From: "albert medyanto"
Sent: Wednesday, October 07, 2009 10:24 AM
Subject: Evaluasi Keuskupan Padang tentang Akibat Gempa
Rekan,
Mungkin ada yang sudah pernah membaca surat ini. Tapi... baiklah kita baca dan
renungkan sekali lagi..
Salam,
medyanto
========================
Evaluasi Keuskupan Padang tentang Akibat Gempa
Padang , 3 Oktober 2009
Car. Mgr. dan Saudara/i terkasih,
Terimakasih atas perhatian dan dukungan dalam aneka bentuk dan cara kepada
korban gempa tgl. 30 September 2009.
Tgl. 2 Oktober 2009
jam 22.00 saya masuk kota dari bandara, terlambat 4.5 jam dari Medan
dan langsung keliling sebelum ke rumah untuk mendapat sedikit gambaran
keadaan. Padang praktis gelap gulita, kecuali di rumah atau gedung
dimana ada genset.
Sesudah melihat dari amat dekat dan berulang-ulang beberapa tempat, dapat saya
sampaikan sbb.:
1. Ada solidaritas
dalam kerpihatinan akibat gempa ini, yang menelan korban manusia dan
materi yang amat besar. Setiap kali melihat reruntuhan, yang lama dan
yang baru, selalu terasa menyesakkan.. Banyak dan besar kerusakan. Di
banyak tempat nampak alat berat untuk evakuasi korban dan orang
perorangan mengurus reruntuhan rumahnya sambil menyelamatkan miliknya.
Banyak posko, tidak
sedikit dapur umum tetapi tidak nampak ada "kemelaratan" dan
penderitaan, tidak banyak tenda-tenda darurat di Padang, Orang rupanya
cepat diakomodasi di rumah keluarga atau kenalan.
Banyak posko dari
berbagai kelompok, dari kota Padang sendiri dan dari Jakarta dan kota
lain. Bekerjasama dengan organisasi dan kelompok masyarakat setempat.
Dapur-dapur umum dan posko-posko nampaknya berkelimpahan bahan makanan dan
minuman dasar.
1. Di lingkungan umat
Katolik ada data sementara pemakaman "masal" 20 jenazah dan kemudian 10
dan 10 pada tgl 2 dan 3 Oktober. Ada kesibukan luar biasa. Yang luka
dan butuh perawatan dirawat di RS Yos Sudarso atau lainnya. Di sana
banyak pasien dari tempat lain karena operasi selama 2 hari dijalankan
di sana karena RS M Jamil, RS Pusat Daerah lumpuh. Banyak bantuan
medis, baik personel maupun peralatan dan obat-obat-obatan. Dan masih
akan datang.
2. Keuskupan bekerja secara organisatoris dan koordinatif melalui
Karina/Caritas. Sudah ada rekan-rekan dari berbagai lembaga
internasional dan nasional yang bergabung. Penilaian dan pemetaan
sedang dikerjakan, mau fokus di bidang apa dan dimana dan bagaimana
pembagian kerja di antaranya bersama dengan relawan yang terus datang,
yang pasti adalah untuk karya dan pelayanan kemanusiaan lintas batas
apa pun. Koordinasi dengan Basarnas dan Satkorlak juga ada.
3. Kondisi beberapa fasilitas di lingkungan Gereja/Keuskupan:
4.1.Gereja
Katedral: roboh dinding pengimaman dan runtuh bagian di atas altar,
sehingga sekarang terbuka. Misa Minggu, 3-4 Oktober sudah harus dilaksanakan
di halaman samping, di ruang terbuka. Sedang dinilai apakah masih dapat
direhab atau secara konstruksi sudah tidak layak lagi.
4.2.Pastoran (dua lantai): rusak
berat. Bagian belakang jatuh dan runtuh menimpa beberapa kendaraan.
Bagian lain di depan dan secretariat serta ruang-ruang bicara diragukan
masih akan dapat dipugar.
4.3.Rumah
Retret Puri Dharma (3 lantai): seluruh bagian belakang dari atas ke
bawah runtuh dan rebah, termasuk dua genset 1 besar dan 1 kecil. Bagian
lain yang sebenarnya baru dipugar sesudah gempa dua tahun lalu
dikhawatirkan tidak lagi layak pugar, apalagi layak pakai. Keuskupan:
bagian depannya hancur, roboh, sehingga kamar seorang Pastor di lantai
2 berantakan, dia harus mengungsi. Dua kamar di depan rusak dan bocor
berat, penghuninya harus pindah. Ruang pertemuan dan kapel di gedung
Utama juga banyak retak dan plafonnnya terbongkar parah. Pipa-pipa air
patah, sehingga harus menimba air.
