Meta Model Magic

Read More? http://idnlpsociety.wordpress.com
Join the Community? [EMAIL PROTECTED]
Upcoming Events? The Month of Transformation, 15 & 29 September 2007


Apa yang muncul dalam benak Anda jika saya berkata, "Kemarin adalah hari
yang indah"?

Bayangan pengalaman menyenangkan yang pernah Anda alami dan Anda anggap
indah? Imajinasi suatu hari Anda bersama seseorang yang Anda merasa akan
indah? Ucapan seorang kawan yang pernah mengatakan hal yang sama kepada
Anda? Pengalaman Anda memakan makanan favorit yang sudah lama sekali Anda
inginkan dan akhirnya kesampaian? Sebuah tempat yang pernah Anda kunjungi
dan masih teringat-ingat sampai sekarang?

Wow! Sebuah kemungkinan jawaban yang tak terbatas, bukan? Hanya dengan
bermodalkan sebuah kalimat sederhana, saya berhasil mengajak Anda untuk
berkeliling sejenak ke dalam lautan ingatan yang Anda miliki sejauh umur
Anda hingga saat ini. Tidakkah ini luar biasa?

*Well*, inilah keajaiban pikiran manusia, sekaligus keajaiban bahasa sebagai
sebuah kode yang hampir tidak pernah kita lepaskan dalam kehidupan kita
sehari-hari. Menggunakan istilah linguistik, ia adalah proses
*transderivational
search* atau biasa disingkat sebagai *TDS* alias sebuah proses pencarian ke
'dalam' akibat sebuah stimulus yang diberikan kepada pikiran kita. Dengan
kata lain, *we cannot NOT communicate* sebab pikiran kita secara otomatis
akan merespon dengan mencari ingatan yang sesuai setiap kali sebuah stimulus
datang menghampiri.

Sisi lain, sebuah keajaiban ternyata juga memiliki sisi gelap sebagai sebuah
kutukan pula.

Loh, kok bisa?

Tentu bisa, karena dalam proses TDS, otak kita secara refleks akan mencari
hal-hal yang paling mudah untuk ditemukan alih-alih berpikir secara logis
mencari hal-hal yang paling sesuai maknanya dengan stimulus yang datang.

Tengok saja kembali kalimat di atas. Anda yang sedang jatuh cinta tentu akan
begitu mudah memunculkan ingatan tentang sebuah hari yang indah ketika Anda
sedang bersama sang kekasih, bukan? Lain lagi bagi Anda yang sedang
senang-senangnya karena baru saja mendapat promosi jabatan. Hari yang indah
bagi Anda jelas adalah hari ketika Anda menerima pengumuman promosi itu,
yang hingga sekarang masih terasa baru kemarin terjadi.

Nah, menjadi kutukan ketika TDS ini terjadi pada saat seperti ini:

*Seorang pelanggan menelepon Anda dan berkata dengan kesal, "Ah, akhirnya
diangkat juga. Kenapa sih kalau saya telepon selalu tidak diangkat?"*

*Atau, pasangan Anda mengatakan, "Kamu selalu terlambat. Kamu sudah tidak
sayang lagi ya?"*

Nah lo. Apa yang biasanya muncul dalam benak Anda jika mendengar yang
seperti ini? Kebingungan? Kecemasan? Rasa kesal? Campur aduk?

Dan bagaimana Anda akan merespon? Marah dan membentak balik? Mengaku
bersalah dan menjadi terdakwa?

Di sinilah teknik NLP yang bernama Meta Model menjadi penting untuk
dikuasai. Bahkan, setelah menemukan berbagai model untuk berbagai keperluan,
Richard Bandler mengatakan bahwa Meta Model adalah modul terpenting dalam
NLP. Meskipun saya belum sempat berdiskusi langsung dengan Bandler mengenai
hal ini, saya merasa menemukan alasan ia mengatakan demikian.

*Meta** Model is a Magic!*

Masih ingat kan sejarah NLP tentang Meta Model? Jikalau Anda lupa, silakan
lihat di artikel berikut
ini<http://idnlpsociety.wordpress.com/2007/04/17/nlp-for-dummies-history-of-nlp/>,
karena saya tidak akan mengulanginya kembali di sini.

Pertama kali mempelajari Meta Model, saya tidak terlalu terkesima dengannya.
"Hanya teknik klarifikasi, apa istimewanya?" Demikian sebuah pertanyaan yang
pernah terlontar dalam hati ketika saya baru saja mempelajarinya. Namun,
seiring dengan meningkatnya pelajaran NLP saya, ternyata saya salah besar!
Yap, Meta Model adalah *magic*, seperti judul buku yang pertama kali
membahas tentangnya, *The Structure of Magic*.

Bagaimana mungkin?

Jawabannya amat berkait dengan fenomena TDS tadi. Sebuah stimulus, seperti
apapun bentuknya, akan tetap memiliki efek untuk memicu pikiran kita mencari
ingatan yang sesuai dengannya. Masalahnya, kita seringkali berperilaku
berdasarkan respon terhadap ingatan yang ditemukan itu. Padahal, ingatan
tersebut belum tentu tepat sama dengan apa yang dimaksudkan oleh lawan
bicara kita.

Tidak percaya? Nih, saya tes lagi. Apa yang muncul jika saya berkata, "Rumah
saya adalah tempat yang amat nyaman untuk ditinggali"?

Meskipun Anda belum pernah berkunjung ke rumah saya, saya yakin pikiran Anda
tetap akan memunculkan sebuah rumah yang nyaman untuk ditinggali. Nah,
masalahnya, rumah siapa kah itu? Tanpa klarifikasi, kita pun mengobrol lebih
lanjut tentang 'rumah' tersebut dan berujung pada debat kusir tentang 'rumah
yang nyaman'.

Apa pasal? *People respond to their internal map, not to the reality itself*.
Tanpa sebuah klarifikasi, sebuah komunikasi hanya akan memunculkan
kesalahpahaman dan perseteruan karena setiap orang hakikatnya tidak sedang
berkomunikasi satu sama lain, melainkan berkomunikasi dengan '*internal map*'
mereka masing-masing.

Nah, seperti apa bentuk dari Meta Model itu? Tunggu artikel berikutnya, OK :-)
!


-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://idnlpsociety.wordpress.com>

Kirim email ke