Tahun lalu saya bersama beberapa orang teman, mengikuti kegiatan rafting
atau arung jeram. Acara dilaksanakan pada hari Sabtu, di sungai Citarik
Sukabumi. Ketika diajak bergabung dalam event ini, saya sempat berpikir dan
ragu ragu. Bayangan keganasan medan rafting yang sering saya lihat di TV
tampak nyata di mata saya. Namun keinginan untuk mencoba pengalaman baru
sangat kuat dalam benak saya. Akhirnya setelah beberapa saat
mempertimbangkan, saya memutuskan untuk turut serta. 

Sampai di lokasi, kecemasan saya tidak hilang juga, malah semakin menguat.
Apalagi ketika melihat batu batu besar yang seakan akan "menantang" saya
untuk menaklukkannya. Ketika diadakan briefing oleh instruktur, kekhawatiran
saya justru berubah menjadi ketakutan yang amat sangat. Instruktur membagi
kami dalam beberapa tim. Satu tim terdiri dari 4-6 orang. Instruktur
menjelaskan berbagai teknik agar kita bisa selamat sampai tujuan. Kalau
tidak hati hati maka resikonya bisa celaka. Minimal pulang dengan luka luka.


Saya lihat teman teman di sekeliling saya. Walaupun mereka kadang tertawa,
namun saya juga melihat gurat kekhawatiran di wajah mereka. Saat itu saya
sempat berpikir untuk mundur. Apalagi saya tidak pandai berenang.Bagaimana
nanti kalau perahu terbalik, dan saya hanyut dibawa arus sungai Citarik yang
deras. Jiwa saya bergejolak. Keringat dingin saya keluar. Jari jari tangan
saya serasa lemas. 

Namun saya juga berpikir, "masak sudah sampai di sini mau mundur lagi, malu
dong". Akhirnya dengan Bismillah :"saya yakinkan diri saya sendiri, bahwa
saya pasti mampu menjalaninya. Saya membayangkan bisa menaklukkan batu batu
besar yang dari tadi serasa "mengejek saya". Saya pasti bisa melewati segala
rintangan dengan keyakinan dan kerja keras antar sesama anggota tim yang
telah dibentuk.

Kami mengambil paket rafting untuk jarak menengah. Panjang perjalanan
sekitar 9 KM. Biasanya rute tersebut bisa diselesaikan dalam waktu empat
jam. Ketika saya baru naik ke atas perahu karet, tiba tiba perahu bergoyang.
Badan saya oleng. Saya pun panik bukan kepalang. Instruktur saya dengan
sabar meyakinkan dan menenangkan diri saya.

Akhirnya setelah kami berdoa bersama. Perjalanan dimulai. Saya memegang
dayung dengan amat erat. Seerat eratnya. Arus sungai Citarik waktu itu
memang cukup deras. Kamipun mendayung dengan penuh semangat. Semua instruksi
dari instruktur kami taati. Hal ini semata mata untuk keselamatan kami juga.
Ketika ada pohon yang menjulur ke sungai, kami diinstruksikan untuk
"tiarap". Ketika perahu menabrak dan terjepit diantara bebatuan yang amat
besar, kami mengatur posisi duduk dan melakukan gerakan "encot encotan"
sehingga perahu bisa terus menyelinap di sela sela bebatuan. 

Saat perjalanan masih sekitar setengah jam, hati saya masih deg degan ketika
melihat pusaran air yang ada di depan mata. Ketakutan masih menggelayuti
diri saya. Namun begitu rintangan demi rintangan bisa dilalui dengan baik,
keyakinan diri saya semakin bertambah. Saya pun makin percaya diri. Begitu
juga dengan teman teman saya. Begitu melihat rintangan/pusaran air yang
tampaknya "menakutkan", semangat kami justru makin membuncah untuk segera
menaklukkannya. Walaupun kami menyadari bahwa mengatasi rintangan tidak
semudah yang kami kira. Setiap rintangan selalu ada keunikan dan membutuhkan
strategi tersendiri dalam mengatasinya. 

