Dear Moderator, ikut nyumbang artikel. makasih a. asep syarifuddin Kebahagiaan "Internal" dan "Eksternal" KAPAN Anda merasa bahagia? Apakah ketika memperoleh hadiah? Abis bulan karena mendapatkan gaji? Mendapatkan ucapan selamat? atau... Semua itu bisa menjadikan kita bahagia karena ada stimulus dari luar yang membuat kita dapat memenuhi kebutuhan. Tapi bagaimana ceritanya ketika semua yang datang kepada kita itu habis? Hilang? Lenyap atau tidak lagi menjadi milik kita? Sudah tentu bila sumber kebahagiaan tersebut tidak ada maka yang muncul adalah ketidakbahagiaan. Dengan sendirinya kita harus mengejar kembali sesuatu yang dapat membuat kita bahagia tadi. Apakah ini model kebahagiaan yang salah? Tidak juga, tapi kalau Anda merasa bahagia karena sesuatu yang datang dari luar, maka siap-siap saja untuk kecewa karena sesuatu yang datangnya dari luar tidak abadi sifatnya. Ironisnya model kebahagiaan seperti ini nyaris diyakini oleh 80% orang kebanyakan yang hidup di dunia ini. Lantas apakah ada model kebahagiaan yang lain? Ada dan ini sifatnya abadi. Model kebahagiaan kedua adalah kebahagiaan "internal". Kebahagiaan ini datangnya dari dalam diri kita dan bukan dari luar diri kita. Tapi bagaimana caranya kita memiliki model kebahagiaan seperti ini? Kayanya susah tuh untuk merealisasikannya. Lagian kebanyakan orang bisa merasakan kebahagiaan apabila mencapai sesuatu dan mengejar hal lain bila sesuatu itu sudah tercapai. Kita bisa mencapai kebahagiaan internal dan kabar gembiranya, bila kita memiliki kebahagiaan internal, maka kebahagiaan eksternal bisa tercapai. Sementara bila hanya mencapai kebahagiaan eksternal, maka kebahagiaan internal tidak bisa dimiliki. Caranya sederhana, ciptakan batin kita menjadi bahagia. Caranya bermacam-macam, salah satunya dengan selalu memiliki rasa bersyukur. Coba hitung, anugerah yang sudah kita peroleh sejak lahir sampai sekarang. Kita diberi nikmat hidup, bentuk tubuh yang indah, bernafas, diberi mata, diberi hidung, mulut, lidah, paru-paru, jantung, ginjal, hati, pikiran. Belum lagi di luar kita, kita memiliki orang tua, saudara, tetangga dll. Allah Swt sudah memberikan segala kebutuhan kita di dunia ini lengkap dengan segala fasilitasnya. Apakah masih kurang segala sesuatu yang sudah diberikan kepada kita? Kayanya kita memang kurang memiliki rasa bersyukur atas hal-hal di atas yang selama ini sudah menopang hidup kita. Cobalah satu per satu kita syukuri, maka hasilnya akan sangat luar biasa bahagia. Ya Allah ... Aku bersyukur hari ini masih diberikan kesempatan untuk hidup. Aku bersyukur hari ini masih bisa bernafas, terimakasih hidung, terimakasih paru-paru, terimakasih oksigen, terimakasih matahari dan pepohonan yang sudah mengubah karbondioksida menjadi oksigen dan udara bersih di pagi hari. Aku bersyukur diberikan kesehatan, sehingga aku bisa menjalankan aktifitas sehari-hari. Aku bersyukur atas segala nikmat yang sudah diberikan kepadaku baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Betapa banyaknya, dan aku tidak bisa menghitungnya. Terimakasih Tuhan, terimakasih alam, terimakasih anggota tubuhku, terimakasih alam, aku sayang kepadamu, aku mencintaimu. Ucapkan kata-kata di atas dalam suasana hening, penuh dengan perasaan, bayangkan semuanya memberikan ucapan selamat kepada Anda, menepuk-nepuk bahu Anda, bersalaman kepada Anda. Tuhan pun tersenyum melihat Anda penuh rasa syukur dan Dia berjanji akan menambah nikmat-nikmat yang lain walaupun tidak kamu minta. Subhanllah.... Cara lain yang biasa saya lakukan adalah bangun malam untuk shalat Tahajud dan tadarus al Quran. Agar dipermudah bangun malam baca tulisan saya yang berjudul 'Berdamai dengan Diri Sendiri'. Ada satu perasaan bahagia yang tiada tara