Menghadirkan Kebahagiaan

Wahai Anda para pencari kebahagiaan, ada ucapan tiga
orang yang ingin saya kutip, dan mohon Anda baca dan
renungkan baik-baik:

"Sekarang saya jauh lebih baik, secara fisik,
finansial, mental dan hampir dalam segala hal …" (JW)

"Sebuah pengalaman yang luar biasa …" (MB)

"Saya belum pernah bisa menghargai orang lain seperti
yang saya rasakan sekarang …" (CR)

Ucapan-ucapan yang luar biasa bukan? Ucapan yang
pantas diucapkan oleh orang-orang yang telah mencapai
puncak kebahagiaan. Anda mau menjadi seperti mereka?
Jika saya katakan bahwa mereka bertiga mengucapkan
kalimat di atas selepas mengikuti sebuah pelatihan,
Anda mau mengikuti pelatihan tadi? Mau … ? Wah, banyak
yang langsung menganggukkan kepala.

OK, mungkin perlu sedikit dijelaskan tentang siapa
yang mengucapkan kutipan di atas. JW, adalah Jim
Wright, mantan anggota House of Representative Amerika
Serikat yang dipaksa mundur secara tidak hormat karena
melanggar kode etik, MB adalah Moreese Bickham, mantan
napi, kutipan diatas adalah ucapan selepas masa
tahanannya, dan CR adalah Christopher Reeves, sang
Superman yang mengucapkan kalimat di atas setelah
terkena lumpuh. Semua mengucapkan ucapan di atas
setelah menjalani "pelatihan" yang sangat berat dalam
hidupnya. Nah, Anda mau mengikuti "pelatihan
kebahagiaan" seperti mereka? Gak mau? Hehehe … kok
sekarang gak mau?

Ya, Anda mungkin serentak menggelengkan kepala.
Sekaligus mungkin jadi penasaran bagaimana mungkin
orang dapat mengucapkan hal-hal yang demikian luar
biasa, justru setelah mengalami musibah. Sementara
Anda mungkin sudah mengikuti puluhan pelatihan
motivasi dan melahap ratusan buku self help, dan belum
mampu mengucapkan kalimat-kalimat seperti di atas. 

Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan. Tapi
apakah kebahagiaan itu? Apakah pengertiaan kebahagiaan
menurut "seorang" Lori dan Reba Schapel, pasangan
kembar siam yang sangat berbahagia dan mampu
berprestasi, yang hingga dewasa tidak pernah bersedia
menjalani operasi pemisahan, sama dengan kebahagiaan
seorang Paris Hilton yang rupawan dan mewarisi
kerajaan bisnis Hilton, namun masih harus repot dengan
urusan penggunaan obat terlarang? 

Jadi, jika kebahagiaan begitu penting, lalu apakah
kebahagiaan itu?

Siapakah yang lebih bahagia, George Eastman pelopor
proses fotografi, salah satu pelopor prinsip manajemen
modern, dan pendiri Kodak, yang penjualan kamera nya
menguasai dunia itu, atau Adolph Fischer, anggota
serikat buruh dalam sejarah Amerika Serikat yang
ditangkap atas tindakan yang tidak pernah dilakukan,
diadili dengan saksi bayaran, dan dihukum mati? Anda,
dan juga saya, tentu yakin George Eastman lebih
bahagia. Namun kenapa justru Fischer yang mengatakan
"Ini saat paling membahagiakan dalam hidup saya …"
beberapa detik sebelum tali gantungan merenggut
nyawanya. Dan George Eastman, mati bunuh diri di kamar
kerja nya!

Kutipan di atas saya ambil dari buku "Stumbling on
Happiness " yang ditulis secara sangat cerdas oleh
Daniel Gilbert. Buku yang merangkum
pemikiran-pemikiran mutakhir tentang kebahagiaan
dengan cara yang sangat humoris ini memang dalam
banyak detilnya mampu mengguncang pengetahuan dan
keyakinan kita tentang kebahagiaan. Sayangnya tidak
ada jawaban instan dalam buku "Stumbling on
Happiness". Kalau Anda penggemar cerita detektif dan
punya rasa penasaran yang tinggi, Anda akan sangat
menikmati tulisan Dan Gilbert yang akan membawa Anda
memasuki lorong-lorong pemikiran tentang kebahagiaan.
Sebaliknya jika Anda penggemar buku self-help yang
berharap mendapat tips praktis, Anda akan kecewa,
karena buku ini sama sekali bukan buku self-help.
Justru Gilbert sepanjang bukunya menyisakan pertanyaan
besar, mengapa manusia selalu gagal untuk
memperkirakan hal-hal apa sajakah yang akan membuat
diri nya merasa bahagia di masa mendatang.

