Diilhami oleh artikel yang ditulis oleh mas Agussafi, dibawah ini adalah isi
sebuah ceramah yang di sampaikan oleh seorang Kyai di Masjid Al-Kautsar
Samarinda beberapa waktu yang lalu.


 


 


 


 


Manusia itu rahasiaKu dan Aku ini rahasianya"


 

" Kehidupan di atas dunia adalah teka-teki Allah, siapa yang dapat
menjawabnya akan memperoleh dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan di dunia lewat
penyaksian akan keindahan nur zat Allah dan kebahagiaan di akherat kelak ".

Allah SWT,  Tuhan semesta alam menciptakan manusia agar menjadi orang yang
bertaqwa karena dengan taqwa ia akan mampu memecahkan teka-teki Allah
mengenai hidup dan kehidupan ini. Teka -teki Allah bermula dari suatu
pertanyaan : untuk apakah kita hidup di dunia ini ?, bagaimana hubungan kita
dengan Allah ?. Dari manakah sesungguhnya manusia itu diciptakan ?. 

Manusia  diciptakan dari nur zat Allah bukan dari zat Allah. Zat Allah
sendiri berada dalam kegaiban , tidak seorang makhlukpun yang mengetahui
hakekatnya.  Zat Allah sesungguhnya  tidak bisa digambarkan dengan I'tibar
(ibarat) karena tidak ada sesuatupun yang menyamainya (laisa kamislihi).
Tetapi sekedar untuk dapat memahamkan hubungan kita dengan Allah, bolehlah
kita mengambil contoh kejadian yang ada di alam ini. Ibarat matahari itu
adalah zat Allah maka bayangan matahari yang berada dalam tempayan itulah
nur zat Allah. Manusia diciptakan dari bayangan Allah atau dalam gambaran
matahari tadi adalah diciptakan dari bayangan matahari yang ada di tempayan
tersebut.  Sementara itu cahaya matahari adalah ruh yang ada pada diri kita.
Sehingga pada hakekatnya ruh itu bukanlah satu yang terpisah pada diri
masing-masing makhluk hidup tapi ruh itu menyebar dimana-mana sama halnya
dengan cahaya yang menyebar menerangi alam semesta. Jasad kita manusia
ibarat gambar yang kemudian bisa bergerak dan diam karena ditiupkan ruh
kedalamnya. Mirip dengan aneka benda yang ada di alam raya ini yang menjadi
terlihat (nampak) setelah ada cahaya matahari. Demikian juga hubungan Allah
dengan manusia mirip seperti manusia dan bayangannya. Atau hubungan antara
lampu dengan terang (cahaya), kita tak kan kenal dengan lampu kalau tidak
ada cahaya. Jelas yang terang itu bukan lampu tapi tidak lain daripada
lampu. Antara cahaya dan lampu tidaklah menyatu tapi tidak juga berpisah.
Sama halnya dengan kita dengan bayangan diri kita, tidak berpisah tapi juga
tidak menyatu.  Itulah sebabnya dalam Al-Qur'an dinyatakan bahwa Allah
menyatakan Adam itu adalah sebagai gambarNya. Manusia adalah miniatur alam
semesta. Begitulah hakekat hubungan kita dengan Allah. Kita manusia tidak
akan pernah mengenal Allah kalau kita tidak mengenal siapa diri kita. Untuk
mengenal diri secara fisik kita bisa bercermin (memakai cermin, bayangan di
air atau tegel yang mengkila),  ini adalah bercermin dalam pengertian
fisik-jasmani. Tetapi bercermin dalam pengertian rohani,maka kita harus
membersihkan hati kita agar dapat bercermin pada "wajah" Allah. Karena hati
adalah ibarat cermin yang dapat memantulkan bayangan siapa diri kita
sesungguhnya.  Jika secara fisik kita ingin mengetahui wajah kita dengan
bercermin , maka untuk mencerahkan pikiran kita dapat lakukan dengan membaca
dan mendengarkan. Sementara untuk mengenal diri kita secara rohani maka
dengan hati kita mampu merasakannya.  

