Puasa Sebagai Meta-Position

Read More? htp://idnlpsociety.wordpress.com

Join the Community? [EMAIL PROTECTED]

Upcoming Event? Transforming Language, Sabtu 15 September 2007, 13.30-18.00


Menjalani puasa sejak kecil hingga saat ini, hal yang paling sering saya
dengar tentang makna puasa adalah menahan. Ya, menahan, mulai dari lapar,
haus, dan juga hawa nafsu. Dari menahan, pemaknaan pun berlanjut menjadi
pengibaratan diri manusia layaknya mesin yang perlu perawatan. Maka puasa
adalah metode untuk men-*service* diri baik secara fisik, psikis, maupun
spiritual setelah digunakan tanpa henti.

Saya menerima keduanya, meskipun saya belum cukup puas dengan apa yang saya
tangkap dari apa yang saya dengar itu.

Mengapa?

Begini ceritanya.

Benar puasa adalah menahan, tapi untuk apa menahan? Benar pula bahwa puasa
adalah memberikan waktu bagi diri untuk dirawat, tapi apa ujungnya dirawat
secara khusus begini?

Aha, ujung. Ujung ini kata kuncinya menurut saya—bisa jadi tidak menurut
Anda lho. Manusia adalah makhluk bertujuan. Ya, dengan berbagai potensi yang
tak terhitung jumlahnya, mustahil Tuhan menciptakan manusia tanpa tujuan.
Tujuan, alias ujung tadi, pasti lebih dari sekedar cara. Menahan adalah
cara, begitu pula dengan perawatan. Dari berpikir soal ujung, saya pun
menemukan beberapa hal.

Sesuatu perlu ditahan, jika ia memiliki energi untuk bergerak dan melaju.
Kita tidak perlu menahan jika sesuatu yang diam saja, bukan? Maka manusia
diperintahkan untuk menahan karena ia punya energi yang luar biasa dan
berpotensi pula untuk tak terkendali. Sesuatu perlu dirawat secara rutin,
karena tiap hal memiliki titik jenuh. Bagi mesin titik jenuh itu adalah
keausan yang berakhir pada kerusakan. Bagi manusia, titik jenuh itu bisa
jadi juga adalah keausan secara fisik atau kekeringan secara emosional dan
spiritual. Tanpa perawatan, maka kotoran yang menempel pada mesin akan
menempel begitu erat sehingga sulit untuk dibersihkan dan mengganggu kinerja
mesin. Tanpa perawatan, hal yang sama dapat terjadi pula.

Ah, menempel. Ini kunci satu lagi. Ketika menahan, kita melepaskan diri
sejenak dari kelekatan terhadap makanan, minuman, dan hawa nafsu yang
biasanya dihalalkan. Ketika berada dalam perawatan, kita melepaskan diri
dari kotoran-kotoran fisik, emosional, dan spiritual yang menjauhkan kita
dari fitrah sebagaim khalifah di muka bumi.

Dan sesungguhnya, ketika menahan, kita tidak sekedar menahan. Ya, tidak ada
satu pun dari potensi kita yang benar-benar berhenti berfungsi ketika itu,
sebab menahan hakikatnya adalah berhenti sejenak untuk terlibat dan
'memandang' dari kejauhan. Bukankah ketika berpuasa kita bisa merasakan
nikmatnya makanan? Bukankah ketika berpuasa kita bisa merasakan asyiknya
kesabaran? Bukankah ketika berpuasa kita bisa merasakan kedekatan dengan
Tuhan?

Menggunakan jargon NLP, puasa adalah cara untuk *disassociated* dari
kelekatan terhadap keseharian dengan beragam fenomenanya. Dengan menahan,
kita berada pada *meta-position* dan diajak untuk melihat apa yang
seringkali kita lihat, mendengar apa yang seringkali kita dengar, dan merasa
apa yang seringkali kita rasa.

Neuro-Semantic menyebutnya sebagai Meta-State, alias *state about
state*. Falsafah
Jawa menyebutnya dengan Ngrumangsa Ning Rasa (merasakan rasa). Di titik
inilah puasa akan menggiring pada penemuan makna. Ingat bahasan kita tentang
Phytagoras?

Kita bisa menemukan makna kemanusiaan kita ketika berpuasa, yang dengannya
kita 'naik' dan mengamati keseharian yang sudah terlalu biasa kita jalani.
Ya, hanya dengan mengamati secara sungguh-sungguh kita bisa mengurai benang
yang kusut, mencari alternatif jalan yang buntu, juga menyingkirkan
penghalang guna mencapai tujuan lebih cepat.

Manusia itu sudah sempurna kok. Ia hanya perlu secara kontinyu membersihkan
kotoran-kotoran yang menempel agar 'cahayanya' dapat terus bersinar.


-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://idnlpsociety.wordpress.com>

Kirim email ke