Dear Bung Leo,
   
  membaca email anda ini saya jadi tersenyum, itu bedanya pacaran dan menikah 
saat pacaran semuanya seperti baik baik saja tetapi begitu menikah hidup di 
bawah satu atap satu tempat tidur memang semuanya akan berbeda, itu mungkin 
sebabnya di barat dikenal istilah "samen leven" yang dalam bahasa Indonesia 
diterjemahkan dengan kumpul kebo. Tujuan awal memang bagus supaya bisa saling 
mengenal satu sama lain,  kebiasaan kebiasaan baik maupun buruk, pola pikir, 
pola kerja, semua ketrampilan yang dimiliki dari pasangan sehingga saat mereka 
merasa tidak cocok mereka akan lebih mudah memutuskan untuk berpisah lain 
dengan kalau mereka sudah menjadi suami istri akan lebih banyak pertimbangan 
yang harus dipikirkan.
   
  Mba Susi mengeluh karena dulu saat belum menikah mereka hidup berjauhan malah 
fine fine saja, ini juga pernah saya alami dengan suami saya, sebagai orang 
yang biasa mandiri saya biasa memutuskan segala hal sendiri dan kebetulan 
pasangan hidup saya bekerja diluar kota sehingga kebiasaan itu semakin 
mengkristal karena saya tidak ingin hidup bergantung kepada orang lain walaupun 
suami sekalipun. Nach kebiasaan ini akan jadi masalah saat kepala rumah tangga 
atau suami ada di rumah, dia akan merasa istrinya telah mengambil haknya 
sebagai kepala rumah tangga, ada orang orang yang tidak mempermasalahkan bahkan 
mungkin lebih senang karena ada yang ikut memikul tanggung jawabnya, tapi 
bagaimana kalau sang suami type otoriter, type leader yang biasa bertindak 
sebagai pengambil keputusan pastilah akan ada benturan
   
  Karena sudah terlanjur menikah dan punya anak masak mau bercerai sich, coba 
tips yang pernah saya trapkan pada diri saya yang mungkin bisa dipraktekkan 
bagi orang lain.
    