Banyak atap yang
runtuh dan merusak bangunan tengah, ruangan Uskup dan refter. Dapur
rusak, sehingga kami makan di gang.
Kami masih bertahan di rumah ini,
karena segan pindah.
4.4.Sekolah-sekolah yang hancur atau rusak total dan tidak dapat lagi digunakan:
4.4.1. Gedung SMA Don Bosko 4 lantai
4.4.2. TK Mariana
4.4.3. SD Theresia
4.4.4. SD Agnes
4.4.5. STBA
Prayoga 3 lantai hancur total dan menjadi terkenal karena 16an orang
terjebak di dalam dan sedikita yang dievakuasi selamat sedangkan yang
lain sudah meninggal dunia Baru selesai evakuasi tgl, 3 Oktober malam..
4.5.Sekolah-sekolah yang rusak amat parah, sehingga kemungkinan harus dibongkar
sama sekali adalah:
4.5.1. SMP Maria
4.5.2. SMP Frater
4.5.3. Bangunan/Gedung tua/induk SMA Don Bosko
4.6.Sudah
jelas akan tidak mudah menampung kegiatan belajar mengajar untuk semua
siswa di semua tingkat dalam ruangan yang makin terbatas, pagi-sore,
dan perubahan tempat dan jadual. Suatu pekerjaan besar dan rumit.
Terasa kebutuhan untuk menambah ruangan belajar di luar ruang-ruang
yang ada sekarang dengan tenda atau lodge darurat.
5. Wisma
Sukma Indah (gereja lama) dua lantai, yang digunakan untuk berbagai
kelompok kategorial dan pertemuan-pertemuan baik local, maupun nasional
di kalangan gereja, rusak berat, fasadenya praktis hancur dan sebagian
dinding. Masih berdiri tetapi tidak akan dapat digunakan lagi
6. Kapel
dan biara Sr. SCMM rusak amat sangat berat. Patahan alur gempa amat
dekat dengan kompleks ini juga. Asrama puteri, RB dan BP di kompleks
ini juga sudah menghkawatirkan, kecuali rumah kayu Woloan yang nampak
masih kokoh.
7. RS
Yos Sudarso: bagian depan, lantai 2 dan 3 rusak amat berat dan tidak
dapat digunakan, Lantai dasar dipakai karena terpaksa. Seluruh bagian
lama RS ini, klinik, labor, ruangan-ruangan inap segala kelas, praktis
ditnggalkan dan dialihkan ke tembok-tembok dan gang-gang rumah sakit,
ke kamar makan dan tenda-tenda. Yang masih agak kokoh adalah Kamar
Operasi dan Paviliun Edelweis, khusus untuk .maternitas. Bertahan juga
biara Suster dan Rumah Untuk Orangtua di kompleks itu. .
Asrama perawat 3 lantai yang berada di belakang RS juga praktis habis.
8. Keuskupan:
lantai dua bagian depan ambruk dan merongrong pendopo dan kamar di
bawahnya, dua kamar di lantai dua dan satu jadi amat terpengaruh.
Bagian belakang secara simetris terjadi yang sama, hanya belum runtuh.
Kamar-kamar kebanyakan tidak dapat dipakai karena bocor, atap luruh.
Dinding-dinding banyak retak dan ter"kelupas". Dengan sedikit rasa aman
kami masih menghuninya, tetapi pindah-pindah kamar.
9. Amat
dibutuhkan penilaian berdasarkan ilmu dan pengalaman tentang keadaan
gedung-gedung, apa dan sejauh mana layak huni, layak rehabilitasi/
renovasi atau sama sekali harus dimasukkan daftar tak terpakai secara
menyeluruh dan menetap untuk selamanya.
Demikian sepintas.
Untuk emergency tetap diperlukan bantuan, tetapi kami sudah langsung
menatap ke depan dengan beban-beban yang amat lumayan.
Salam dan hormat!
Martinus D. Situmorang, OFM Cap
Uskup Padang