Kebahagiaan demikian penting, hampir semua sepakat.
Always "feel good" demikian pesan di ujung film the
Secret nya Rhonda Byrne. Gunakan "the Power of
Positive Feeling", demikian pesan Pak Erbe Sentanu
dalam bukunya Quantum Ikhlas. Bahkan lebih lanjut
beliau mengatakan bahwa kebahagiaan adalah fitrah
manusia. Namun mengapa begitu sering kita tidak merasa
bahagia. Padahal kita paham kalau dalam hukum Law of
Attraction dikatakan "likes attract likes", bahwa
perasaan bahagia akan menarik hal-hal yang akan
membuat kita bahagia. Namun mengapa begitu sulit untuk
selalu menghadirkan rasa bahagia di hati kita.

Kadang kita merasakan kebahagiaan yang meluap, ketika
kita sedang berkumpul dan bercanda bersama keluarga.
Namun perasaan itu bisa lenyap begitu saja, ketika
kita sendirian. Kita merasa begitu bahagia ketika
berhasil mewujudkan yang kita inginkan, namun tidak
berapa lama rasa cemas dan khawatir kembali menyergap
hati kita. Kalau diibaratkan hati kita sebagai rumah,
kebahagiaan seringkali hanya mampir sebagai tamu,
menginap sesaat, dan pergi lagi, namun masih enggan
menetap menjadi penghuni di hati kita. Wah, kalau
begini, bagaimana kita bisa selalu "feel good"?

Ada yang mencoba menghadirkan kebahagiaan melalui
kepemilikan materi, uang yang banyak, rumah yang
mewah, mobil yang bagus. Namun justru semakin tidak
bahagia, karena selalu merasa kurang uang, mobilnya
kurang bagus, dan rumahnya kurang mewah. Belum lagi
kalau mengalami kehilangan materinya. Ada juga yang
mencoba mewujudkan kebahagiaan dengan berbagai
aktifitas. Mulai dari ikut pesta, berwisata ke luar
negeri, hingga nonton konser atau pertandingan
olahraga. Namun, rasa bahagia berakhir ketika pesta
berakhir. Kebahagiaan pergi ketika mereka harus
kembali pulang ke rumah, atau ketika konser atau
pertandingan berakhir. 

Karena semua yang ingin dimiliki atau dilakukan tadi,
ternyata hanya sekedar menghadirkan kesenangan. Namun
bukan kebahagiaan.

Jadi, bagaimana menghadirkan kebahagiaan?

Dalam buku "How We Choose To Be Happy" yang ditulis
Rick Foster dan Greg Hicks pertanyaan ini menjadi tema
sentral. Bagaimana kita bisa menghadirkan kebahagiaan
yang terus menerus di hati kita? Ternyata menurut
Foster dan Hicks, setelah meneliti orang-orang yang
luar biasa bahagia, ada 9 choices yang selalu
dilakukan oleh orang-orang tersebut. Jika Anda ingin
menghadirkan kebahagiaan secara berkesinambungan dan
berkesadaran, Anda bisa mencontoh choices mereka.
Cukup panjang kalau dibahas semua. Namun, menurut
saya, untuk memulai, paling tidak Anda bisa mencontoh
dua hal:

Berniatlah Untuk Bahagia. Kedengarannya begitu
sederhana, namun betapa jarang kita lakukan. Bisakah
Anda mulai sekarang, setiap hari, meniatkan dan
berjanji dalam hati, bahwa hari ini Anda akan
merasakan kebahagiaan, apapun pengalaman yang akan
Anda alami? Dan sepanjang hari, jaga kesadaran Anda
bahwa Anda sudah memilih untuk bahagia, apapun
peristiwa yang terjadi di depan Anda. Setiap pagi
ketika akan memulai hari Anda, ingatlah lagi komitmen
Anda ini.

Bertanggungjawablah. Anda sendiri yang
bertanggungjawab atas kebahagiaan Anda. Jadi, mulai
sekarang, apapun peristiwa yang Anda alami, pilihan
untuk bahagia atau tidak bahagia, ada di tangan Anda.
Jangan pernah menimpakan kesalahan ke orang lain.
Hilangkan kalimat bahwa: "saya jadi tidak bahagia
karena si … " Orang-orang yang luar biasa bahagia,
selalu merasa in control, bukan korban atas perbuatan
orang lain atau peristiwa yang tengah di alami. Mereka
mengendalikan hidupnya secara sadar, dan selalu
memilih untuk bahagia.

Dua pilihan yang begitu mudah dibaca, namun cukup
menantang untuk dipraktekkan. Saya juga sedang
berlatih. InsyaAllah dengan menjalankan dua pilihan
orang-orang yang luar biasa bahagia tadi, semoga
kebahagiaan dapat lebih betah singgah di hati Anda.
Untuk kemudian menetap. Selamanya. (FR)

http://fauzirachmanto.blogspot.com


 
____________________________________________________________________________________
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.
http://mobile.yahoo.com/mail 

Kirim email ke