Menjadi Jenderal
 
Betapa besar perbedaan cara kerja seorang Jenderal di
masa perang modern dengan Jenderal di masa lampau.
Jika Anda pernah menyaksikan film "Ike: The Countdown
to D Day", yang dibintangi Tom Selleck sebagai
Jenderal Dwight D. Eisenhower, Sang Supreme Commander
pada waktu serangan besar-besaran pasukan sekutu ke
Normandia, Anda akan bisa menyaksikan bahwa Jenderal
Eisenhower bekerja dengan luar biasa melalui
pemikiran, strategi dan keputusan yang dibuat dengan
penuh perhitungan di war-room nya. Ini berbeda dengan
aksi Jenderal Gaius Julius Caesar atau Jenderal Mark
Anthony misalnya, yang dapat Anda saksikan di film
serial "the Rome". Pada masa kerajaan Romawi tadi,
para Jenderal tidak hanya memikirkan strategi dan
membuat keputusan, namun juga langsung melakukan aksi
fisik di medan pertempuran. Maka di film the Rome Anda
dapat menyaksikan Jenderal Mark Anthony yang langsung
turun bertempur dan ikut berdarah-darah. Sesuatu yang
sulit kita bayangkan akan terjadi pada Jenderal
Eisenhower, ataupun Jenderal Norman Schwarzkopf,
misalnya.

Anda yang memiliki bisnis juga adalah Jenderal bagi
bisnis Anda. Karena mengelola bisnis prinsipnya tidak
jauh beda dengan apa yang dilakukan para Jenderal
tadi. Sebagai "Jenderal Bisnis" kita juga harus pandai
menyusun strategi, mengalokasikan sumberdaya, dan
membuat keputusan untuk mencapai tujuan. Kompetisi
dengan para pesaing pada market yang terbatas juga
mirip dengan pertempuran antar pasukan dalam
memperebutkan wilayah tertentu. Dan konsekuensi dari
keputusan yang dibuat oleh seorang jenderal bisnis pun
bisa berupa kemenangan ataupun kekalahan. Hampir sama
dengan hasil suatu peperangan. Idealnya, di jaman
modern ini, seorang jenderal bisnis mampu bekerja
seperti para Jenderal militer di masa modern seperti
Eisenhower atau Schwarzkopf.

Buat saya ini masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak
mudah. Bagaikan Jenderal masa Romawi kuno, saya lebih
sering ikut langsung dalam pertempuran-pertempuran di
garis depan. Meskipun sudah berhasil untuk membatasi
diri tidak terlibat langsung dalam delivery, namun
hingga saat ini saya masih sangat terlibat dalam
pemasaran dan penjualan. Ini yang kadang membuat saya
mengalami kesibukan yang sedikit di luar batas. Dan
ini saya akui sangat melelahkan. Seperti yang saya
alami beberapa minggu ini. Kami mendapat begitu banyak
opportunity yang sangat menantang. Tentu ini baik buat
bisnis. Namun konsekuensinya, saya harus sering terjun
langsung dalam mempelajari kebutuhan calon pelanggan,
merumuskan konsep solusinya dalam bentuk proposal,
hingga melakukan presentasi dan demo solusi yang kami
tawarkan. Kadang hal ini memakan waktu yang tidak
sedikit. Beberapa minggu ini saya selama beberapa
malam hanya bisa tidur 2 – 3 jam, itupun besoknya
harus segar kembali karena harus siap melakukan
presentasi. Nah, presentasinya sendiri kadang bisa
makan waktu seharian. Caaapee deh …

Ini mungkin sindrom pebisnis pemula seperti saya.
Sebenarnya yang sekarang sudah lumayan, karena
sebelumnya malah lebih parah lagi. Saya terlibat
langsung di semua lini. Mulai dari proses jualan,
proses delivery, hingga penagihan. Kalau istilahnya
Brad Sugars, masih work in the business. Saya kemudian
mulai untuk tidak terlibat dalam delivery, karena ini
yang paling melelahkan, juga antara lain setelah
terinspirasi oleh pemikiran Brad Sugars. Tapi rupanya
di area penjualan, saya masih sering keasyikan
bertempur.


Delegate !

