Frame We Live By

Read More? http://idnlpsociety.wordpress.com

Join the Community? [EMAIL PROTECTED]

Upcoming Event? Transforming Conversations, Sabtu 29 September 2007
13.30-18.00, Emax Kemang Arcade


Jika tiba-tiba saya menceritakan kepada Anda bahwa kemarin saya melihat
seorang pria menusuk pria lain dengan sebuah pisau, apa yang muncul dalam
pikiran Anda?

Akankah Anda menanyakan kejadian detilnya kepada saya untuk kemudian segera
menghubungi kantor polisi? Atau, Anda malah tertawa karena merasa melihat
kejadian yang sama kemarin?

Yang pertama amat mungkin Anda lakukan jika saya menceritakan kejadian yang
saya lihat di pinggir jalan. Sementara yang kedua bisa jadi juga Anda
lakukan jika saya menceritakan kejadian yang saya lihat dalam sebuah film
drama komedi yang juga Anda tonton kemarin.

Pertanyaan: mengapa sebuah kalimat yang sama bisa memiliki makna yang
berbeda?

Yak, tepat! Kata-kata baru akan memiliki makna, jika dan hanya jika ia
diletakkan dalam konteks tertentu. Sebuah belaian bisa berarti kasih sayang
jika kita mendapatkannya dari seorang yang kita sayangi seperti keluarga
ataupun kekasih, namun ia bisa pula berarti kengerian jika yang
memberikannya adalah seseorang yang tidak kita kenal di pinggir jalan nan
gelap gulita.

Konteks inilah yang di dalam NLP seringkali disebut dengan *frame* alias
kerangka berpikir. Bayangkan sebuah foto atau lukisan besar bernuansa klasik
tergantung di dinding dengan bingkai berbahan *stainless* nan mengkilap.
Masihkah nuansa klasik aslinya muncul? Tidak, bukan?  Meminjam kalimat dari
Joseph O' Connor, *frame* yang kita kenakan akan mengendalikan pertanyaan
yang kita ajukan terhadap suatu hal, bagaimana kita akan merasakan hal
tersebut, bagaimana kita akan bereaksi terhadapnya, dan bagaimana kita akan
mengatasinya. Sebaliknya, kita bisa menciptakan dan mengubah *frame *hanya
dengan mengajukan sebuah pertanyaan ataupun memunculkan reaksi tertentu.

Yang terakhir inilah yang membuat saya jatuh cinta terhadap NLP. Hanya
karena makna ditentukan oleh *frame*, dan kita banyak memiliki *frame *yang
ditentukan oleh lingkungan, bukan berarti hidup kita dikendalikan olehnya.
Bahkan, kita dapat mengeset *frame* terlebih dahulu sebelum muncul makna
apapun.

Perhatikan kedua kalimat di bawah ini:

*Sebagai orang tua, bagaimana Anda akan menanggapi masalah kenakalan remaja
seperti ini?*

*Mencermati masalah kenakalan remaja seperti ini, bagaiamana Anda bisa
membantunya sebagai seorang sahabat?*

Anda bisa merasakan efek perbedaan perasaan yang muncul demi mendengar kedua
kalimat di atas?

Contoh lain adalah dalam dunia *sales*:

*Apakah memang Anda ingin mengorbankan keamanan dengan hanya membeli barang
yang berharga murah?*

Itu baru satu dua kalimat. Bagaimana dengan budaya?

*Alon-alon waton kelakon*

*Adat basandi Syara, Syara' basandi Kitabullah *

Yak, budaya adalah *frame *yang terintegrasi. Kalimat-kalimat yang dijadikan
pedoman hidup, ritual-ritual yang dijadikan kebiasaan, simbol-simbol, cara
berpakaian, dll kesemuanya adalah *frame* yang menandakan suatu budaya
tertentu dan membedakannya dari budaya yang lain. Apa yang akan Anda
pikirkan jika melihat seseorang berjalan di pinggir jalan raya hanya dengan
mengenakan penutup kemaluan? Orang gila, bukan? Ya, jika Anda melihatnya di
jalanan kota seperti Jakarta. Tidak, jika Anda melihatnya di pedesaan Irian
Jaya.

