Berguru pada Anjing, Komputer, Mobil, Manusia & Kompatiologi Ditulis oleh: Vincent Liong / Liong Vincent Christian Tempat,Hari&Tanggal: Jakarta, Minggu, 2 September 2007
Berguru pada Anjing... Anjing. Binatang itu bagi saya memiliki sistem pengambilan keputusan yang sederhana tetapi menyeluruh. Sejak menulis buku saya pertama berjudul 'Berlindung di Bawah Payung' (Penerbit Grasindo 2001) saya suka mempelajari dan menulis tentang Anjing Tekel peliharaan saya 'Blacky' yang tinggal bersama saya sekamar hingga sekarang. Hal yang menarik dari Anjing adalah anjing itu pola komunikasinya lebih sederhana yaitu komunikasi yang sifatnya dua dimensi: Approve >< Reject dan Aktif >< Passive. Jadi bila kita analogikan dalam fungsi sampler (alat pengambil sample) dan translater (alat penerjemah) maka hanya ada dua dimensi sampler yang pararel, yang kemudian ditranslate ke dalam interaksi dengan birokrasi aturan yang saya terapkan terhadap anjing saya di rumah. Berguru pada Komputer... Untuk belajar logika yang sistematis perlu mempelajari fungsi kerja komputer. Komputer itu memiliki fungsi yang bersifat hardware yang terpenting yaitu harddisk. Harddisk itu sebenarnya hanyalah piringan yang menyimpan random sample binair (nol atau 1), pengalaman up or down (binair) yang disimpan secara random, dan bisa diulangi untuk dialami oleh alat sampling ketika data dibaca. Pada komputer ada fungsi yang bersifat software seperti misalnya operating sistem, program-program yang berfungsi sebagai sistem birokrasi pemerosesan dan penerjemahan pengalaman binair (nol atau 1) menjadi hal yang lebih kongkrit sehingga berguna. Berguru pada Mobil... Mobil itu memiliki alat ukur petunjuk kecepatan, putaran mesin, jumlah isi tangki bensin, panas mesin, dlsb. Alat petunjuk itu bentuknya hampir sama yaitu jarum yang bisa bergerak dalam dua arah yaitu naik atau turun pada range yang berisi skala-skala untuk menandakan bagian-bagian range tsb. Alat petunjuk itu baru berfungsi bila diberi bahasa kontekstualnya (fungsi translaternya) yaitu: petunjuk kecepatan, putaran mesin, jumlah isi tangki bensin, panas mesin, dlsb. Tanpa keterangan tsb maka alat ukur tsb tidak memiliki nilai guna. Berguru pada Mata... Mata itu memiliki alat sampler yang sifatnya dua dimensi (seperti sebelumnya saya menceritakan sistem pengambilan keputusan pada hewan) yaitu: terang ><gelap, jauh >< dekat. Mata baru bisa berfungsi bilamana data-data intensitas cahaya ditranslate dengan membandingkan: birokrasi pendefinisian / pengelompokkan warna di otak dan kerja sama antara pengelihatan tentang jarak benda ke mata dan penyesuaian cembung >< cekung nya lensa mata. Berguru pada Manusia Primitif... Manusia primitif (non sekolahan) menjalankan hidupnya dengan secara otomatis mengukur kondisi lingkungan sekitar (sampling), dengan jumlah alat ukur pararel sebanyak dan serumit penerjemah data yang dikuasainya, dan mentranslatenya dengan bahasa seadanya untuk bisa berkomunikasi dengan manusia lain dan berusaha ber-bargain dalam mendapatkan pemenuhan kebutuhan masing-masing. Manusia moderen belajar birokrasi atas ilmu (penerjemah). Tetapi ilmunya sendiri ketika berhadapan langsung sebagai pelaku hanyalah ilmu kira-kira seperti mata berusaha mengkorelasikan antara jarak benda ke mata dan cembung >< cekung nya lensa mata. Hal ini sifatnya adalah keterampilan alamiah bukan menguasai birokrasi tertentu atau tidak. Pada akhirnya manusia tidak bisa menggantungkan dirinya pada satu bidang spesialisasi saja yang dipelajari birokrasi ilmunya, melainkan menjalankan kehidupannya sendiri dengan berhadapan berbagai macam bidang yang tidak bisa diambil ijasahnya dengan cara sekolah satu demi satu. Dalam hal ini akhirnya manusia itu kembali ke ilmu kira-kira. Berguru pada ilmu Kompatiologi... Kompatiologi mengajari manusia untuk mensistematisasi fungsi tekhnis alat ukur (sampler) dan translaternya (birokrasi atas ilmu) sehingga si manusia tidak terikat pada satu jenis alat translater (birokrasi atas ilmu) saja, sehingga bisa berpindah-pindah alat translater sesuai kebutuhan dan kepentingannya di bidang tertentu saat itu yang bisa berbeda di waktu yang lain. Pada akhirnya sebuah birokrasi ilmu hanyalah satu titik diantara tabel alat ukur yang memiliki posisi tertentu terhadap birokrasi ilmu yang lain. Dengan mengetahui posisi tsb maka anda tahu ilmunya, karena anda bisa mengkondisikan diri anda di posisi tsb tanpa perlu sekolah di bidang tertentu tsb hingga mendapat ijasah, asal tahu variabel, kepentingan, dlsb dan hubungannya satu sama lain. Kompatiologi membuat hidup kembali ke ke yang awal yaitu: yang simple. Hidup itu sebenarnya simple, Cuma dibuat rumit sama orangnya sendiri. Setelah menguasai benar yang rumit (menguasai birokrasi ilmunya) pada akhirnya manusia itu pun kembali ke awal yaitu: yang simple. Ttd, Vincent Liong Jakarta, Minggu, 2 September 2007
