Sekolah Bukan Segala-galanya ? *Penulis : Mbak Miarti* *(Direktur LPPA ZAIDAN Tutorial Preschool and Kindergarten) http://rumahkusurgaku.com/rumahku/index.php?option=com_content&task=view&id=92&Itemid=1 * Terhenyak. Begitulah kira-kira perasaan saya ketika membaca bait demi bait tulisan Tongo Anthon yang dimuat Pikiran Rakyat pada edisi Rabu, 13 Juli 2005. Bagaimana tidak. Sebagai produk "sekolahan" tentu saya masih belum bisa melupakan arti dan kontribusi sekolah terhadap hidup saya.
Terus terang, kalau harus jujur, secara formal saya tidak mengenyam pendidikan yang "tinggi-tinggi sekali". Saya hanya seorang lulusan diploma dari sebuah universitas negeri di Bandung. Namun sepertinya, betapa menggunungnya kesyukuran yang harus saya persembahkan kepada Tuhan. Karena bagaimanapun, kehidupan sekolah telah memberi makna banyak terhadap diri saya. Saya mengeksplore pengetahuan, saya mengenal sosialisasi, saya mengenal organisasi, saya memperoleh berbagai jalan, saya punya ribuan teman. Itu semua telah saya dapatkan dari sekolah. Memilih Sekolah Terbaik untuk Anak. Demikian penulis memberi judul terhadap tulisannya yang terdiri dari 15 paragraf. Pada paragraf dua, penulis menggulirkan sebuah pertanyaan, dimana beliau sendiri menyatakan bahwa pertanyaannya adalah "pertanyaan gila". Adapaun "pertanyaan gila" itu adalah; Sekolah atau tidak? Jika saya harus menjawab pertanyaan tersebut, maka secara refleks saya akan memberi jawaban; sekolah. Apapun alasannya. Namun pada kesempatan ini, saya ingin mengajak Anda untuk sama-sama memahami tentang apa arti sekolah. Di dalam kamus besar Bahasa Indonesia yang diterbitakan oleh Balai Pustaka tahun 2002, sekolah diartikan sebagai; 1)bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran, 2)waktu pertemuan ketika murid diberi pelajaran, 3)usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan), pelajaran, pengajaran. Dari pengertian tersebut, walaupun secara sederhana, kita bisa memaknai bahwa sekolah merupakan sebuah usaha menuju perbaikan. Sekolah merupakan suatu proses dari tiada menjadi ada. Sekolah merupakan sebuah proses pengejawantahan ketidaktahuan menjadi tahu. Sekolah merupakan proses perwujudan dari ketidakmampuan menjadi mampu. Sekolah merupakan sebuah pendidikan yang didalamnya terdapat sebuah esensi pendewasaan. Maka ketika saya kembali mengingat pertanyaan yang digulirkan oleh penulis, sekali saya akan menjawab; sekolah. Walauapun saya menyimpulkan bahwa sekolah yang dimaksud oleh penulis adalah sekolah formal atau sekolah publik yang terdiri dari jenjang Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Namun saya memiliki persepsi lain tentang sekolah. Bagi saya, tidak semua sekolah harus diselenggarakan secara formal. Bahkan kita sendiri bisa menyelenggarakan secara otonom, dengan meramu dan mengkolaborasikan kurikulum sendiri, yaitu melalui home schooling. Bahkan akhir-akhir ini, wacana tentang home schooling banyak digulirkan baik melalui media cyber, majalah-majalah, diskusi, workshop, dan sebagainya. Kenapa saya sampaikan hal ini, karena pada dasarnya esensi dari sekolah adalah adanya pengajaran. Adanya pembelajaran. Terlepas apakah bentuknya sekolah formal, informal, nonformal, bahkan sekolah yang diselenggarakan dirumah sekalipun diamana kedua orangtua bertindak sebagai guru utama. Namun dalam hal ini, karena maksud sekolah dalam persepsi penulis adalah sekolah publik, maka saya menanggapinya dalam tataran sekolah publik atau sekolah formal. Ada suatu hal yang sering tidak kita sadari. Pemarginalan. Terlepas apakah pemarginalan terhadap sebuah komunitas, pemarginalan terhadap masyarakat yang ternaung dalam suatu teritorial, pemarginalan terhadap organasasi, pemarginalan terhadap suatu golongan, dan lain-lain. Berbicara tentang pemarginalan, saya pikir saudara penulis telah tejebak dalam jaring pemarginalan. Bagaimana tidak. Pada paragraf kelima, penulis mengemukakan tentang ketidakefektifan, ketidakkontributifan, ketidakadaan substansi bahkan muara dari proses sekolah yang berbentuk efek negatif. Hal ini bisa kita baca ulang kalimat yang dituliskan oleh Saudara penulis; "...antara pendidikan dan kualitas hidup msnusia dewasa ini semakin menipis. Semakin tinggi dan semakin banyak orang berpendidikan maka jumlah masalah hidup kita akan semakin banyak. Jika demikian, maka pertanyaan saya tadi ketika hendak memutuskan anak saya masuk sekolah atau tidak menjadi sangat relevan apakah sekolah itu penting?" Dari kalimat tersebut, juga dari beberapa keterangan pada