Anda pernah ikut program outbound? Salah satu kegiatan yang biasanya
masuk dalam program ini adalah flying fox. Intinya, kita akan
menyeberangi jurang atau sungai dengan meluncuri tali dari ujung ke
ujung. Tubuh kita diikat pada sebuah katrol beroda. Dan tangan kita
memegang batang gantungan untuk menyeimbangkan tubuh saat meluncur.
Titik pendaratan biasanya lebih rendah dari titik pemberangkatan. 

Asalkan kita berani meloncat maju, gravitasi akan membantu kita sampai
 ke ujung dalam beberapa detik saja. Tetap saja, ini adalah pengalaman
yang menegangkan bagi banyak orang. Ada saja yang akhirnya menolak
atau batal meluncur.

Rasa takut itu wajar. Siapa yang bisa menjamin bahwa semua ini
benar-benar aman? Bukankah risiko terjadi sesuatu di luar dugaan itu
akan selalu ada? Dan juga, kenapa kita harus melakukan ini? Bukankah
selama ini baik-baik saja?

Sekarang, mari kita beralih ribuan kilometer, ke Lembah Besar Nujiang.
Di sini, anak-anak dari usia tujuh tahun berangkat ke sekolah dengan
menggunakan "flying fox". Sebuah sungai lebar dan deras menghalangi
jalan mereka. Dan satu-satunya cara adalah mengikat diri pada kerekan
lantas meniti tali ke seberang. Gravitasi hanya menolong mereka hingga
tengah sungai. Setelah itu, mereka harus menarik tubuh mereka sendiri
sampai ujung. Satu-satunya pengaman hanyalah sabuk yang diikatkan di
pinggang.

Ini bukan contoh satu-satunya. Anak-anak di salah satu desa terpencil
Kolombia juga melakukan hal serupa. Dan mereka melakukannya pada
ketinggian 365 meter. Seorang perempuan bernama Daisy bahkan meniti
tali sambil menggendong keranjang berisi anaknya yang berusia tujuh
tahun. Sekitar enam puluh orang menggunakan metoda transportasi ini
tiap hari. Dan untungnya, tidak pernah terjadi kecelakaan berat.

Apa yang membedakan kita dengan mereka? Tuntutan dan kebutuhan. Ketika
ada berbagai jalur lain yang tampak lebih aman, kita cenderung memilih
itu. Ini karakteristik dasar manusia. Mereka berani dan membiasakan
diri meniti jurang atau sungai karena memang tak ada alternatif lain.
Saya yakin bahwa pada dasarnya tiap manusia pun memiliki potensi
semangat juang dan adaptasi yang sama. Kalau kita terlahir di situ,
kita pun akan seperti mereka. Memacu diri untuk maju, walau harus
mempertaruhkan nyawa.

Karena itu, pada situasi tertentu, cobalah sudutkan diri kita sendiri.
Misalnya, dalam berbicara. Kita tahu bahwa kemampuan berbicara di
depan umum itu baik. Dan semakin banyak praktik semakin baik. Namun,
kita enggan memulai. Muncullah alasan, "Kan ada yang lebih jago."
Atau, "Kesempatannya juga nggak ada tuh. Kalau ada yang tiba-tiba
nelepon minta sih boleh-boleh aja."

Salah satu materi panggung Jerry Seinfeld yang paling terkenal adalah
saat ia membahas survei nasional tentang apa yang paling ditakuti
warga negara Amerika. Peringkat nomor dua adalah kematian. Dan yang
pertama adalah bicara di depan umum. "Kalau begitu," simpulnya, "saat
menghadiri pemakaman, kita lebih suka berada di dalam peti mati
daripada membawakan eulogy (pidato tribut bagi yang meninggal)." 

Pesannya jelas: kita tahu bahwa ketakutan untuk berbicara di depan
umum itu sangatlah tidak beralasan. Tapi justru itulah yang paling
banyak dirasakan. 

Berhentilah membuat alasan. Sudutkanlah diri kita sendiri. Katakan
pada rekan kerja bahwa presentasi berikut kita yang akan
membawakannya. Saat ada tawaran berbicara di depan umum, langsunglah
bilang, "Ya!" sebelum otak kita menciptakan alasan. Jangan tunggu
telepon. Kitalah yang menelepon duluan menawarkan suatu materi. Saat
diterima, segera akhiri pembicaraan sebelum kita mulai ragu dan
bertanya, "Lho, kok mau sih? Yakin nih?"

Dan dengan begitu, kita pun tersudutkan. Tanggal sudah ada. Topik
sudah ditentukan. Hadirin akan datang dan menunggu kedatangan Anda.
Jurang itu sudah di depan mata. Dan kita perlu menyeberanginya.

Susunlah materi presentasi/berbicara seakan-akan nyawa kita
taruhannya. Siapkan tali, pengaman, dan cek ulang semua. Pada hari-H,
tariklah napas panjang. Pandangi langsung jurang tersebut. 

Dan meluncurlah.


--isman

Apakah presentasi Anda sudah bebas dari Tujuh Dosa Besar (Penggunaan)
PowerPoint? 
http://bertanyaataumati.blogspot.com

Kirim email ke