Bagaiamana pula dengan agama?

Aha, ini adalah *frame* yang amat luar biasa. Tidak saja ia mampu menjadi
pedoman hidup bagi seseorang, ia bahkan mampu melintasi batas-batas wilayah
dan budaya. Jika sebuah budaya bisa menjadi bahan pertengkaran antara
beberapa suku, maka agama bisa menjadi titik peperangan antara beberapa
bangsa. Sebaliknya, agama pun bisa menyatukan begitu banyak orang tidak
peduli dari mana asalnya, warna kulitnya, ataupun bahasa yang ia gunakan.

Kita bersatu atau bertengkar karena makna. Kita sedih atau gembira karena
makna. Kita susah atau senang karena makna. Kita sukses atau gagal karena
makna. Kita menang atau kalah karena makna.

Kita adalah makhluk makna. Dan karena makna ditentukan oleh *frame*, maka
kita pun adalah makhluk dengan *frame*.

OK, cukup bahasan filosofisnya. Lebih praktis sekarang.

Setidaknya ada 7 *frame* utama yang sering digunakan dalam NLP.

* *

*Ecology Frame*

Ini adalah *frame *yang selalu mengajak kita untuk melihat dalam jangka
panjang. Dengannya kita diarahkan untuk mengevaluasi setiap kejadian dalam
konteks makna yang lebih luas. Kita melihat keluar dari berbagai batas-batas
normal seperti ruang dan waktu. Kita menilai bagaimana sebuah pengalaman
dapat cocok dengan sistem yang lebih luas seperti keluarga, sahabat, dan
rekan kerja. Kita memikirkan konsekuensi yang lebih luas dan kesesuaiannya
dengan nilai-nilai yang kita anut.

Menggunakan *ecology frame,* kita bisa bertanya:

*Bagaimana jadinya hal ini dalam jangka panjang?*

*Siapa saja yang terkena efek dari keputusan saya?*

*Apa yang mungkin dipikirkan oleh orang lain?*

Kebalikan dari *ecology frame *adalah *me frame*: *Jika saya merasa hal ini
baik, maka berarti hal ini memang baik.*



*Outcome Frame*

Menggunakan *frame *ini, kita diajak untuk mengevaluasi suatu hal tentang
kemungkinannya untuk semakin mendekatkan kita pada tujuan yang ingin kita
capai.

Anda bisa bertanya:

*Apakah persisnya yang sedang saya ingin capai sekarang?*

*Apakah sebenarnya yang saya inginkan?*

*Apakah yang berharga dari hal ini yang bisa saya dapatkan?*

WARNING! Gunakan *frame *ini hanya setelah Anda menggunakan *ecology frame*!
Jika tidak, Anda akan mengalami yang dinamakan sebagai King Midas Effect.
King Midas berharap apapun yang ia capai dapat berubah menjadi emas. Lupa
untuk menggunakan *ecology frame*, ia pun menyentuh makanan dan orang lain.

Lawan dari *outcome frame *adalah *blame frame*: *Apa yang salah? Siapa yang
harus disalahkan?*



*Backtrack Frame*

Ini adalah keahlian kita untuk menyatakan ulang apa yang orang lain
sampaikan dengan menggunakan kata-kata asli dari orang tersebut, bahkan
hingga pada nada suara dan bahas tubuh mereka. Asumsinya, seseorang tidak
melontarkan sebuah kata tanpa tujuan. Mereka pasti memiliki tujuan dan
memilih kata yang paling tepat untuk menjelaskan apa yang mereka pikirkan.

Kita bisa bertanya:

*Bisakah saya mengecek bahwa saya sudah memahami...?*

*Bisakah saya ambil kesimpulan sejauh ini bahwa...?*

*Jadi maksudmu adalah...?*

Kebalikan dari *frame *ini adalah *paraphrase frame*. Jika Anda masih ingat
pelajaran bahasa Indonesia dulu, parafrase adalah usaha kita untuk
menceritakan kembali suatu pengalaman dengan bahasa kita sendiri.



