Permisi Bapak moderator, saya urun rembuk tulisan. Semoga bermanfaat.
   
  A. Asep Syarifuddin
  Pekalongan
  
>From Nervous to Self Confidence
   
   
  UNTUK menjadi pribadi yang sukses, menyenangkan, pandai bergaul dibutuhkan 
rasa percaya diri yang tinggi. Kadang kita terkagum-kagum melihat orang piawai 
berpidato di depan podium. Kata-katanya berapi-api mempengaruhi massa untuk 
mengikuti jalan pikirannya. Tidak semua orang pandai bergaul, pintar 
berkomunikasi baik di podium maupun inter personal. Jauh di ujung sana masih 
banyak orang yang minder untuk bertemu dengan orang banyak, kaku dalam 
berbicara bahkan sampai bersimbah peluh hanya ketika diajak ngobrol dengan 
seseorang. Jangankan untuk berargumentasi dan beradu pendapat, jangankan dengan 
mudah mengucapkan maksud hati. Bertahan di depan orang tersebut saja sudah 
untung. Ingin rasanya melarikan diri dan mencari tempat sepi. nervous... 
nervous.
   
  Apakah Anda termasuk orang yang demikian? Sukurlah kalau tidak, berarti sudah 
terjadi lompatan kualitas mental dalam berkomunikasi. Tapi orang yang masih 
gugup menghadapi orang, jumlahnya masih cukup banyak. Saya sendiri ketika 
usia-usia SMA sampai awal-awal perkuliahan masih mengalami nervous, grogi alias 
deg-degan dan keringetan kalau menghadapi orang. Apalagi yang dihadapi adalah 
cewek atau orang yang berpengaruh. Wah rasanya ingin melarikan diri saja 
secepatnya. Sebenarnya apa yang terjadi saat itu?
  Dilihat dari pola pergaulan, saya termasuk orang introvet. Istilah anak muda 
sekarang gak gaul lah.... Aktifitas sehari-hari sudah ada dalam program yang 
jelas mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dan dalam jadwal tersebut 
tidak mencantumkan bermain dengan teman-teman. Semuanya belajar dan bekerja. 
Rasanya ketika duduk di belakang meja dan baca buku, saat-saat itulah waktu 
yang paling membahagiakan. Secara prestasi akademis memang diakui berada di 
atas rata-rata teman-teman yang lain. Teman-teman selalu meminta contekan kalau 
sedang ulangan atau ujian semesteran. Di balik nervous dalam bergaul tersebut 
saya sedikit "Pede" di dalam kelas. Tetapi ketika ke luar kelas, lagi-lagi 
penyakit minder tersebut menemani hari-hariku. Hanya self talk (berbicara 
kepada diri sendiri) yang kurang pas saat itu yang keluar ketika melihat betapa 
asiknya teman-teman ngobrol dengan orang-orang baru. Saya bergumam, "Biarlah 
mereka pandai bergaul, tapi kalau ujian kan nyontek juga ke
 saya."
   
  Salah satu upaya untuk membuat percaya diri saya sering ngobrol di depan 
cermin sambil melihat ekspresi ketika berbicara. "Lumayan juga nih gue bisa 
ngomong agak bener," tuturku dalam hati. Waktu itu ayah saya setiap minggu 
punya jadwal ceramah di majelis taklim. Karena berbagai kesibukan akhirnya saya 
yang harus menggantikan. Untung yang hadir saat itu adalah ibu-ibu yang 
memiliki pengetahuan pas-pasan. Kalau salah-salah dikit tidak mungkin protes. 
Kegiatan tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, sampai 
sekitar 3 tahun. Dari situ percaya diri saya naik sekitar 50%. Kok 50% mengapa? 
Benar, hanya 50%, karena ketika harus komunikasi inter personal lagi-lagi saya 
tidak bisa berkutik. Kembali nervous itu muncul. Dalam pikiran saya orang lain 
terlihat jauh lebih hebat ketimbang saya. Wah... capek deh...
   
  Setelah dilihat secara seksama, persoalannya terletak pada beberapa hal yang 
keliru. Misalnya saja, saya tidak terlalu menghargai diri saya sendiri. 
Artinya, saya menilai diri tidak secara utuh. Benar setiap orang ada plus dan 
minusnya, tapi yang terlihat saat itu adalah segala yang minus tentang diri 
saya (kecuali prestasi akademis). Citra diri masih belum utuh, apalagi harga 
diri. Akhirnya tidak memunculkan rasa percaya diri. Ada pengalaman lucu kalau 
dipikir sekarang. Saat itu mau berangkat sekolah (SMA) memakai angkutan umum. 
Karena saya ingin belajar ngobrol, maka saya meniatkan diri untuk bertanya 
kepada orang yang berada di samping. Ketika dilihat ternyata dia anak SMA juga 
dan cewek. Niat untuk bertanya dihentikan, jangan-jangan dia tidak akan 
menjawab pertanyaan saya. Tapi muncul kembali keinginan untuk menyapa sebagai 
latihan ngobrol. Demikian terus menerus keinginan untuk ngobrol dan rasa tidak 
pede muncul secara bergantian. Sampai mobil tersebut berhenti dan
 saya turun tidak satu kata pun keluar dari mulut saya. Ada kelegaan yang 
terasa ketika turun, persis seperti selesai menghadapi debt collector yang 
sangat seram.
   
  Waktu demi waktu persoalan self confidence masih tetap mengganggu. Sampai 
suatu ketika saya belajar tentang buku-buku sukses. Di dalamnya mengkaji 
tentang percaya diri. Percaya diri tidak muncul begitu saja, bukan karena 
mempunyai sesuatu seperti mengenakan pakaian yang bagus, dandanan yang oke dll. 
Percaya diri ada pada penghargaan yang sama baik kepada diri sendiri maupun 
kepada orang lain. Dalam al Quran sendiri orang yang paling mulia adalah yang 
paling takwa. Selain itu hormatilah sesama, hormatilah diri sendiri, hormatilah 
alam, hormatilah siapa saja yang harus kita hormati. Tapi di samping itu memang 
latihan terus menerus dengan cara bertemu dengan orang yang berbeda setiap hari 
menjadi titik kunci yang paling penting. Yang harus diingat dalam mengubah 
watak, apabila ada sesuatu yang kita 'takuti', maka yang ditakuti tersebut 
harus didekati. Kalau takut kepada orang untuk berkomunikasi, maka mulailah 
untuk berkomunikasi dari sekarang. Tidak peduli apakah
 keringetan, gemeteran, nervous. Memang kalau ketemu orang harus disiapin juga 
mau bicara apa dengan orang tersebut supaya langsung bisa nyambung. Tapi dengan 
latihan secara terus menerus maka hal itu bisa dilampaui.
   
  Dulu saya yang grogi, nervous dll, sekarang paling suka ngomong di forum, 
paling senang ngerjain orang, paling pede kalau humor dengan teman-teman. 
Ketika membayangkan dulu saat-saat kegrogian masih menjadi teman sehari-hari 
rasanya tidak percaya kalau sekarang bisa se-pede ini. Bagi yang belum 
menemukan self confidence, jangan khawatir. Banyak orang yang mengalami hal 
tersebut tapi kemudian bisa lolos dari kubangan nervous. Asalkan mau belajar 
dan memulai untuk berkomunikasi. (*)
  
Hidup Penuh Makna, Bahagia,
Damai dan Sejahtera
  Sukses Selalu
Pekalongan, 18 November 2007
 
A. ASEP SYARIFUDDIN
http://hidupbermakna.wordpress.com
http://groups.yahoo.com/group/hidup-bermakna/join

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke