas sipil kepada tentara tidak bisa
100%. Bagaimana bisa mengkontrol orang yang tidak seluruhnya
dibiayai. Nah, mestinya harus ada agenda pada pemerintah sipil.
Berapa lama bisnis itu dipertahankan untuk kemudian dihapuskan.


Nah, ini yang saya takut. Tidak ada gambaran yang jelas pada otoritas
sipil. Sehingga cerita tentang reformasi tidak ketahuan
juntrungannya.


RN: Anda nampaknya tidak menaruh harapan pada pemerintahan sipil di
Indonesia ini?


SS: Saya tidak mengatakan saya tidak menaruh harapan.  Anda jangan
berpikir melompat. Saya hanya menggambarkan, begitu. Nah kalau kita
mempunyai gambaran yang jelas, kita kan melihat bagian mana dari
gambar itu yang bolong-bolong. Bagian mana yang kabur, supaya kita
tahu bagian mana yang diperbaiki. Supaya gambar itu bisa dilihat
dengan baik.


RN: Lalu Anda tadi juga sudah menyebut adanya kasus-kasus yang tidak
jelas, dan yang Anda maksud sebagai kasus yang tidak jelas itu,
tampaknya merupakan masa lampau militer Indonesia. Jelas masa lampau
ini menghantui sekali militer Indonesia. Menurut Anda apakah mereka
sadar bahwa militer ini harus belajar dari masa lampau?


SS: Ini tidak penting. Pertanyaan Anda tidak relevan. Yang relevan
adalah otoritas sipil, yang dipilih oleh rakyat, harus memaksakan itu
kepada tentara. Karena tentara adalah aparat negara. Tentu saja kita
harus sadar, kita semua tahu seperti cerita Anda mengenai Amerika
Latin, itu tidak bisa seperti balik tangan. Memerlukan waktu. Mungkin
satu generasi. Tapi kan harus jelas, ada kekuatan otoritas sipil yang
kuat, yang punya rencana dan melaksanakan rencana itu.


Saya cemas sekarang keadaan seperti itu tidak ada. Sehingga sulit
kita bicara tentang reformasi ke arah membawa tentara tunduk kepada
kekuatan sipil sebagaimana yang dipersyaratkan dalam negeri
demokratis.


RN: Dengan demikian menurut Anda sipil harus memaksa tentara untuk
belajar dari masa lampaunya, begitu maksudnya?


SS: Mestinya begitu. Di mana-mana pun negeri demokratis begitu.
Sekali lagi saya ingin mengatakan kepada Anda, saya juga tidak
bermimpi itu terjadi dalam satu tahun. Tetapi paling tidak kita harus
melihat ada langkah ke arah itu.


Demikian pengamat militer Dr. Salim Said. Dan sebelumnya ada juga
mendengar Teguh Ardi Srianto dari Radio Suara Surabaya.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke