Komentar untuk artikel yang pernah aku posting di beberapa milis beberapa waktu 
lalu, semoga bermanfaat

"Lywa S. Fauzie" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Date: Sun, 24 Jun 2007 07:50:18 
+0700
From: "Lywa S. Fauzie" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: Fw: KeMaH @ MENDIDIK ANAK MANDIRI

  Terima kasih ibu-ibu yang berhati mulia, berani membuka "kesalahan masa lalu"
  Bagi saya, sbg "tiang rumah tangga", suami & ayah, ini sangat inspiratif... 
pukulan telak buat kami sebagai parents
 
  Seandainya semua "tiang rumah tangga" menyadari bahwa di rumahnya ada "tiang 
negara" dan "tiang negara" menyadari dirinya memang benar-benar "tiang negara" 
yang menentukan kokohnya negara ini... 
   
  Saya sangat setuju jika para "tiang-negara" diberikan fasilitas oleh 
"tiang-rmh-tangga" untuk tetap berbisnis-produktif di rumah sambil 
berkomunikasi dengan anak-anak tercinta...
   
  jika ibu memforward email ini ke milling list yang ibu menjadi anggotanya, 
mudah-mudah menjadi inspiratif buat yang membacanya...
 
  On 6/1/07, MoFCorp. <[EMAIL PROTECTED]> wrote:        
  ----- Original Message -----   From: Lies Sudianti 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Cc: theprofec 
  Sent: Tuesday, May 29, 2007 10:09 AM
  Subject: Re: KeMaH @ MENDIDIK ANAK MANDIRI

  
 
          Betul bu, ini pengalaman yang mahal yang sebaiknya bisa dijadikan 
contoh karena mungkin buat orang lain bisa fatal, banyak anak anak yang 
terjerumus ke narkoba karena jiwanya kosong karena orang tua seringkali baru 
berreaksi kalau anak anak mereka berbuat sesuatu yang dianggap tidak baik yang 
bisa merusak nama baik keluarga. 
   
  Dua keponakan saya meninggal dalam usia 1/4 abad mereka pernah jadi pecandu 
narkoba walau saat meninggal alhamdulilah bukan karena itu tapi rupanya dampak 
pecandu narkoba adalah darah mereka yang kotor yang bisa terjangkit virus HIV. 
Dan ini terjadi karena saat mereka masih kecil ibunya merantau ke Amerika 
selama 6 thn untuk meningkatkan ekonomi keluarga tapi yang terjadi ada whole di 
jiwa anak anak itu karena selama tidak ada ibunya itu mereka dititipkan pada 
keluarga dan biar bagaimanapun mereka pastinya bukan prioritas, akhirnya jiwa 
anak anak itu labil walau secara finansial mereka selalu mendapat kiriman uang 
dari ibunya. 
   
  Yang terpenting justru masa balita dan sebelum akil balik, mereka butuh 
banget kedekatan dengan orang tua, kebayang kalau tidak ada ibu mereka berbuat 
salah maka kita tidak akan tahu sampai kesalahan itu berakibat fatal, banyak 
hubungan sex di luar nikah yang dilakukan oleh anak remaja salah satu 
disebabkan karena kurangnya pengawasan orang tua dan biasanya kalau terjadi apa 
apa maka ibunya yang disalahkan. 
   
  Ibu adalah tiang rumah tangga dan juga tiang negara, berarti kelangsungan 
hidup sebuah rumah tangga sangat tergantung pada kekokohan tiang yang menyangga 
rumah tangga itu, fungsi ayah sebagai kepala rumah tangga tidak akan berarti 
apa apa kalau sang tiang tidak berfungsi dengan baik dan kuat. 
  Buat sebuah negara kenapa kaum ibu dibilang tiang negara, karena mereka lah 
yang melahirkan generasi penerus, kebayang kualitas generasi penerus seperti 
apa kalau kaum ibunya bobrok semua? Dan biarpun suami bobrok separah apapun 
kalau sang istri kuat dan tetap tegar mengayuh bahtera rumah tangga, yakin dia 
akan mampu membawa anak anaknya ke pantai harapan dan anak anak itu justru akan 
tumbh jadi anak anak yang hebat karena mereka dibesarkan dengan kasih dan 
panutan yang baik. 
   
  He he he jadi panjang ya penjelasannya. Buat anda atau pun rekan rekan milis 
ini kalau mau bergabung di milis the Profec (the Professional & Entrepreneur 
Club) silakan kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] dimana saya duduk sebagai 
founder & moderator.
   
  Salam EPOS,
   
  Lies Sudianti
  0816995258
  [EMAIL PROTECTED]
  [EMAIL PROTECTED]

"MoFCorp." <[EMAIL PROTECTED] net.id> wrote:
        sungguh pelajaran yg sangat berharga bu Lies,
  semoga sy bisa mengambil hikmahnya...
   
  bercermin dari sini, masih adakah para ibu yg 'enggan' di 'repoti' anaknya... 
masih adakah para ibu yg 'mengejar ego'nya..?
   
  kembali 'ke rumah'... kerja 'dirumah'... bisnis 'dari rumah'...
   
  salam,
  Diah
  -ibu 2 anak balita yg kerja dr rumah-
  www.qimosnet.page.tl
    ----- Original Message ----- 
  From: Lies Sudianti 
  To: motivasi indonesia ; milis Bicara ; Milis Moderator ; hobby club ; 
KemahmarComm ; Lintas Milis ; lintas milis ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; XL Indonesia ; Komunikasi Empati ; Komunitas Untung 
  Sent: Monday, May 28, 2007 4:36 PM
  Subject: KeMaH @ MENDIDIK ANAK MANDIRI
  
 
    

      
Beberapa hari lalu saat aku terbaring sakit selama berhari hari di rumah
tiba tiba aku baru menyadari ada sesuatu yang hilang yang selama ini
tidak pernah aku sadari. Penyakit yang kutahan tahan selama ini akhirnya 
membuatku tumbang, aku tak mampu lagi melawannya walaupun aku sudah coba
memotivasi diri tetap saja tubuhku lunglai tak bisa kuajak kompromi.

Belakangan hari ini memang kondisi fisikku merosot tajam, entah karena 
cuaca atau memang karena pola hidupku yang tak beraturan, obat obatan,
multi vitamin segala macam sudah aku telan tapi aku merasa tubuhku
semakin lemah tak bertenaga. Tapi kali ini aku bukan mau cerita tentang
sakitku ada hal lain yang lebih penting yang telah membuka mataku bahwa
selama ini aku telah salah menerapkan arti kata mandiri dalam mendidik
anak anakku.

Saat aku sakit aku tidur di kamar anakku yang kecil yang memang selalu 
kosong karena dia biasanya tidur bareng abangnya, aku memilih kamar itu
karena kasur di kamarku aku pasang dilantai tanpa tempat tidur. Sakitku
kali ini membuatku tidak bisa segera bangun dari tidurku karena kalau 
aku mengerahkan tenaga untuk bangun maka perutku akan mengejang, jadi
aku memilih tidur di kamar anakku tadi yang memang menggunakan tempat
tidur biasa. Aku sungguh sungguh sakit, aku heran kenapa dokter
menanggapi sakitku dengan biasa biasa saja sama sekali tidak menanggapi 
keluhanku dimana rasa sakit di perutku sudah sangat membuatku setengah
lumpuh, sakit yang tadinya aku sebut akibat angin duduk ternyata
membuat otot otot seluruh tubuhku mengejang dan sulit digerakkan,
sakitnya luar biasa. 

Biasa aktif kondisi ini benar benar menyiksaku, untuk bangun berjalan ke
kamar mandi pun aku tak sanggup, rasanya jarak yang cuma 10 langkah itu
seperti tak kunjung kucapai saat aku mau buang air kecil ataupun air 
besar. Tiba tiba aku menyadari bahwa di saat sakitku ini aku seperti
orang yang terbuang sendirian tanpa seorangpun yang menyadari bahwa saat
ini aku membutuhkan perhatian.... anak anakku bukan tidak memberi
perhatian tapi mereka sepertinya punya segudang kesibukan bahkan di hari
libur sekalipun pagi pagi mereka sudah pergi ada yang mau bertanding
basket, ada yang mau manggung ada yang sibuk belajar bersama teman
kampusnya. Suamiku juga belakangan ini sering dinas luar kota, sementara 
pembantuku tidak menginap di rumah.

Aku masih ingat Minggu pagi aku sudah terbangun karena memang aku tidak
biasa bangun siang walaupun mungkin habis begadang, tapi cuma mataku
saja yang bisa kubuka, tubuhku ngilu semua kalau digerakkan, aku ingin 
bangun tapi aku engga sanggup, untuk berteriak memanggil anak anakku pun
aku tidak berani karena setiap aku mengerahkan tenaga untuk berteriak
perutku langsung kejang. Aku terdiam kaku.... panik....akhirnya aku coba 
melakukan relaksasi sampai rasa sakit itu mereda, kemudian aku bangun
dan melangkah ke luar kamar dimana dua anakku lagi heboh mau berangkat
main basket pagi pagi, mereka begitu ceria, begitu energik dan penuh
semangat seolah tak menyadari kalau ibundanya sedang kesakitan di kamar.
Mereka dengan ceria menyapaku dan segera membantuku melihatku melangkah
tertatih tatih menuju sofa di depan TV, saat aku duduk mereka mulai
melihat ada yang tidak beres, mereka mulai cemas karena sepertinya aku
benar benar sakit namun kondisi ini tidak membatalkan rencana mereka
keluar rumah. Aku kemudian meminta mereka berdua duduk sebentar karena
aku mau bicara, memang sudah menjadi kebiasaanku kalau mau marah aku 
selalu mengumpulkan semua anak anakku dan menyampaikan uneg unegku cuma
kali ini anak tertuaku tidak pulang semalam. Aku seperti anak anak yang
kehilangan identitas diriku, aku marah bercampur sedih bahwa dalam
keadaan aku sakit seperti ini tak seorangpun yang peduli padahal ini
engga 100% benar karena anak anakku juga yang mengobatiku mengantarku
kedokter bahkan yang kecil membantu mengerok punggung dan perutku,
menemaniku sambil nonton TV tapi aku menginginkan lebih dari itu. Aku 
terpukul melihat anak anakku tenang tenang saja melihat aku sakit, aku
ingin mereka cemas atau takut kehilangan aku karena merasa aku begitu
berharga buat mereka.

Dalam marahku aku tanpa sadar mengucapkan kalau aku sudah tidak 
diinginkan oleh anak anakku jadi buat apa aku sembuh..... sungguh
kekanak kanakan, tiba tiba kulihat air mata mengalir di mata kedua
anakku mereka kemudian memelukku dan memintaku untuk tidak bicara
seperti itu, mereka bilang kalau mereka sayang padaku tapi mereka begitu 
yakin aku adalah seorang ibu yang tegar dan kuat luar biasa.......
mereka bahkan menyebutku bionic woman buktinya penyakit kanker yang
mengerikan saja bisa aku taklukkan. Mereka selalu membandingkan aku
dengan ibu ibu teman mereka yang loyo, cengeng, suka ngerumpi engga gaul 
dan mereka bangga karena aku tidak seperti itu.

Tapi aku tetap merasa ada yang kurang, aku masih merasakan ada yang
hilang antara diriku dan anak anakku, aku baru menyadari bahwa anak
anakku selama ini tidak pernah mengeluh apapun padaku, bahkan saat 
anakku yang besar putus cinta yang sempat dijalinnya selama 7 tahun aku
tahunya justru dari adiknya, padahal aku sangat tahu anakku sangat
mencintai kekasihnya, tapi sedikitpun dia engga pernah mengeluh padaku,
juga saat dia harus membayar uang semesteran dia selalu menunggu moment
yang paling tepat karena tidak mau membuatku panik. Demikian juga dengan
adik adiknya, tiba tiba aku ingat setiap anakku harus membayar uang
untuk keperluan sekolah pasti mereka sms dengan santun mengingatkanku
kalau mereka harus bayar ini itu dan biasanya sms ditutup dengan
permintaan maaf karena telah merepotkanku. Air mataku tiba tiba mengalir
ya ampun bagaimana mungkin seorang anak meminta haknya harus meminta 
maaf kenapa aku selama ini begitu bebal sehingga tidak melihat kalau
anak anakku telah tumbuh dewasa bahkan jauh lebih matang dari usianya.
Mereka selalu berusaha tidak membuatku susah walau terkadang bisa
berakibat fatal tapi mereka sesungguhnya tidak ingin melihatku bersedih. 

Aku seperti melihat film kehidupanku diputar telak di depan mataku. Aku
ingat bahwa aku selalu menanamkan pada diri anak anakku untuk mandiri
untuk tidak bergantung kepada siapapun, mereka harus bisa mengerjakan 
tugas tugas pribadi mereka semenjak kecil. Mereka tidak boleh jadi anak
pengecut sehingga aku akan melakukan segala cara agar anak anakku jadi
anak pemberani. Mereka tidak boleh menangis tanpa alasan yang tepat, 
bayangkan anakku sedari kecil kalau mau menangis mereka lari ke kamar
mandi dan mengeluarkan tangisnya bersama dengan guyuran air, entah takut
entah malu tapi itulah yang terjadi. Anakku yang kedua pun saat kakinya 
sobek dan harus dijahit sambil meringis menahan sakit minta ijin apakah
dia boleh menangis karena sakit banget, begitu aku bilang boleh tapi
engga lama karena memang lukanya sangat dalam maka dia langsung
menangis meraung raung tapi itupun tidak lama, dokter yang sedang 
menangani lukanya pun sampai geleng kepala bagaimana aku bisa mendidik
anakku untuk bisa punya pengendalian diri yang luar biasa.

Aku bahkan tidak pernah memantau pelajaran anak anakku aku katakan
kepada mereka bahwa kita hidup bersama sebagai keluarga punya hak dan 
kewajiban masing masing, kewajiban aku adalah membantu ayah mereka untuk
mencari nafkah dan itu akan membuatku tidak ada di rumah menemani mereka
di siang hari, sementara tugas mereka adalah belajar sebaik baiknya 
bukan buat kami orang tuanya tapi buat mereka sendiri. Aku selalu
menanamkan pada mereka agar kita masing masing benar benar bisa
menjalankan fungsi kita dengan baik dan tidak boleh mempermalukan
keluarga. Saat aku mengambil rapot anakku kedua yang kebakaran aku cuma 
bilang apa hak kamu mempermalukan mamah di depan guru kamu yang telah
mengatakan mama tidak bisa mendidik anak, kerjanya cuma cari duit tapi
mengabaikan pendidikan anak. Dalam situasi demikian aku cuma bilang apa 
mamah engga usah kerja saja kita tukaran tempat kamu yang cari uang dan
mamah yang sekolah karena kita kan sudah commit dengan kewajiban masing
masing. Kami biasa memutuskan sesuatu dalam rapat keluarga maka saat aku 
mengeluhkan prestasi anakku maka kakak dan adiknya janji akan membantu
agar anak keduaku bisa memperbaiki prestasinya. Anakku pun kalau sakit
sama sekali mereka tidak bisa manja..... siapapun yang sakit maka
saudaranya akan berusaha membantu untuk mempercepat proses penyembuhan
si sakit, tidak ada cerita tidak mau makan atau minum obat, dalam
recovery pun mereka diwajibkan untuk senam di kebun belakang agar
peredarahan darahnya lancar. 

Aku adalah pencinta Winnetou tokoh Indian karangan Karl May aku selalu
kagum karena buat orang Indian mereka tidak boleh menunjukkan perasaan
apapun, aku menganggapnya keren banget dan tanpa sadar aku ingin anak 
anakku bisa tegar dan tangguh seperti mereka.

Memang ketiga anakku tumbuh menjadi anak yang menyenangkan dalam arti
mereka tidak pernah merepotkan, tapi tanpa sadar aku telah membuat
diriku kehilangan mereka secara psikologi. mereka sudah sangat mandiri 
sehingga terkadang aku merasa sudah tidak dibutuhkan oleh mereka, aku
sedih saat anakku putus cinta mereka tidak mengadu padaku atau mencari
kekuatan padaku, mereka mencoba mengatasi semua masalah mereka sendiri 
atau paling paling curhat antar mereka sendiri. Atau saat anakku ada
masalah dengan teman sekolah, guru atau lingkungan mereka jarang
mengeluh padaku. Dulu aku bangga sekali karena aku memiliki anak anak
yang begitu spartan tapi kini saat kegiatan kantor semakin berkurang 
menyongsong hari pensiunku yang sudah tidak lama lagi, saat aku sudah
tidak begitu sibuk, saat tubuhku sudah mulai ingin istirahat tiba tiba
aku merasa sangat kesepian aku merindukan celoteh riang anak anakku,
bercengkerama bersamaku seperti saatmereka kecil.... dengan sendu
kupandangi foto foto kecil mereka ... ya ampun kenapa aku bisa melewati
masa masa pertumbuhan mereka, wajah wajah lugu dan kocak itu sudah tidak
ada lagi. 

Aku coba jujur bertanya pada hati kecilku.... dulu saat aku mendidik
anak anakku agar mandiri betulkah itu karena aku ingin mereka bisa jadi
pribadi yang tangguh atau...... karena aku engga mau repot, aku malu 
rasanya saat harus mengakui bahwa sejujurnya aku mendidik mereka menjadi
insan mandiri karena aku engga mau repot karena aku egois mengejar
matahariku sendiri, ambisi menjadi individu yang berprestasi...... tanpa 
sadar aku telah mengabaikan tugasku membesarkan anak anakku. Aku
bersyukur saat anak anakku tumbuh ada ibu angkatku yang telah mengisi
cinta dan perhatian di hati anak anakku sehingga anak anakku tetap
menyenangkan sampai mereka besar. 

Aku tersipu malu mengingat anakku terkecil sempat nyeletuk.... mamah
curang kalau sakit minta perhatian sementara kalau kita yang sakit malah
dimarahin engga boleh lama lama, aku melihat sinar kocak di mata anakku 
sama sekali bukan protes atau dendam tapi itu cukup menghujam dadaku.
Belum lagi anakku lainnya juga protes kenapa tiba tiba mamah marah kalau
kita Sabtu Minggu ada kegiatan bukannya dulu Mamah yang minta kalau hari 
Sabtu mamah pengen bebas karena sudah lelah bekerja dan biasanya mamah
kan engga di rumah apalagi semenjak punya milis lebih engga punya waktu
lagi buat rumah.

Ya Tuhan maafkan aku kalau selama ini aku sudah melalaikan kewajibanku 
untuk mendampingi anakku tumbuh dewasa, semoga belum terlambat. Dan buat
rekan rekan kaum ibu lainnya, menjadi seorang ibu bukan sekedar
melahirkan dan memberi makan dan pakaian anak anak kita tapi kita punya
kewajiban mengukir jiwa mereka agar mereka bukan hanya tumbuh jadi
manusia yang sukses nantinya tapi juga mulia. Anak anak yang dibesarkan
dengan cinta akan lebih mampu berbagi cinta kasih dengan sesamanya.

Tapi janganlah kita menganggap diri kita paling berhak mengatur masa 
depan mereka menentukan sekolah mereka, menentukan hobby mereka,
menentukan jodoh mereka, hidup mereka milik mereka sendiri, kita hanya
wajib mengarahkan ke arah yang kita anggap benar tapi keputusan ada di
tangan mereka sendiri 

Jakarta, 28 Mei 2007

Lies Sudianti

0816995258

 



Salam EPOS, Lies Sudianti Founder Moderator +62816995258  


  



  
  
  

 




-- 
lywa s. fauzie - send by mobile zire 72 -  via gprs of telkomsel 


Salam EPOS,Lies SudiantiFounder & Moderator+62816995258

Kirim email ke