Sekedar sharing pendapat terkait dengan MoU antara Depkominfo dengan Singapura 
tentang eGovernment, eBusiness, eEducation, dan eCommerce. Opini tersebut telah 
dimuat oleh harian Kontan hari ini (14 September 2007).
   
  “Skunk Works” Industri Software Nasional 
  Kontan 14 September 2007, Oleh : Hemat Dwi Nuryanto*)
  Road Map Industri Telematika Nasional pemerintah mestinya dijalankan dengan 
strategi yang konsisten disertai pemihakan yang konkrit kepada industri 
software atau Independent Software Vendor( ISV ) dalam negeri. Sayangnya 
strategi itu sering terkooptasi oleh agenda kapitalis komprador. Akibatnya, 
kebijakan pemerintah terhadap ISV dalam negeri seperti pepatah “Anak di 
pangkuan dicampakan, beruk di rimba disusui”. 
  Pemerintah harusnya tahu persis peta dan kompetensi ISV dalam negeri yang 
sudah melakukan kerja detail dan riset mandiri sehingga menghasilkan produk 
yang mampu menjadi solusi kebangsaan. Ironisnya, pemerintah justru tidak sadar 
bahwa ada kebijakan yang masuk jebakan komprador untuk menyusui beruk di rimba. 
  Fenomena itu terlihat dalam memorandum yang dibuat oleh Depkominfo dengan 
pihak Singapura dibidang industri software seperti e-Government, e-Business, 
dan software untuk mendukung organisasi lainya. Singapura yang merupakan negara 
kota jelas tidak kompatibel jika dijadikan kiblat sekaligus partner strategis 
oleh Depkominfo. 
  Struktur Industri Telematika Indonesia terdiri dari Hardware (80%), Software 
(8%), Jasa (12%). Dengan petumbuhan selama tiga tahun terakhir berkisar antara 
11%-12% per tahun. Menurut IDC Report besarnya bisnis telematika Indonesia pada 
tahun 2005 mencapai $ 1,73 miliar. Potensi pada 2007 dan seterusnya bisa 
melonjak sehubungan dengan program percepatan pembangunan infrastruktur dan 
animo telematikanisasi rakyat Indonesia. 
  Pemetaan ISV
  Dengan potensi pasar seperti itu diperlukan penguatan penetrasi pasar dan 
kemampuan mengikuti cepatnya perubahan teknologi telematika baik yang terkait 
dengan produk software, konten serta produk dan perangkat telekomunikasi.  
Strategi pengembangan industri telematika khususnya untuk ISV tidak sekedar 
dengan pendekatan klaster. Pada saat ini di Indonesia ada sekitar 200 ISV 
kategori usaha menengah ke atas. Secara aglomerasi 60 persen terdapat di 
Jabodetabek, sedangkan sisanya tersebar di daerah ( Jabar, Bali, Jatim, Jateng, 
Sumut dll ). 
  Pentingnya pemerintah melakukan pemetaan ISV dengan menggunakan model value 
chain unuk melakukan analisa terhadap proses bisnis, inovasi produk, kompetensi 
dan aliansi strategis. Selain analisa terhadap CSF, pengembangan klaster 
industri telematika juga memperhatikan adanya aliansi strategis. 
  Aliansi strategis merupakan aglomerasi ISV yang memenuhi kompetensi menurut 
core business yang ditekuninya. Kemudian hasil pemetaan diatas 
ditransformasikan kepada suatu kondisi tertentu yang merupakan end in mind yang 
mengacu road map Industri Nasional yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 
7 tahun 2005. 
  Hasil pemetaan yang akurat dan obyektif terhadap ISV dalam negeri akan 
menghasilkan identifikasi terhadap ISV yang benar-benar sudah melakukan inovasi 
produk lewat R&D yang betul-betul membumi terhadap persoalan bangsa. Pemerintah 
sebaiknya menjadikan proyek nasional semacam Skunk Works terhadap produk 
inovatif ISV dalam negeri. Agar produk inovatif tersebut bisa lebih berdaya 
guna dan tak tergilas oleh produk luar negeri. 
  Dalam best practise manajemen proyek, Skunk Works merupakan icon untuk tim 
khusus ISV yang ditugaskan untuk mengembangkan proyek terobosan. Dalam 
sejarahnya metode Skunk works pertama diciptakan oleh Clarence Kelly Johnson 
dari Lockheed Aerospace Corporation. Proyek tersebut memiliki dua target yakni  
menciptakan pesawat jet pemburu--Shooting Star--dan memproduksinya secepat 
mungkin. Johnson beserta timnya disokong penuh oleh pemerintah untuk melakukan 
rancang bangun. Dalam waktu yang singkat tim Johnson yang terdiri dari 23 
insinyur menjadi pejuang Amerika yang pertama terbang dengan kecepatan lebih 
dari 500 mil per jam. Pemerintah Amerika dan Lockheed terus menggunakan Skunk 
Works untuk mengembangkan sebuah jet berkecepatan tinggi termasuk F117 Stealth 
Fighter. 
  Masih terlupakan
  Pada saat ini ada korelasi positif antara strategi Skunk Works terhadap 
industri software nasional kita. Bangsa Indonesia telah dihadapkan pada 
persoalan yang membutuhkan infrastruktur telematika dalam waktu yang mendesak. 
Terutama untuk mendukung program One Stop Service (OSS), National Single Window 
(NSW), Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK), SIM Keuangan Daerah, 
SIM Pengadaan, SIM Kepegawaian, hingga SIM yang pendukung Pemilu dan Pilkada. 
  Bahkan, untuk menumbuhkan demokrasi di Indonesia juga diperlukan Skunk Works 
yang mampu menciptakan inovasi software untuk kepentingan tahapan Pemilu dan 
Pilkada. Sehingga ongkos ekonomi demokrasi bisa dioptimalkan. Biaya Pemilu 
tahun 2004 yang mencapai Rp 3,023 trilyun, disambung dengan biaya Pilkada untuk 
473 Pemda yang masing-masing menyedot dana hingga Rp 25 miliar per 1 juta 
penduduk semakin memerlukan sistem pendukung telematika secara komprehensif. 
  Ada yang dilupakan oleh berbagai pihak untuk mewujudkan Pilkada dan Pemilu 
yang lebih berkualitas. Yakni, pentingnya visi dan solusi praktis Telematika 
Pilkada dan Pemilu dalam sebuah Grand Design Sistem Informasi (GDSI). 
Sebenarnya GDSI yang meliputi 32 portofolio aplikasi pernah dirumuskan oleh 
para pakar, guru besar dan sokongan lembaga internasional yang ingin 
meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia. 
  Namun, GDSI seiring dengan waktu dan kurangnya visi anggota KPU dan KPUD 
menjadi terkubur eksistensinya hingga sekarang ini. Strategi GDSI sebenarnya 
sudah diwujudkan oleh ISV dengan R&D secara swadaya dengan nama e-Demokrasi 
Indonesia. Sudah sepatutnya pemerintah memangku karya anak bangsa sendiri dan 
tidak perlu repot-repot menyusui beruk di rimba.
  *) Praktisi Telematika, Alumnus UPS Toulouse Perancis
   
  Best regards,
  Hemat Dwi Nuryanto
  www.zamrudtechnology.com

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke