Apakah yang anda lakukan bila ingin menggerakan, sebuah kelereng yang berada
diatas lembaran kaca? Mungkin anda akan menyentilnya dan kelereng itu akan
melaju dan bergerak cepat. Bagaimana bila kita tidak boleh menyentuhnya? Maka
kita akan menggoyangkan kaca tersebut. Sekali dimiringkan maka kelereng itupun
akan meluncur.
Bagaimana sekarang bila bukan kelereng, namun bentuk yang lebih mapan dan
setel. Sebuah dadu? Apakah lebih mudah? Dengan menyentilnya, maka akan mudah
berhenti dan tak jauh dari posisi semula, begitu juga bila kita tidak boleh
menyentuhnya. Dengan memiringkan permukaan kaca maka juga butuh kemiringan yang
extrem untuk menggerakan sebuah dadu.
Sekarang, bagaimana dengan sebuah bekas premen karet? Bisakah kita
menyentilnya? bisakah kita memiringkan lembaran kaca, walau dengan sangat
extrem? Apa yang harus kita lakukan? Tidak ada pilihan lain kita copot dan
lempar.
Kemudian dengan seekor semut? Apa yang akan anda lakukan untuk membuat semut
itu bergerak. Jika anda tidak boleh menyentilnya, mungkin anda akan memiringkan
lembaran kaca. Bisa jadi sang semut juga tidak akan bergerak sesuai dengan
kemiringan kaca. Sangat mungkin justru sang semut akan bergerak keatas. Lalu
bagaimana agar semut bergerak sesuai dengan apa yang anda inginkan, arah yang
anda harapkan?
Ada dua cara. Pertama adalah mengusir dari tempat yang seharusnya tidak dituju.
Anda bisa memasang lilin di bawah kaca, di tempat-tempat yang anda tidak
inginkan semut itu menuju. Sedang yang kedua adalah, anda memasang sesuatu yang
menarik bagi si semut. Entah sebuah makanan, potongan roti atau, beberapa butir
gula.
Apakah ada pilihan lain?
Ada, yaitu anda diamkan saja dan anda berharap, sang semut akan menuju tempat
yang anda inginkan. Berdoalah dan biarkan. Apakah berhasil? Yes! tapi di bulan
May. May be yes, may be no! Propabilitiesnya adalah 1/360, kalau kita hitung
setiap derajat adalah satu kemungkinan.
Anda adalah semut, dimana anda harus bergerak menuju tempat yang baik, tempat
yang makmur, tempat yang membahagiakan. Jangan sampai anda menuju ketempat yang
terpanggang lilin panas. Atau hanya diam.
sahabat sukses!
Ingat di sudut sana ada gula yang sangat nikmat. Gula kehidupan yang ceria,
gula kehidupan yang menenangkan, gula kehidupan yang indah dan damai. Gula
kehidupan yang seharusnya semua semut-semut menuju. Orang bisa bilang duhai
semut yang bodoh, mengapa dikau menuju tempat yang panas dan mati terpanggang.
Semut yang menuju tempat gula, adalah semut yang cerdas, semut yang memiliki
daya cium yang kuat, semut yang segera mau bergerak dan mengambil langkah
nyata, semut yang antusias berjuang menuju gula-gula. Bukan semut yang malas,
bukan semut yang bebal akan panas yang sudah mulai menjalar, walaupun tampak
hangat dan menyenangkan cahaya lilin-lilin itu.
***
Cerita ini terinspirasi, ketika saya pulang dari Surabaya dan melihat semut
terjebak dalam kaca jendela pesawat. Semut itu mencari jalan keluar. Semut itu
naik dan setelah delapan atau sepuluh centi keatas, kemudian terjatuh. Dia
ulangi lagi dan terjatuh lagi, dia ulangi dan terpeleset lagi. Saya
menghitungnya hingga 14 kali lebih. Sang semut yang luar biasa tangguh dan
pantang menyerah. Namun akhirnya, ketika seorang pramugari lewat mengecek
sandaran kursi dan sabuk pengaman, maka perhatian saya sebentar terlepas. Dan
ketika itu saya melihat sang semut sudah tidak ada. Sang semut menemukan jalan
keluar yang lain yaitu sebuak lubang di bagian bawah.
Hmmmm semut yang pintar. Semut yang terjebak raganya, namun jiwanya tidak
terkungkung dalam rutinitas. Dia menemukan jalan lain setelah belasan kali
gagal dengan cara yang sama. Buat kamu semut yang pintar! Salam Perubahan!
Semut yang berani mencoba jalan lain, kalau ternyata jalan yang biasa dia lalui
hanya akan membuatnya terpelesat dan terpuruk.
Saya masih saja melamunkan semut pintar itu. Semut yang mujur bisa menikmati
terbang 32.000 kaki dan hampir ribuan kilo. Wow! Seandainya saja Setelah
pesawat mendarat di Sokarno Hata dan kemudian balik ke Surabaya, semut itu
berhasil turun dan bercerita dengan semut lainya yang di Sidoardjo, tentu, dia
akan di cap sebagai pembohong, semut gila, semut sableng yang mengaku dari
Jakarta dan terbang di atas awan.
Sahabat sukses,
Kembali lagi mari kita renung kehidupan kita dan perjuangan kita. Sudahkah kita
berhasil? Sudahkan kita membuat perubahan-perubahan dalam hidup? Sudahkan
kehidupan kita mulai membaik? Jika BELUM, ada baiknya kita meniru semut yang
terjatuh belasan kali, dengan cara MENEMUKAN JALAN LAIN.
Selain itu perlu sayapun bertanya? Apakah diri ini layaknya seperti
kelereng diatas kaca, buah dadu atau permen karet yang sangat sulit untuk
BERGERAK. Memiliki keterikatan yang begitu kuat, terhadap suatu hal, sulit
digerakan. Kita memiliki koefisien gesek yang tinggi, sehingga dimanapun
kita menjadi sulit melaju.
Teringat kembali semut yang menikmati penerbangan Surabaya-Jakarta. Burung
bisa terbang adalah kewajaran, namun semut bisa terbang, pasti luar biasa.
Salam Perubahan
Hari Subagya
__________________________________________________________________
Yahoo! Singapore Answers
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at
http://answers.yahoo.com.sg