*Tentang Associated dan Disassociated*

*Read More? *http://idnlpsociety.wordpress.com

*Join the community? [EMAIL PROTECTED]

*Upcoming Event*? *Perceptual Positions, 1 September 2007***


 Sembari Anda duduk dan membaca tulisan ini, Anda bisa mulai memikirkan
sebuah pengalaman yang paling lucu yang pernah Anda alami. Lihatlah *dengan
mata kepala Anda sendiri* apa yang terjadi ketika itu. Dengarkan dengan
seksama suara atau musik apa saja yang muncul. Rasakan kembali perasaan yang
Anda pada saat itu sepenuhnya.

Ambil waktu Anda, dan nikmati Anda kembali pada masa itu.

Sekarang, keluarlah dari pengalaman tersebut. Saya tidak tahu persis
bagaimana Anda akan melakukannya, namun jadikan pengalaman itu sebagai
sebuah film yang sedang diputar di bioskop dan *Anda duduk di bangku
penonton* menontonnya. Lihatlah film Anda dari sudut pandang seorang
penonton dan dengarkan suara atau musik yang muncul dari sound system di
gedung bioskop tersebut. Pada saat yang sama, rasakan apa yang Anda rasakan
demi melihat kesemuanya sebagai seorang penonton.

AHA! Anda bisa merasakan perbedaanya, kan?

Bagus. Jika Anda sudah membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya mengenai *rep
system *dan temannya si *submodality*, maka ini adalah aplikasi yang sedikit
lebih mendalam mengenai keduanya. Yang baru saja Anda rasakan adalah
submodalitas *associated *dan *disassociated*. *Associated* adalah kondisi
kita berada dalam konteks kita mengalami suatu kejadian tertentu. Ibarat
sebuah film, maka kita menjadi aktor dari film tersebut dan karenanya kita
melihat, mendengar, dan merasakan dari sudut pandang kita sendiri.
Sebaliknya, *disassociated* terjadi ketika kita 'keluar' dari konteks
kejadian tersebut. Masih dengan metafora film, kita bisa menjadi penonton
ataupun petugas bioskop yang memutar film tersebut.

Ah, petugas bioskop! Jika Anda menginginkan, Anda bisa mencoba kembali
latihan di atas dengan menambahkan 1 langkah lagi, yaitu *menjadi petugas
bioskop* yang memutar film diri Anda. Dengan demikian, Anda akan melihat
diri Anda sedang duduk menonton sebuah film tentang diri Anda. Lihat film
tersebut, dengarkan suara atau musik yang muncul, dan rasakan kembali demi
melihat kesemuanya.

Berbeda lagi rasanya, kan?

Nah, kemampuan asosiasi-disasosiasi ini adalah salah satu keterampilan
penting dalam NLP. Betapa tidak, begitu banyak teknik NLP didasarkan atas
prinsip ini. Coba perhatikan, dalam kondisi *associated* intensitas emosi
biasanya sangat tinggi, dan karenanya kita sulit untuk memahami sebuah
pengalaman secara obyektif. Sebaliknya, kondisi *disassociated* memungkinkan
kita untuk tetap merasakan emosi yang sama namun dengan intensitas yang
lebih rendah dan tingkat kesadaran (*consciousness*) lebih tinggi sehingga
bisa memahami pengalaman yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Di titik
inilah kita bisa merasakan secara riil prinsip *the map is not the teritory*.


Loh, *nyambung* toh?

Jelas *nyambung*. Masih kembali ke uraian tentang *rep system*, kita tidak
akan pernah bisa memahami kejadian yang kita alami, sebab kejadian itu
sendiri sudah tidak murni lagi ada dalam pikiran kita. Kita melihat,
mendengar, dan merasakan sensasi dari luar, lalu otak kita mengkodenya
menjadi bentuk gambar, suara, dan perasaan dalam diri kita. Ditambah dengan
saringan dari keyakinan (*belief*), nilai-nilai (*value*), dll, film yang
ada dalam pikiran kita semakin terdistorsi dan menyesuaikan diri dengan
berbagai saringan tersebut. Jadilah ia sebuah film yang tidak lagi
menggambarkan kejadian aslinya, melainkan justru menggambarkan cara pandang
kita sebagai penonton demi melihat kejadian tersebut.

Sedikit bingung? Tenang, contoh sekarang.

Apa yang muncul dalam benak Anda jika saya mengatakan kata "gempa"?

Bagi Anda yang pernah mengalami gempa seperti saya, mungkin kata tersebut
akan memunculkan sebuah gambaran kericuhan pada saat kejadian gempa disertai
perasaan takut nan cemas yang melanda. Namun buat Anda yang tidak pernah
mengalaminya, maka kata yang sama bisa jadi hanya memunculkan ingatan akan
berita-berita di televisi tentang berbagai gempa yang pernah Anda lihat.

*See*? Sebuah kata (baca: teritori) yang sama memunculkan respon yang
berbeda-beda pada tiap orang, sebab *people response to their internal maps*.
Ya, kita tidak pernah merespon terhadap sebuah kejadian, melainkan terhadap
'peta' yang kita miliki tentang kejadian tersebut.

Nah, disinilah *associated-disassociated* menjadi alat yang penting jika
kita ingin memahami sebuah situasi dengan lebih obyektif. Dengan *
disassociated* terhadap sebuah pengalaman yang ada dalam pikiran, maka kita
'melepaskan' diri sejenak terhadap 'peta' yang kita miliki terhadap
pengalaman tersebut untuk kemudian dapat menyesuaikan 'peta' tersebut
sehingga menjadi sebuah 'peta' yang lebih *empowering*.

Berminat mencoba saat ini?


-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://idnlpsociety.wordpress.com>

Kirim email ke