Anda benar, kalau tidak pasti bisa menepati lebih baik tidak membuat janji, 
tapi jujur kaum wanita kadang mendesak agar lelaki bikin janji, bikin komitmen 
ini juga berlaku pada diri saya padahal mungkin suami sendiri ragu semenjak 
awal karena engga mau repot akhirnya mengiyakan saja tuntutan sang istri 
misalnya sang istri bilang : "Papah nanti pulang jangan malam malam karena aku 
mau pergi belanja ke Supermarket" Saat suami mengusulkan agar sang istri pergi 
sendiri maka sang istri ngomel merasa sudah tidak disayang dan tidak lagi 
diperhatikan. Alhasil sang suami menjawab iya deh aku usahakan, walau kata yang 
keluar dari mulut suami aku usahakan namun di otak sang istri itu adalah 
jawaban pasti. 
  Akhirnya yang terjadi sudah bisa ditebak sang suami pulang telat sang istri 
semakin marah karena suami tidak memberi kabar.
   
  Dalam kasus di diri saya jika suami menyalahi janji atau komitmen maka saya 
akan meminta suami untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya he he he seperti 
diintrogasi ........biasanya karena tidak mau ribut akhirnya sang suami 
berjanjilah untuk tidak mengulangi tapi...... kenyataannya kesalahan yang sama 
masih saja berulang dan kembali lagi ribut karena suami dianggap dosanya tambah 
besar karena menyalahi komitmen .....alhasil bukannya menyelesaikan masalah 
malah akhirnya menyulut pertengkaran yang hebat dan akhirnya suami menghilang 
katanya menenangkan diri dan akhirnya setelah reda barulah dia pulang ke rumah 
padahal masalahnya sepele banget.
  Anehnya belakangan lho kok dia engga mau minta maaf karena telah mengingkari 
janji malah pake minggat segala..... karena penasaran akhirnya aku bertanya 
langsung dan mengeluhkan suami tidak gentleman (lain lagi sekarang istilah yang 
aku pakai ha ha ha) karena tidak mau ngaku salah bahkan bersikap seperti tidak 
ada apa apa. 
   
  Dengan tenang dia menjawab bahwa cukup sekali saja membohongi saya yaitu pada 
saat awal dia tidak bisa menepati janji..... belakangan setelah dipikir pikir 
dia menyadari bahwa kemungkinan dia melanggar janji selalu ada seperti tiba 
tiba ada kecelakaan di jalan sehingga jalan macet atau rapat mendadak atau 
teman minta diantar pulang atau apapun alasan yang menurut dia kalau disebutkan 
tetap akan membuatku marah makanya mendingan dia engga perlu bikin janji 
daripada tidak bisa menepati hick hick hick.......alhasil  sekarang malah dia 
nyantai saja dan tidak mau janji apa apa, nach kan repot.
   
  Melihat fenomena ini aku coba introspeksi, memang stress juga ya kalau 
misalnya suami yang notabene juga punya privacy harus bersikap seperti anak 
sekolah segera melapor kalau ada penyimpangan dari jadwal, handphone yang 
harusnya jadi alat penolong komunikasi  justru jadi alasan kuat buat bikin 
orang rumah semakin nyap nyap apalagi kalau pas dihubungi orang rumah hand 
phonenya engga aktif segala pikiran negatif akan mengharu biru kepala sang 
istri dan membakar api cemburu serta merasa diabaikan. 
   