*Contrast Frame*

Nah, ini adalah *frame* yang mendasari munculnya NLP, *frame of difference*.
Tidak saja berbeda, tapi juga perbedaan yang membedakan alias* the
difference that makes a difference*.

Jika Anda sudah mempelajari beragam teknik-teknik NLP, Anda barangkali bisa
menyadari bahwa banyak teknik NLP menggunakan *contrast frame* sebagai
dasarnya. Ambil sebuah situasi yang *unresourceful* dan cermati perbedaannya
jika dibandingkan dengan situasi yang mirip namun lebih *resourceful*. Nah,
perbedaan yang signifikan dari kedua situasi tersebut bisa kita gunakan
untuk mengubah kondisi yang *unresourful *menjadi *resourceful*.

Kita bisa melakukannya dengan bertanya:

*Bagaimana persisnya hal ini berbeda?*

*Apa persisnya yang membuat hal ini berbeda?*

*Mana variasi yang paling penting di antara berbagai hal ini?*

Kebalikan dari *frame *ini adalah *sameness frame*.



*"As If" Frame*

Ini adalah *frame* yang amat berguna terutama dalam penyelesaian suatu
masalah. Menggunakan *frame *ini, kita berpura-pura bahwa kita suatu hal itu
benar adanya sehingga kita bisa mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang
belum bisa kita lihat sebelumnya. Benar bahwa kita tahu kalau hal itu tidak
nyata, namun kita tetap dapat mengambil pelajaran dan melakukan refleksi
atasnya.

Kita bisa bertanya:

*Bagaimana hal ini akan tampak sekiranya...?*

*Bisakah kamu menebak apa yang akan terjadi?*

*Bisakah kita berasumsi bahwa...?*

Kebalikan dari *frame *ini adalah *helpless frame*: *Jika saya tidak tahu,
maka tidak ada yang bisa saya lakukan.*

* *

*Systemic Frame*

Menggunakan *frame *ini, kita menilai sesuatu berdasarkan hubungannya dengan
hal lain. Kita berpikir dan fokus pada satu kejadian, melainkan bagaimana
kejadian tersebut memiliki kaitan dengan berbagai kejadian lain. Ini adalah
dasar dari pola pikir sistemik dalam dunia manajemen. Asumsinya, sebuah
sistem itu selalu stabil dan resisten terhadap perubahan. Karenanya,
menggunakan *systemic frame*, kita akan lebih fokus pada berbagai hal yang
menghalangi perubahan dan berkonsentrasi untuk meminimalisasi halangan
tersebut alih-alih langsung mengambil tindakan guna memunculkan perubahan
yang diinginkan.

Kita bisa melakukan *systemic frame *dengan bertanya:

*Bagaimana persisnya hal ini selaras dengan hal-hal lain sudah saya tahu?*

*Bagaimana hal ini terkait dengan sistem yang lebih luas?*

*Apa kaitan antara berbagai macam kejadian ini?*

*Apa persisnya yang menghentikan perubahan?*

*Bagaimana persisnya hal-hal yang saya lakukan menjadikan berbagai hal
sebagaimana adanya sekarang?*

Lawan dari *systemic frame *adalah *laundy list frame*: Buatlah daftar
setiap factor yang relevan dan kita akan bisa menemukan solusinya.



*Negotiation Frame*

Mirip dengan *As If*, *frame *ini mengajak kita untuk berasumsi bahwa kita
sedang berada dalam sebuah negosiasi dan setiap orang disana memilih untuk
setuju. Ia juga berasumsi bahwa hal tersebut mungkin untuk dijalankan dan
sumber daya yang dibutuhkan pun tersedia. Dengan demikian, kita diarahkan
untuk melakukan *chunk up* guna mendapatkan titik temu dari beragam
perbedaan sehingga kita dapat mencapai tujuan kita berikut tujuan orang lain
pada saat yang sama.

Kita bisa bertanya:

*Apa yang kita bisa sama-sama sepakati?*

Kebalikan dari *frame *ini adalah *war frame*.



Memahami uraian di atas *frame *manakah yang sering Anda gunakan?


-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://idnlpsociety.wordpress.com>

Kirim email ke