Kita membayangkan orang buta sejak lahir, kemudian tiba-tiba dia bisa
melihat keindahan dunia maka diapun akan terkagum-kagum karenanya. Sama
halnya dengan seekor kera yang baru menemukan cermin, lalu dia berkaca maka
terheran-heranlah ia memandangi wajahnya. Perumpamaan ini sama halnya dengan
orang yang sedang mengalami "penyaksian" akan nur zat Allah. Ketika
tersingkap segala kegaiban dan rahasia antara hamba dengan Tuhannya, maka
terheran-heranlah ia. Karena selama ini ia hanya bisa menyaksikan segala
yang maujud lewat pancaindera dan mengenal pengetahuan lewat pikiran . Pada
hal ada satu indera yang kurang dimanfaatkan oleh kebanyakan manusia yaitu
mata hati yang sebenarnya dapat menembus alam gaib melalui (persenyawaan
rasa dengan Tuhan). Karena itu sering di kemukakan bahwa pada diri seorang
sufi terkubur berbagai macam rahasia ketuhanan. Hanya dia sendiri dan Tuhan
yang tahu. Rahasia itu terpendam rapat dalam hati dan tidak sepantasnya
diceritakan pada orang awam, karena manakala rahasia ketuhanan itu
tersiarkan pada orang yang tidak memahami hakekat maka bisa-bisa dianggap
fitnah. Untuk menemukan hakekat (kebenaran sejati) orang  melakukannya
dengan bertarekat (melakukan pendakian untuk mencari jalan) mengenal Allah
SWT.. Upaya  mengenal nur zat Allah dilakukan dengan meninggalkan unsur
kemanusiaan kita ( lepaskan pakaian wujud yang ada) yaitu dengan tidak
memfungsikan aspek jasmani (fana).

Bila hati itu bening ibarat kaca maka kita dapat bercermin dan mengenal diri
kita. Namun jika hati itu kotor karena dosa-dosa yang kita lakukan maka
cahaya Allah (hidayah) tidak akan mampu menembus hati kita. Setiap kali kita
melakukan dosa maka jadilah ia ibarat kotoran yang menempel , seperti halnya
kaca cermin yang penuh debu kalau tidak pernah dibersihkan apalagi dikotori
terus maka ia tidak akan dapat digunakan untuk bercermin. Andaikan cahaya
matari itu adalah nur zat Allah maka sinarnya terhalang oleh mendung tebal
berlapis-lapis sehingga hanya gelap yang  nampak.  Adapun untuk membersihkan
hati kita  adalah dengan bertobat dan untuk kemudian tidak mengotorinya
lagi, artinya kita tidak mengulangi dosa..

Allah SWT sebenarnya ingin mengenalkan "wajahnya" kepada manusia, tetapi
manusia terhalang oleh urusan dunia yang tiada habis-habisnya. Sehingga
hatinya menjadi tertutup karenanya. Tiap hari urusannya tidak beranjak dari
masalah makan, tidur, minum dan kawin tak ubahnya dengan binatang yang tidak
diberi akal oleh Allah. Barang siapa dipagi hari ketika bangun tidur, yang
dipikirkan hanya masalah dunia maka ia akan menemui empat perkara:
kebingungan yang tak berkesudahan, urusan yang tak kan pernah selesai,
angan-angan yang tidak pernah kesampaian, kegelisahan yang abadi. Rutinitas
hidup berlangsung tanpa tujuan yang jelas sampai ia masuk ke liang kubur.
Kalau begitu keadaannya betapa rendahnya derajat manusia.  Pada hal
hakekatnya kita ini berasal dari Allah dan seharusnya kita rindu untuk
bertemu denganNya. Sama halnya dengan kerinduan orang terhadap kampung
halaman atau tanah air dimana ia dilahirkan, kerinduan seorang pemuda atau
pemudi pada kekasihnya, kerinduan kita untuk menyaksikan "tempat lahir" kita
meskipun ia terhimpit di lobang yang sempit.  Ketika kita sudah berjumpa
denganNya maka rahasia-rahasia yang selama ini tertutup rapat akan terkuak.
Kita dapat melihat tanpa mata, mendengar tanpa telinga, mengetahui segala
sesuatu sebelum terjadi dan kegaiban-kegaiban lainnya. "Kalau Aku sudah
mencintai hambaku, maka dengan matanya Aku melihat, dengan telingannya Aku
mendengar...".Tersibaklah segala rahasia Allah yang selama ini terpendam
rapat. Kita akan terkagum-kagum karenanya, sama halnya dengan orang buta
yang tiba-tiba baru bisa melihat keindahan dunia.   Alam ini adalah
merupakan jembatan untuk mengenal Allah, alam adalah merupakan cadar
(dinding penghijab). Kita masih belum mampu untuk mengel Allah manakala diri
kita belum mampu untuk "membuang"  perbedaan antara barat dan timur, siang
dan malam, panjang dan pendek. Dengan kata lain selama kita masih belum
mampu memandang yang banyak pada yang satu dan memandang yang satu dalam
yang banyak maka kita belum mampu mengenalNya.  Sebab Allah itu adalah Dia
yang awal dan Dia yang akhir. Alam semesta ini merupakan pernyataan dari
yang ghaib. Alam yang zahir merupakan isyarat adanya alam batin. Tak kan ada
yang banyak tanpa adanya yang satu.  Bermacam-macam benda ada di alam ini
tetapi hakekatnya adalah benda juga. Ribuan angka tersusun tapi sebenarnya
berasal dari angka satu jua. 

