Hari Keenam
KARIR

Mencari cara untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik di dalam
profesi ataupun karir

Terkadang dalam karir atau profesi kita, kita merasa karir kita sudah
mentok. Kita merasa bahwa itulah puncak karir kita dan kita boleh
berpuas diri karena di situlah batas kemampuan kita. Apakah memang
demikian?

Coba bandingkan dengan cerita berikut :

Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya.

Namun, apa yang terjadi bila ia dimasukan ke dalam sebuah kotak korek
api kosong lalu dibiarkan di sana selama satu hingga dua minggu?

Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak korek
api saja!
Kemampuannya melompat 300 kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang.

Ini yang terjadi. Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api ia
mencoba melompat tinggi. Tapi ia terbentur dinding kotak korek api. Ia
mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus begitu sehingga ia mulai ragu
akan kemampuannya sendiri.

Ia mulai berpikir, "Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya
segini."

Kemudian loncatannya disesuaikan dengan tinggi kotak korek api. AMAN.
Dia tidak membentur.

Saat itulah dia menjadi sangat yakin, "Nah benar kan? Kemampuan saya
memang cuma segini. Inilah saya!"

Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih
terus merasa bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak
korek api.

Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat.

Sumber : Unknown

1.      Melakukan analisis pribadi terhadap kinerja pekerjaan secara
mingguan maupun bulanan. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi apakah
yang kita kerjakan sudah mengarahkan kita ke cita-cita atau tujuan
atau mimpi kita. Karena apabila kita tidak pernah melihat apa yang
sudah dan sedang kita kerjakan, niscaya kita akan tenggelam terus
menerus dalam aktivitas tersebut tanpa mampu keluar dari dalamnya.
Akhirnya, pekerjaan tersebut akan menjadi suatu rutinitas yang
menjemukan, menjadi suatu kebiasaan, menjadi suatu pola hidup dan kita
akan merasa nyaman tanpa mau berusaha lebih.

Pernah mendengar pepatah "Orang Gila adalah orang yang mengharapkan
hasil lebih tapi melakukan hal yang sama terus menerus". Contoh :
seorang salesman bulan ini jualan 4 unit motor dengan mengunjungi 1
klien selama seminggu. Apakah mungkin dia di bulan berikut berjualan 8
unit jika tetap mengunjungi 1 klien selama seminggu?

Ambil contoh di atas, jika salesman tersebut bercita-cita menjadi
seorang Sales Manager, apakah dengan hanya berjualan 4 unit motor per
bulan, dia bisa mencapai cita-cita nya tersebut?

2.      Mengorganisasi, merencanakan dan menjalankan dengan kinerja yang
memuaskan dengan menerapkan manajemen pengelolaan waktu dan
prinsip-prinsip menetapkan sasaran/target.

Goal anda harus S.M.A.R.T, yaitu:
Spesific : Spesifik/jelas – saya ingin menjadi Manajer Pemasaran bukan
saya ingin menjadi Manager atau saya ingin take home pay per bulan Rp
5 juta bukan saya ingin penghasilan yang banyak.
Measurable : Terukur – untuk menjadi Manajer Pemasaran saya harus
berinvestasi setiap bulannya Rp 300 rb utk training/ikut seminar, Rp
100 rb utk beli buku-buku/ cd/ film yang berhubungan dengan
pengembangan soft skills, dll selama jangka waktu 2 tahun. Dalam
jangka waktu 2 tahun, saya harus menguasai skill memotivasi bawahan,
skill mengoperasikan MS office, skill berkomunikasi, dll. 
Attainable : Dapat dicapai – Sales Manager bukanlah cita-cita yang
tidak dapat dicapai karena misalkan saya mencintai marketing, saya
suka memotivasi rekan kerja, saya suka berkomunikasi, saya menguasai
strategi pemasaran, dll.
Realistic : Realistis – untuk mencapai posisi sebagai Sales Manager
perlu waktu 3 tahun tapi itu realistis untuk dicapai. Posisi tersebut
realistis untuk dicapai tapi cukup menantang kita untuk mencapainya.
Time Limit : Ada batas waktu – artinya untuk mencapai posisi tersebut
harus ada batas waktu, misalkan dalam 2-3 tahun. Jangan menetapkan
target tersebut untuk seumur hidup, artinya jika dicapai yah bagus
jika tidak dicapai yah tidak apa-apa.

3.      Menghadiri kursus dan seminar-seminar mengenai motivasi untuk
meningkatkan pengetahuan dan keahlian.
Sudah tidak jamannya lagi mengharapkan perusahaan atau pihak lain
bertanggung jawab atas pengembangan diri kita. Contoh : "jelas aja
metodenya konvensional karena karyawan tidak pernah di training di
luar". Profesional yang berhasil adalah mereka yang meyakini bahwa
tanggung jawab untuk masa depan dan pengembangan karier ada di
tangannya sendiri.
Perusahaan tidak pernah membayarkan saya untuk mengikuti training,
tetapi dengan training yang saya investasikan sendiri, paling tidak
saya sudah mengisi diri saya dengan pengalaman-pengalaman positif baru
secara emosional dan spiritual.

Coba Anda bayangkan sebuah gergaji yang dipakai untuk menebang pohon
secara terus menerus. Jika tidak diasah/ dirawat, setelah 2-3 bulan
apa yang terjadi? Gergaji tersebut tidak akan bisa lagi menebang pohon
secepat ketika dia masih tajam/ sesudah diasah.

4.      Membaca buku, majalah dan catatan-catatan yang berhubungan dengan
profesi pekerjaan.
Output/ tingkah laku/ kebiasaan seseorang didasarkan pada input/
pengalaman/ pelajaran yang diterimanya. Jika kita setiap hari
mendengar berita kekerasan, perampokan, pembunuhan, mutilasi di Koran
tanpa diimbangi dengan input yang positif, dipastikan output kita akan
mudah cemas, takut keluar rumah, antipati terhadap orang lain, cuek,
tidak ramah, dsb nya.

Gunakan teknik speed reading seperti scanning, untuk menyerap bacaan
dalam waktu singkat, mengingat banyaknya materi bacaan sehubungan
dengan industri dan profesi yang kita tekuni tidak bisa kita cerna
semuanya.

Paksakan diri untuk mengingat dan mengotak-atik data dan fakta karena
sampai kapan pun sebagai seorang professional, kita perlu fakta dan
data bila ingin mengambil keputusan atau memecahkan masalah.

5.      Berkonsultasi dengan atasan, rekan sekerja, dan pembimbing mengenai
pengembangan karir dan profesi.

Ini bukanlah menjilat. Saya pernah mempraktekkan hal ini. Dengan
melakukan ini, saya jadi tahu dengan lebih jelas `career path' saya,
bagaimana cara untuk mencapainya, skills dan knowledge seperti apa
yang diperlukan untuk mencapainya, dsbnya. Hal ini sangat membantu
untuk mengevaluasi apakah saya sudah lebih dekat dengan cita-cita atau
mimpi saya pada poin 1 di atas. Kebanyakan orang tidak pernah
berkonsultasi tentang pengembangan karirnya dengan atasannya akibatnya
dia akan berjalan seperti seorang musafir di padang gurun tanpa
penunjuk arah yang jelas tapi dia tetap berjalan sampai akhir hayatnya.

Jangan pernah berhenti berinvestasi pada diri kita masing-masing,
niscaya orang lain, pihak lain, perusahaan juga tidak akan ragu-ragu
untuk berinvestasi pada diri kita. Amin.

Salam sukses untuk Anda!

Putera Lengkong
Director, Motivator, Trainer
http://puteralengkong.blogspot.com


Jika Anda tertarik dengan artikel di atas, Anda dapat men-subscribe di
box "E-MAIL NOTIFICATION" di side bar sebelah kiri blog saya di
http://puteralengkong.blogspot.com

Kirim email ke