Saya tahu, Anda pasti berpikir, kenapa saya tidak
delegasikan tugas yang melelahkan tadi? Bukankah di
berbagai bukunya Brad Sugars dengan jelas mengatakan,
bangun system dan delegasikan ke tim. Bahkan kemampuan
untuk melakukan pendelegasian ini oleh banyak pemikir
seperti John C. Maxwell atau Jeffrey J. Fox dianggap
sebagai ukuran kemampuan kepemimpinan seseorang.
Jenderal Eisenhower sebelum "D Day" melakukan delegasi
kewenangan yang jelas kepada pimpinan angkatan udara,
angkatan laut dan angkatan darat yang akanmenjadi
eksekutor keputusannya. Seorang Jenderal modern tahu
persis, tidak mungkin ia melakukan semua sendirian,
tanpa dukungan seluruh anggota tim. Singkatnya,
seorang Jenderal bekerja dengan memberikan delegasi
kepada tim.

Namun pelaksanaan pendelegasian tidak semudah
teorinya. Saya sendiri juga masih terus mencoba. Dan
mungkin saya termasuk orang yang sering gagal
melakukan pendelegasian. Tapi tidak apa-apa, paling
tidak saya jadi belajar. Dalam pengalaman saya, ada
beberapa hal yang menjadi penyebab tidak berjalannya
pendelegasian:

Pendelegasian tanpa kepercayaan. Pendelegasian artinya
memberikan kepercayaan penuh kepada tim Anda untuk
melaksanakan. Mungkin seringkali kita "gemas" dengan
cara tim kita melaksanakan tugas yang tadinya biasa
kita kerjakan. Dan dorongan untuk mengambil alih
kembali tugas tadi kadang demikian besar. Tapi apabila
ini kita lakukan, maka delegasi yang kita coba
jalankan akan berakhir. Ini godaan yang paling sering
saya alami. Saya sudah delegasikan, namun saya juga
gemas, karena saya tahu saya bisa melakukan dengan
lebih baik. Tapi jika semua hal saya ambil alih
kembali, kapan jadi Jenderal nya ya?

Pendelegasian tanpa pengarahan. Ini sering sekali
dilakukan oleh para Jenderal bisnis pemula seperti
saya. Memberikan delegasi kewenangan dengan pola "saya
gak mau tahu" dan "pokoknya urusan kamu". Padahal
sebagai Jenderal kita harus memberikan arahan apa yang
akan dicapai, kenapa harus dicapai, dan bagaimana
mencapainya. Pelaksanan tugasnya yang kemudian di
delegasikan. Tanpa arahan, tim yang menerima delegasi
akan tidak tahu arah.

Pendelegasian tanpa persiapan. Ini juga kerap terjadi.
Delegasi diberikan tanpa persiapan atas tim nya
sendiri. Belum ada struktur organisasi dan pembagian
tugas yang jelas, belum ada prosedur yang jelas,
langsung di delegasikan kewenangannya. Bahkan kadang
belum jelas apakah anggota tim nya sudah siap atau
belum. Kalau belum siap, ya harus disiapkan. Mungkin
perlu dilakukan pelatihan, atau di re organisasi dulu
tim nya. Memberikan delegasi tanpa persiapan anggota
tim, sama saja dengan menciapkan chaos. 

Pendelegasian tanpa pengendalian. Pendelegasian tanpa
control kadang bagaikan menciptakan api dalam sekam.
Kita sudah ciptakan sistemnya, siapkan orangnya,
memberikan pengarahan, dan memberikan delegasi penuh
kepada anggota tim kita. Dan semua kelihatan berjalan
dengan baik. Namun tiba-tiba customer Anda menghubungi
Anda untuk menyatakan memberhentikan jasa yang
diberikan perusahaan Anda, dan Anda pun kebingungan
dimana salahnya. Ini sangat mungkin terjadi jika dalam
pemberian delegasi, Anda tidak punya metode yang baku
untuk mengukur hasil yang dicapai oleh tim Anda.

Semoga Anda bisa memetik manfaat dari pengalaman saya.
Tanpa delegasi, bisnis jadi tidak sehat. Seorang
Jenderal tidak seharusnya ikut larut dalam pertempuran
sehingga melupakan fungsi utama nya untuk memimpin
pasukan mencapai tujuannya. Seorang Jenderal harus
lebih sering meluangkan waktu nya untuk hal-hal yang
strategis, berpikir tentang masa depan, sehingga
bisnis nya memiliki masa depan yang baik. Ah, rupanya
masih banyak yang harus saya pelajari. Semoga kita
semua mampu menjadi Jenderal bisnis sejati.

(c)Fauzi Rachmanto
http://fauzirachmanto.blogspot.com


       
____________________________________________________________________________________
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. 
Yahoo! Answers - Check it out.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545469

Kirim email ke