Bagaimana memberikan pemahaman bahwa Allah itu nyata keberadaannya ? dapat
digambarkan dengan sabuk juara seorang petinju. Sabuk tinju diperebutkan
oleh para petinju dan hanya petinju hebat yang mampu mendapatkan sabuk
tersebut. Dilihat dari segi lahir, sabuk tinju tersebut mungkin tidak begitu
mahal harganya tapi nilai yang terdapat dalam sabuk juara tersebut sungguh
luar biasa karena pemegang juara tinju berarti lekat dengan
kekuatan-kegagahan, kelincahan dan kehebatan. Hal-hal yang menyangkut
kegagahan, kelincahan , kekuatan dan kehebatan adalah sesuatu yang abstrak
atau ghaib, orang tidak akan pernah mengetahui bahwa si petinju A misalnya
hebat kalau ia tidak menunjukkan bahwa ia menjuarai tinju. Seseorang
dianggap sebagai juara tinju karena pada kenyataannya ia mampu meraih sabuk
juara. Orang kagum bukan pada sabuk juaranya tapi kagum pada kekuatan dan
kehebatan si petinju Untuk menyatakan bahwa seorang petinju itu hebat bisa
disimbolkan dengan sabuk juara tersebut sama halnya dengan keberadaan Allah,
untuk mengenal akan keberadaanNya, Allah menciptakan alam semesta ini.
Seharusnya orang mesti kagum bukan pada alam semesta tapi kepada kehebatan
dan keagungan penciptaNYa. Karena Allah menyatakan pada apa yang
dinyatakanNYa.. Lalu siapakah yang hebat, agung dan memiliki kekuatan luar
biasa yang berada dibalik kebesaran alam semesta itu ? tak lain adalah Allah
SWT Tuhan Semesta Alam.(Ali M)

 

 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
agussyafii
Sent: 16 Nopember 2007 11:41
To: [email protected]
Subject: [Bicara] Lorong-Lorong Kebenaran (2)

 

Lorong-Lorong Kebenaran (2) 

(Bias Agama dan Budaya)
Wacana anti Panca Sila sebenarnya berasal dari bias agama dan budaya. 
Islam itu agama (murni) yang juga melahirkan budaya, maka ada 
kebudayaan Islam dan ada kebudayaan kaum muslimin. Kebudayaan Islam 
dipengaruhi oleh ajaran Islam, sedangkan kebudayaan kaum muslimin ada 
yang berasal dari ajaran Islam dan ada yang berasal dari budaya lain, 
yang bahkan mungkin bertentangan dengan ajaran Islam. Kebudayaan 
adalah konsep, gagasan, dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat 
dalam waktu lama dan memndu perlaku mereka dalam memenuhi kebutuhan 
hidupnya.

Ada kaidah yang mudah diingat, yaitu bahwa agama murni dalam hal 
ibadah mahdlah, pada dasarnya ritus ibadah itu dilarang, kecuali yang 
ada perintahnya, sedangkan yang bersifat kebudayaan, mu`amalah, pada 
dasarnya semua bentuk kebudayaan masyarakat itu dibolehkan, kecuali 
yang ada larangannya (al ashlu fi al `adapt wa al mu`amalah al ibahah 
hatta takun dall fi buthlanihi). Jadi pada agama (murni) tidak ada 
ruang kreatifitas ummat, tapi pada wilayah budaya, semuanya justeru 
wilayah kreatifitas. Nah Negara, ilmu pengetahuan (termasuk ilmu2 
agama), Panca Sila dan konstitusi adalah budaya. Demikian juga partai 
Islam, ormas Islam, juga produk kebudayaan. Bahkan konsep khalifah 
adalah budaya Islam, oleh karena itu corak khulafa rasyidin berbeda 
dengan khilafah Bani Umaayyah dan Abbasiyah. Negara Islam boleh 
berbentuk kerajaan, boleh republic, boleh dinasti, boleh kerajaan 
konstitusional, bergantung kepada kondisi wilayah dan kreatifitas 
ummatnya... Ideologi Anti Panca Sila bukanlah ekpressi Islam, tapi 
kedudukannya sama dengan Komunisme yang juga anti Panca Sila, dua-
duanya kebudayaan.