   Setiap pernikahan harus dilandasi niat yang kuat yaitu menikah karena Allah, 
sehingga kita akan ikhlas menerima ketentuanNya seburuk apapun itu, tanamkan di 
mindset kita bahwa menikah adalah ibadah  
   Sebelum memasuki gerbang pernikahan masing masing harus memastikan tidak ada 
rahasia terpendam yang ditakutkan akan menjadi bom waktu dalam pernikahan 
nantinya  
   Jangan berbohong demi bisa menikah dengan orang yang kita incar ( he he he 
tidak semua lho menikah karena cinta) karena kebohongan sepandai dan serapi 
apapun menyimpannya bisa saja terkuak di belakang hari  
   Jika sebelum menikah kita sudah melihat banyak sifat dan kelakuan calon 
pasangan yang kita tidak sreg dan sifatnya prinsipil jangan pernah berharap 
masalah itu akan selesai setelah pernikahan karena biasanya sesudah menikah 
malah aslinya keluar semua. Seperti laki laki yang suka ringan tangan saat 
pacaran atau terlalu possesive sehingga membatasi lingkungan sosial sang 
wanita, sebaiknya tidak diteruskan karena akibatnya bisa fatal dan sudah 
dibuktikan dalam acara acara kriminal di TV, kekerasan dalam rumah tangga bisa 
terjadi karena sang lelaki merasa memiliki kekuasaan atas diri wanitnya.  
   Juga berhati hatilah terhadap orang yang begitu sempurna, yang memiliki 
sifat pengalah yang luar biasa dan terkesan plin plan karena bisa saja begitu 
dia sudah menjadi suami belangnya baru kelihatan dan anda akan shock menghadapi 
kenyataan ini.  
   Biasakan untuk menggunakan pola pikir TO GIVE and TO TAKE bukan sebaliknya, 
jangan pernah punya pamrih saat kita memberi seperti CINTA, jangan merasa bahwa 
cinta yang kita berikan begitu besar sementara timbal baliknya tidak sesuai, 
cinta dan perkawinan bukan dagang yang bisa diselesaikan dengan rumus 
matematik. Selama kita berpegang pada prinsip menikah karena Allah maka kita 
tidak akan menghitung untung dan rugi, bahkan saat rumah tangga digoncang 
prahara kita tidak akan gamang karena yakin Tuhan punya rencana yang baik buat 
kita sehingga kita bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa.  
   Pernikahan 2 manusia dewasa dari background yang berbeda tidaklah mudah 
dibutuhkan kedewasaan, kejujuran, keikhlasan dan komitmen untuk bisa 
menjalaninya. Pasangan dalam perkawinan juga merupakan partner untuk mengayuh 
roda kehidupan buat irama yang harmonis, jangan yang satu melangkah terlalu 
cepat sementara lainnya leha leha karena lama kelamaan akan terjadi 
kepincangan.  
   Jika kehidupan perkawinan mulai jenuh coba melakukan refreshing berdua tanpa 
anak, coba lakukan ritual ritual romantis seperti yang pernah anda lakukan saat 
cinta masih menggebu. Ini problemnya terkadang naluri seorang ibu susah 
meninggalkan anaknya sehingga kalaupun terpaksa tidak bawa anak tapi dia tidak 
bisa menikmati "bulan madu keduanya" karena pikirannya ada di rumah.  
   Selalu camkan kuat kuat dalam diri kita apa sich yang membuat pasangan kita 
terpincut pada diri kita dulu, pertahankan itu sebisa mungkin. Jika menyukai 
kita karena kecantikan dan kesegaran kita yang membuat dia merasa semangat maka 
sebagai istri anda juga wajib menjaga kecantikan dan kesegaran anda, ikut senam 
kebugaran sehingga darah mengalir lebih cepat yang membuat wajah selalu 
berseri, tampilkan inner beauty sebagai kompensasi kulit yang mulai keriput, 
percaya tubuh hanyalah wadah buat pasangan hidup kita selama spirit kita tetap 
cantik maka dia hanya akan menangkap sinar kecantikan itu. Pokoknya dalam 
perkawinan management diri sangatlah penting jangan mentang mentang sudah 
menikah jadi boleh enak enakan.Jika suami suka karena kepandaian kita janganlah 
pernah berhenti belajar  karena anda akan menjadi sumber inspirasi suami.  
   Kita tidak bisa mengabaikan faktor biologis dalam perkawinan, pada umumnya 
wanita lebih dewasa dibanding laki dalam usia yang sama jadi kalau wanita 
usianya lebih tua harus berhati hati karena anda sudah memilih untuk menghadapi 
kemungkinan kemungkinan yang tidak menyenangkan, bayangkan kalau seorang laki 
laki masih bisa menikmati hubungan seks sampai usia berapapun sementara wanita 
lebih cepat pudar hasrat seksualnya. Jadi kalau kita menikah dengan laki laki 
yang lebih muda pastikan kita memiliki hal hal lain yang bisa mengikat suami 
seandainya anda sudah bukan lagi pasangan  hangat di tempat tidur. Tapi kita 
tidak boleh pasrah, dengan latihan dan olah raga yang teratur maka usia 
biologis tubuh kita bisa saja lebih muda dari usia sebenarnya, selalu berpikir 
positip juga akan membuat kita menjadi pribadi yang menyenangkan.
  Jadi buat Mba Susi saran saya:
    
   Ingat lima tahun pertama perkawinan adalah periode adaptasi, biasanya kalau 
kita bisa melewatinya dengan ikhlas dan memetik pelajaran dari proses adaptasi 
tersebut maka tahun tahun berikutnya akan lebih mudah. Anda sendiri baru 
setahun dan dipisahkan dengan jarak maka anda harus sabar dan tidak mudah putus 
asa.  
   Bangun iklim komunikasi yang baik dengan pasangan kita, buat aturan antar 
kalian berdua cara menyampaikan complaint atau keluhan, pasangan hidup bukan 
musuh jadi berkomunikasilah dengan kasih. Komunikasi ada 2 yaitu komunikasi 
eksternal dan komunikasi internal atau yang sering kita sebut bicara dengan 
diri sendiri, jika kualitas komunikasi internal kita tidak baik dan dipenuhi 
rasa curiga serta benci maka komunikasi eksternal sudah bisa dipastikan akan 
buruk dan yang ada adalah keinginan untuk mengalahkan pasangan kita  
   Jadikan anak sebagai motivasi untuk mempertahankan perkawinan karena anak 
akan jadi korban kalau terjadi perceraian jadi sungguh tidak fair kalau kita 
mengorbankan kebahagiaan anak karena keegoisan kita  
   Walaupun suami adalah kepala rumah tangga, istri juga punya peran yang tidak 
kalah pentingnya yaitu tiang rumah tangga, jadi anda harus lebih mampu 
membangun suasana kondusif dalam rumah tangga anda, jadikan rumah sebagai 
sarang buat penghuninya sehingga rasa nyaman akan membuat pasangan hidup kita 
ingin selalu pulang dan tidak menghabiskan waktu di luar rumah.   
   Kita juga harus menghargai eksistensi diri sendiri sehingga jangan pernah 
membiarkan pasangan hidup kita mendominasi kehidupan kita secara semena mena 
karena ketimpangan ini akan menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga baik fisik 
maupun psikis.  
   Santai saja mengayuh perahu kehidupan, ingat anda tidak sendiri menjalani 
kehidupan seperti anda, di luar sana malah ada yang lebih parah jadi kita harus 
tetap bisa bersyukur karena diberi pasangan hidup karena tidak semua orang 
seberuntung anda.  
   Berhenti memikirkan diri sendiri dan mulailah memikirkan orang lain sehingga 
anda tidak sempat mengeluhkan ketidak bahagiaan anda.  
   Biasanya orang yang gagal mempertahankan perkawinannya yang pertama, dia 
juga cenderung mudah memutuskan bercerai pada perkawinan berikutnya dan siapa 
bisa jamin pasangan hidup kedua atau ketiga lebih baik dari yang pertama  
   Perkawinan seperti tanaman yang membutuhkan pupuk, penggantian tanah, 
pemangkasan tangkai dan daun yang kering, disiram, dipindahkan bila terlalu 
dibakar matahari dan semua harus dilakukan dengan pas tidak boleh berlebihan 
atau kekurangan serta pada waktu yang tepat karena tanaman yang sudah kering 
tidak mungkin tertolong walau kita siram dengan air seember.
  Salam buat Bang Leo semoga tulisan saya bisa menjadi inspirasi banyak orang.
   
  Salam EPOS,
   
  Lies Sudianti
  Founder & Moderator the Profec
  0816995258
  [EMAIL PROTECTED]
  [EMAIL PROTECTED]
  [EMAIL PROTECTED]
   
  

leonardo rimba <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
        Dear Friends,

Berikut adalah permohonan bantuan yang dialamatkan ke
saya oleh seorang rekan di internet. Saya belum pernah
bertemu dengannya, dan ini adalah kali pertama saya
menerima e-mail darinya. Nama dan data-data lainnya
dari rekan ini telah saya falsifikasikan, jadi saya
tetap menjaga kerahasiaan klien.

Nah, seandainya Anda yang disodorkan kasus seperti
ini, advis apakah yang akan Anda berikan?

Silahkan pendapat Anda ditulis dengan
sebebas-bebasnya. Seluruh advis dari rekan-rekan akan
saya sampaikan kepada yang bersangkutan. Ditambah
dengan advis dari saya sendiri, tentu saja, setelah
seluruh rekan yang berminat membantu telah memberikan
advisnya.

All the Best,
Leo
HP: 0818-183-615

------------

Selamat Pagi, Mas Leo,

Mohon maaf dengan datangnya e-mail saya ini. Setelah
saya membaca e-mail Mas Leo mengenai Mbak Vergie, saya
percaya Mas Leo bisa bantu permasalahan saya.

Saya sudah berkeluarga, menikah tahun 2006 yang lalu.
Saya (Susi) lahir tahun 1978 dengan suami (Deni) lahir
tahun 1980. Sebelum menikah kami baik-baik saja.
Tetapi setelah menikah, kami susah mendengar satu sama
lain. Entahlah, sebenarnya kami tidak ingin itu
terjadi, tetapi selalu terjadi, padahal waktu kita
hidup berjauhan 4 tahun sebelum menikah tidak pernah
ada masalah, kenapa setelah menikah banyak sekali
masalah? Perasaan saya yang sensitif sekali karena
berat menanggung beban hidup sendiri berjauhan padahal
sudah dikaruniai anak.

Pertanyaan saya :
1. Apakah sebenarnya kita tidak cocok?
2. Atau ada jalan lain yang lebih baik yang harus kita
lakukan demi kebaikan rumah tangga kita?
3. Apa yang harus masing-masing lakukan?

Mohon bantuannya dengan sangat. Terima kasih atas
perhatian dan bantuannya.

Best Regards,
Susi

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

         

Kirim email ke