Yang pasti setiap selesai melalui suatu rintangan, hati saya senang luar
biasa. Puas. Apalagi kalau berpapasan dengan tim lain. Kami saling "ledek
ledekan". Saling serang dengan mencipratkan air sungai dengan bantuan dayung
kami. Kalau ada tim lain yang terjebak dalam bebatuan dan berhasil kami
salip, kami juga mengeluarkan teriakan ejekan. Biasanya setelah melihat
ejekan kami, tim lain tersebut ( teman kami juga), akan termotivasi untuk
segera keluar dari jebakan dan berusaha sekuat tenaga untuk menyusul kami.
Susul-menyusul, salib- menyalib, menjadikan perjalanan rafting yang menuntut
kekuatan fisik ini serasa amat dinamis dan menyenangkan.

Tanpa terasa perjalanan yang kami tempuh selama kira kira 4 jam tersebut,
telah mencapai jarak 9 KM. Tim saya ternyata menjadi tim yang pertama kali
mencapai finish. Cihui...kami bersorak karena berhasil menjadi juara.
Kamipun melakukan "toss" bareng dan saling mengucapkan selamat. Setelah itu
kami minggir dan naik ke atas sungai dan disambut oleh kelapa muda yang siap
untuk dinikmati. 

Hari itu saya belajar tentang bagaimana mengalahkan ketakutan. Dampaknya
bukan hanya ketakutan saja yang hilang, tetapi juga mendapatkan kesenangan
dan kepuasan yang luar biasa. 

Pengalaman mengalahkan ketakutan ini juga pernah saya alami di kantor. Waktu
itu hari Jumat. Saya sedang duduk beriktikaf di masjid kantor saya. Jam
menunjukkan hampir pukul 12 siang. Tapi belum juga ada pengurus DKM yang
maju untuk memberikan beberapa pengumuman seperti biasanya. Saya lihat
beberapa pengurus DKM nampak sedikit panik dan melakukan musyawarah kecil di
depan mimbar. Sesaat kemudian, disaat saya sedang khusyu' beriktikaf, salah
seorang pengurus DKM menepuk pundak saya dan mengajak bersalaman. Aneh, ada
apa nih? 

Singkat kata, pengurus tersebut meminta tolong kepada saya untuk
menggantikan Khotib yang sampai detik tersebut belum hadir. Pengurus sudah
berusaha telpon untuk konfirmasi, namun tidak ada hasilnya alias mailbox.
Jantung saya saat itu langsung berdegub kencang. Hati saya deg degan. Dalam
hati saya ingin menolak permohonan tersebut. Pertimbangan saya karena
terlalu mendadak, dan sama sekali tidak ada persiapan. Namun desakan
pengurus DKM tersebut meluluhkan hati saya. 

Akhirnya saya menyatakan sanggup. Padahal saat itu saya masih belum punya
ide, materi apa yang akan saya sampaikan. Keringat dingin saya mulai keluar.
Sudah lama sekali saya tidak naik ke atas mimbar. Apalagi untuk khutbah
Jumat yang diikuti oleh ribuan Jamaah. Maklumlah, karyawan pabrik di tempat
saya bekerja saat ini jumlahnya memang ribuan. Namun saya juga berpikir,
masak sholat Jumat yang dihadiri sekian ribu Jamaah ini gagal terlaksana
atau mundur, hanya gara gara tidak ada yang berani menjadi Khotib dan Imam.
Saya juga menyaksikan betapa banyak jamaah yang mulai gelisah karena ritual
Jumat belum juga dimulai. 

Selesai memberikan pengumuman rutin, pengurus DKM mempersilahkan saya untuk
naik ke atas mimbar. Dengan mengucap bismillah, saya naik ke mimbar dan
mengucapkan salam. Ketika Muadzin sedang melantunkan adzan, sambil duduk
saya berusaha "mengais ngais" ilmu yang selama ini saya dapatkan. Tentu saja
termasuk satu dua ayat Al Quran atau Hadist sebagai dalil penguat. Akhirnya
hati saya mantap untuk menyampaikan tema tentang" Keutamaan Menuntut Ilmu
dan pentingnya menjadi seorang pembelajar". 

