Psikologi Kata-Kata (1) 

Orang bijak berkata; jangan lihat orangnya, tetapi perhatikan apa 
yang dikatakan. (undzur ma qala wala tandzur man qala) Nasehat ini 
merujuk pada seringnya kejadian dimana orang sering tertipu oleh 
hallo effect. Karena yang berkata orang penting maka kata-katanya 
sering dianggap penting. Karena yang berkata orang pinter maka kata-
katanya sering dipastikan benar, padahal belum tentu benar. 
Sebaliknya kata-kata orang kecil sering tidak diperhatikan meskipun 
benar.

Di sisi lain terkadang terjadi seseorang berkata yang sebenarnya dan 
perkataanya memang benar, tetapi perkataan itu tidak difahami oleh 
orang lain bahkan terkadang disalah fahami. Di sisi lain lagi ada 
seseorang yang berbicara tentang hal-hal yang tidak ada isinya, 
tetapi enak didengarnya dan banyak orang betah berlama-lama 
dengannya. Ada kata-kata yang setelah kita dengar langsung lewat dari 
telinga kiri ke telinga kanan, tak sedikitpun tertinggal di hati 
kita, tetapi ada kata-kata yang sangat singkat tetapi begitu kita 
dengar langsung menancap di hati mempengaruhi perilaku kita untuk 
waktu yang sangat lama.

Syahdan , dikisahkan dalam kisah sufi, bahwa Ibrahim bin Adham, 
seorang raja muda (putera mahkota) di negeri Khurazan Asia Tengah, 
sedang duduk di kursi kerajaannya. Tiba-tiba terdengar suara berderak 
di atas loteng langit-langit istananya. Sebagai seorang raja muda, ia 
sangat terganggu oleh suara berisik itu, maka secara spontan ia 
berteriak; hai siapa diatas itu ? terdengar jawaban dari atas; saya 
baginda.. Dengan heran campur marah Ibrahim bertanya; sedang apa kau 
disitu ?. Terdengar jawaban; sedang mencari kudaku yang hilang 
baginda. Dengar amat marah Ibrahim berteriak; dasar bodoh kamu, 
kenapa kau mencari kuda di loteng, disitu bukan tempat mencari kuda, 
wahai dungu !!! Tanpa di duga terdengar jawaban dari atas; Demikian 
juga baginda, jika baginda sedang mencari Tuhan, kenapa duduk di 
kursi kerajaan ! Baginda berada di tempat yang salah.

Mendengar jawaban singkat yang amat tenang itu, Ibrahim bin Adham 
kemudian terdiam. Kata-kata asing dari langit-langit istananya itu 
sungguh menyentuh nuraninya; suaranya mantap, kalimatnya jelas dan 
logikanya sangat kuat, sehingga keseluruhan kata-kata itu menjadi 
sangat berwibawa dan menggelitik jiwanya.

Berhari-hari kemudian Ibrahim bin Adham duduk menyendiri, merenungkan 
makna kata-kata orang asing itu, sampai akhirnya ia mengambil 
keputusan untuk meninggalkan tahta kerajaannya untuk kemudian 
menempuh jalan sufi Dengan berpakaian sangat sederhana Putera Mahkota 
itu mengembara mencari Tuhannya. Dua puluh tahun kemudian Ibrahim bin 
Adham dikenal sebagai ulama besar yang bermukim di Makkah dan menjadi 
rujukan utama ilmu tasauf.

Kisah tersebut menjadi contoh betapa kata-kata tertentu mempunyai 
kekuatan yang luar biasa dalam mengubah perilaku manusia, dan betapa 
suatu logika mempunyai peran yang sangat besar dalam pengambilan 
keputusan, dan betapa paduan suara, kata-kata dan logika mempunyai 
daya panggil yang sangat kuat dan berwibawa terhadap seseorang.

==========================================================
Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui
 http://mubarok-institute.blogspot.com, [EMAIL PROTECTED]
==========================================================




Kirim email ke