  Sebagai seorang yang sudah makan asam garam kehidupan akhirnya aku sadar 
sebetulnya sebuah rumah tangga harusnya dijalani dengan santai, kebanyakan 
aturan bikin semua orang stress yang penting buat komitment bersama kalau ada 
apa apa masing masing harus segera memberi tahu pasangan dan sang pasangan 
cukup mengiyakan karena kalau terlalu cerewet akhirnya suami memilih untuk diam 
saja dan menanggung risiko di labrak di rumah tapi itu lebih baik daripada 
suasana pertemuan dengan klien atau boss jadi runyam karena serangan mitralyur 
sang istri. (sorry ya kaum ibu jangan marah lho ini aku lagi cerita pengalaman 
pribadi, belum tentu orang lain seperti aku lho......................^_^). Aku 
cuma minta dia berempati saja bahwa aku mencemaskan dia takut terjadi apa apa, 
kalau kecelakaan, dirampok dan semua identitas hilang tapi sampaikan dengan 
penuh perhatian bukan dengan nada tuntutan, buat suami merasa jadi orang 
penting yang kita butuhkan bukan pesakitan.
   
  Dan yang terpenting saling percaya, tidak boleh ada pikiran negatif satu sama 
lain, kalau ada keraguan sebaiknya disampaikan tapi pilih saat yang santai 
jangan pas suami pulang sudah dibrondong dengan pertanyaan dan pernyataan 
bertubi tubi.
   
  Rumah itu bak pelabuhan atau sarang dan istri punya peranan penting untuk 
memelihara atmosphere yang membuat rumah menjadi nyaman sehingga setiap 
penghuni merasa ingin selalu pulang, karena itu janganlah kita keras kepada 
pasangan kita karena bukankah kekerasan tidak akan lumer karena dilawan dengan 
kekerasan namun kelembutan justru punya kekuatan yang luar biasa yang membuat 
seorang lelaki takluk. Walaupun mungkin kita sebagai wanita juga menjadi 
penopang rumah tangga tapi tidak seharusnya kita merasa bisa mandiri tanpa 
pasangan hidup, memang selagi kita jaya,  selagi kita menjabat,  selagi kita 
sehat , rasanya kita bisa hidup sendiri tapi akan ada saat dimana kita butuh 
seseorang tempat berbagi dan siapalagi kalau bukan pasangan hidup kita yang 
sudah mengenal kita luar dalam baik buruknya.Terutama jika kita sudah beranjak 
senja (hick hick hick seperti saya sekarang ini......) kita akan butuh kawan 
karena anak anak sudah punya dunia sendiri dimana kita sudah bukan lagi
 tokoh utama di situ.... menyakitkan bukan tapi inilah realita.
   
  Terkadang lelaki seperti anak anak, apakah kita juga akan memecat anak kalau 
berbuat salah tidak bukan, nach kalau suami merasa kesalahan yang dia buat 
walau tidak disengaja, bisa membuat dia dipecat jadi suami kemungkinan dia akan 
berusaha keras mencari alibi untuk membersihkan diri yang penting lolos, 
bukankah kebohongan bukan jalan keluar terbaik, karena biasanya sebuah 
kebohongan akan menuntut kebohongan kebohongan lain dan alangkah tidak nyaman 
hidup dalam kebohongan, betul bukan?
   
  Salam EPOS,
   
  Lies Sudianti
  0816995258

agussyafii <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Janji

Pernah satu hari saya mengatakan pada istri saya untuk pulang lebih 
awal. Ternyata pekerjaan menumpuk dan mesti diselesaikan sehingga 
janji pulang lebih awal tidak bisa saya tepati. Ibu menengur saya. 
Katanya, sebagai kepala rumah tangga. Ucap dikecap, laku dilampah. 

Apa yang diucapkan haruslah dipenuhi. Jika memang tahu banyak 
pekerjaan. Tidak usahlah berjanji untuk pulang lebih awal. Begitu 
yang dikatakan ibu pada saya.

Wasslam,
agussyafii

==============================================
Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui 
http://agussyafii.blogspot.com dan sms 0888 176 48 72
==============================================



         


Salam EPOS,Lies SudiantiFounder & Moderator+62816995258
  • [Bicara] Janji agussyafii
    • Re: [Bicara] Janji + tanggapan Lies Lies Sudianti

Kirim email ke