Begitu adzan selesai, saya memulai khutbah dengan mencurahkan segala
kemampuan saya. Aneh sekali, ketika saya mulai bicara, ketakutan saya
langsung hilang. Deg degan saya lenyap seketika. Walaupun kadang agak
terbata bata, saya berhasil menyampaikan amanah khutbah tersebut dengan
baik. Setelah selesai memimpin Sholat Jumat, dan kembali ke kantor,
tanggapan teman teman saya luar biasa. Bahkan atasan saya sendiri setengah
tidak percaya. Kok ternyata saya bisa berbicara dengan fasih di depan orang
banyak. Bahkan ada seorang teman dari departemen marketing, yang dengan
antusias menyalami saya, sambil berkata : " Selamat If, elu...canggih
banget. Selama 7 tahun gue sholat Jumat disini, baru kali ini gue kagak
ngantuk he...he...". Saya membalas komentar teman saya tersebut dengan
"cengar cengir" saja. 

Pada hari Jumat yang lain, selang beberapa hari setelah gempa melanda Yogya,
saya juga memperoleh permohonan yang sama. Waktu itu saya sedang mengambil
air Wudhu, ketika tiba tiba seorang pengurus menghampiri saya. " Pak Faif,
minta tolong ya...hari ini khotibnya berhalangan". Sayapun tidak kaget lagi
dan menyanggupinya. Saya lihat jam tangan saya, dan masih ada waktu 15 menit
untuk mempersiapkannya. Saya minta pengurus untuk menunggu sebentar. Saya
bilang, saya mau ambil sesuatu dulu di meja kantor saya. 

Masjid di kantor saya memang dekat. Lokasinya di Lantai 2, bersebelahan
dengan Hall/ Ruang pertemuan. Sesampai di meja kantor, saya langsung buka
republika online, dan langsung masuk ke rubrik hikmah. Prediksi saya, pasti
ada uraian hikmah tentang bencana gempa di Jogya. Ternyata dugaan saya
tepat, ada tulisan tentang "hikmah di balik musibah" di rubrik Hikmah Harian
Republika. Saya langsung print out tulisan tersebut, dan saya pelajari
sambil jalan ke masjid. Tema tersebut saya jadikan inti khutbah dengan
tambahan penjelasan semampu saya.

Walaupun masih ada "deg degan" di hati saya, namun saya memutuskan untuk
mengabaikannya. Alhamdulillah, saya bisa menunaikan amanah tersebut dengan
baik. Selesai sholat Jumat, saya pamit kepada pengurus DKM untuk kembali
bekerja. Saat bersalaman, saya kaget ketika menyadari bahwa pengurus DKM
menyelipkan amplop di saku seragam kerja saya. Tentu saja saya menolaknya.
Tetapi pengurus DKM bersikeras agar saya menerimanya sebagai wujud
penghargaan mereka atas bantuan saya. Akhirnya saya "terpaksa" menerimanya
sebagai rezeki Allah yang tidak diduga duga. 

Ketakutan yang sama juga sempat saya alami ketika saya hendak membuka toko
busana muslim "Kafana Distro". Namun portofolio pengalaman mengalahkan
ketakutan selama ini mampu menguatkan saya untuk segera "take action".
Alhamdulillah, saat ini toko saya tersebut semakin berkembang dan terus
menunjukkan hasil yang positif.

Jadi, bagi Anda yang saat ini masih dibayang bayangi ketakutan,
bertindaklah. Take Action. Niscaya ketakutan itu akan hilang dengan
sendirinya. 

Saya yang selama ini "bergelut dengan keterbatasan" saja bisa, apalagi Anda.

Salam

Faif Yusuf 

HYPERLINK "http://faifyusuf.com/"http://faifyusuf.com

NB. Tulisan ini akan lebih berkesan dibaca dengan bantuan visualisasi photo
rafting diblog saya. Silahkan berkunjung.

 


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.9.10/873 - Release Date: 6/26/2007
11:54 PM



No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.9.12/878 - Release Date: 6/28/2007
5:57 PM
 

Kirim email ke