Landasan Bimbingan & Konseling Agama

Penderita gangguan jiwa sering tidak menyadari apa yang sebenarnya
sedang melanda dirinya. Ia gelisah, cemas, tak bersemangat, terkadang
takut, ragu-ragu, tak percaya diri, tetapi ia sendiri tidak tahu
persis apa sebenarnya yang menyebabkan keadaan-keadaan tersebut. Di
kalangan masyarakat, ada yang menyarankan agar penderita itu dibawa
kepada dukun, karena gejala itu ada hubungannya dengan gangguan
makhluk halus. Di sisi yang lain, ada yang menganjurkan agar penderita
dibawa kepada kepada dokter jiwa karena ia dianggap sakit jiwa.
Fenomena itu menunjukkan bahwa masyarakat belum memahami fungsi
bimbingan dan konseling. 

Meskipun di sekolah sudah ada guru BP yang menangani masalah kesulitan
belajar bagi siswa-siswa bermasalah, tetapi pada umumnya masyarakat
belum bisa membedakan tugas dan fungsi guru BP dengan guru lainya.
Layanan Bimbingan dan Konseling kejiwaan pada umumnya baru tumbuh pada
masyarakat perkotaan, terutama-kota-kota besar, karena hiruk pikuk
kehidupan manusia di kota besar dengan segala permasalahannya sangat
memungkinkan timbulnya gangĀ­guan jiwa bagi orang yang tidak siap
mental atau yang terlalu berat beban mentalnya dalam mengatasi
problema kehidupan yang dialaminya. Meskipun belum ada data penelitian
lapangan, nampaknya pengguna jasa layanan Bimbingan dan Konseling
kejiwaan masih terbatas pada kalangan menengah ke atas, dan pada
kelompok yang relatip tidak dekat dengan agama. Di kalangan masyarakat
santri, jika ada seseorang yang merasa bermasalah biasanya lebih suka
sowan kepada kyai untuk minta doa dan berkahnya agar sembuh dari
gangguan jiwa itu. Apa yang dilakukan oleh para kyai terhadap tamu
yang mohon di doakan dan diberkahi itu sebenarnya memang merupakan
jenis layanan konseling, meski paradigmanya berbeda.

Masyarakat dakwah di Indonesia pada umumnya masih berkutat di seputar
tabligh, yakni sekedar menyampaikan seruan atau informasi tentang
Islam. Usaha mensosialiĀ­sasikan Islam dengan persuasip masih merupakan
teori yang dipelajari di bangku kuliah atau di diskusikan dalam
seminar-seminar, belum menjadi perencanaan apalagi program aksi yang
terkordinasi. Orientasi dakwah di Indonesia pada umunya masih monoton,
normatip dan idealistik. Para da'i pada umumnya belum tertarik dengan
penelitian dakwah sehingga apa yang menjadi kebutuhan masyarakat mad'u
tidak diketahui secara empirik, dan para da'i dalam dakwahnya hanya
memberikan apa yang mereka punyai, bukan memberikan apa yang
dibutuhkan. Kelompok masyarakat bermasalah termasuk yang belum
diteliti oleh para da'i sehingga merekapun tidak tahu persis apa yang
dibutuhkan. 

Dalam kondisi masyarakat dakwah yang sedemikian itu maka logis jika
bentuk Bimbingan dan Konseling Agama belum menarik perhatian para
da'i. meskipun masyarakat sebenarnya sudah membutuhkan. Dewasa ini,
bentuk pemberian layanan Bimbingan dan Konseling Agama mestinya sudah
menjadi agenda dakwah, yakni dakwah yang bersifat khusus. Kenyataannya
hanya sedikit da'i yang memusatkan perhatian dakwahnya kepada kelompok
orang bermasalah , dan itupun masih bersifat improfisasi. 

Wassalam,
agussyafii
http://mubarok-institute.blogspot.com

Kirim email ke