Lorong-lorong Kebenaran 
Kebenaran tidak selamanya seperti matahari yang nampak jelas, tetapi 
terkadang ia berada di tempat jauh yang Tersembunyi sehingga untuk 
mendekatinya orang harus melewati lorong-lorong sempit atau mendaki 
ke bukit terjal. Ada buku terjemahan berjudul Pendakian Menuju Allah, 
yang merupakan terjemahan bebas dari judul buku Madarij as Salikin 
karangan ulama salaf terkenal Ibn al Qayyim al Jauzy (691-751 H.) 
menyiratkan adanya hubungan dan jarak antara manusia yang kecil dan 
rendah dan Tuhan yang Maha Tinggi dan Sumber Kebenaran, yang oleh 
karena itu manusia harus menempuh perjalanan mendaki jika ingin 
mendekat kepada Nya. Ujung pendakian itu bisa berupa berhasil menjadi 
orang dekat Allah (min al muqarrabin) atau bahkan bersatu dengan Nya, 
baik dalam eksistensi (wahdah al wujud) atau hanya nampak seperti 
bersatu (wahdat as Syuhud). Kegiatan menempuh perjalanan mendekat 
(mendaki) kepada Allah bisa dipandang sebagai kesadaraan manusia 
memenuhi panggilan Nya, bisa juga difahami sebagai fitrah manusia 
yang memang memiliki kecenderungan untuk mendekat seperti api yang 
selalu naik ke atas (taraqqi) karena manusia, seperti yang dianut 
oleh konsep al Isyraqi merupakan pancaran dari Tuhan sehingga ia 
memiliki sifat-sifat ketuhanan dan oleh karena itu selalu rindu untuk 
kembali kepada Tuhan.

Menurut al Jauzi, semangat menempuh perjalanan mendaki kepada Allah 
itu berada dalam penghayatan manusia kepada Tuhan seperti yang 
tersirat dalam surat al Fatihah Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`in, 
hanya kepada Mu kami menyembah dan hanya kepada Mu pula kami mohon 
pertolongan. Kekhusyu'an dan ketergantungan serta harap dan cemas 
(khouf dan raja') kepada Allah menstimuli manusia untuk menempuh 
perjalanan jauh (as sayr wa as suluk) menuju kepada Allah yang 
dirindukan, dicinta dan ditakuti. Maulana Syekh Yusuf 
mengilustrasikan tiga jalan raya yang bisa ditempuh dalam pendakian 
itu, yaitu jalan raya konvensional yang setia mengikuti rute syari`ah 
(thariqah al Akhyar/thariqah as syar`i), jalan zikir (thariqah ahl az 
Zikr) dan lorong-lorong yang penuh dengan kesulitan (metode menyakiti 
diri/thariqah mujahidat as syaqa'). Jalan panjang dan mendaki itu 
tidak mudah ditempuh, oleh karena itu sepanjang jalan ada stasiun-
stasiun (maqamat) yang merupakan tangga-tangga (madarij) pencapaian 
bagi musafir.

Jalan panjang menuju kepada Allah itu bukanlah jalan yang lurus, 
tetapi penuh dengan hambatan dan jebakan. Para aktifis gerakan 
(harakah) terutama yang menjadi korban repressip penguasa sering 
terjebak di lorong-lorong penuh jebakan kesesatan sehingga sepertinya 
mereka itu mujahid, tetapi persepsi yang terbangun adalah pelaku 
criminal, Begitu panjangnya jarak menuju kebenaran sehingga para sufi 
merumuskan adanya pemberhentian-pemberhentian, disebut maqamat atau 
stasion, dari stasion taubat hingga ke stasiun ridla, atau ma`rifat 
atau mahabbah. Stasiun yang peling berat bagi orang awam justeru 
stasiun pertama yaitu stasiun taubat. Taubat yang benar (taubat 
Nasuha) harus memenuhi tiga unsur, yaitu (a) menyesali kesalahan yang 
lalu, (b) berjanji untuk tidak mengulang, dan (c) benar-benar tidak 
mengulang.. Dua hal pertama relatip mudah, tetapi yang ketiga sering 
menjadi sandungan orang bertaubat sehingga tidak pernah bisa melewati 
stasiun tersebut.

Wassalam,
agussyafii

==============================================
Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui
http://mubarok- <http://mubarok-institute.blogspot.com>
institute.blogspot.com atau achmad.mubarok@
<mailto:achmad.mubarok%40yahoo.com> yahoo.com
==============================================

 

Kirim email ke