paragraf sebelumnya, saya berkesimpulan bahwa Saudara penulis mencoba mengeksplore bahwa sekolah itu tidaklah penting, tokh produk dari sekolah itu sendiri tidak begitu punya arti. Bahkan pada gilirannya, tidak sedikit orang berpendidikan terlibat ke dalam kasus KKN atau berbagai kejahatan lainnya. Secara sadar, penulis menyebutkan bahwa : "saya tidak menutup mata jasa sekolah atas adanya listrik, bendungan, pers, dan lain-lain. Seluruh kejahtan yang dilakukan oleh orang yang pernah sekolah itu hanyalah bukti penyelewengan manusia atas esebsi sekolah." Terus terang, Kalimat yang mengalir tersebut sangatlah cantik bagi saya. Bahkan sangat bijak dan memesona. Karena memang demikian adanya. Bahkan bukan hanya dalam dunia persekolahan. Dalam bidang hukum, dan dalam hal apapun tidak bisa terlepas dari oknum yang begitu mudahnya merusak citra dan meluluhlantakkan immage building. Intinya, saya sangat setuju dengan apa yang penulis tuturkan. Tetapi, tidak berapa lama kemudian, kening saya terpaksa harus berkerut ketika membaca kalimat berikutnya yang berupa sebuah pertanyaan; "Tetapi apakah ada sekolah yang bisa dipercayai di Indonesia?" Lagi-lagi, sebuah pemarginalan. Dipercayai atau tidak, saya pikir hal itu merupakan suatu hal yang sangat nisbi. Sangat relatif. Karena bagaimanapun, setiap orang tua akan punya ketsiqahan (kepercayaan) tersendiri terhadap apapun, termasuk dalam memilih sekolah yang bisa dipercayai. Yang jelas, sejauhmana andil kita sebagai orang tua memegang peranan penting dalam pendidikan anak. Karena bagaimanapun,walau anak kita disekolahkan di lembaga sekolah yang benar-benar qualifield, orang tua tetap saja sebagai guru utama dan pertama serta sebagai pem-back up sejati. Dengan demikian, patutlah kiranya bagi kita untuk membuat sebuah pertanyaan yang tidak harus dijawab oleh orang lain; sudahkah kita menjadi fasilitator yang baik bagi kebutuhan pendidikan anak kita? Selanjutnya, saya mencoba merenungi kalimat yang ditulis oleh Saudara Tongo Anthon pada paragraf delapan. "...zaman ini sudah maindit. Tanpa ijazah dan gelar sepertinya sulit dapat kerja, sulit dapat jabatan, sulit kaya, tidak mudah diterima untuk berkomunikasi dengan kalangan elite, bahkan sulit dapat jodoh. Bila anak saya tidak punya ijazah dan gelar, maka saya membayangkan dia akan menemui banyak kesulitan dalam hidupnya." Benarkah demikian? Saya pikir, pernyataan yang dikemukakan penulis mengindikasikan bahwa ia telah terjebak dalam pesimistis. Karena sesungguhnya, betapa banyak jalan menuju impian. Dunia ini tidak sesempit daun kelor. Dunia ini penuh solusi dan strategi. Dunia ini mengundang kita untuk mengoptimalkan tiga komponen yang dianugrahlkan Tuhan (ruh, jasad, dan akal). Dengan demikian, apakah kekosongan kita diri ijazah dan gelar merupakan satu-satunya hambatan dan rintangan, sehingga masa depan kita nyaris akan hitam tanpa warna. Saya rasa tidaklah demikian. Sulit kaya, sulit berkomunikasi dengan orang elite, sulit dapat jodoh, dan serentetan kesulitan lainnya, sangatlah wajar adanya. Karena bagaimanapun kita, adalah manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasan. Tetapi kalau permasalahan sekolah menjadi satu-satunya alasan. Saya pikir hal itu merupakan penyimpulan yang terlalu simplistis Sebagai produk "sekolahan", sebagai manusia yang telah meneguk air pendidikan, saya mengakui dan menyadari bahwa kredibilitas dan bukti pendidikan saya belumlah mumpuni. Belum mengejawantah. Belum kontributif. Tetapi paling tidak, saya sangat bermimpi untuk menjadi orang pendidikan yang bernurani. Pada akhirnya, saya sangat berterimaksih kepada Saudara penulis. Karena bagaimanapun, tulisan Saudara telah membuat saya. brain storming. Namun pada kesempatan ini, saya juga ingin mengajak Saudara untuk brain storming. SEKOLAH BUKAN SEGALA-GALANYA. TETAPI SEGALANYA BUTUH SEKOLAH. Mengapa demikian? Karena manusia tak mungkin terlepas dari proses pembelajaran. Hidup manusia adalah belajar. Hidup manusia adalah sekolah. Sekolah masa depan. Sekolah sepanjang hayat. Adapun mengenai sekolah formal, adakah kita sebagai orang tua telah sangat sempurna sehingga tak perlu lingkungan lain untuk membentuk dan mendewasakan pribadi buah hati kita. Begitupun dengan sekolah terbaik. Tidakkah kita menyadari bahwa makna "terbaik" itu ketika kita turut menggagas, mendukung, memberi arti, dan kontribusi. Cari artikel-artikel menarik lainnya hanya di RumahkuSurgaku.com, Portalnya Keluarga Bahagia. -- kangWawan Owner RumahkuSurgaku.com (waqur.multiply.com)
