Seekor keledai yang tidak hati-hati jatuh ke dalam lobang yang dalam.
Untung lobang tersebut bukan lobang perangkap yang dipasang jerat.

 

Melihat hal ini, petani pemiliknya mempertimbangkan bahwa keledai
tersebut sudah tua serta tidak kuat lagi menarik beban. Dengan demikian
sudah tidak ada manfaatnya lagi. Petani tersebut memutuskan lebih baik
keledai tersebut dibunuh saja.

 

Cepat dia mengambil sekop dan mulai menimbun lobang dengan tanah.
Keledai meronta ronta dan mengaduh kesakitan mendapat hantaman tanah
yang dijatuhkan dengan tenaga kuat. Tanah tersebut setelah menimpa tubuh
kemudian jatuh dekat kakinya. Dengan demikian dia mendapatkan bahwa
timbunan tanah disekitar tubuhnya makin meninggi.

 

Petani tersebut dengan perasaan benci bermaksud ingin cepat mengisi
lobang agar keledai tertimbun dan mati. Keledai yang menahan dera karena
ditimpa tanah, menggoyang tubuh agar tanah lebih cepat jatuh dekat kaki.
Setelah agak meninggi, dia naik di atas tanah timbunan. Begitu
seterusnya, hingga tanpa disadari oleh si petani, keledai dapat melompat
keluar dari dalam lobang. Merasakan pancaran rasa benci dari pemiliknya,
segera keledai melarikan diri. Petani termangu dengan kegagalan niat
buruknya membunuh binatang yang pernah memberikan manfaat ketika masih
kuat.

 

Dari ceritera ini dapat dipetik pengalaman seekor keledai yang
terpelosok dalam kesulitan masih dapat mencari peluang atas kejadian
yang menimpa dirinya. Sering diceriterakan bahwa keledai adalah mahluk
yang lamban dan bodoh. Dalam kelambanan dan kebodohannya masih ada yang
dapat kita teladani untuk diambil manfaatnya.

 

Menghadapi kesulitan untuk keluar dari lobang, suatu hasil karma baik
baginya dengan adanya petani yang berkobar rasa benci untuk membunuh.
Ini merupakan peluang emas. Petani terebut karena penuh emosi tidak
melakukan kontrol akan hasil kerjanya, terus saja menimbun. Dia
berpendapat bahwa keledai yang bodoh akan diam saja dan tertimbun.
Inilah peluang bagi keledai untuk memperhitungkan pada ketinggian berapa
dia bisa melompat. Timbunan tanah pada saat itulah dipergunakan untuk
pijakan dan hentakan lompatan yang membawa hasil penyelematan.

 

Dengan demikian dalam menempuh hidup dan kehidupan kita, jangan
merenungi kesulitan yang kita hadapi. Kita wajib menggunakan akal dan
pikiran yang berlandaskan moral etik untuk keluar dari kesulitan. Juga
perlu diperhatikan bahwa akan bertambah beban bila kesulitan yang kita
hadapi diselesaikan dengan tindakan tidak terpuji,

 

Bila kita mengambil "jalan pintas" dengan perbuatan tercela, antara lain
menipu atau mencuri, akan mendapatkan tambahan kesulitan di kemudian
hari sebagai akibatnya.

 

Kita punya potensi akal dan pikiran untuk menyelesaikan masalah. Inilah
yang wajib kita lakukan. Potensi tanpa ada gerakan tidak berguna, ibarat
korek api sebagai potensi api. Bila tetap diam, korek api tidak akan
menjadi api.

Hendaknya ada aktivitas sebagai manifestasi akal dan pikiran, aktivitas
yang bersih sehingga kita akan tetap menjadi orang terpuji.

 

Sukses bagi anda yang dapat menyelesaikan kesulitan dengan baik. 

 

 

By :D. Henry Basuki 

Pengamat Budaya

 

Baca juga artikel motivasi lainnya hanya di :

 

http://www.beraniegagal.com

 

Salam Sukses,

M. Rian Rahardi

http://www.beranibisnis.com

 

 

 

This email is confidential. If you are not the addressee tell the sender 
immediately and destroy this email without using, sending or storing it. Emails 
are not secure and may suffer errors, viruses, delay, interception and 
amendment. Standard Chartered PLC and subsidiaries ("SCGroup") do not accept 
liability for damage caused by this email and may monitor email traffic.

Kirim email ke