Halo teman-teman.....
Dalam perjalanan hidup ini, seringkali saya menjumpai orang-orang, yang
dengan rasa penuh penyesalan menceritakan berbagai kegagalannya dalam meraih
sesuatu keinginannya atau harapan-harapannya selalu lolos dari tangannya. Ada
banyak macam cerita tentang kegagalan meraih impian itu. Anda yang bercerita,
gagal menarik hati lawan jenisnya untuk dijadikan seorang kekasih, ada yang
gagal mendapatkan pekerjaan, ada yang tidak diterima proposal tender bisnisnya,
ada juga yang menyesal karena calon rekanannya tidak jadi menjalin kerjasama,
dan masih banyak lagi keluhan-keluhan penyesalan yang saya dengar.
Tetapi meskipun saya mendengar berbagai macam cerita keluhan penyesalan dari
orang-orang itu; ada satu hal menarik perhatian saya, yaitu: ada sebuah kata
yang selalu sama, yang selalu diucapkan oleh orang-orang itu; sebuah kata yang
selalu ikut dalam setiap kalimat penyesalan; sebuah kata itu adalah
"Seandainya". Kata "Seandainya..." inilah yang selalu mengikuti setiap ada
suatu penyesalan diri. Seperti yang diucapkan seorang yang gagal mencari
kekasih, "Seandainya saja saya waktu itu tidak terlalu emosional, tidak kelewat
marah pada si dia, mungkin dia sudah menjadi pacar saya saat ini". Atau yang
gagal mendapatkan pekerjaan, "Seandainya waktu itu saya bisa dengan baik
menjawab pertanyaan pewawancara, pasti saya sudah bekerja saat ini". Yang
kehilangan kesempatan dapat tender bisnispun mengeluh, "Seandainya proposal
tender itu sudah saya siapkan dengan matang; mungkin tender itu jatuh ke tangan
saya". "Seandainya saya bisa lebih persuasive dengan calon rekanan, mungkin dia
mau bekerjasama dengan saya", begitu kata orang yang ditinggal calon
rekanannya.
Yah - kata "Seandainya..." akan selalu menyertai sebuah penyesalan. Mungkin
hal sama bisa terjadi pada diri Anda,"Seandainya saya bisa mengikuti
saran-saran yang baik, pasti saya bisa berubah menjadi sosok pribadi yang lebih
baik dan sukses". Itu hanya contoh saja. Memang hal yang sangat manusiawi jika
kita pernah menyesalkan sesuatu kejadian, yang tidak mungkin kita bisa memutar
mundur waktunya agar kita bisa memperbaikinya.
Kata "Seandainya..." sebenarnya lebih merupakan sebuah pembelaan diri sendiri
atas kegagalannya, yang lebih disebabkan oleh kelalaian atau keteledorannya
sendiri. Dengan berkata "Seandainya..." memang membuat seseorang merasa lebih
ringan beban mental psikologisnya. Dengan berkata seperti itu, dia sudah
membebaskan rasa bersalahnya; dengan jalan mencari "kambing hitam" akibat
kelalaiannya itu. Biarpun dalam hal ini yang menjadi "kambing hitam" adalah
dirinya sendiri, tetapi dia bisa merasa sedikit lebih puas; dibandingkan jika
dia mengatakan sejujurnya seperti, "Wah, saya salah...". Dengan mengatakan,
"Seandainya" itu akan lebih memperhalus tuduhan kesalahan pada diri sendiri,
akibat kelalaiannya.
Pokok terpenting di sini adalah: Anda jangan sampai terjebak dengan suatu
penyesalan "Seandainya..." ini. Kelalaian atau kesalahan dalam bertindak memang
bisa saja terjadi. Tetapi Anda harus bisa menerima dan mempelajarinya,
bagaimana hal itu bisa terjadi; untuk kemudian Anda bisa mengantisipasinya
sendiri pada waktu yang lain, maka akan semakin memperkecil tingkat kesalahan
di masa mendatang. Jadi janganlah Anda senang dengan kata "Seandainya...".
Segera ubahlah penyesalan yang Anda rasakan, dengan sebuah tindakan praktis
dengan cara mempelajari kesalahan-kesalahan yang sekiranya telah Anda lakukan;
kemudian cobalah merumuskannya kembali dengan lebih baik. Gunakanlah kekuatan
pikiran Anda yang "Super Mind" ini dengan se-optimal mungkin. Anda bisa
memanfaatkan kekuatan dari energi tanpa batas yang terdapat di dalam diri Anda
ini.
Salam Luar Biasa Prima!
WURYANANO
http://wuryanano.blogspot.com/
http://swastika-prima.blogspot.com/
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel
today!http://us.rd.yahoo.com/evt=48517/*http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7
hot CTA = Join our Network Research Panel