ketika membuka mata pada pukul 03.00. Sambil mengucapkan alhamdulillah aku bangun dengan penuh senyum dengan perasaan Allah juga senang melihat hambanya bangun di malam hari. Aku ambil air wudlu, kubasuh satu per satu anggota rukun wudlu sampai selesai. Kuambil sajadah, kain sarung dan baju sopan yang bersih serta mengenakan tutup kepala. Allahu Akbar.... Kuucapkan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa di keheningan malam. Lagi-lagi aku melihat Tuhan tersenyum lebar, gembira melihat hambanya bertafakur, berdoa, bermunajat, merendahkan diri, bersujud di depan Sang Pencipta. "Sesungguhnya shalatku, hidup dan matiku hanyalah milik Allah, tidak ada sekutu bagiMu." Ayat demi ayat dilantunkan secara perlahan, benar-benar terasa nikmat dan lapang dada ini. Ketika aku ingat dosa-dosaku tak terasa air mata pun berlinang, apakah Allah masih mau untuk memaafkanku? Padahal dosa selama hidup baik yang terasa maupun yang tidak terasa jumlahnya sangat banyak. Aku pasrahkan kepada kebesaran Zat Yang Maha Pengampun, mudah-mudahan masih mau untuk mengampuni hamba yang dzalim ini. Saya benar-benar menikmati gerakan demi gerakan salat sampai salam. Lagi-lagi entah mengapa rasa bahagia tersebut seolah masuk ke dalam diri dan memeluk erat-erat seakan tidak mau terlepas dari batin dan tubuhku. Setelah berdoa aku ambil HP untuk mengirimkan SMS kepada teman-temanku yang biasa qiyamullail atau kepada siapa saja yang sekiranya kukenal. Siapa tahu dia terbangun dan menjalankan shalat malam juga. Isinya kira-kira, "Ass wr wb. Dengan segala kerendahan hati, marilah kita menyerahkan diri kepada Zat Sang Maha Pencipta untuk shalat malam, tadarus al Quran." Kalau kebetulan hari Senin atau Kamis pagi ditambah dengan kata-kata, .... bagi yang berniat Puasa sunah Senin atau Kamis dipersilakan untuk makan sahur." Kemudian aku kembali shalat sampai beberapa kali takbiratul ihram dan salam. Selesai shalat ada yang membalas SMS tersebut. Muncul lagi perasaan bahagia karena bisa berbagi kebahagiaan dengan sesama. Usai shalat dilanjutkan dengan tadarus Al Quran sampai datang waktu solat Subuh. Keesokan harinya rasa bahagia tersebut menjadi teman sampai sore hari bahkan sampai malam harinya lagi. Ketika berjalan seakan-akan alam menyapa dan senyuman dan lambaian. Semuanya tersenyum, semuanya melambai, semuanya mendukung. Kondisi seperti itu benar-benar mempengaruhi kita ketika berkomunikasi dengan orang-orang. Terlihat penuh semangat, antusias, percaya diri dan yang lebih penting muncul ketulusan dalam berbagai bentuk pembicaraan. Pekerjaan tidak terasa sebagai beban tapi terasa senang menjalankannya. Kebahagiaan internal benar-benar dapat mempengaruhi kondisi eksternal dan akhirnya bisa mencapai kebahagiaan eksternal. Sampai di sini saya dapat mengambil kesimpulan, apabila kita menggapai kebahagiaan internal, maka kebahagiaan eksternal dengan sendirinya dapat dicapai. Memang untuk mencapai kebahagiaan ekstrnal berupa materi membutuhkan waktu. Sesuatu kalau ingin terwujud secara materi ada hukum-hukum tersendiri yang tidak bisa dilawan. Misalnya saja, kalau kita ingin berhasil sudah tentu kita harus ulet, rajin, konsisten dan berusaha terus menerus. Demikian juga kalau ingin mencapai yang kita inginkan, ada jeda waktu untuk mencapainya. Tapi kalau kondisi kita berada dalam positif feeling, maka waktu tersebut tidak menjadi masalah asalkan bisa tercapai. Kita memiliki sikap sabar dan tawakal. (*) Hidup Penuh Makna, Bahagia, Damai dan Sejahtera Sukses Selalu
Pekalongan, 22 November 2007 A. ASEP SYARIFUDDIN http://hidupbermakna.wordpress.com http://groups.yahoo.com/group/hidup-bermakna/join --------------------------------- Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage.
